NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Alkemis Di Alam Primordial

Perjalanan Dewa Alkemis Di Alam Primordial

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*

Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.

Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.

Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.

Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...

Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Alam Tanpa Nama

“Katak yang lahir dan mati di dasar sumur akan selalu mengira bahwa langit hanyalah lingkaran kecil di atas kepalanya.”

Suara Lin Xuan terdengar tenang di tengah badai abu yang mengamuk di atas tebing vulkanik.

Jubah abu-abunya telah dipenuhi debu dan menyatu dengan warna tanah asing yang berserakan tulang-belulang raksasa.

Ia mengangkat kepala.

Di langit ungu yang pekat, dua matahari raksasa saling bertubrukan. Salah satunya memancarkan cahaya keemasan, sementara yang lain merah menyala seperti darah.

“Seratus tahun lalu, kita menaklukkan sumur itu,” lanjut Lin Xuan dengan tatapan sedalam jurang.

“Namun selama seratus tahun, dinding sumur itu tidak pernah berhenti bergetar. Retakan kehampaan terus bermunculan. Jika dibiarkan, tekanan dari luar cepat atau lambat akan menghancurkan dunia kita.”

Ruang di sampingnya tiba-tiba beriak.

Dari dalam bayangan Lin Xuan, sesosok manusia perlahan melangkah keluar.

Seorang pemuda berwajah sempurna muncul dengan jubah kelabu yang dihiasi delapan belas bintang berputar. Rambutnya hitam di bagian akar dan berubah putih bercahaya di ujungnya.

Kedua matanya memiliki pupil ganda. Mata kirinya menyimpan cahaya matahari, sedangkan mata kanannya gelap seperti jurang tanpa dasar.

Pemuda itu adalah Hun Yuan, Roh Api yang lahir dari peleburan delapan belas Api Surgawi milik Lin Xuan.

Ia merupakan bagian dari jiwa sang Kaisar sekaligus pedang bayangan yang selalu menyertainya.

“Dinding Sembilan Benua bergetar akibat riak dari makhluk-makhluk di luar sana, Tuanku,” ujar Hun Yuan.

Suaranya terdengar aneh. Di dalamnya bercampur panas penciptaan dan dinginnya ketiadaan.

Ia memandang alam di hadapannya dengan sedikit jijik.

“Alam ini sungguh mengerikan. Tekanan langit dan buminya puluhan ribu kali lebih berat daripada Sembilan Benua. Qi di sini begitu padat hingga terasa seperti lumpur, sedangkan hukum ruangnya kacau. Makhluk fana dari Sembilan Benua mungkin akan berubah menjadi kabut darah hanya dengan menghirup udara di tempat ini.”

“Itulah sebabnya aku menyegel Sembilan Benua dari dunia luar seratus tahun lalu.”

Lin Xuan memejamkan mata sejenak.

Wajah Gu Chen, Ye Qinghan, Su Yue’er, dan Bai Ling melintas dalam benaknya. Ia meninggalkan mereka dalam ketidaktahuan bukan karena tidak peduli, melainkan demi memastikan mereka tetap hidup.

“Namun jika kita tidak keluar dari sumur itu dan mencari sumber guncangan ini, cepat atau lambat seluruh Sembilan Benua akan runtuh.”

Setelah menembus badai kehampaan yang mengamuk sepanjang perjalanan, mereka akhirnya tiba di sebuah alam asing yang bahkan tidak mereka ketahui namanya.

Aura peperangan purba memenuhi tempat itu.

Aura tersebut begitu tua hingga membuat dunia asal Lin Xuan terasa seperti baru saja lahir.

Hun Yuan berjalan ke ujung tebing lalu menunduk. Pupil gandanya menyipit.

“Sepertinya kita telah menemukan sumber guncangan itu, Tuanku.”

Lin Xuan berdiri di sampingnya dan memandang ke bawah.

Lembah di hadapan mereka begitu luas. Ukurannya bahkan sepuluh kali lebih besar daripada Benua Tengah.

Di dasarnya, sebuah perang mengerikan sedang berlangsung.

Dua ras yang sama sekali asing saling membantai tanpa ampun.

Di satu sisi berdiri barisan ksatria bercahaya dengan tubuh diselimuti cahaya emas. Di sisi lain terdapat jutaan makhluk berzirah tulang hitam yang membawa aura kematian dan pembusukan.

Setiap kali pedang emas bertabrakan dengan pedang tulang, ruang di sekitarnya bergetar lalu retak.

Lin Xuan akhirnya memahami semuanya.

Riak dari pertempuran inilah yang telah menembus kehampaan dan mengguncang Sembilan Benua selama seratus tahun terakhir.

Kedua ras itu bahkan tidak mengetahui keberadaan dunianya.

Bagi mereka, Sembilan Benua hanyalah setitik debu di tengah kehampaan yang kebetulan terkena riak peperangan.

“Makhluk-makhluk bercahaya itu memiliki aura yang menyerupai Api Matahari Langit,” ujar Hun Yuan sambil mengamati medan perang. “Sedangkan makhluk tulang itu membawa aura kehancuran yang sangat pekat.”

