NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 — Orang yang Menciptakan Dirinya Sendiri

“Karena jika kau mengetahui kebenaran sejak awal, kau tidak akan pernah mau hidup.”

Kalimat Gu Yuan menggantung di tengah hamparan putih.

Gu Chen berdiri tanpa bergerak. Pisau di tangannya masih berlumuran darah, tetapi ia bahkan tidak menyadari luka yang mengalir dari telapak tangannya. Ia hanya menatap lelaki di hadapannya, mencoba menemukan kebohongan pada wajah yang selama ini ia anggap sebagai wajah ayahnya.

“Aku ingin kau mengulanginya,” kata Gu Chen akhirnya.

Gu Yuan menunduk.

“Aku telah berbohong kepadamu.”

“Bukan itu. Bagian sebelumnya.”

“Aku menciptakan kehidupan yang kau jalani sekarang.”

Gu Chen tertawa kecil. Tidak ada kegembiraan dalam tawanya.

“Bagaimana caranya? Kau mengambil seorang bayi, menghapus ingatannya, lalu memberinya nama baru? Atau kau menciptakan tubuh dari ketiadaan dan memasukkan ingatan palsu ke dalamnya?”

Gu Yuan tidak segera menjawab.

Gu Chen mengangguk perlahan.

“Jadi, salah satunya benar.”

“Tidak sesederhana itu.”

“Kalimat yang sangat bagus. Semua orang yang menyembunyikan sesuatu dariku selalu mengatakannya.”

Ia melangkah maju, tetapi Gu Yuan tidak mundur.

“Dengarkan aku sampai selesai.”

“Tidak. Kali ini aku yang bertanya, dan kau yang menjawab. Aku sudah muak dengan orang-orang yang memutuskan kebenaran mana yang pantas kuterima.”

Gu Yuan menghela napas.

“Baiklah.”

Gu Chen mengangkat tiga jari.

“Pertama, siapa aku sebelum menjadi Gu Chen? Kedua, siapa yang membunuhku? Ketiga, kenapa kau membawaku kembali?”

Gu Yuan memandangnya lama.

“Jawaban untuk pertanyaan pertama akan membuatmu membenci jawaban kedua. Jawaban untuk pertanyaan kedua akan membuatmu mempertanyakan pertanyaan ketiga.”

“Kalau begitu, mulailah dari pertanyaan pertama.”

Gu Yuan akhirnya mengangguk.

“Kau bukan manusia yang dilahirkan secara alami.”

Keheningan menyelimuti hamparan putih.

Gu Chen menunggu kelanjutannya.

Gu Yuan berkata, “Sebelum Papan Kesepuluh tercipta, ada sebuah eksperimen yang dilakukan oleh para pemain pertama. Mereka ingin menciptakan seseorang yang dapat melihat aturan dunia tanpa terikat oleh aturan tersebut. Seseorang yang bisa mengamati permainan, tetapi tidak dapat dikendalikan oleh pemain mana pun.”

“Dan mereka berhasil?”

“Tidak. Mereka menciptakanmu.”

Gu Chen menatapnya tajam.

“Jelaskan perbedaannya.”

“Mereka menginginkan pengamat yang sempurna. Namun, kau memiliki kehendak sendiri. Kau mempertanyakan aturan, menolak perintah, dan pada akhirnya menyerang orang-orang yang menciptakanmu.”

“Lalu aku membunuh salah satu dari mereka?”

“Bukan hanya satu.”

Gu Chen tidak berbicara.

Gu Yuan melanjutkan dengan suara berat, “Dalam kehidupan pertamamu, kau membunuh seorang pemain yang memiliki hak atas identitasmu. Kemudian kau menghancurkan tempat penyimpanan catatan mereka dan menyebabkan satu hari penuh lenyap dari sejarah. Namun, kau tidak berhenti di sana. Kau mencoba menghancurkan seluruh sistem yang memungkinkan mereka mengendalikan kehidupan.”

“Apakah aku berhasil?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena kau berubah pikiran.”

Gu Chen mengerutkan kening.

“Berubah pikiran?”

Gu Yuan menatapnya.

