Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.
Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.
Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.
Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INSIDEN DI MALAM PERTAMA.
Malam pun makin larut. Di dalam rumah mungil itu, suasana mendadak menghening. Inayah masih sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil, sambil mengerucutkan bibirnya penuh kekesalan. Gara-gara tempat tidur selebar lapangan bola itu menutupi akses kamar mandi utama, Inayah terpaksa mandi di kamar mandi kecil dekat dapur yang sempit dan minim pencahayaan.
Namun, ketika jarum jam dinding tepat menunjukkan pukul sepuluh malam, waktu yang biasanya menjadi jam tidur Inayah. Gadis itu melirik Abiyan yang masih diam duduk di atas kursi rodanya di samping ranjang.
Rasa kasihan perlahan mengikis jengkel di hatinya. Gimanapun juga dia kan suamiku, dan kakinya tidak berfungsi. Pasti susah mau naik ke kasur setinggi ini, batin Inayah iba.
Inayah berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di samping kursi roda Abiyan. Dengan nada suara yang diusahakan selembut mungkin, ia menawarkan bantuan.
"Mas... Anda mau tidur tidak? Kalau mau tidur, biar saya bantu naik ke tempat tidur," tawar Inayah tulus, memposisikan badannya siap menopang tubuh Abiyan.
Abiyan menoleh pelan, menatap Inayah dengan pandangan datar. "Tidak perlu. Saya bisa sendiri."
Belum sempat Inayah memproses kalimat itu, hal gila terjadi di depan matanya.
Tiba-tiba Abiyan menurunkan kedua kakinya ke lantai dan dengan santai mengangkat tubuhnya, lalu berdiri tegak di atas kedua kakinya sendiri! Pria itu berdiri begitu kokoh, menjulang tinggi melampaui tinggi badan Inayah, lalu meregangkan badannya sedikit tanpa ada rasa sakit atau canggung sama sekali.
Mata bulat Inayah membelalak sempurna sampai rasanya mau melompat keluar. Mulutnya menganga lebar. Pemandangan di depannya benar-benar merusak seluruh logika di otak jeniusnya.
"Mas... Mas... An-Anda... Anda bisa berdiri?!" pekik Inayah panik, seraya menunjuk kaki Abiyan dengan jemarinya yang gemetar. Tatapannya bercampur antara kaget, bingung, dan tak percaya.
Abiyan merapikan kaos santai yang ia kenakan, menatap Inayah santai tanpa dosa. "Kenapa? Memangnya ada hukum dan larangan orang sehat tidak boleh naik kursi roda, hem?"
Dengan santai tanpa beban, Abiyan melangkah lebar, menggunakan kedua kaki sehatnya, menuju sisi kanan tempat tidur, lalu membaringkan tubuh tingginya di sana.
Inayah masih berdiri mematung di tempatnya, menatap kursi roda kosong dan suaminya bergantian.
"Tapi... Tapi itu namanya Anda sudah membohongi publik! Orang-orang menyangka Anda lumpuh, Mas! Termasuk saya! Saya menyangka Anda..."
"Kenapa? Apakah kamu menyesal sekarang karena telah menikah dengan saya, hm?" potong Abiyan cepat. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan, menatap Inayah dengan sudut bibir terangkat tipis.
Inayah membisu. Otaknya yang biasa encer mendadak macet total. Pria di depannya ini ternyata bukan pria penyakitan yang butuh pertolongannya, melainkan pria sehat bugar yang menyembunyikan identitasnya!
Melihat Inayah masih membatu seperti patung di tengah kamar, Abiyan membetulkan posisi tidurnya. "Kenapa hanya diam di sana? Kamu tidak tidur?"
"Eh... i-iya, sa-saya akan tidur," jawab Inayah terbata-bata.
Inayah mulai melangkah pelan menuju ranjang. Namun, fakta bahwa Abiyan memiliki fisik yang sehat sempurna justru memicu pemikiran kotor dan liar di dalam otak ceroboh Inayah.
Aduh, Inayah... kamu berada di dalam kamar sempit bersama pria asing yang kuat dan sehat! Bagaimana kalau ternyata dia ini buronan? Atau bos mafia jahat?! Nanti pas aku tertidur nyenyak, dia bisa saja membunuhku... atau memperkosaku... terus mayatku dijual ke pasar gelap?! batin Inayah merinding disela ketakutan.
