Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Api Unggun dan Puncak Perubahan
Udara dingin khas pegunungan Pine Forest Camp, Cikole, merayap lembut menembus rimbunnya pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Cahaya matahari akhir pekan menembus celah dedaunan, membiaskan garis-garis emas di atas rumput hijau yang masih basah oleh embun pagi.
Di area perkemahan utama, puluhan staf dan jajaran manajemen Nusantara Industri Utama tampak sibuk mendirikan tenda, mendengarkan musik santai dari speaker portabel, dan menyiapkan peralatan kemping. Acara weekend kemping tahunan perusahaan kali ini berlangsung sangat meriah.
Alya berdiri di tepi area kemping, mengenakan celana gunung hitam yang nyaman, sepatu hiking, serta jaket windbreaker warna sage green yang membingkai tubuh 70 kg-nya dengan sangat segar dan bugar.
Melihat tenda-tenda warna-warni yang berdiri tegak, memori masa lalu mendadak berputar kembali di benak Alya.
Di kehidupan pertamanya—bahkan di tahun-tahun lalu sebelum ia tersadar—Alya selalu membenci acara kemping kantor. Dulu, ia selalu berusaha mencari seribu alasan untuk bolos. Tubuhnya yang berisi membuatnya merasa minder setengah mati. Ia takut menjadi bahan lelucon saat harus mendaki bukit kecil, takut bajunya kesempitan saat memakai kaos panitia, dan paling takut tatapan meremehkan dari kawan-kawannya.
Namun dua tahun lalu, Rendy membujuknya habis-habisan untuk ikut. Dengan polosnya Alya percaya, berpikir bahwa Rendy ingin menghabiskan waktu romantis dengannya di alam terbuka. Tapi nyatanya? Rendy dan Siska sengaja mengerjainya. Mereka memberi Alya daftar tugas membawa perlengkapan terberat, menyuruhnya berjalan di barisan paling belakang sampai kakinya terkilir, dan membiarkannya menjadi bahan tertawaan terselubung ketika Alya kesulitan bangun dari kursi lipat yang amblas di tanah lumpur.
"Alya?"
Suara berat yang hangat memecah lamunan Alya.
Alya memutar tubuhnya dan mendadak tersenyum manis. Kai melangkah mendekat dari arah tempat parkir VIP. Pria itu tampak sangat menawan dalam balutan kaos taktis abu-abu pres tubuh, celana kargo gelap, dan sepatu gunung mahal. Garis bahunya yang tegap serta auranya yang gagah membuat beberapa karyawati di sekitar area kemping mendadak menghentikan aktivitas mereka untuk mencuri pandang.
Kai membawa dua tas punggung besar—satu miliknya dan satu lagi milik Alya yang sengaja ia bawakan sejak dari mobil.
"Kenapa melamun di tengah jalan, Bu Direktur?" tanya Kai seraya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan perhatian. Ia meletakkan tas punggung Alya di atas meja lipat kayu di dekat mereka. "Menikmati udara segar atau sedang memikirkan hal lain?"
Alya terkekeh pelan, melangkah mendekati Kai lalu mengusap sedikit debu di bahu kaos pria itu. "Cuma teringat kemping dua tahun lalu, Kai. Dulu aku benci sekali acara seperti ini. Aku selalu minder, takut dicemooh orang-orang, dan berakhir dikerjai habis-habisan oleh Rendy dan Siska."
Kai menaikkan sebelah alisnya, mata indahnya menatap Alya lurus dengan pandangan penuh kelembutan. "Tapi kali ini beda, kan?"
"Tentu saja beda," jawab Alya mantap, matanya berbinar riang. "Kali ini aku tidak sendirian. Aku datang bersama pria paling tampan dan paling protektif di seluruh area perkemahan ini."
Kai tertawa renyah—suara tawa renyah yang membuat dada Alya berdesir hangat. "Jawaban yang sangat bagus. Dan saya pastikan, tidak akan ada satu orang pun di perkemahan ini yang berani mengerjaimu atau membuatmu merasa minder lagi."
Dari arah jalur trekking bawah, Rendy dan Siska berjalan mendaki seraya membawa peralatan kemping mereka sendiri. Wajah mereka berdua tampak kelelahan dan ketus. Sejak transaksi tiga miliar kemarin, Rendy dan Siska merasa di atas angin, meyakini bahwa Alya sepenuhnya sudah masuk ke dalam genggaman mereka kembali. Namun, melihat Kai hadir di acara kemping internal kantor ini, raut muka Rendy langsung berubah keruh oleh rasa iri dan dengki.
"Alya!" panggil Siska seraya membetulkan topi pantainya yang sama sekali tidak cocok untuk area kemping pinus. "Kamu kok tidak bilang kalau Pak Kai ikut? Kan acara ini khusus internal karyawan Nusantara Industri Utama!"
Alya membalikkan badan, menatap Siska dengan senyuman yang sangat santai dan tenang. "Kenapa memangnya, Siska? Pak Kai adalah mitra strategis utama perusahaan kita sekarang. Papa sendiri yang mengundang Pak Kai untuk ikut bergabung sebagai tamu kehormatan."
