NovelToon NovelToon
Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rosella Nona

Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.

Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.

Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melisa Hilang

Karena kesusahan berjalan, Dharma menggendong Melisa pergi dari pesta itu.

“Baju Pak Dharma jadi ikut kotor karena menempel dengan noda-noda kue di bajuku."

Dharma hanya melihat sebentar noda-noda itu dan tetap berjalan ke arah mobil. Ia meletakkan Melisa di kursi dulu, baru masuk di kursi kemudi.

Dalam perjalanan ia melihat sekitar, mencari resto enak untuk makan malam. Di pesta tadi ia belum sempat makan apapun. Juga, badannya gelisah dan mendadak sangat gerah. Sepertinya ia makan sesuatu yang salah tadi.

Ia akan coba mengalihkannya dengan makan makanan segar nanti.

“Kenapa belok ke sini, Pak Dharma?” Melisa yang tidak memahami maksudnya bertanya keheranan. Mereka berdua memakai pakaian yang penuh noda kue, bukannya segera pulang dan membersihkan diri malah mampir ke resto mewah.

“Aku belum sempat makan apapun di pesta tadi. Kamu juga pasti lapar, kan? Ayo kita makan dulu.”

Kali ini Melisa benar-benar merasa Dharma sudah mulai menerima kehadirannya. Sebenarnya sejak kemarin, ia ingin menceritakan ulah Sheila dan luka bakar di pahanya, tapi ia bingung dan malu.

Bagaimana memberitahu Dharma, lokasi lukanya ada di paha atas, ia khawatir membangunkan sesuatu dan dikira sedang menggoda.

“Em, Pak Dharma. Menurut Bapak Sheila itu bagaimana orangnya?"

"Dia orangnya baik. Keluarganya juga baik. Hanya saja mereka sering melakukan segala cara untuk mendapatkan apapun yang diinginkan Sheila karena dia anak mahal.”

“Anak mahal?”

“Ya. Om Gunawan dan istrinya lama tidak punya anak, jadi mereka program bayi tabung dan baru berhasil di percobaan keempat. Usia pernikahannya sudah sepuluh tahun lebih.”

Melisa mengangguk paham. Tidak heran Sheila menjadi seperti itu, menghalalkan segala cara juga untuk mendapatkan keinginannya. Bahkan bisa menyingkirkan apapun yang menghalangi tujuannya, seperti pada Melisa kemarin.

“Pesan makanan dulu, lalu aku akan ke kamar mandi sebentar,” ucap Dharma tergesa. Ia sudah tidak tahan, gerah sekali sampai harus melakukan sesuatu di kamar mandi.

“Oke.”

Melisa duduk sendirian menunggu Dharma kembali dan menunggu makanan yang mereka pesan datang. Ia berharap tidak bertemu siapapun yang mengenalnya dulu. Ia sedang malas berbicara dengan seseorang, apalagi orang kaya seperti keluarga Dharma yang hobi sekali menghina orang rendahan seperti dirinya.

…

Dharma menuntaskan kebutuhannya di kamar mandi. Begitu selesai ia membersihkan sisa noda yang menempel di jas dan kemejanya seadanya. Lalu segera bergabung bersama Melisa.

“Loh, ke mana dia?” Ia tidak menemukan Melisa di tempat tadi.

Dharma tetap duduk dengan tenang, siapa tahu Melisa sedang membersihkan diri juga. Ia memperhatikan lalu lalang mobil dari jendela besar di dekat meja, jalanan di sini tidak pernah sepi.

“Permisi, Pak. Ini pesanan anda.” Pramusaji yang mengantar menyebutkan makanan yang mereka pesan tadi lalu segera pergi setelah mempersilahkannya menikmati hidangan.

“Tunggu! Apa kalian tahu ke mana perginya perempuan yang datang bersamaku tadi?” Ia coba bertanya, siapa tahu ada yang melihat Melisa pergi dari sini. Perempuan itu kakinya sedang sakit, pasti tidak akan pergi jauh sendirian.

“Sepertinya tadi dia pingsan, Pak. Lalu dibawa pergi oleh rekannya.”

“Apa?”

Siapa yang mengenal Melisa di sini. Perempuan itu sepertinya tidak punya teman karena belum pernah menceritakan tentang temannya.

