NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.1k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 09 - Sepatu Lelaki Di Depan Pintu

Arga tidak langsung mengatakan bahwa ia cemburu.

Ia juga tidak merasa itu cemburu.

Setidaknya, ia mencoba meyakinkan dirinya begitu saat berdiri di depan pintu rumah kontrakan dan melihat sepasang sepatu laki-laki yang bukan miliknya.

Sepatu kulit cokelat.

Ukuran besar.

Diletakkan asal di dekat rak.

Arga menatap sepatu itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Di dalam rumah terdengar suara laki-laki.

"Safa, ini diletakkan di mana?"

Arga memasukkan kunci lebih pelan. Pintu terbuka. Ruang tamu berantakan oleh beberapa gulung kain, kotak benang, dan kardus. Safira berdiri di dekat meja, mengenakan kaus longgar dan celana kain, rambutnya dijepit asal. Di depannya, seorang laki-laki muda sedang mengangkat manekin.

Safira menoleh.

"Mas Arga, kamu pulang."

Laki-laki itu ikut menoleh. Wajahnya ramah, usianya mungkin awal dua puluhan.

"Oh, ini suaminya Mbak Safa?"

Arga masuk. "Iya."

Safira cepat menjelaskan, "Ini Dani. Adiknya pemilik toko kain depan workshop. Dia bantu antar manekin dan beberapa kain karena tadi ojek barangnya susah masuk gang."

Dani tersenyum. "Permisi, Mas. Saya cuma bantu. Sebentar lagi pulang."

"Terima kasih," kata Arga.

Nada suaranya sopan.

Terlalu sopan.

Safira menatapnya sebentar.

Dani tidak menyadari apa-apa. Ia membantu meletakkan manekin di dekat tangga, lalu mengambil kardus kosong.

"Mbak, kalau butuh bantuan lagi kabari saja. Ibu juga bilang, kalau ada pelanggan aneh, langsung teriak. Sekarang satu gang sudah tahu."

Safira tertawa. "Aduh, jangan sampai satu gang tahu semua."

"Biar aman, Mbak."

Arga mendengar kata `Mbak` berkali-kali. Tidak ada yang salah. Dani sopan. Safira juga biasa saja.

Tetap saja, sepatu cokelat itu seperti mengganggu sudut matanya.

Setelah Dani pulang, Safira menutup pintu.

"Kamu kenapa?"

"Tidak."

"Wajahmu bilang iya."

"Wajah saya memang begini."

Safira menyipitkan mata. "Kamu marah karena rumah berantakan?"

"Tidak."

"Karena Dani?"

Arga melepas jam tangannya. "Kenapa saya harus marah karena dia?"

"Aku tidak tahu. Makanya tanya."

"Saya tidak marah."

Safira mengangkat alis. "Baik. Kalau begitu, tolong bantu pindahkan kain ini ke kamar kecil."

Arga langsung mengangkat dua gulung kain.

Safira memperhatikannya dari belakang, lalu tersenyum sendiri.

Ia tidak pernah melihat laki-laki cemburu sedingin itu.

Malamnya, mereka makan nasi ayam penyet yang dibeli dari warung sebelah. Safira terlalu lelah untuk memasak. Arga tidak membahas Dani, tetapi ia tiga kali melihat ke arah rak sepatu.

Akhirnya Safira tidak tahan.

"Mas Arga."

"Hm?"

"Sepatu Dani sudah tidak ada."

Arga berhenti makan.

"Saya tidak mencari sepatunya."

"Tiga kali lihat ke rak."

"Saya memastikan raknya kuat."

Safira menaruh sendok. "Rak sepatu plastik dua tingkat itu perlu diperhatikan sampai tiga kali?"

Arga diam.

Safira tertawa kecil. "Kamu cemburu?"

"Tidak."

"Yakin?"

"Saya hanya tidak terbiasa pulang dan melihat sepatu laki-laki lain di rumah."

"Itu namanya cemburu."

"Itu namanya kewaspadaan."

"Baik, Pak Waspada."

Arga menatapnya. "Kamu senang sekali meledek suami sendiri?"

Safira tersenyum, lalu menyuap nasi. "Sedikit."

Suasana menjadi ringan. Namun setelah makan, Safira duduk di ruang tamu dan melihat tumpukan barang. Workshop kecilnya mulai terlalu penuh. Beberapa kain harus dibawa pulang karena tempat di sana tidak cukup.

Arga duduk di sampingnya.

"Kamu butuh tempat kerja yang lebih besar."

"Aku tahu."

"Kenapa belum cari?"

"Karena aku tidak mau menghitung mimpi sebelum uangnya ada."

"Mimpi juga perlu dihitung supaya tahu harus mengejar berapa."

Safira menoleh. "Kamu terdengar seperti orang bisnis."

"Pekerja proyek juga menghitung."

"Kamu selalu punya jawaban."

"Tidak selalu."

"Contohnya?"

Arga menatapnya. "Saya belum tahu kenapa kamu tetap meninggalkan pintu kamarmu tidak terkunci."

Safira terdiam.

Sejak malam pertama, ia memang tidak pernah mengunci pintu kamar. Arga tetap tidur di kamar kecil. Tidak pernah masuk tanpa izin. Tidak pernah membuatnya tidak nyaman. Tapi fakta bahwa ia tidak mengunci pintu adalah hal yang bahkan ia sendiri belum berani pikirkan.

"Mungkin karena aku percaya kamu tidak akan masuk sembarangan."

Arga menatapnya lebih lama.

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Untuk percaya."

Safira memalingkan wajah. "Jangan membuatnya terdengar besar."

"Itu besar."

Ada jeda yang tiba-tiba terasa terlalu dekat.

Safira bangkit lebih dulu. "Aku mau bereskan kain."

Arga ikut berdiri. "Saya bantu."

Mereka memindahkan sebagian barang ke kamar kecil. Kamar yang semula dipakai Arga tidur kini penuh kardus. Kasur lipatnya terdesak ke sudut.

Safira baru menyadari masalahnya.

"Kamar kamu jadi sempit."

"Tidak apa-apa."

"Tidak. Ini kebanyakan barangku."

"Memang."

Safira menatapnya. "Kamu jujur sekali."

"Tapi bukan masalah."

Ia melihat kasur lipat, lalu kamar utama di seberang lorong. Jantungnya mulai berdetak tidak karuan.

"Kalau... kalau kamu mau pindah ke kamar utama..."

Arga diam.

Safira cepat menambahkan, "Maksudku, ranjangnya besar. Kita bisa bagi sisi. Aku percaya kamu."

Kata terakhir keluar lebih pelan.

Arga tidak langsung menjawab. Ia tahu betapa besar arti kalimat itu bagi Safira. Perempuan ini tidak memberi ruang dengan mudah. Kalau ia salah bergerak, kepercayaan itu bisa runtuh.

"Kamu yakin?"

Safira mengangguk.

"Kalau suatu malam kamu berubah pikiran, saya kembali ke sini."

"Iya."

"Kalau saya membuatmu tidak nyaman, bilang."

"Iya."

"Kalau..."

"Mas Arga."

"Hm?"

"Kamu lebih cerewet daripada aku."

Arga hampir tersenyum. "Baik. Saya pindah."

Malam itu, Arga memindahkan beberapa pakaian ke lemari kamar utama. Safira membagi sisi lemari dengan hati-hati, seolah sedang menata batas tak terlihat. Satu sisi untuknya, satu sisi untuk Arga. Rak atas untuk seprai. Laci tengah untuk dokumen.

Saat Arga meletakkan kemejanya, Safira mencium aroma parfumnya. Bersih, dingin, sedikit kayu.

Ia mendadak sadar, mulai malam ini, aroma itu akan ada di kamarnya.

Di kamar mereka.

Lampu dimatikan pukul sebelas.

Safira berbaring di sisi kiri, memeluk guling. Arga di sisi kanan, menjaga jarak yang cukup sopan sampai ranjang besar itu terasa seperti ada jalan raya di tengahnya.

Beberapa menit berlalu.

"Mas Arga?"

"Iya?"

"Kamu tidur?"

"Belum."

"Kamu benar-benar tidak cemburu?"

Arga diam.

Lalu ia menjawab, "Saya sedang belajar menjadi suami yang rasional."

Safira tersenyum dalam gelap.

"Berarti cemburu."

"Tidurlah, Safa."

Ia tertawa pelan.

Di luar, hujan turun lagi. Di dalam kamar, jarak di antara mereka masih ada, tetapi tidak sedingin sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Safira tidur tanpa memeluk guling terlalu erat.

Arga tidak segera tidur.

Ia berbaring telentang, mendengar napas Safira yang pelan-pelan menjadi teratur. Jarak di antara mereka masih cukup untuk menjaga semua janji yang ia buat, tetapi cukup dekat untuk membuatnya sadar bahwa hidupnya berubah lebih jauh dari rencana awal.

Ponselnya menyala di meja. Pesan dari Bima masuk.

`Besok rapat jam 8. Jangan lupa kamu masih CEO, bukan full-time suami rumahan.`

Arga membaca pesan itu, lalu mematikan layar.

Di sisi kiri, Safira bergerak sedikit. Tangannya mencari sesuatu, mungkin guling yang tadi ia letakkan di tepi ranjang. Arga mengambil guling itu dan menggesernya pelan ke dekat Safira.

Namun sebelum guling itu sampai, Safira menggumam, "Jangan ambil..."

Arga berhenti.

Suara itu terdengar seperti anak kecil yang terlalu sering kehilangan benda miliknya.

Ia meletakkan guling di pelukan Safira dengan hati-hati.

"Tidak saya ambil," bisiknya, meski Safira mungkin tidak mendengar.

Baru setelah itu ia menutup mata.

Besok, ia harus kembali menjadi Arga Kusuma yang memimpin rapat, menandatangani keputusan, dan menyembunyikan terlalu banyak hal dari perempuan yang tidur di sampingnya.

Malam ini, ia hanya ingin menjadi suami yang tidak mengambil guling istrinya.

Pagi berikutnya, Safira menemukan guling itu masih ada di pelukannya. Ia tidak tahu Arga yang mengembalikannya semalam. Yang ia tahu, Arga sudah turun lebih dulu dan meninggalkan pesan di meja rias.

`Saya beli sarapan. Jangan berangkat sebelum makan.`

Safira memegang kertas kecil itu sambil tersenyum sendiri.

Di rumah Santoso, pesan pagi biasanya berupa teriakan dari bawah.

Di rumah ini, pesan pagi ditulis dengan tinta hitam dan kalimat yang terdengar seperti perintah, tetapi rasanya seperti perhatian.

Ia melipat kertas itu, menyimpannya di laci bersama cincin akad lama.

Entah sejak kapan benda-benda kecil dari Arga mulai ia kumpulkan.

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!