Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Kubah Matahari
Di puncak dunia, Kastil Adiwangsa selalu bermandikan cahaya. Kubah Matahari perisai magis raksasa berwarna keemasan menutupi seluruh wilayah Distrik Atas, memastikan udara selalu hangat, langit selalu cerah, dan tidak ada satu pun debu kotor dari Distrik Bawah yang bisa menyentuh pualam suci para bangsawan.
Malam itu, Paman Varian berdiri di balkon menara tertinggi, menatap ke bawah sana, ke arah kabut hitam yang menyelimuti Distrik Bawah. Di tangannya, segelas anggur merah memantulkan cahaya dari ribuan lilin abadi yang melayang di udara kastil. Ia sedang menunggu kabar dari Garda Gerhana.
Namun, alih-alih menerima kepala Kaelen, Varian justru menyaksikan akhir dari eranya.
Dimulai dari sebuah getaran halus di udara. Lalu, tanpa suara ledakan atau peringatan, langit keemasan di atas Kastil Adiwangsa berkedip. Sekali. Dua kali.
Dan padam.
Kegelapan absolut seketika menelan Distrik Atas. Suhu udara yang tadinya sehangat musim semi anjlok secara brutal menjadi sedingin es dalam hitungan detik. Ribuan lilin abadi yang ditenagai oleh energi Akar Magma mati serentak, jatuh berserakan ke lantai marmer layaknya serangga mati. Hujan badai dari luar yang selama berabad-abad tertahan oleh kubah, kini tumpah mengguyur atap-atap emas dan jalanan pualam.
Gelas anggur di tangan Varian tergelincir, pecah berhamburan di lantai balkon.
"Mustahil..." bisik Varian, wajahnya memucat di tengah kegelapan gulita. Urat-urat sihir di dinding kastil yang biasanya berdenyut jingga kini menghitam sepenuhnya. "Akar Magma... dia mematikannya? Tidak ada manusia yang bisa menahan energi sepanas itu!"
Kepanikan meledak di seluruh penjuru kastil. Suara teriakan para pelayan dan bangsawan yang kebingungan saling bersahutan. Lonceng fisik dibunyikan secara panik dari menara penjaga, menggantikan alarm magis yang kini tak lebih dari besi rongsok.
"Yang Mulia!" Komandan Kael mendobrak pintu balkon. Zirahnya basah oleh hujan, dan ia memegang obor minyak konvensional—pemandangan yang sangat memalukan bagi seorang ksatria elemen api. "Kubah telah runtuh! Seluruh sistem pertahanan magis gerbang utama mati total!"
Varian berbalik, matanya memancarkan keputusasaan yang dengan cepat berubah menjadi amarah buas. "Kerahkan seluruh pasukan fisik! Gunakan meriam serbuk mesiu! Jangan biarkan tikus-tikus got itu menginjakkan kaki di pelataran pualamku!"
Namun, perintah itu terlambat.
Jauh di bawah tebing kastil, di Gerbang Kenaikan yang memisahkan kedua distrik, sebuah ledakan non-magis yang sangat dahsyat merobek malam. Bukan ledakan sihir, melainkan berton-ton dinamit industri dan bahan bakar mesin uap yang diselundupkan oleh anak buah Bos Rexor. Gerbang baja murni setebal tiga meter itu terlempar ke udara, hancur berkeping-keping.
Dari balik asap ledakan dan hujan deras, terdengar raungan ribuan manusia.
Bos Rexor melangkah masuk, memanggul senapan mesin putar bertenaga uap di bahu kanannya. Di belakangnya, mengalir lautan penjahat, monster mutasi, algojo bertopeng besi, dan tentara bayaran Distrik Bawah. Mereka membawa kapak berkarat, gergaji mesin, dan senjata api kotor. Pemandangan itu seperti mimpi buruk yang merobek masuk ke dalam surga.
"Malam ini, kita tidur di kasur sutra, Kawan-kawan!" raung Rexor, suaranya menggelegar mengalahkan deru badai. "Bakar pualam mereka! Rampas emas mereka!"
Pasukan Ignis yang tersisa mencoba menghadang di pelataran utama. Mereka memaksakan diri memeras sisa-sisa mana di tubuh mereka untuk menciptakan tameng api, namun tanpa dukungan energi dari kastil, api mereka redup tertiup badai. Dalam hitungan menit, barisan ksatria elit yang terbiasa bertarung dengan keanggunan sihir itu digilas habis oleh kebrutalan murni para petarung jalanan. Darah menodai pualam putih, dan patung-patung leluhur Adiwangsa diruntuhkan oleh rantai-rantai raksasa.
Di tengah kekacauan dan pembantaian itu, tiga sosok berjalan dengan tenang menembus gerbang utama.