Tatapannya kemudian tertuju ke pusat peperangan.

“Mereka sedang memperebutkan sesuatu.”

Di tengah lautan mayat, berdiri sebuah kristal raksasa sebesar gunung kecil.

Kristal itu memancarkan cahaya kosmik yang murni. Urat-urat energi berdenyut di dalamnya dan terus menyerap darah dari mayat-mayat yang berserakan di sekelilingnya.

Tatapan Lin Xuan berubah tajam.

Naluri seorang Alkemis segera mengenali keanehan kristal tersebut.

“Bahan tingkat tinggi...”

Kristal sebesar itu sama sekali tidak mungkin terbentuk di alam bawah.

Selama seratus tahun terakhir, tubuh Lin Xuan telah tertahan pada tingkat Tungku Daging Kesembilan. Dengan tubuh tingkat kesembilan itu, ia mampu bertahan di alam asing ini meski tekanan hukum langit dan buminya jauh lebih berat.

Tetapi sekadar bertahan hidup bukanlah sifat seorang Dewa Alkemis.

Jika ia ingin melindungi Sembilan Benua dari segala sesuatu yang berada di luar sana, ia harus memahami kekuatan alam ini.

Dan untuk itu, kristal tersebut harus berada di tangannya.

“Kita ambil kristal itu.”

Suara Lin Xuan terdengar dingin.

Kedua kakinya perlahan menegang. Otot dan tulangnya mengerahkan kekuatan dahsyat hingga tebing di bawah kakinya mulai retak.

Hun Yuan mengangkat tangan.

Sebuah pedang hitam perlahan terbentuk dari kehampaan.

“Haruskah hamba membuka jalan dengan membantai mereka, Tuanku?”

“Jangan gegabah.”

Lin Xuan tidak menoleh.

“Kita belum tahu siapa yang mengawasi peperangan ini dari atas.”

Tatapannya tetap tertuju pada medan perang.

“Aura apimu terlalu mencolok. Kembali ke dalam jiwaku.”

Hun Yuan terdiam sesaat sebelum mengangguk.

“Biarkan tubuh ini menguji sendiri seberapa kuat makhluk-makhluk dari alam ini.”

“Seperti kehendakmu.”

Hun Yuan tersenyum tipis.

“Hamba akan bersembunyi dalam bayanganmu. Jika ada yang berani menyentuh jubahmu, hamba akan melahap jiwanya.”

Wujudnya perlahan berubah menjadi kabut hitam dan putih. Kabut itu masuk ke dalam bayangan Lin Xuan lalu menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Tebing kembali sunyi.

Kini hanya Lin Xuan yang berdiri di sana.

Ia adalah pendatang dari alam bawah yang tidak mengetahui apa pun tentang dunia ini. Ia tidak tahu nama kedua ras tersebut, tidak tahu siapa penguasa alam ini, bahkan tidak tahu kekuatan macam apa yang bersembunyi di balik langit.

Namun ada satu hal yang ia ketahui.

Ia menginginkan kristal itu.

Lin Xuan menarik napas dalam-dalam. Udara yang bercampur abu dan darah memenuhi paru-parunya.

Sudut bibirnya terangkat.

“Kalau begitu, mari kita lihat seberapa kuat tubuh ini di alam yang lebih tinggi.”

Booom!

Tanah di bawah kakinya meledak.

Tubuh Lin Xuan melesat dari ujung tebing seperti anak panah yang dilepaskan dari busur raksasa. Daya dorongnya begitu kuat hingga pegunungan di belakangnya hancur menjadi debu.

Ia menukik ke dalam lembah seperti meteor abu-abu, membelah badai dan menembus lautan aura kematian.

Di bawah sana, jutaan makhluk purba masih saling membantai.

Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa seorang pendatang dari alam bawah sedang turun menuju pusat peperangan.

Dan sasaran Lin Xuan hanya satu.

Kristal raksasa yang diperebutkan kedua ras itu.

1
Raju
jossssss
Raju
alankah terjadi perang besar dan menghancurkan kota atau awal dri sebuah aliansi ??
Raju
lin xuan sang kaisar obat jadi pegawai dadakan ....😁😁
Celestial Quill: hahahah, mungkin cape jadi kaisar terus😄
total 1 replies
Raju
hm... lin xuan... keanya serba bisa ni org... dri kultivator, pemusnah massal, pembuat drama terbaik, hingga jadi tukang bengkel pun bisa keanya ...🤣🤣🤣
Celestial Quill: hahaha😄😄
total 1 replies
Raju
poin yg q kumpulkan selama ribuan tahun Meluncur Thor....!! 😁😁
Raju
ternyata pendatang lbih ganas dri pada penunggu....🤣🤣🤣
Raju
perebutan kristal dimulai...
Raju
vote meluncur buat karyamu Thor...!!
Celestial Quill: Terimakasih, semoga karya baru dapat menghibur. Selamat membaca
total 1 replies
Green Boy
Mantap Thor
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!