“Kau menemukan seseorang yang ingin kau selamatkan.”

Sekilas, Gu Chen kembali melihat gadis kecil berambut putih. Ia melihat kota terbakar, pedang yang menembus dadanya, dan dirinya sendiri yang berlutut di hadapan seseorang sambil meminta untuk dibunuh.

Ia memejamkan mata.

“Gadis itu.”

Gu Yuan tidak menjawab, tetapi kesunyian sudah cukup menjadi jawaban.

“Siapa namanya?”

“Aku tidak bisa memberitahumu.”

Gu Chen membuka mata.

Wajahnya menjadi dingin.

“Kau berjanji akan menjawab pertanyaanku.”

“Aku tidak bisa mengucapkan namanya di tempat ini. Jika nama itu disebut, sesuatu yang telah lama tertidur akan terbangun.”

“Lalu kapan kau bisa mengatakannya?”

“Ketika kau menemukan tempat di mana namamu pertama kali dihapus.”

Gu Chen tertawa tanpa humor.

“Jadi, aku harus mencari tempat lain lagi.”

“Aku tahu kau lelah.”

“Tidak. Kau tidak tahu.” Gu Chen menunjuk dadanya sendiri. “Aku tidak tahu apakah ingatanku milikku. Aku tidak tahu apakah keluargaku nyata. Aku tidak tahu apakah orang-orang yang menolongku benar-benar ingin menolongku. Bahkan namaku sendiri mungkin hanya sebuah kebohongan yang kau ciptakan agar aku mau hidup.”

Gu Yuan menundukkan kepala.

“Aku tahu.”

“Jangan mengatakan kau tahu jika kau tidak bisa membuktikannya.”

Untuk pertama kalinya, Gu Yuan tidak mencoba membantah.

Hamparan putih mulai bergetar.

Retakan kecil muncul di bawah kaki mereka. Dari dalam retakan tersebut mengalir kegelapan yang tidak memantulkan cahaya.

Gu Yuan menoleh ke sekeliling.

“Kita tidak punya banyak waktu.”

“Kenapa?”

“Karena kau telah memutus hubungan dengan identitas pertamamu. Para pemain akan segera menyadari bahwa mereka tidak lagi memiliki cara mudah untuk mengendalikanmu.”

“Bukankah itu hal yang bagus?”

“Bagi mereka, tidak. Bagi dunia, belum tentu.”

Gu Chen mengerutkan kening.

Gu Yuan mengangkat tangan. Di udara muncul gambaran sebuah papan raksasa yang terbagi menjadi sembilan bagian. Di atasnya berdiri ribuan bidak, sebagian berwarna putih, sebagian hitam, dan beberapa berwarna merah gelap.

“Para pemain tidak sepenuhnya mengendalikan dunia. Mereka hanya mengatur aturan tertentu. Mereka dapat memengaruhi kelahiran, kematian, ingatan, sebab akibat, kemungkinan, ruang, waktu, kehendak, dan batas antara dunia.”

Sembilan simbol muncul di atas papan.

“Namun, tidak ada aturan yang sempurna. Setiap kali mereka mengubah sesuatu, selalu ada kemungkinan munculnya akibat yang tidak dapat mereka kendalikan.”

“Dan aku adalah akibat itu?”

“Kau adalah salah satunya.”

“Lalu Papan Kesepuluh?”

Gu Yuan menatap simbol kesepuluh yang tidak muncul di papan.

“Papan Kesepuluh tidak pernah diciptakan untuk mengendalikan dunia. Ia diciptakan untuk menyimpan segala sesuatu yang tidak dapat dimasukkan ke dalam sembilan aturan lainnya.”

“Termasuk diriku.”

“Termasuk dirimu.”

Gu Chen mengusap wajah.

“Kalau begitu, kenapa aku harus menghancurkan para pemain? Mengapa tidak cukup dengan menghancurkan Papan Kesepuluh?”

“Karena papan itu bukan sumber masalahnya.”

“Lalu apa?”

Gu Yuan menatapnya lekat-lekat.

