Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. Penjaga Gerbang Yang Melihat Orang Mati
"Hamba tidak dapat memastikan lokasi kematiannya hanya berdasarkan pemeriksaan tubuh.” Tabib Gu Wen menjawab hati-hati.
"Tetapi, tubuhnya ditemukan di sana.” Tukas Penasihat Qian Bei, terdengar menggiring.
“Benar, Tuan...”
“Dan menurut perkiraanmu, ia telah meninggal sebelum tengah malam.” Alis Qian Bei berkerut seakan sedang berusaha mencocokkannya.
“Benar, Tuan.”
Qian Bei menyandarkan punggungnya pada kursi, seolah kepalanya berfikir keras.
“Kalau begitu, kesaksianmu akan dicatat sebagaimana adanya.” Ia memberi isyarat kepada juru tulis.
Kuas segera bergerak di atas kertas. Kata-kata Tabib Gu Wen dicatat dalam bentuk yang tampak sederhana, tetapi mengandung akibat yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang.
Tabib kerajaan memperkirakan bahwa Shen Rui meninggal sebelum tengah malam.
Tidak ada keterangan bahwa perkiraan itu memiliki batas ketidakpastian. Tidak ada penjelasan bahwa pemeriksaan tubuh saja tidak cukup untuk menentukan waktu kematian secara tepat. Tidak pula dicatat bahwa Tabib Gu Wen tidak dapat memastikan di mana Shen Rui meninggal.
Yang tersisa hanyalah kalimat pendek yang dapat dipotong dari konteksnya, lalu digunakan untuk memperkuat tuduhan.
Qian Bei memandang juru tulis itu.
“Pastikan laporan ini diserahkan kepada penyelidik utama sebelum sidang berikutnya.” Ucapnya dengan bijak.
“Baik, Tuan Pejabat.”
Tabib Gu Wen menundukkan kepala.
Ia seharusnya merasa lega karena pemeriksaan telah selesai. Namun, ketika melangkah meninggalkan ruangan, ia justru merasa seperti seseorang yang baru saja menyerahkan sebagian jiwanya kepada tangan yang salah.
Di luar, angin malam menerpa wajahnya.
Tabib tua itu berhenti di bawah atap koridor dan memejamkan mata.
“Maafkan aku,” bisiknya.
Ia tidak tahu kepada siapa permintaan maaf itu ditujukan.
Kepada Shen Rui yang telah meninggal?
Kepada Wang Laoyin yang sedang difitnah?
Ataukah kepada dirinya sendiri, karena ia telah membiarkan ketakutan mengalahkan sumpah yang dijaganya sepanjang hidup?
Tidak ada yang menjawab.
Hanya lentera merah yang bergoyang di atas kepalanya, memancarkan cahaya yang semakin redup.
Pada malam yang sama, seorang penjaga gerbang bernama Zhou De dibawa ke ruang pemeriksaan yang berbeda.
Ia berusia sekitar tiga puluh lima tahun, bertubuh tegap dengan bahu lebar dan kulit kecokelatan akibat bertahun-tahun berjaga di bawah matahari. Seragamnya berwarna kelabu gelap, dengan ikat pinggang kulit dan lambang penjaga istana yang dijahit di bagian dada.
Selama delapan tahun bertugas di gerbang dalam Istana Weishan, Zhou De dikenal sebagai prajurit yang patuh. Ia tidak banyak bicara, jarang terlibat pertengkaran, dan selalu berusaha menyelesaikan tugasnya tanpa menarik perhatian.
Namun, beberapa hari sebelum kematian Shen Rui diumumkan, hidupnya berubah ketika seorang utusan mendatanginya di sebuah kedai kecil di luar tembok istana.
Utusan itu membawa pesan yang sangat singkat.
Ia diminta mengatakan bahwa pada malam kematian Shen Rui, dirinya melihat pengawal tersebut memasuki Paviliun Fengyi menjelang fajar. Sebagai imbalannya, utusan itu menjanjikan uang yang cukup untuk melunasi utang keluarganya.
Zhou De telah menolak pada awalnya.