Rendy melangkah maju, mencoba memasang wajah berwibawa seraya menyeka keringat di dahinya. "Baguslah kalau begitu. Tapi Alya, sebagai calon pimpinan, kamu harus memberi contoh kerja keras dong. Dulu kan kamu selalu bantu tim konsumsi angkat galon dan bahan makanan ke tenda utama. Gimana kalau sekarang kamu ikut bantu Siska di dapur umum?"
Rendy sengaja melemparkan narasi lama, mencoba menyudutkan Alya agar terlihat seperti 'pembantu umum' di depan staf lain seperti tahun-tahun sebelumnya.
Namun sebelum Alya sempat membalas, Kai melangkah satu tapak ke depan, berdiri tepat di sebelah Alya. Tinggi badan dan postur tegap Kai seketika membuat Rendy terlihat kerdil di tempatnya.
"Pak Rendy," panggil Kai dengan nada suara yang tenang namun berbobot dingin. "Bu Alya adalah Direktur Operasional Utama sekaligus calon tunggal pemilik perusahaan ini. Tugas beliau di sini adalah memimpin dan menyapa seluruh staf, bukan mengerjakan tugas fisik yang sudah dialokasikan ke tim panitia lapangan."
Kai melirik ke arah tas-tas berat yang dibawa Rendy dan Siska dengan tatapan menilai yang tajam. "Justru Anda sebagai Manajer Operasional baru, kenapa malah sibuk menyuruh-nyuruh pimpinan alih-alih menyelesaikan tugas tenda Anda sendiri? Laporan persiapan tenda VIP saja belum Anda serahkan ke sekretariat."
Beberapa staf panitia yang berdiri di dekat mereka tertawa kecil mendengarkan teguran telak dari Kai. Wajah Rendy seketika memerah padam oleh rasa malu.
"S-saya cuma bercanda, Pak Kai," kilih Rendy gagap, memegangi tali tasnya yang menekan bahunya tegang. "Saya cuma mau Alya akrab sama staf lain seperti dulu."
"Alya tidak perlu cara-cara murahan seperti itu untuk akrab dengan stafnya," potong Kai tegas tanpa kompromi. "Sekarang, silakan selesaikan tugas Anda."
Siska menarik lengan Rendy dengan wajah bersungut-sungut. "Ayo Rend, kita ke tenda kita saja!" gerutu Siska pelan seraya menyeret langkah kakinya menjauh dari hadapan Alya dan Kai.
Alya menatap punggung kedua orang itu yang makin menjauh dengan senyuman puas. Ia lalu menoleh menatap Kai, menggeleng-gelengkan kepalanya terkekeh. "Kamu ini Galak sekali ya kalau sama Rendy."
"Saya cuma tidak suka ada lalat yang mencoba mengganggu kenyamanan wanitaku," jawab Kai santai seraya mengedipkan sebelah matanya secara jahil—tindakan langka dari seorang Kai Aditya yang biasanya dingin, membuat pipi Alya seketika merona merah hangat.
Malam hari pun tiba. Udara dingin Cikole makin menusuk tulang, namun kehangatan terpancar dari tumpukan kayu bakar yang membara di tengah lapangan rumput perkemahan. Kobaran api unggun menari-nari indah, memancarkan pendar oranye yang memantul di wajah puluhan karyawan yang duduk melingkar di atas matras dan kursi lipat.
Acara keakraban malam itu diisi dengan tawa, gelak canda, serta nyanyian lagu-lagu santai dari iringan gitar akustik.
Alya duduk di kursi lipat kemping yang nyaman di barisan depan dekat api unggun. Tubuhnya terbungkus jaket tebal yang hangat. Di sampingnya, Kai duduk amat dekat, membiarkan bahu mereka saling bersentuhan. Kai memegang sebuah cangkir stanless berisi cokelat panas yang masih mengepul, lalu menyerahkannya pada Alya.
"Minum ini biar hangat," bisik Kai lembut di dekat telinga Alya.
Alya menerima cangkir itu dengan senyuman manis. "Terima kasih, Kai."
Dari seberang lingkaran api unggun, Rendy dan Siska duduk bergabung. Rendy berkali-kali mencoba mencuri perhatian Alya dengan bernyanyi keras-keras mengikut alunan gitar, berharap Alya memandangnya seperti dulu. Namun Alya sama sekali tidak memedulikannya; perhatian penuh Alya sepenuhnya tertuju pada Kai yang sedang mendengarkan cerita-cerita lucu dari para staf senior dengan penuh penghargaan.
Di tengah acara, pembawa acara kemping tiba-tiba berteriak menggunakan pengeras suara. "Wah, malam ini rasanya tidak afdal kalau kita tidak mendengar sepatah dua kata dari calon pemimpin masa depan Nusantara Industri Utama dan mitra terbaik kita! Bu Alya dan Pak Kai, boleh minta waktunya sebentar untuk menyapa kita semua?"
Tepuk tangan dan sorakan riuh dari seluruh karyawan membahana membelah heningnya hutan pinus.
