NovelToon NovelToon
PENGEMBARA DARI DESA

PENGEMBARA DARI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Djafar S

Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 SUARA DARI KEGELAPAN RIMBA

Kegelapan malam di kedalaman hutan purba Kalimantan terasa begitu pekat, seolah menelan setiap cahaya yang mencoba menembus rapatnya kanopi pepohonan raksasa.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, sebuah bangunan bekas gudang pengeringan kayu ilegal milik Pak Prabowo berdiri menyendiri di balik bukit barat. Di sekeliling bangunan berukuran besar itu, beberapa lampu sorot kuning berpendar terang, menyoroti halaman berdebu tempat lima orang preman bayaran bersiap-siap sambil menenggak botol minuman keras, ditemani tawa kasar yang memecah kesunyian malam.

Di dalam pos pengawasan utama, Jaka sang algojo pimpinan lapangan suruhan Pak Prabowo sedang duduk merebahkan kaki di atas meja kayu sambil menghisap batang rokok kretek dalam-dalam. Di atas meja di depannya, berserakan tumpukan amplop cokelat berisi uang suap dan sebuah buku tebal bersampul kulit hitam yang memuat seluruh daftar catatan aliran dana gelap, nama-nama pejabat lokal yang disogok, serta rencana pembakaran lanjutan fasilitas "PT Borneo Green Wood".

Jaka sama sekali tidak menyadari bahwa benteng pertahanan yang dianggapnya paling aman di tengah hutan itu kini telah ditembus tanpa suara.

Tepat di luar dinding papan gudang bagian belakang, dalam kegelapan mutlak tanpa bayangan, Raka Ardian dan Arga berdiri bagai patung batu yang menyatu dengan alam. Dengan menggunakan teknik pernapasan tingkat tinggi Welingan Sejati, denyut jantung dan aliran darah mereka berdua seakan diredam hingga menyamai frekuensi getaran angin malam, membuat keberadaan mereka mustahil dideteksi oleh indra manusia biasa maupun hewan penjaga.

"Sesuai rencana, Arga," bisik Raka sangat pelan, nyaris tak terdengar, namun terpantau jelas di telinga sepupunya. "Kau lumpuhkan empat penjaga di halaman luar tanpa menimbulkan luka fatal. Biar aku yang menghadapi Jaka di dalam."

Arga menyeringai tipis dalam gelap, buku-buku jari tangannya berkerotok pelan. "Dua menit saja beres, sepupu. Jangan biarkan si Jaka sempat membakar buku catatan itu."

Tanpa aba-aba tambahan, Arga melesat bagaikan bayangan hantu keluar dari balik semak.

Bugh! Bruk!

Hanya dalam hitungan detik, suara hantaman tumpul yang sangat cepat terdengar beruntun di halaman luar. Keempat preman yang sedang asyik menenggak minuman keras itu bahkan belum sempat mengangkat senjata atau berteriak ketika totokan bertenaga dalam milik Arga langsung menghantam titik syaraf kelumpuhan mereka.

Satu per satu, tubuh kekar para preman itu ambruk tak sadarkan diri ke atas tanah berdebu tanpa mengeluarkan suara gaduh sedikit pun.

Di dalam ruangan, Jaka yang merasa ada kejanggalan mendadak menegakkan duduknya. Ia mengerutkan kening, membuang puntung rokoknya ke lantai, lalu meraba golok besar yang terselip di pinggangnya.

"Hei, di luar sana ada apa? Jangan main-main!" bentak Jaka ke arah pintu depan yang tertutup rapat.

Belum sempat Jaka melangkah mendekati pintu, daun pintu kayu lapuk itu tiba-tiba terbuka lebar dengan sendirinya tanpa disentuh, ditiup oleh hembusan angin malam yang mendadak berubah menjadi sangat dingin menusuk tulang. Bulu kuduk Jaka sontak meremang seketika.

Dari balik ambang pintu yang gelap, sesosok pemuda berjaket usang melangkah masuk dengan tenang. Sorot mata Raka Ardian memancarkan pendar keperakan yang tajam menusuk jiwa, memancarkan aura wibawa spiritual yang membuat nyali Jaka seketika ciut di tempatnya berdiri.

