Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANDA TANGAN YANG ASLI
"Dua puluh enam tahun, Hendra. Aku menghitung tiap harinya."
Dokter Bimo melangkah masuk dengan tenang, sepatunya mengetuk lantai bata lembap. Dua lelaki berseragam di belakangnya menyebar ke sisi ruangan tanpa diperintah. Seorang menutup pintu besi. Seorang lagi berdiri di depan tangga, tangan di pinggang, matanya tak lepas dari Pak Wiryo.
Pak Hendra tidak bergerak. Wajahnya sudah kehilangan semua warna, tapi bibirnya masih berusaha tersenyum, senyum orang yang sedang mencari celah di dinding yang menutup dari semua sisi.
"Bimo. Kamu... kamu seharusnya di Jerman."
"Seharusnya." Dokter Bimo membuka map hitamnya dan meletakkan satu lembar di meja logam, tepat di samping cangkir teh yang sudah dingin. "Tapi seseorang menghentikan kiriman uang bulananku dua tahun lalu. Aku kira kamu lupa. Ternyata kamu sedang sibuk menyusun rencana lain."
"Aku tidak mengerti maksudmu."
"Tentu kamu mengerti." Dokter Bimo tersenyum tipis. "Kamu membayarku untuk menghilang. Aku menerima karena waktu itu aku muda, takut, dan kamu bilang kalau aku bicara, aku yang akan masuk penjara. Dua puluh enam tahun aku hidup di negeri orang dengan nama yang bukan namaku."
Sinta berdiri membeku di antara mereka. Napasnya pendek. Di sudut ruangan, Damar menatapnya dengan satu mata yang masih terbuka, tak berani bersuara.
"Dokter Bimo," ucap Sinta pelan. "Anda yang disebut dalam kasus pasien itu?"
Lelaki itu menoleh padanya. Tatapannya, yang tadi sedingin besi, melunak sedikit. "Kamu Sinta."
"Anda kenal saya?"
"Aku mengenal wajah ibumu. Kamu mewarisi alisnya." Ia menarik napas dalam. "Kita bicara setelah ini. Beri aku lima menit."
"Jangan dengarkan dia!" Pak Hendra tiba-tiba membentak, suaranya pecah dari wibawa yang selama ini ia jaga. "Dia pembohong! Dia lari dari tanggung jawab dua puluh enam tahun lalu! Wiryo, tembak..."
*Dor.*
Suara itu bukan dari pistol Pak Wiryo. Dentumannya terlalu keras, terlalu dekat, dan datang dari belakang Sinta. Lampu pijar bergoyang. Debu bata berjatuhan dari langit-langit. Pak Wiryo menjerit dan terhuyung, tangannya memegang pergelangan yang tiba-tiba berdarah, pistol terpental dan menggelinding ke kaki meja.
Di ambang pintu, salah satu lelaki berseragam menurunkan senjatanya perlahan. "Polisi. Jangan bergerak."
Hening setengah detik. Lalu kekacauan pecah.
Pak Wiryo, meski berdarah, menerjang ke arah Sinta dengan sisa tenaganya, tangan kiri yang sehat terjulur ke lehernya. Sinta tidak sempat mundur. Jari-jari besar itu mencengkeram kerah jaketnya dan menariknya keras ke depan.
"Perempuan sialan..."
Sinta menjatuhkan dirinya ke lantai, memanfaatkan berat tubuh lawan, lalu mengayunkan siku ke ulu hati lelaki itu sekuat tenaga. Pak Wiryo tersentak dengan suara tercekik. Tangannya melonggar. Sinta berguling, meraih kaki kursi yang tergeletak, dan menghantamkannya ke betis lelaki itu.
Ia tidak tahu dari mana datangnya tenaga itu. Mungkin dari tujuh tahun menahan, mungkin dari satu minggu hidup di antara orang-orang yang ingin membungkamnya. Tapi malam ini tubuhnya tidak lagi bergerak seperti tubuh perempuan yang terbiasa menunduk.
Pak Wiryo jatuh berlutut. Sebelum ia bisa bangkit, dua polisi menindihnya, memelintir lengannya ke belakang, dan memborgolnya dengan bunyi klik yang memuaskan.
"Mbak Sinta!"
Reza muncul dari tangga dengan wajah babak belur, baju sobek di bahu, tapi mata menyala. Di belakangnya Pak Tohir, mandor tua berbadan kekar, memegang linggis berkarat di tangan.
"Aku lumpuhkan dua penjaga di atas," kata Reza terengah. "Satu lagi kabur lewat pelabuhan. Mbak nggak apa-apa?"
"Aku baik. Damar..."
Reza langsung berlari ke kursi Damar dan memotong tali di pergelangannya dengan pisau lipat. Damar terjatuh ke depan, batuk, dan Sinta bergegas menangkap bahunya sebelum ia menyentuh lantai.
"Sin..." bisik Damar, darah menetes dari sudut bibirnya. "Kenapa kamu datang?"
"Karena kamu suamiku."
"Aku nggak pantas..."
"Itu urusan nanti. Sekarang diam dan bernapas."
Ia menahan tubuh lelaki itu dengan satu lengan, sementara matanya mencari-cari satu sosok yang tiba-tiba hilang dari ruangan.