Langkah kaki Inayah mendadak berubah menjadi sangat pelan, menyelinap berjinjit sentimeter demi sentimeter menuju kasur bagaikan pencuri.
"Singkirkan pemikiran kotor dan liar dari otak kecilmu yang bodoh itu, Inayah. Aku bukan pria jahat yang ada di bayanganmu, itu."
Suara berat Abiyan terdengar tiba-tiba, padahal mata pria itu sudah terpejam rapat.
Inayah tersentak kaget sampai hampir melompat di tempat. Hah?! Kok dia tahu?!
"Gila..." gumam Inayah ketakutan, menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Jangan-jangan... Jangan-jangan... Anda ini seperti karakter di drama-drama China dan novel-novel ya?! Yang bisa membaca pikiran dan mendengar isi hati orang lain?! Apakah aku sedang masuk ke dalam dunia novel?!"
Abiyan menghela napas panjang, lalu membuka matanya dan menatap Inayah tajam. "Kamu ini benar-benar gadis bodoh yang sangat aneh. Bisa diam tidak, hm? Kalau kamu tidak segera naik dan tidur detik ini juga, aku akan benar-benar menjelma menjadi manusia jahat seperti yang kamu pikirkan tadi. Mau hal itu terjadi?"
"Eh! Tidak-tidak! Saya tidur! Ini saya tidur!" cerocos Inayah panik.
Dengan cepat Inayah melompat naik ke atas ranjang. Namun, karena rasa takutnya masih membumbung tinggi, Inayah merebahkan tubuhnya sangat jauh di pinggir ranjang sebelah kiri. Sedikit saja ia bergeser, ia bisa jatuh ke celah sempit di antara kasur dan dinding.
Abiyan melirik posisi tidur Inayah yang konyol itu. Gadis itu tidur menyamping, meringkuk seperti udang di ujung kasur hanya untuk menjauhinya.
Sebuah ide jahat terlintas di kepala Abiyan.
Tanpa peringatan, Abiyan sengaja menggerakkan tubuhnya yang berbobot itu dan menghentakkan spring bed mewahnya dengan sangat kuat.
BOING!
Getaran hebat dari kasur berbantal pegas itu menjalar seketika. Tubuh kecil Inayah yang berada di ujung terlempar akibat getaran tersebut.
"Aaaaghh!"
GDEBUG!
Tubuh Inayah sukses merosot jatuh dari atas ranjang. Namun bukannya mendarat di lantai, tubuh kecilnya justru terjepit erat di celah amat sempit antara dinding kamar dan kasur King Size milik Abiyan.
Kaki Inayah mencuat ke atas, sementara dadanya terjepit di antara himpitan busa kasur dan tembok yang dingin. Ia sama sekali tidak bisa bergerak maupun menyelonjorkan kakinya.
"Aduh! Aduh! Tolong!" Inayah mencoba memberontak, tetapi lipatan tubuhnya makin tersangkut kencang di celah itu.
Melihat kepala dan kaki istrinya yang terombang-ambing di celah kasur, Abiyan tidak bisa menahan tawa pelannya. Ia menengok ke bawah dari atas ranjang. "Kamu sedang melakukan atraksi apa di bawah sana, hm?"
Dua detik melihat wajah tanpa dosa Abiyan dari atas, rasa takut Inayah seketika menguap habis, digantikan oleh amarah yang membakar. Sifat cerewet dan tengilnya yang asli bangkit seratus persen!
"Mas Biyaaaannn!" teriak Inayah histeris, suaranya menggelegar memenuhi seluruh sudut kamar. "Lu benar-benar manusia kejam tak berperikemanusiaan, ya?! Tubuh gua tersangkut, tahu nggak?! Sesak nih! Buruan tolongin gua, woi!"
Abiyan terkekeh melipat tangan di dada, menikmati pemandangan konyol istrinya yang mulai menggunakan gaya bahasa aslinya. "Lho? Mana sopan santunmu yang tadi, Nyonya Zimraan?"
"Persetan sama sopan santun! Geser kasur lu yang segede gaban ini sekarang juga! Gua nggak bisa napas, Mas Biyan gilaaa!" amuk Inayah sambil menendang-nendang udara dengan gemas.