Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pelukan Nabila terasa begitu erat mengunci tubuh mungil Luna di lantai lobi mall itu.
Namun bagi gadis kecil yang tidak pernah mengenal kasih sayang itu, pelukan ini justru terasa sangat menakutkan.
Tubuh Luna menegang kaku seperti sebatang kayu yang disandarkan di dinding.
"Nyonya... tolong lepaskan saya," ucap Luna dengan suara parau yang bergetar hebat.
Nabila menggelengkan kepalanya dengan cepat dan justru semakin menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher kotor Luna.
"Tidak, sayang. Mama tidak akan pernah melepaskanmu lagi," isak Nabila dengan air mata yang terus mengalir deras.
Kata Mama yang keluar dari mulut wanita cantik itu membuat mata bulat Luna membelalak kebingungan.
"Nyonya pasti salah orang, saya bukan anak Nyonya," tolak Luna mencoba mendorong pelan dada Nabila.
"Baju Nyonya yang bagus ini nanti jadi kotor berbau lumpur," tambah Luna dengan wajah sangat panik.
Luna terus berusaha melepaskan diri karena ketakutan setengah mati melihat gaun sutra Nabila mulai menghitam terkena debu dari bajunya.
"Biarkan saja kotor! Mama tidak peduli dengan baju ini!" teriak Nabila histeris di sela tangisannya.
"Tapi saya peduli, Nyonya! Kalau baju Nyonya kotor, nanti Nyonya minta ganti rugi pada saya!" bantah Luna dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Saya tidak punya uang sama sekali untuk mengganti baju Nyonya yang mahal ini," lanjut gadis kecil itu mulai terisak ketakutan.
Mendengar kepolosan dan ketakutan yang begitu murni dari mulut putrinya, hati Nabila terasa seperti dihantam palu besi berkali-kali.
Nabila akhirnya melonggarkan pelukannya dan menatap wajah kotor Luna dengan kedua tangannya menangkup pipi tirus itu.
"Mama tidak akan minta ganti rugi apa pun padamu, Nak," ucap Nabila menatap tajam tepat di manik mata Luna.
"Mama hanya ingin memelukmu, apakah tidak boleh?" tanya Nabila dengan suara memelas yang menyayat hati.
Luna terdiam menatap mata Nabila yang sembap dan merah karena terlalu banyak menangis.
Ada tatapan tulus yang belum pernah Luna lihat dari mata orang dewasa mana pun seumur hidupnya.
"Tapi saya harus pergi sekarang, Nyonya," cicit Luna menundukkan kepalanya lagi.
"Kenapa kamu harus buru-buru pergi? Kamu bahkan belum makan, badanmu gemetar kelaparan," tahan Nabila memegang lembut bahu Luna.
"Saya harus mencari uang di depan pintu mall ini, Nyonya," jawab Luna dengan polos.
"Kalau saya tidak bawa uang dua ratus ribu hari ini, Ibu Siska akan memukul saya lagi pakai kayu," lanjut Luna tanpa sadar membocorkan siksaan yang dialaminya.
Deg!
Jantung Nabila seolah berhenti berdetak mendengar nama Siska dan ancaman pukulan kayu tersebut.
Darah di tubuh Nabila mendadak mendidih membakar seluruh urat nadinya hingga ke ubun-ubun.
"Siapa Siska? Apakah dia orang yang menyuruhmu mengemis di sini?!" tanya Nabila dengan nada suara yang tiba-tiba berubah sangat dingin.
Luna tersentak kaget mendengar perubahan nada suara Nabila yang mendadak menyeramkan.
"I-ibu Siska itu ibu saya, Nyonya," jawab Luna terbata-bata karena ketakutan.
"Tolong jangan marahi Ibu Siska, nanti saya yang dihukum dan ditendang keluar rumah lagi," mohon Luna memegang tangan Nabila.
Air mata Nabila kembali tumpah melihat betapa hancurnya mental anak ini akibat siksaan yang terus-menerus.
Gadis kecil ini bahkan masih membela wanita iblis yang telah menyiksanya karena saking takutnya.
Nabila secara tidak sengaja menyentuh lengan kiri Luna saat gadis itu memegang tangannya.
"Aw! Sakit, Nyonya!" jerit Luna refleks menarik lengannya ke belakang.
Nabila terkejut dan langsung menarik pelan lengan baju panjang Luna yang terlihat sangat kebesaran itu.
Sret!
Lengan baju kumal itu tersingkap ke atas dan memperlihatkan pemandangan yang membuat Nabila nyaris pingsan detik itu juga.
Terdapat banyak sekali memar berwarna biru keunguan di sepanjang lengan kurus itu.
Bahkan ada beberapa bekas luka bakar berbentuk bulat yang sudah mengering dan bernanah.
Luka bakar itu sangat identik dengan bekas sundutan rokok yang sengaja ditempelkan ke kulit.