Kursi putar di balik meja itu kosong. Cangkir teh masih mengepul tipis, dan di belakangnya, tirai tebal yang menutupi dinding bata tersingkap sedikit, memperlihatkan pintu kecil yang tadi tak terlihat.
"Dia kabur!" seru Sinta.
Dokter Bimo mengumpat pelan dan berlari ke pintu rahasia itu bersama seorang polisi. Sinta menurunkan Damar ke pelukan Reza, lalu menyambar pistol yang tergeletak di lantai. Bukan untuk menembak, hanya karena benda itu satu-satunya hal berat yang bisa dipegangnya.
"Mbak, jangan!"
"Jaga Damar!"
Ia menyusul masuk ke lorong sempit di balik pintu rahasia itu. Lorongnya gelap, berbau lumut dan air payau, lantainya licin. Di kejauhan terdengar langkah tergesa dan napas memburu. Sinta berlari menyusuri lorong itu, tangan kiri meraba dinding bata basah, jantungnya berdentam di telinga.
Lorong itu berakhir di tangga besi karatan yang naik ke permukaan. Di puncaknya, sebuah lubang persegi terbuka ke arah langit malam. Pak Hendra baru saja memanjat keluar, jasnya robek, kacamatanya hilang, dan di tangannya sebuah tas kulit kecil yang dipeluk erat seperti bayi.
"Berhenti!" teriak Sinta.
Pak Hendra menoleh. Dari bawah, wajahnya tampak putih dan tua di bawah cahaya bulan. Ia berhenti sebentar, napasnya tersengal, dan dalam jeda itu tampaklah sesuatu yang sama sekali tak ada pada dirinya satu jam lalu: ketakutan yang telanjang.
"Sinta," katanya terengah. "Dengarkan aku. Kamu tidak tahu apa yang kamu hancurkan."
"Saya tahu persis."
"Tidak. Kamu tidak tahu apa pun." Ia mengangkat tas itu. "Semua yang kamu cari ada di sini. Surat ayahmu, dokumen Haryo, rekam medis ibumu. Kamu mau semuanya? Turun dan jangan ikut campur lagi. Aku berikan sekarang."
"Anda bohong."
"Aku tidak bohong. Aku cuma tidak mau semuanya keluar dengan cara yang salah." Matanya melirik cepat ke belakang Sinta, ke lorong gelap. "Mereka tidak akan memberitahumu yang sebenarnya, Sinta. Bimo tidak akan. Bu Retno tidak akan. Aku satu-satunya yang tahu."
"Tahu apa?"
Pak Hendra menelan ludah. Ia menatap Sinta lama, dan di wajahnya terjadi perubahan yang paling aneh: bukan kemarahan, bukan kelicikan, tapi sesuatu yang mendekati iba.
Sinta mengangkat pistol itu dengan kedua tangan. Gemetar, tapi arahnya lurus.
"Letakkan tasnya."
"Kamu tidak akan menembak."
"Jangan uji saya."
Langkah kaki bergema di lorong di belakangnya. Dokter Bimo dan polisi hampir sampai. Pak Hendra mendengarnya, dan senyumnya, entah dari mana, kembali. Senyum pahit, putus asa, dan anehnya sedikit puas.
"Sudah terlambat, Sinta. Mereka sudah di belakangmu."
"Saya tahu."
"Lalu kenapa kamu tidak menembak?"
"Karena saya mau Anda hidup." Sinta menatapnya tanpa berkedip. "Saya mau Anda hidup cukup lama untuk melihat semuanya runtuh."
Pak Hendra tertawa pendek, serak. Ia melepaskan satu tangannya dari tas, membiarkan tas itu tergantung di bahu, dan mengangkat telapak tangan ke udara, tanda menyerah. Sinta nyaris menurunkan pistolnya.
Lalu tangan itu bergerak cepat ke saku dalam jasnya.
"Jangan!" teriak Dokter Bimo dari belakang.
Tapi yang keluar bukan senjata. Hanya sebuah ponsel kecil, layarnya menyala. Pak Hendra mengetuk sebuah tombol, lalu mengangkatnya ke udara, menunjukkan layar itu ke arah Sinta dengan senyum yang kini sepenuhnya kembali.
"Pesan terkirim," bisiknya. "Pada orang yang akan menyelesaikan semuanya malam ini. Kamu pikir aku datang tanpa cadangan?"
Dari kejauhan, di arah rumah kosong paman Tari, terdengar bunyi ledakan kecil yang disusul teriakan perempuan. Sinta menoleh, jantungnya jatuh ke perut.
"Melia..." bisiknya. "Bu Retno..."
Pak Hendra menurunkan tangannya perlahan, wajahnya kini dingin dan tenang seperti saat pertama masuk ruang bawah tanah itu.
"Bimo akan mengatakan padamu bahwa ibumu meninggal karena kecelakaan medis. Itu kebohongan paling manis yang pernah dikarang." Ia melangkah mundur, tepi atap pabrik es tinggal setengah meter di belakang tumitnya. "Tanya dia siapa sebenarnya ayahmu, Sinta. Tanya kenapa Darmawan tidak pernah memelukmu seperti ayah memeluk anaknya."