“Keinginan manusia untuk memastikan bahwa segala sesuatu berjalan sesuai kehendaknya.”

Gu Chen terdiam.

Ia teringat semua orang yang ditemuinya selama perjalanan. Mereka yang memanipulasi sejarah, menghapus ingatan, dan memperlakukan kehidupan sebagai sesuatu yang dapat dipindahkan sesuka hati. Mereka semua percaya bahwa tindakan mereka diperlukan demi tujuan yang lebih besar.

Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Kalau para pemain menciptakan sistem ini, siapa yang menciptakan para pemain?”

Gu Yuan tidak menjawab.

Gu Chen memperhatikan ekspresinya.

“Ayah.”

Gu Yuan mengangkat wajah.

“Kau tahu jawabannya.”

“Aku tahu sebagian.”

“Kalau begitu, katakan sebagian itu.”

Gu Yuan memandang papan raksasa yang perlahan memudar.

“Para pemain bukanlah makhluk pertama yang mengamati dunia. Sebelum mereka, ada seseorang yang menciptakan aturan untuk memastikan bahwa dunia tidak akan pernah kehilangan bentuknya.”

“Siapa?”

“Orang yang namanya tidak lagi tercatat.”

Gu Chen merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.

“Pemain Pertama?”

Gu Yuan menggeleng.

“Pemain Pertama hanyalah gelar yang diberikan kepada orang pertama yang berhasil mengambil alih hak untuk mengamati dunia. Bukan gelar bagi penciptanya.”

“Jadi, ada seseorang di atas para pemain?”

“Pernah ada.”

“Dan sekarang?”

Gu Yuan menatapnya.

“Sekarang, mungkin hanya kau yang tersisa sebagai bukti bahwa orang itu pernah hidup.”

Sebelum Gu Chen sempat bertanya lebih jauh, hamparan putih bergetar hebat.

Sebuah suara terdengar dari segala arah.

\[OTORITAS PEMAIN PERTAMA MENDEKATI BATAS WILAYAH.\]

\[TARGET: GU CHEN.\]

\[PERINTAH: KEMBALIKAN IDENTITAS PERTAMA.\]

Gu Yuan segera melangkah ke depan.

“Dia sudah menemukan kita.”

“Siapa?”

“Orang yang mengenakan wajahmu.”

Gu Chen langsung teringat sosok berambut putih dengan lingkaran hitam di mata kirinya.

“Kalau dia adalah diriku yang dahulu, mengapa dia ingin mengambil alih tubuhku?”

“Karena dia percaya bahwa kehidupanmu sekarang adalah sesuatu yang dicuri darinya.”

“Dan apakah dia benar?”

Gu Yuan terdiam sesaat.

“Dari sudut pandangnya, ya.”

Gu Chen tertawa pendek.

“Bagus. Jadi, bahkan musuhku memiliki alasan yang masuk akal.”

“Dia bukan sekadar musuhmu.”

Gu Yuan menatapnya dengan kesedihan yang sulit disembunyikan.

“Dia adalah bagian dari dirimu yang tidak berhasil kubawa kembali.”

Sebuah celah terbuka di udara.

Dari dalamnya muncul sosok berjubah hitam. Rambut putihnya terurai hingga pinggang, dan lingkaran hitam pada mata kirinya berputar seperti pusaran kecil.

Pemain Pertama.

Ia menatap Gu Yuan terlebih dahulu.

“Sudah lama, Penjaga Papan Ketiga.”

Gu Yuan berdiri tegak.

“Aku tidak lagi menjadi penjaga.”

“Tidak. Kau hanya kehilangan hak untuk menjaga.”

Pemain Pertama mengalihkan pandangannya kepada Gu Chen.

“Dan kau.”

Gu Chen mengangkat pisaunya.

“Aku?”

Pemain Pertama tersenyum.

“Kau telah melakukan sesuatu yang bahkan diriku yang dahulu tidak berani lakukan. Kau memutus hubungan antara dua identitas yang berasal dari satu sumber.”

“Kalau begitu, seharusnya kau berterima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena aku menghemat waktumu. Sekarang kau tidak perlu repot-repot mencoba mengambil alih tubuhku.”