"Astaga... Tuhan... apa yang telah mereka lakukan padamu," rintih Nabila menutup mulutnya sendiri dengan tangan gemetar.
Nabila tidak berani menyentuh luka-luka itu karena takut menyakiti putrinya lebih jauh lagi.
Bayangan bayi mungilnya yang dulu lahir dengan kulit putih bersih tanpa cela kini berkelebat di benaknya.
Bayi sucinya itu kini harus penuh dengan luka penyiksaan brutal seperti ini.
Rasa bersalah yang luar biasa besar langsung menelan Nabila hidup-hidup.
Dia hidup bergelimang harta di rumah mewah dan memanjakan Bianca dengan segala barang impor dari luar negeri.
Sementara darah dagingnya sendiri kelaparan di jalanan dan tubuhnya dijadikan asbak rokok oleh orang tidak dikenal.
Nabila merogoh tas tangannya dengan gerakan sangat tergesa-gesa hingga beberapa barangnya berjatuhan ke lantai.
Dia mengambil ponsel pintarnya dan mencari nomor kontak suaminya dengan jari yang terus gemetar hebat.
Tut... Tut... Tut...
Suara nada sambung telepon terdengar sangat lama di telinga Nabila yang sudah tidak sabar.
Sementara itu, di lantai lima puluh gedung Wegan Tower yang menjulang tinggi di pusat kota.
Suasana ruang rapat direksi sedang sangat tegang dan mencekam.
Leon Wegan duduk di kursi ujung meja panjang dengan wajah sedingin balok es menatap puluhan manajernya.
Brak!
Leon memukul meja rapat dengan setumpuk dokumen laporan keuangan dengan sangat keras.
Pukulan itu membuat semua orang di ruangan direksi itu melonjak kaget di kursi mereka masing-masing.
"Kalian sebut ini laporan penjualan?! Penurunan sepuluh persen dalam satu kuartal dan kalian berani minta bonus?!" bentak Leon dengan suara baritonnya yang menggelegar.
Tidak ada satu pun manajer yang berani mengangkat wajah mereka apalagi menjawab pertanyaan CEO kejam tersebut.
Keringat dingin membasahi punggung mereka semua karena tahu betul bagaimana nasib orang yang berani melawan Leon Wegan.
Tiba-tiba, suara dering telepon yang sangat nyaring memecah keheningan di ruang rapat itu.
Dering telepon itu berasal dari ponsel pribadi Leon yang tergeletak di atas meja.
Leon mengerutkan keningnya karena tidak biasanya ada orang yang berani meneleponnya di jam rapat penting seperti ini.
Namun saat mata tajam Leon melihat nama Istriku Tercinta berkedip di layar ponselnya, raut wajah marahnya langsung berubah.
Leon langsung mengambil ponsel itu dan menekan tombol hijau tanpa memedulikan puluhan pasang mata yang menatapnya.
"Ada apa, Sayang? Bukannya kamu sedang di mall bersama Bianca?" sapa Leon dengan nada suara yang melembut seketika.
"Leon... hiks... Leon tolong aku,"
Suara tangisan Nabila yang sangat pecah dan menyayat hati langsung menyapa telinga Leon.
Leon Wegan langsung berdiri dari kursi kebesarannya saking terkejutnya mendengar istrinya menangis histeris.
"Nabila! Kamu kenapa?! Siapa yang berani menyakitimu di sana?!" teriak Leon dengan rahang yang langsung mengeras kaku.
Aura membunuh seketika menguar dari tubuh Leon membuat suhu di ruang rapat itu seolah turun menjadi sangat dingin.
"Leon, cepat datang ke mari. Ke lobi utama mall sekarang juga!" perintah Nabila di sela isak tangisnya yang tidak terkendali.
"Tenanglah sayang, tarik nafasmu. Beritahu aku ada masalah apa sebenarnya di sana?" tanya Leon mencoba menenangkan istrinya.
"Anak kita, Leon! Aku menemukan anak kita yang asli!" jerit Nabila dari seberang telepon.
Alis Leon tertaut rapat memikirkan ucapan istrinya yang terdengar sangat melantur dan tidak masuk akal.
"Apa maksudmu anak kita yang asli? Bianca kan sedang bersamamu sekarang," balas Leon merasa kebingungan.
"Bianca bukan anak kita! Bayi kita ditukar enam tahun lalu, Leon!" teriak Nabila dengan suara serak.
"Datanglah kemari dan lihat sendiri dengan mata kepalamu! Cepatlah Leon!" tambah Nabila sebelum akhirnya sambungan telepon terputus.
Pip.
Leon menatap layar ponselnya yang sudah mati dengan pandangan kosong selama beberapa detik.
Otak jeniusnya mencoba mencerna kalimat istrinya yang terdengar sangat mustahil namun diucapkan dengan penuh keputusasaan.
Istrinya bukanlah wanita gila yang suka membuat lelucon tidak lucu di siang bolong seperti ini.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget