Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
.
Hari-hari berlalu cepat. Hubungan Rania dan Alvino semakin erat, seolah sudah saling kenal bertahun-tahun. Rania tak lagi canggung berjalan berdampingan atau bergandengan.
Perubahan itu tampak juga di kantor. Jika biasanya Rania akan turun lebih dulu dari mobil dan memasuki kantor sendiri agar tidak terlalu menjadi perhatian karyawan lain. Namun, kali ini berbeda. Pagi itu Alvino turun lebih dulu, membukakan pintu mobil untuk Rania sambil tersenyum. "Silakan, Bu Istri."
Rania turun sambil tersenyum. "Terima kasih, Pak Suami."
Bisik-bisik terdengar dari karyawan yang baru datang. Rania tak lagi buru-buru menjauh, melainkan berjalan beriringan menyelipkan tangan di lengan Alvino.
"Nanti makan siang di ruangan ku ya? Aku sudah pesan makanan kesukaanmu," ucap Alvino saat mengantar Rania ke ruangannya.
"Boleh, kalau kamu tidak sibuk," jawab Rania berbinar.
Pemandangan itu membuat para karyawan yang melihat tersenyum.
"Pak Alvino benar-benar beda kalau sama Bu Rania."
“Iya. Gak lagi kayak robot kaku."
Menjelang istirahat, rekan kerja menyapa Rania sambil bercanda. "Sekarang susah banget mau ngobrol sama Bu Rania, selalu dikuasai sama Pak Direktur.”
Rania tertawa. "Nanti kalau pas dia rapat luar, aku akan makan sama kalian."
"Takut istrinya direbut orang kali ya?" goda mereka.
Rania menanggapi semua candaan dengan tertawa. Lalu melenggang pergi menuju ruang kerja suaminya.
Para rekan satu divisi menatap kepergian Rania dengan tatapan kagum. Meski berstatus istri Direktur Utama, Rania tetap mau berbaur dengan mereka, menyapa semua orang dengan ramah, serta tidak segan membantu staf lain.
"Biasanya orang akan berubah jadi sombong setelah menikah sama bos besar," bisik seorang karyawan yang berpapasan dengannya. "Tapi Bu Rania tetap rendah hati."
"Mungkin karena beliau tahu rasanya berjuang dari bawah," timpal temannya.
*
Sore harinya Rania masih membereskan berkas saat Alvino datang. "Sudah selesai?"
"Tunggu sebentar ya, Bang."
"Humm, gak usah buru-buru." Alvino lalu duduk menunggu dengan santai.
Beberapa staf yang juga sedang membereskan pekerjaannya terkesima melihat pemandangan itu. Lalu saling berbisik dengan temannya. "Pak Alvino bucin banget ya, sampai rela nunggu."
Rania mendengarnya dan tersenyum malu. "Bang, mereka bilang kamu bucin lho."
Alvino tersenyum mendekat. "Memangnya salah kalau aku cinta istriku?"
Pipi Rania memerah, namun senyumnya tak hilang. Setelah membereskan barang-barangnya, wanita itu menoleh ke arah teman-temannya dan berpamitan.
*
Di depan teras perusahaan, baru saja mereka menuju tempat drop off khusus di mana mobil Alvino sudah disiapkan oleh petugas valet, sebuah suara kasar tiba-tiba terdengar dari arah halaman depan.
"Rania! Berhenti kamu!"
Semua orang yang ada di sana menoleh serentak. Tampak Pak Hasan dan Bu Siti berlari mendekat dengan wajah marah.
Rania seketika membeku. Wajahnya seputih kertas, tangannya mencengkeram lengan Alvino dengan gemetar.
"Kalian... kenapa ada di sini?" suaranya nyaris tak terdengar.
"Berani sekali kau bertanya!" hardik Bu Siti sambil melangkah mendekat dengan kasar. "Baru saja menikah dengan orang kaya, kamu sudah lupa diri? Sudah hampir dua bulan kamu tak pulang untuk menengok kami sama sekali!"
"Kamu ini anak tak tahu berterima kasih! Kamu lupa ya? Kamu itu cuma anak yang dibuang oleh orang tuamu di panti asuhan! Kami yang merawatmu dari bayi, memberi makan dan tempat tinggal. Sekarang setelah hidup enak jadi istri orang kaya, kamu malah membuang kami begitu saja?" Pak Hasan ikut menunjuk-nunjuk dengan kasar.
Bisik-bisik mulai terdengar di antara karyawan yang belum pulang. Beberapa orang yang tidak hadir dalam pesta pernikahan Rania memang tidak mengetahui hal itu.
Rania menunduk dalam, matanya berkaca-kaca karena malu dan sakit hati, merasa seolah sedang ditelanjangi di depan umum.
Namun sebelum ia sempat melakukan pembelaan diri, Alvino melangkah ke depan menutupi tubuh Rania dari pandangan mereka. Tatapannya kini berubah dingin dan tajam, berbeda jauh dari senyum lembutnya tadi.
"Cukup," potong Alvino tegas. "Jangan membuat keributan di tempat umum, apalagi menuduh istri saya dengan kata-kata yang tidak pantas."