Pemain Pertama tertawa pelan.

“Kau masih menggunakan humor sebagai tameng.”

“Dan kau masih menggunakan penampilan menyeramkan untuk menutupi fakta bahwa kau tidak punya sopan santun.”

Senyum Pemain Pertama melebar.

“Aku menyukaimu.”

“Sayangnya, perasaan itu tidak berbalas.”

“Dahulu, kau juga mengatakan hal yang sama.”

Gu Chen terdiam.

Pemain Pertama mengangkat tangan. Sebuah gambaran muncul di udara: seorang anak laki-laki duduk di ruangan putih, dikelilingi sembilan sosok bertopeng. Di hadapannya berdiri Gu Yuan, jauh lebih muda daripada yang dikenal Gu Chen sekarang.

Di samping Gu Yuan terdapat seorang gadis kecil berambut putih.

Wajahnya sama dengan gadis yang ditemui Gu Chen di Arsip Kesebelas.

Namun, dalam gambaran itu, gadis tersebut tidak sedang menangis.

Ia tersenyum.

Anak laki-laki di kursi menunjuk gadis tersebut.

“Jika aku harus memilih antara dunia dan dirinya, aku akan memilih dirinya.”

Gambaran itu berubah.

Kota terbakar. Para pemain jatuh satu demi satu. Papan raksasa retak. Anak laki-laki tersebut berdiri di tengah kehancuran dengan pedang di tangannya.

Kemudian ia berlutut di hadapan gadis berambut putih.

“Bunuh aku,” katanya.

Gadis itu menangis sambil menggeleng.

“Tidak.”

“Kalau kau tidak melakukannya, aku akan menghancurkan dunia ini.”

“Aku tidak peduli!”

“Aku peduli.”

Anak laki-laki itu tersenyum sedih.

“Aku tidak ingin kau hidup di dunia yang kubangun dari mayat orang-orang yang tidak bersalah.”

Gambaran itu menghilang.

Gu Chen berdiri membeku.

Ia tidak tahu apakah yang baru saja dilihatnya adalah ingatan asli atau rekaman yang telah dimanipulasi. Namun, perasaan yang muncul di dadanya terlalu kuat untuk diabaikan.

Pemain Pertama menatapnya.

“Sekarang kau mengerti mengapa aku ingin mengambil kembali tubuhmu?”

Gu Chen perlahan menggeleng.

“Tidak.”

Pemain Pertama mengangkat alis.

“Tidak?”

“Aku mengerti mengapa kau ingin kembali. Tapi aku tidak mengerti mengapa kau menganggap dirimu berhak menentukan apa yang harus kulakukan.”

Senyum Pemain Pertama menghilang.

Gu Chen melanjutkan, “Jika aku benar-benar dirimu, aku punya hak untuk membuat pilihan yang berbeda. Jika aku bukan dirimu, kau tidak punya hak atas hidupku.”

Ia mengangkat pisaunya.

“Jadi, berhentilah menganggapku sebagai barang milikmu.”

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Kemudian Pemain Pertama menurunkan tangannya.

“Baiklah.”

Gu Chen tidak mempercayai jawaban itu.

“Baiklah?”

“Aku tidak akan mengambil tubuhmu hari ini.”

“Dan besok?”

“Besok adalah hari yang berbeda.”

Pemain Pertama melangkah mundur menuju celah.

“Tetapi ada satu hal yang harus kau ketahui, Gu Chen. Aku bukan orang yang menciptakanmu. Aku juga bukan orang yang pertama kali memberimu nama.”

Ia berhenti.

“Aku hanya orang yang membunuhmu ketika kau masih memiliki nama itu.”

Gu Chen merasakan napasnya tercekat.

Pemain Pertama tersenyum tipis.

“Jika kau ingin mengetahui siapa yang benar-benar menciptakanmu, carilah tempat di mana semua nama berakhir.”

“Di mana tempat itu?”

“Di luar sembilan papan.”

Celah mulai menutup.

Sebelum menghilang, Pemain Pertama menatap Gu Yuan.

