Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 — Bayang-Bayang Masa Lalu
Yao pulang ke apartemen kecilnya di distrik Navigli larut malam itu, pikirannya berkecamuk antara strategi dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya — perasaan yang mulai tumbuh untuk pria yang seharusnya ia benci.
Apartemen mereka sederhana namun rapi, sebuah unit dua kamar di lantai tiga sebuah bangunan tua yang menghadap kanal kecil Navigli, tempat lampu-lampu jalan memantul di permukaan air yang tenang setiap malam. Yao memilih tempat ini karena kesederhanaannya — jauh dari kemewahan mencolok yang bisa menarik perhatian, namun cukup dekat dengan jantung kota untuk memudahkan pergerakan mereka.
Sofia sudah menunggunya di ruang tamu, duduk di kursi tua dengan secangkir teh chamomile yang sudah dingin di tangannya. Wanita itu kini berusia enam puluhan, rambutnya putih sepenuhnya, tapi matanya masih setajam dulu — mata yang telah menyaksikan terlalu banyak kekejaman untuk bisa benar-benar beristirahat. Di dinding di belakangnya, tergantung sebuah foto tua yang sudah pudar warnanya — satu-satunya foto keluarga Conti yang berhasil mereka selamatkan, menunjukkan Ferdinand dan Mei-Lin tersenyum bahagia dengan Yao kecil di pangkuan mereka, diambil hanya beberapa bulan sebelum malam yang mengubah segalanya.
"Bagaimana malammu?" tanya Sofia dalam bahasa Italia, meski aksen aslinya yang berasal dari selatan masih terdengar jelas.
"Aku menemukannya," jawab Yao, duduk di sofa seberangnya, melepas sepatu hak tingginya dengan lelah. "Enzo Bastiani. Dia sekarang penasihat keluarga Moretti."
Wajah Sofia mengeras. "Kau yakin?"
"Bekas luka di rahangnya. Sama persis dengan yang kuingat." Yao menutup matanya sejenak, mengingat kembali malam itu — malam ketika dunianya runtuh. "Dia yang menembak Ayah, Sofia. Aku yakin."
Sofia terdiam lama, meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati di meja. "Lalu apa rencanamu sekarang?"
Yao ragu sebelum menjawab. "Gerald Moretti mengajakku makan malam besok."
"Yao." Suara Sofia berubah tajam, penuh peringatan. "Kau tahu ini berbahaya. Jika kau membiarkan dirimu terlalu dekat dengan Don muda itu—"
"Aku tahu apa yang kulakukan," potong Yao, meski dalam hati ia tidak sepenuhnya yakin akan hal itu. "Aku butuh akses ke dalam keluarga Moretti. Gerald adalah jalan tercepat menuju itu."
"Dan bagaimana jika kau jatuh cinta padanya dalam prosesnya?" tanya Sofia, matanya menatap tajam, seolah bisa membaca sesuatu di wajah Yao yang bahkan tidak disadari gadis itu sendiri. "Bagaimana jika ternyata dia terlibat dalam kematian ayahmu, sama seperti Enzo?"
Pertanyaan itu menghantam Yao seperti pukulan telak. Ia belum memikirkan kemungkinan itu — kemungkinan bahwa Gerald, dengan senyum berbahayanya dan mata kelabu yang membuatnya lupa diri sesaat, mungkin adalah bagian dari kekejaman yang sama yang telah merenggut segalanya darinya.
Ia teringat kembali cara Gerald menatapnya malam itu, cara pria itu mendengarkan lebih dari berbicara, cara tawanya yang jarang namun tulus membuat sesuatu di dalam dada Yao bergetar dengan cara yang asing. Bagaimana jika kehangatan itu hanyalah topeng lain, sama seperti topeng yang ia kenakan sendiri? Bagaimana jika di balik mata kelabu yang tampak begitu jujur itu, tersembunyi kekejaman yang sama seperti yang ditunjukkan Enzo malam ketika ayahnya dibunuh?
Pikiran itu membuatnya merinding, tapi ada bagian lain dari dirinya — bagian yang lebih jujur dan lebih rapuh — yang menolak untuk sepenuhnya mempercayai kemungkinan itu. Sesuatu dalam caranya Gerald berbicara, dalam kesungguhan yang tersirat di balik kata-katanya, terasa terlalu nyata untuk sekadar akting.