"Anda jangan ikut campur!" bentak Pak Hasan. "Ini urusan kami dengan anak kami!"
"Dia sudah menjadi istri saya, jadi urusannya adalah urusan saya juga," balas Alvino tenang namun berwibawa. "Dan saya tahu persis apa yang terjadi selama Rania tinggal di rumah kalian. Saya sudah menyelidiki semuanya."
Pak Hasan dan Bu Siti seketika terdiam, wajah mereka tampak gelisah.
"Semua tetangga kalian tahu," lanjut Alvino, suaranya terdengar jelas hingga terdengar oleh orang-orang di sekitar. "Kalian hanya membesarkan, tapi tidak pernah menyayangi Rania seperti anak sendiri. Sejak kecil kalian memaksa dia bekerja keras. Bahkan untuk beli seragam sekolah dia harus mengandalkan beasiswa. Saat dia sudah dewasa dan bekerja, semua gajinya selalu kalian minta, dan dia hanya menyisakan sedikit untuk keperluannya sendiri. Dia kalian jadikan alat untuk mencukupi kebutuhan kalian, bukan sebagai anak yang disayang."
Bu Siti mencoba membela diri dengan suara meninggi. "Itu tidak benar! Kami mendidik dia supaya rajin!"
"Mendidik?" Alvino tersenyum sinis. "Mendidik sampai dia sering tidak makan kalau telat pulang? Padahal dia masih anak sekolah? Mendidik sampai tetangga lain sering diam-diam memberinya bekal karena kasihan melihatnya kurus kering? Itu bukan mendidik, itu mengeksploitasi."
Alvino menjeda ucapannya sejenak, matanya menatap tajam ke arah pasangan itu.
"Mungkin secara aturan kalian adalah orang tuanya. Rania mungkin memang punya hutang budi pada kalian. Tapi hutang itu sudah dibayar lunas bahkan sejak lama sekali. Dia sudah membayarnya dengan tenaga dan seluruh hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun yang kalian ambil paksa."
Tepat ketika suasana semakin memanas...
Pintu lobi kembali terbuka.
Beberapa karyawan yang baru saja selesai bekerja tampak keluar terlebih dahulu, disusul oleh Tuan Aksara dan Bu Soraya yang sedang berbincang santai sambil berjalan menuju area parkir.
"Tuan Aksara..."
Salah seorang staf yang melihat keributan itu segera menghampiri.
"Ada apa?” tanya Tuan Aksara tanpa menghentikan langkahnya.
"Di depan sedang terjadi keributan. Sepertinya keluarga Bu Rania datang."
"Apa?” Langkah Tuan Aksara langsung terhenti. Bu Soraya yang berjalan di sampingnya ikut mengernyit. Mereka berdua lalu melangkah cepat ke arah yang ditunjuk oleh staf tadi.
“Mau apa kalian ke sini?" tanya Tuan Aksara menatap tajam ke arah mereka. "Kalian mau mengungkit hutang budi? Apa kalian pikir kami tidak tahu, kalian juga sudah mengambil seluruh seserahan dan hadiah dari keluarga besar Mahendra yang seharusnya menjadi milik Rania. Semua barang berharga itu kalian jual demi kepentingan sendiri."
Suasana kembali hening. Rania terbelalak kaget, ia memang tahu kalau ayah dan ibu angkatnya memang mengambil semua seserahan itu. Tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau ayah mertuanya tahu hal itu.
"Kami tidak—" Bu Siti mencoba membela diri, namun suaranya hilang saat Tuan Aksara mengangkat tangan.
"Jangan menyangkal. Saya tahu semuanya," ujar Tuan Aksara dingin. "Saya membiarkan semua itu karena saya masih menganggap kalian sebagai orang tua Rania. Tapi jika kalian berani kembali membuat onar dan menyakiti hati Rania, saya pastikan kalian akan mendapatkan hukuman setimpal!!”
Tuan Aksara menggerakkan tangannya ke atas memberi isyarat pada petugas keamanan yang sudah berdiri siaga.
"Bawa mereka keluar. Jangan biarkan mereka menginjakkan kaki di sini lagi."
Empat petugas keamanan segera maju dan mencekal lengan Pak Hasan serta Bu Siti.
"Lepaskan! Ini tidak adil!" Mereka berdua meronta berusaha melepaskan diri. Namun cengkeraman petugas lebih kuat. Tanpa ampun mereka didorong dan diseret hingga sampai ke jalan raya di depan gerbang perusahaan, lalu diusir keluar dengan kasar hingga mereka jatuh terjerembab di aspal.
Bu Soraya segera menghampiri Rania dan mengusap punggung menantunya yang sedang menangis dalam pelukan Alvino.
"Sudah, sayang. Jangan dipikirkan lagi. Mulai sekarang tidak ada yang berani menyakitimu," bisik Bu Soraya menenangkan.
Rania mengangkat wajah menatap ayah dan ibu mertuanya yang baru saja membela dirinya. Wanita itu mengangguk sambil menghapus air matanya. Benar-benar bersyukur atas keluarga baru yang benar-benar menyayanginya.
Alvino, hati-hati dengan tuan surya!
hati² alvino ma om mu itu jaga baik² istrimu