Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 — Jawaban
Tiga hari berlalu sejak pengakuan Rangga di rooftop, dan selama itu pula suasana di antara mereka berubah menjadi canggung yang manis—Rangga tetap menjaga jarak profesional di depan karyawan lain, namun setiap kali mata mereka bertemu, ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang penuh harap namun juga penuh kesabaran.
Kirana menghabiskan tiga hari itu dengan merenung panjang, mempertimbangkan segala risiko dan kemungkinan, namun juga mendengarkan dengan sungguh-sungguh kata hatinya sendiri—sesuatu yang selama ini sering ia abaikan demi bertahan hidup di dunia yang keras.
Ia mengingat kembali seluruh perjalanan yang sudah ia lalui: kehilangan orang tua, kehilangan kemewahan, belajar bertahan dari nol, menghadapi fitnah dan gosip, hingga akhirnya menemukan seseorang yang menerimanya apa adanya, bukan karena nama keluarga atau kekayaan yang sudah tidak lagi ia miliki.
Jumat sore itu, Kirana memberanikan diri mengirim pesan singkat ke Rangga. "Pak, boleh ketemu sebentar? Di rooftop, kalau Bapak ada waktu."
Balasan datang cepat. "Saya tunggu."
Kirana naik ke rooftop dengan jantung berdebar kencang, mendapati Rangga sudah berdiri di tempat yang sama seperti tiga hari lalu, menatap langit senja Jakarta yang mulai berubah warna keemasan.
"Pak," Kirana menyapa pelan, membuat Rangga menoleh.
"Kirana," Rangga tersenyum tipis, meski matanya menunjukkan kegugupan yang jarang sekali ia tunjukkan. "Kamu udah punya jawaban?"
Kirana mengangguk, melangkah mendekat, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki. "Pak, saya udah mikirin ini bener-bener selama tiga hari terakhir. Saya mikirin semua risikonya—soal Ibu Bapak yang nggak setuju, soal posisi saya di kantor, soal gimana orang-orang bakal mandang kita nanti."
Rangga menunggu dengan sabar, meski ketegangan jelas terpancar dari caranya menggenggam pagar pembatas rooftop.
"Tapi setelah semua pertimbangan itu," lanjut Kirana, suaranya semakin mantap, "saya sadar satu hal. Saya udah cukup lama hidup dalam ketakutan, Pak. Takut kehilangan lagi, takut disakiti lagi, takut berharap terlalu banyak. Tapi Bapak udah ngajarin saya sesuatu yang penting—bahwa kadang, kita harus berani ambil risiko buat sesuatu yang bener-bener berharga."
"Kirana..." Rangga menatapnya dengan harap yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.
"Jawaban saya iya, Pak," Kirana akhirnya berkata, senyum tulus menghiasi wajahnya meski matanya berkaca-kaca. "Saya juga suka Bapak. Udah lama sebenarnya, cuma saya terlalu takut buat mengakuinya."
Wajah Rangga langsung berubah, senyum lebar yang jarang sekali terlihat menghiasi wajahnya yang biasa dingin, matanya berbinar dengan kebahagiaan yang begitu tulus. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah maju, merengkuh Kirana ke dalam pelukannya—pelukan hangat yang penuh dengan segala perasaan yang selama ini tertahan.
"Makasih," bisik Rangga di sela pelukan itu, suaranya bergetar menahan haru. "Makasih udah berani, Kirana."
Kirana membalas pelukan itu, membiarkan air mata bahagia mengalir bebas di pipinya, merasakan kehangatan dan ketenangan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak dunia lamanya runtuh. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa benar-benar aman, benar-benar dicintai apa adanya.
"Tapi Pak," Kirana akhirnya melepaskan pelukan itu, menatap Rangga dengan serius, "kita harus tetap hati-hati. Saya nggak mau hubungan kita jadi bahan gosip lagi di kantor, apalagi sampai bikin masalah buat posisi Bapak."
"Saya setuju," Rangga mengangguk, menggenggam tangan Kirana erat. "Kita jaga ini pelan-pelan dulu, nggak usah buru-buru diumumin ke siapa-siapa. Yang penting sekarang, kita udah saling tahu perasaan masing-masing."
Kirana tersenyum, merasakan kelegaan yang begitu besar. "Setuju, Pak."
"Eh, tapi kalau udah jadian, masa manggil saya 'Pak' terus?" Rangga menggoda, seringai jahil mulai muncul di wajahnya.
Kirana tertawa kecil, wajahnya memerah. "Terus saya harus manggil apa?"
"Rangga aja, kalau lagi berdua," jawabnya, menatap Kirana dengan pandangan penuh kasih sayang. "Nggak usah pake embel-embel Pak segala, kayak nggak ada jarak antara kita."
"Baik, Rangga," Kirana mencoba nama itu dengan ragu-ragu, meski ada senyum lebar yang tidak bisa ia sembunyikan.
Mereka berdiri berdampingan di rooftop itu, menyaksikan senja yang perlahan berganti malam, tangan mereka masih saling menggenggam erat, hati keduanya dipenuhi kebahagiaan yang baru saja mereka temukan—sebuah kebahagiaan sederhana namun begitu berharga, hasil dari keberanian mereka berdua untuk jujur pada perasaan masing-masing.
...****************...
Hari-hari berikutnya, Kirana dan Rangga menjalani hubungan baru mereka dengan hati-hati, menjaga profesionalisme di depan karyawan lain namun diam-diam menikmati momen-momen kecil berdua—pesan singkat penuh candaan di sela jam kerja, makan siang bersama di tempat yang jauh dari mata rekan kerja, atau sekadar tatapan penuh arti yang hanya mereka berdua yang mengerti maknanya.
"Kamu keliatan beda belakangan ini, Kir," komentar salah satu rekan kerja suatu siang, memperhatikan senyum yang tidak pernah lepas dari wajah Kirana selama beberapa hari terakhir.
"Ada apa nih kayaknya?"
"Nggak ada apa-apa kok," Kirana buru-buru menjawab, meski senyumnya semakin sulit ia sembunyikan, membuat rekan kerjanya semakin penasaran.
Kirana menceritakan semua perkembangan itu ke Dewi lewat telepon malam harinya, sahabatnya itu berteriak heboh mendengar kabar bahagia tersebut, menghabiskan waktu berjam-jam membahas detail demi detail momen romantis di rooftop dengan antusiasme yang tidak berkurang sedikit pun.
Namun di tengah kebahagiaan yang baru mereka temukan, badai yang sudah mulai disusun oleh Alex dan Bu Ratna diam-diam bergerak semakin dekat, siap menguji seberapa kuat cinta yang baru saja tumbuh di antara Kirana dan Rangga.
ini novel saya pertama🥰🥰