Kaelen berjalan di depan. Jubah kulit hitamnya basah oleh hujan, menempel pada tubuhnya dan mempertegas pendar ungu kelam dari Inti Leviathan di dadanya. Matanya menatap lurus ke arah pintu utama kastil, sama sekali tidak mempedulikan mayat-mayat ksatria Ignis yang bergelimpangan di sekitarnya.
Lyra melangkah di sisi kirinya, memutar-mutar belatinya sambil bersiul kagum melihat dekorasi mewah yang kini hancur. Sementara Silas berjalan di sisi kanan, membawa senapan mana modifikasinya dengan waspada.
Sepasukan pengawal elit pribadi Varian, mengenakan zirah hitam dan membawa pedang panjang, menerjang keluar dari pintu utama kastil untuk menghentikan Kaelen.
"Bunuh Sang Anomali!" teriak kapten pengawal, melompat dengan pedang terhunus ke arah leher Kaelen.
Kaelen bahkan tidak menghentikan langkahnya. Ia hanya menatap kapten itu.
Gelombang Null meledak dari tubuh Kaelen dalam radius sepuluh meter, lebih pekat dan mematikan dari sebelumnya. Energi purba yang ia telan dari Akar Magma telah membuat domain ketiadaannya berevolusi. Saat kapten pengawal itu memasuki area domain Kaelen, ia tidak hanya kehilangan sihirnya.
Baju zirah magis yang menopang berat tubuh sang kapten seketika hancur menjadi debu. Tenaga fisiknya terkuras habis dalam sepersekian detik, disedot ke dalam ruang hampa di dada Kaelen. Sang kapten jatuh tersungkur di genangan air tepat di depan ujung sepatu Kaelen, tak mampu lagi mengangkat bahkan satu jari pun, napasnya tersengal seolah ia baru saja berlari seratus mil.
Kaelen melangkah melewati pria yang lumpuh itu. Sisa pengawal lainnya membeku, senjata mereka bergetar di tangan. Menyaksikan rekan terkuat mereka dilumpuhkan tanpa disentuh membuat nyali mereka runtuh.
"Barang siapa yang meletakkan senjatanya malam ini, akan melihat matahari terbit esok pagi," ucap Kaelen, suaranya bergema dingin di antara deru hujan dan teriakan perang.
Satu per satu, pedang-pedang baja itu dijatuhkan ke lantai pualam. Para pengawal elit itu berlutut, menyerah pada kekuatan absolut yang tidak bisa mereka pahami.
"Silas, Lyra. Pastikan Rexor tidak membakar perpustakaan dan ruang pusaka," perintah Kaelen tanpa menoleh. "Biarkan para preman itu mengambil emasnya, tapi sejarah klan ini tetap milikku."
Lyra mengangguk sambil menyeringai. "Beres, Bos. Kau mau ke mana?"
Kaelen menatap ke arah tangga melingkar raksasa yang mengarah langsung ke Ruang Takhta di puncak kastil. Kilatan petir di luar jendela menyorot wajahnya yang keras dan tanpa ampun.
"Menyelesaikan urusan keluarga."
Kaelen melangkah menaiki tangga. Pintu ganda raksasa dari kayu eboni yang menuju Ruang Takhta menjulang di depannya. Tidak ada penjaga. Tidak ada sihir pelindung. Hanya keheningan yang menunggu di balik pintu itu.
Dengan satu dorongan keras menggunakan tenaga fisiknya, pintu raksasa itu berderak terbuka.
Di ujung ruangan yang luas dan gelap gulita, diterangi hanya oleh kilatan petir dari jendela kaca patri yang pecah, Paman Varian berdiri membelakangi singgasana. Ia tidak memegang pedang api. Ia tidak memakai zirah. Sebaliknya, pria itu mengenakan sarung tangan kulit yang memancarkan pendar energi berwarna merah darah yang sangat pekat.
Varian menatap Kaelen yang melangkah masuk. Bekas luka di wajah sang paman tampak lebih mengerikan di bawah cahaya petir.
"Kau membuktikan bahwa darah Adiwangsa di nadimu memang cacat, Kaelen," desis Varian, mengangkat kedua tangannya yang kini diselimuti aura merah mematikan. "Kau menghancurkan segalanya hanya untuk sebuah balas dendam. Tapi jangan berpikir kau telah menang. Jika sihir elemen tidak mempan terhadapmu, maka aku akan merobek jiwamu dengan kutukan tertua di dunia ini."
Kaelen berhenti di tengah ruangan. Ia merentangkan kedua tangannya santai, Inti Leviathan di dadanya berdenyut pelan, seolah kelaparan menyambut hidangan penutup.
"Tunjukkan padaku, Paman," balas Kaelen, suaranya setajam belati obsidian. "Tunjukkan padaku seberapa terang cahaya terakhir dari Klan Adiwangsa sebelum aku menelannya ke dalam kegelapan mutlak."