"Si... siapa kau?! Berani-aninya menyusup ke sini!" geram Jaka dengan suara bergetar, mencabut goloknya dan mengarahkannya langsung ke dada Raka.

Raka tidak mengindahkan ancaman senjata tajam itu. Ia berjalan terus mendekat dengan langkah pelan namun pasti, sementara di belakangnya, Arga muncul bersedekap dada di ambang pintu, menutup jalur pelarian satu-satunya.

"Kau adalah Jaka, algojo bayaran suruhan Pak Prabowo," ucap Raka dengan nada suara yang tenang, datar, namun sarat akan tekanan batin yang luar biasa berat. "Permainan kotor kalian sudah berakhir malam ini. Serahkan buku catatan hitam di atas meja itu secara baik-baik, atau kau akan merasakan akibat dari perbuatanmu sendiri."

Dihinggapi rasa takut yang luar biasa akibat aura penekanan mental tersebut, Jaka kehilangan akal sehatnya. Dengan teriakan kalap, ia menerjang maju sambil mengayunkan goloknya menebas leher Raka dengan kekuatan penuh.

"Mati kau, keparat!" teriak Jaka histeris.

Raka hanya mengangkat tangan kanannya dengan sangat santai. Tepat saat mata golok itu hampir mencapai kulitnya, jari-jari Raka bergerak secepat kilat menotok pergelangan tangan Jaka.

Krek!

Sebuah bunyi patahan tulang yang nyaring bergemeretak di dalam ruangan. Golok di tangan Jaka lepas seketika, terpental jauh dan menancap di dinding kayu. Belum sempat Jaka memekik kesakitan, Raka melayangkan telapak tangannya yang dialiri tenaga dalam Welingan Sejati tepat ke dada Jaka.

Bum!

Hantaman gelombang kejut tak kasat mata itu membuat tubuh Jaka terpental mundur sejauh tiga meter, menabrak meja kerja hingga hancur berkeping-keping, sebelum akhirnya jatuh tersungkur memuntahkan darah segar dan langsung pingsan tak berdaya.

Arga melangkah masuk, memungut buku catatan hitam bersampul kulit yang berserakan di antara puing-puing meja, lalu tersenyum puas melihat isinya. "Lengkap. Semua daftar nama pejabat penyokong suap dan transaksi ilegal Pak Prabowo ada di sini, Raka."

Raka menatap sekeliling ruangan yang kini sunyi senyap. "Bawa buku itu dan amankan barang buktinya, Arga. Kirimkan salinannya kepada Tuan Wiratman di Bandung dan jaringan pers nasional pagi ini juga.

Malam ini, keruntuhan imperium korupsi Pak Prabowo resmi dimulai."

Di bawah langit malam Borneo yang kelam, dua pewaris ilmu leluhur itu berhasil menumpas sarang kejahatan tanpa pertumpahan darah yang sia-sia, membawa angin keadilan yang siap menyapu bersih tanah rantau tersebut.

1
indah Mayaddah f
Jadi penasaran, apa isi catatan rahasia di buku harian kakek Wirya itu 🤔
Myz Pena
kebiasaan orang2 di kampung kalau ada orang yang udah naik mobil mewah lalu di bawa ke kampunh pasti jadi tontonan warga kampung 🤭
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Betul😄
total 1 replies
Myz Pena
keuarganya raka sangat sederhana apalagi penggambaran sosok ibundanya 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: iya, memang tokoh pendamping kadang kurang kita perhatikan
total 1 replies
CNNTAYY
utusan juga itu ngeremehin+songong banget untung ada raka/Proud//Proud/
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih CNNTAY ku😍
total 1 replies
iorlif
sepertinya mirip kejadian di suatu tempat
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Mungkin juga sih, tapi murni kok dari imaginasi ku👍
total 1 replies
Siti Aisyah
Kalau ngomongin tentang gabah dan dijemur dihalaman jadi teringat ibu waktu dikampung 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!