Alya dan Kai berdiri bersamaan. Alya melangkah ke dekat api unggun dengan kepala terangkat tinggi dan wajah bermandikan pendar cahaya api yang hangat. Tidak ada lagi raut cemas, tidak ada lagi rasa ragu atas penampilannya.
"Selamat malam, semuanya!" sapa Alya dengan suara yang jernih, ramah, dan dipenuhi energi kepemimpinan yang sangat positif.
"Selamat malam, Bu Alya!" sahut para karyawan serentak.
"Terima kasih atas kerja keras teman-teman semua selama satu tahun terakhir ini," ujar Alya lanjut. "Kemping malam ini adalah bentuk apresiasi untuk kita semua. Saya ingin memastikan bahwa di dalam perusahaan ini, tidak ada satu orang pun yang merasa ditinggalkan, merasa kecil, atau merasa tidak dihargai. Kita semua adalah keluarga yang akan bergerak maju bersama-sama."
Tepuk tangan kembali meledak riuh. Kehangatan kata-kata Alya meresap masuk ke hati para karyawan yang merasa sangat diayomi oleh pimpinan muda mereka.
Kai mengambil alih mikrofon sebentar, menatap seluruh karyawan lalu mengalihkan pandangannya pada Alya di sampingnya.
"Dan atas nama PT Aditya Nusantara Abadi," kata Kai dengan suara beratnya yang penuh pesona, "kami tidak hanya berkomitmen untuk mendukung penuh pertumbuhan bisnis Nusantara Industri Utama, tetapi juga berkomitmen untuk menjaga dan berdiri di samping pimpinan kalian yang luar biasa ini."
Kai mengulurkan tangannya di depan seluruh karyawan, menggenggam jemari Alya rapat-rapat seraya menatap Alya dengan binar cinta yang begitu terbuka dan tidak lagi disembunyikan.
Sorakan godaan gembira dan tepuk tangan paling meriah meledak di seluruh area perkemahan. Para karyawan bersorak gembira melihat keharmonisan dan ketegasan hubungan di antara Alya dan Kai.
Di seberang lingkaran api unggun, Rendy mencengkeram cangkir plastiknya hingga remuk. Muka pria itu memerah tegang oleh campuran rasa malu, cemburu, dan kekalahan yang bertubi-tubi. Siska di sebelahnya hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menyadari bahwa takhta sosial yang dulu sering ia gunakan untuk menindas Alya kini telah hancur sepenuhnya. Alya telah menjadi sosok ratu yang dicintai oleh semua orang.
Pukul 23.00 WIB. Acara api unggun utama telah usai, sebagian besar karyawan mulai merayap masuk ke dalam tenda mereka masing-masing untuk beristirahat.
Alya dan Kai berjalan santai menyusuri jalan setapak kecil di antara pohon-pohon pinus, menjauh sedikit dari kebisingan tenda utama untuk menikmati ketenangan malam. Angin malam berhembus lembut membawa aroma khas kayu pinus yang menyegarkan.
Langkah kaki Alya terhenti di sebuah area bukit kecil yang memperlihatkan pemandangan gemerlap lampu kota dari ketinggian.
Alya menarik napas panjang, menghembuskannya pelan hingga membentuk uap tipis di udara dingin.
"Terima kasih untuk malam ini, Kai," bisik Alya lembut, menoleh menatap profil wajah tampan Kai di sampingnya. "Dulu... area kemping ini adalah tempat paling menakutkan buatku. Tempat di mana aku merasa paling jelek, paling tidak berguna, dan paling terasingkan."
Kai melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Alya. Tangan Kai terulur, merapikan kupluk wol yang menutupi telinga Alya agar tidak kedinginan, lalu membelai pipi lembut Alya dengan ibu jarinya.
"Malam ini, kamu menghapus semua kenangan buruk itu, Alya," kata Kai dengan suara yang sangat dalam dan hangat. "Lihat dirimu sekarang. Kamu berdiri di sini sebagai wanita yang sangat kuat, sangat cantik, dan dicintai oleh banyak orang. Dan yang paling penting..."
Kai menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya ke wajah Alya hingga napas hangat mereka beradu di udara dingin malam.
"...kamu dimiliki oleh pria yang tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu lagi," sambung Kai lurus.
Alya menyunggingkan senyum paling bahagia dalam hidupnya. Air mata haru yang hangat menetes pelan di sudut matanya. Tanpa ragu lagi, Alya memajukan tubuhnya, melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Kai, dan menyandarkan tubuhnya sepenuhnya dalam dekapan Kai.
Kai merangkul pinggang Alya secara protektif, memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat, menyalurkan seluruh kehangatan dan rasa cintanya di bawah naungan ribuan bintang dan rimbunnya pohon pinus.
Alya memejamkan matanya di dalam pelukan Kai. Di kehidupan pertama, perkemahan kantor adalah awal dari perundungan dan kepedihannya. Namun di kehidupan kedua ini, di tempat yang sama, Alya telah merebut kembali seluruh harga dirinya, menemukan cinta sejati yang tak tergoyahkan, dan siap menyambut esok hari di mana jerat keadilan akan resmi memenjarakan para musuhnya selamanya.