"Aku tidak akan membiarkan perasaan menghalangi misiku," kata Yao akhirnya, suaranya lebih tegas dari yang ia rasakan. "Apa pun yang terjadi, Ferdinand Conti akan mendapatkan keadilannya."
Ia berdiri, berjalan menuju laci kecil di samping ranjangnya, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu tua yang selalu ia bawa ke mana pun mereka pindah selama tujuh belas tahun terakhir. Di dalamnya tersimpan sehelai kain putih yang sudah menguning, bernoda cokelat gelap di satu sudutnya — sepotong kain dari kemeja Ferdinand malam ia meninggal, yang berhasil diselamatkan Sofia sebelum mereka kabur. Yao menyentuhnya sebentar, seperti yang selalu ia lakukan sejak usia lima belas tahun, ketika Sofia pertama kali menunjukkan barang itu dan menjelaskan tradisi lama keluarga-keluarga Sisilia: darah yang belum dibalas mengikat jiwa yang mati pada dunia yang masih hidup, dan hanya darah pembalasan yang bisa membebaskannya.
"Aku bersumpah lagi malam ini," bisiknya pada kain itu, seperti yang selalu ia lakukan sebelum langkah besar apa pun. "Apa pun yang kurasakan, apa pun yang harus kukorbankan."
Sofia mengangguk pelan, meski matanya menyiratkan kekhawatiran yang tidak sepenuhnya hilang. "Baiklah. Tapi berjanjilah padaku satu hal, Yao — jaga hatimu tetap waspada, meski kau membiarkan tubuhmu bermain peran."
Wanita tua itu bangkit dari kursinya, berjalan perlahan menuju jendela yang menghadap kanal, punggungnya yang sedikit membungkuk karena usia masih menyimpan sisa-sisa ketegasan yang pernah membuatnya mampu melindungi seorang gadis kecil melewati separuh Eropa tanpa tertangkap sekali pun.
"Aku pernah melihat cinta menghancurkan orang-orang paling kuat yang pernah kukenal," katanya pelan, tanpa berbalik menghadap Yao. "Ayahmu adalah salah satu dari mereka. Ia jatuh cinta pada ibumu meski itu berarti mengkhianati rencana pernikahan yang telah diatur keluarganya sendiri. Cinta itu indah, Yao, tapi di dunia kita, cinta juga bisa menjadi senjata paling tajam yang bisa digunakan musuh untuk menghancurkanmu."
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi padaku," jawab Yao, meski suaranya terdengar kurang yakin dari yang ia inginkan.
Sofia akhirnya berbalik, tersenyum tipis penuh kasih sayang yang telah menjadi satu-satunya kehangatan konstan dalam hidup Yao selama tujuh belas tahun terakhir. "Aku harap begitu, sayang. Sekarang, istirahatlah. Besok adalah hari yang penting."
"Aku berjanji," jawab Yao, meski di dalam hatinya, sebuah keraguan kecil mulai tumbuh — keraguan yang akan menjadi benih dari badai yang jauh lebih besar dalam beberapa bulan ke depan.
Malam itu, sebelum tidur, Yao membuka laptopnya dan mulai mencari informasi tentang Gerald Moretti — masa kecilnya, pendidikannya di Inggris, reputasinya sebagai Don paling muda dan paling ditakuti dalam sejarah keluarga Moretti.
Ia tidak menemukan apa pun yang mengaitkannya langsung dengan pembantaian keluarga Conti tujuh belas tahun lalu. Gerald baru berusia delapan tahun saat itu terjadi — terlalu muda untuk terlibat dalam perencanaan apa pun.
Tapi ada satu detail yang membuat jantung Yao berdegup lebih cepat: foto lama Salvatore Moretti, ayah Gerald, berdiri berdampingan dengan seorang pria berjas kelabu dengan bekas luka melintang di rahangnya — diambil hanya beberapa bulan sebelum malam pembantaian itu.
Enzo Bastiani bukan hanya tangan kanan keluarga Moretti sekarang.
Ia sudah menjadi bagian dari keluarga itu sejak dulu — bahkan mungkin, sejak sebelum keluarga Conti dihancurkan.
Yao menutup laptopnya perlahan, jantungnya berdegup kencang karena kesadaran baru yang menakutkan: rencana balas dendamnya baru saja menjadi jauh lebih rumit — dan jauh lebih berbahaya — dari yang pernah ia bayangkan.