Dharma urung menyantap makanannya. Ia segera bangkit dari duduknya dan memperhatikan sekitar. Saat coba membuka ponsel, ia baru sadar mereka tidak saling menyimpan nomor.

“Sial. Kenapa dia tiba-tiba pingsan? Dan siapa yang membawanya pergi dari sini?” batin Dharma.

Ia berlari keluar dari resto itu. Tidak ditemukan sosok Melisa sejauh matanya memandang. Namun, ia mendengar sesorang memanggil namanya.

Dharma celingukan ke sana ke mari. Itu suara Melisa. Sepertinya dekat, tapi suaranya terdengar samar. Matanya tidak sengaja menangkap bayangan telapak tangan dari dalam mobil, sejenak lalu hilang. Mobil itu langsung melaju dengan cepat.

Ia baru sadar, mungkin itu tangan melisa. Ada sedikit noda kue di pergelangannya tadi.

“Siapa yang membawanya?” Dharma begitu terkejut menyadari kemungkinan Melisa dibawa oleh orang asing.

Dharma segera menyalakan mesin mobilnya dan mengejar mobil itu. Bagaimana pun, perempuan itu sudah menjadi tanggung jawabnya. Ia tidak bisa membiarkannya dibawa pergi begitu saja oleh orang yang tidak dikenal.

Ia menghubungi timnya dan mengirim lokasi untuk membantunya menyusul mobil itu.

Di persimpangan ia hampir kehilangan jejak mobil itu, tapi berhasil menduga dengan tepat dan menyusul di belakangnya.

Tim bantuan yang sudah datang langsung mengepung dari arah berlawanan. Mobil yang membawa Melisa itu terhimpit.

“Kepung! Tarik keluar semua yang di dalam.” perintah komandan tim.

Para pengemudinya langsung berhamburan keluar dan kabur. Pakaian mereka serba hitam, begitu berlari warnanya menyatu dengan gelap malam dan sulit ditemukan.

“Sudah cukup. Biarkan mereka kabur. Kita selamatkan Melisa dulu.”

Aroma bahan bakar tercium pekat.

“Mobil ini sudah disetting untuk diledakkan,” teriak salah seorang yang menemukan korsleting kabel di kap depan.

Dharma berusaha membuka pintu yang terkunci. Melisa tergeletak sendirian di dalam mobil itu.

“Melisa. Melisa. Bangun!”

Dharma mencari baru atau apapun di sekitarnya yang mungkin bisa digunakan untuk memecahkan kaca pintu mobil.

Tim Dharma berusaha membobol kunci pintu mobil untuk menyelamatkan Melisa. Semua orang di sana panik karena rembesan bahan bakar sudah semakin banyak. Api kecil sudah muncul, tinggal menunggu waktu mobil itu akan meledak.

“Cepat pecahkan kaca mobilnya.”

Beberapa pria berbadan besar-besar itu menunjukkan kaca mobil bersama-sama sampai pecah. Dharma yang meninjunya paling keras.

Ia tidak bisa diam saja menunggu mereka berhasil mengeluarkan Melisa. Ia harus memastikan sendiri perempuan itu bisa dibawa pulang dengan utuh dan selamat.

Akhirnya, kaca berhasil dipecahkan. Mereka membuka tuas pengunci pintu dari dalam dan menarik Melisa keluar.

Tepat setlah perempuan itu berhasil dijauhkan dari mobil, suara ledakan terdengar cukup keras. Melisa sampai terbangun.

“Pak Dharma.” Melisa meremas lengan Dharma erat meminta perlindungan. Saking syoknya, ia tidak bisa menangis atau mengatakan apapun selain diam dengan ekspresi kaku.

Baru kali ini dalam hidupnya, ia mengalami kejadian yang mirip dengan adegan yang biasa ditontonnya dalam film.

“Apa kamu mengenal mereka?”

Melisa menggeleng lemah. Kepalanya masih pusing efek obat bius yang dihidupnya tadi.

Dharma mengisyaratkan pada tim pengawalnya untuk mencari tahu siapa dalam dibalik kejadian ini. Lalu menggendong Melisa lagi menuju mobil.

1
yuqana
karyanya bagus rekomend buat dibaca karya pertama semoga sukses yaa kak ditunggu up yaa🥰🥰😍😍😘😘
Anonim: Makasih banyak untuk dukungannya kak.
iya nih, baru karya pertama. semoga kakak juga sukses yaa 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!