Ia tahu bahwa memberikan kesaksian palsu di dalam istana merupakan kejahatan berat. Jika kebohongannya terbongkar, ia dapat kehilangan kedudukan, menerima hukuman penjara, bahkan menghadapi hukuman mati.
Namun, utusan itu mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya diketahui orang asing.
Utang ayahnya.
Nama adiknya.
Dan rumah kecil tempat keluarganya tinggal di pinggiran Weishan.
Ancaman itu tidak diucapkan secara langsung.
Justru itulah yang membuatnya lebih menakutkan.
Kini, di ruang pemeriksaan, Zhou De berdiri di hadapan seorang penyelidik dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya.
“Ulangi kesaksianmu,” perintah penyelidik.
Zhou De menarik napas.
“Pada malam kejadian, hamba berjaga di gerbang dalam. Menjelang fajar, hamba melihat Shen Rui memasuki wilayah Paviliun Fengyi.”
“Jam berapa tepatnya?”
“Sekitar menjelang fajar, ketika langit mulai berubah warna.”
“Apakah kau melihat wajahnya dengan jelas?”
Zhou De ragu sesaat.
Ia sebenarnya tidak melihat Shen Rui malam itu. Ia bahkan tidak mengetahui dari mana lelaki itu datang atau ke mana ia pergi. Namun, ia telah diberi gambaran mengenai pakaian yang harus disebutkannya, arah yang harus dikatakan sebagai jalur masuk, serta cara menjawab apabila ditanya lebih lanjut.
“Wajahnya tidak terlalu jelas,” katanya, berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar gemetar.
“Tapi..."
Zhou De terdiam sesaat, membuat petugas penyelidik itu tak sabar.
"Dari postur tubuh dan pakaian yang dikenakannya, hamba yakin bahwa itu Shen Rui.” Lanjutnya sambil menelan ludah berat.
“Apakah ada orang lain yang melihatnya?”
“Hamba tidak mengetahui, Tuan.”
“Apakah Shen Rui membawa senjata?”
Zhou De menelan ludah sekali lagi.
“Seingat hamba, ia membawa sesuatu di pinggangnya.” Dia terlihat berfikir keras, bukan berfikir keras mengingat kejadian tetapi mengingat semua arahan yang di tanamkan di kepalanya.
“Seingatmu?”
“Hamba tidak dapat melihatnya dengan jelas.” Zhou De menggigit bibirnya, gelisah yang berusaha di tekannya.
Penyelidik menatapnya lama.
“Apakah kau yakin dengan kesaksianmu?”
Zhou De merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.
Ia ingin mengatakan tidak.
Ia ingin mengakui bahwa dirinya tidak melihat Shen Rui memasuki Paviliun Fengyi dan mengungkapkan bahwa seluruh cerita itu disusun oleh orang yang bahkan tidak berani memperlihatkan wajahnya.
Tetapi bayangan keluarganya muncul di benaknya.
Ayahnya yang sudah tua.
Adiknya yang bekerja menjahit pakaian untuk mendapatkan beberapa keping perak.
Rumah kecil mereka yang dapat disita sewaktu-waktu jika utang tidak dibayar.
Zhou De mengatupkan gigi.
“Hamba yakin dengan apa yang hamba sampaikan.”
Juru tulis mencatat kesaksiannya.
Dalam laporan itu, keraguan yang muncul di antara kata-katanya menghilang. Tidak ada catatan tentang wajah yang tidak terlihat jelas. Tidak ada keterangan bahwa waktu kejadian tidak dapat dipastikan. Tidak ada penjelasan bahwa ia tidak memiliki saksi lain.
Laporan tersebut hanya memuat satu kalimat yang tegas.
Penjaga gerbang menyatakan melihat Shen Rui memasuki Paviliun Fengyi menjelang fajar.
Ketika Zhou De akhirnya diizinkan meninggalkan ruangan, langkahnya terasa berat. Ia berjalan melewati koridor dengan kepala tertunduk, sementara kedua tangannya gemetar di balik lengan seragam.
Ia telah mendapatkan janji pembayaran.
Tetapi ia tidak merasa lebih aman.
Ia hanya merasa telah menukar ketakutannya terhadap ancaman dengan ketakutan yang lebih besar terhadap kebenaran.
(Bersambung....)