“Dan kau, Penjaga Papan Ketiga, seharusnya tahu bahwa menyelamatkan anak itu tidak akan mengubah apa pun.”

Gu Yuan menjawab dengan suara tenang.

“Mungkin tidak.”

Ia menatap Gu Chen.

“Tetapi setidaknya kali ini, dia berhak memilih sendiri.”

Celah tertutup.

Hamparan putih kembali sunyi.

Gu Chen menatap tempat Pemain Pertama menghilang.

“Apakah dia mengatakan yang sebenarnya?”

Gu Yuan menjawab, “Sebagian.”

“Bagian mana?”

“Dia memang membunuhmu.”

“Dan bagian lainnya?”

“Dia berbohong tentang alasan dia melakukannya.”

Gu Chen memandang ayahnya.

“Lalu apa alasan sebenarnya?”

Gu Yuan tidak menjawab.

Gu Chen tertawa hambar.

“Tentu saja.”

Ia memasukkan pisaunya ke sarung.

“Baiklah. Aku akan mencari tempat di luar sembilan papan. Aku akan menemukan orang yang menciptakanku, mencari tahu nama pertamaku, dan memahami mengapa aku pernah memilih untuk mati.”

Gu Yuan mengangguk.

“Tetapi aku punya satu syarat.”

Gu Chen menatapnya.

“Jangan pernah memutuskan sesuatu hanya berdasarkan ingatan yang kau temukan.”

“Kenapa?”

“Karena ingatan dapat diubah. Perasaan dapat dimanipulasi. Bahkan sebuah pengorbanan dapat dibuat terlihat seperti pembunuhan.”

Gu Chen terdiam cukup lama.

Kemudian ia bertanya, “Apakah semua ingatanku tentangmu juga bisa jadi kebohongan?”

Gu Yuan tidak langsung menjawab.

Dan untuk pertama kalinya, Gu Chen melihat sesuatu yang lebih menyakitkan daripada rasa bersalah di mata lelaki itu.

Ketakutan.

“Ya,” jawab Gu Yuan akhirnya. “Bisa.”

Gu Chen menunduk.

Ia ingin marah. Ia ingin menuntut penjelasan. Ia ingin memaksa Gu Yuan mengatakan bahwa setidaknya sebagian dari masa lalu mereka benar-benar terjadi.

Namun, ia tidak melakukannya.

Sebab di tengah semua kebingungan itu, ia menyadari satu hal sederhana.

Ia masih ingin memercayai lelaki tersebut.

Dan mungkin itulah kebohongan yang paling berbahaya.

Gu Yuan mengulurkan tangan.

“Apakah kau bersedia ikut denganku?”

Gu Chen menatap tangan itu.

Ia tidak segera menyambutnya.

“Aku akan ikut,” katanya. “Bukan karena aku percaya kepadamu.”

Gu Yuan mengangguk.

“Lalu karena apa?”

Gu Chen menggenggam tangannya.

“Karena aku ingin melihat sendiri kapan kau akan berhenti berbohong.”

Untuk pertama kalinya, Gu Yuan tertawa kecil.

Tawa yang terdengar begitu akrab hingga Gu Chen merasakan sesuatu di dalam dadanya mengendur.

Namun, jauh di balik hamparan putih, sebuah tulisan muncul pada permukaan yang tidak terlihat oleh mereka.

\[KONDISI TERPENUHI.\]

\[SUBJEK GU CHEN TELAH KEMBALI BERTEMU DENGAN PENCIPTANYA.\]

\[FASE KEDUA DIMULAI.\]

Di bawah tulisan itu, muncul satu baris terakhir.

\[PERINGATAN: PENCIPTA TELAH BERBOHONG TENTANG IDENTITASNYA SENDIRI.\]

Dan di suatu tempat di luar sembilan papan, seseorang membuka mata.

“Bagus,” bisiknya.

“Sekarang mereka akhirnya bertemu.”

Ia tersenyum, memperlihatkan wajah yang sama sekali tidak asing bagi Gu Chen.

Wajah Gu Yuan.

Bersambung ke Bab 21 — Di Luar Sembilan Papan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!