Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Hafalan yang Tertunda
Minggu-minggu berikutnya berjalan dengan kecepatan yang aneh. Di satu sisi, hari-hari di pondok tetap berjalan seperti biasa: mengaji, menghafal, piket, dan sesekali pertemuan singkat di perpustakaan yang selalu terasa terlalu pendek. Di sisi lain, ada sesuatu yang mengendap di udara, seperti bau hujan sebelum hujan itu benar-benar turun.
Ustaz Malik mempercepat pelajaran, seolah ingin memastikan setiap santri sudah menguasai dasar-dasar sebelum sesuatu yang tak terduga terjadi. Kiai Wahid lebih sering terlihat berdiskusi serius dengan para ustaz senior di ruang tamunya, pintu tertutup rapat, dan Bu Nyai mulai mengumpulkan bahan makanan kering lebih banyak dari biasanya, disimpan diam-diam di gudang belakang.
"Persiapan," kata Darto suatu pagi, sambil menyusun karung beras. "Kalau Bu Nyai mulai menimbun, itu artinya beliau sudah dengar sesuatu yang lebih serius dari yang kita tahu."
Zaki mengangguk, tangannya sibuk menghitung karung, tapi pikirannya melayang ke pertemuan terakhir dengan Nafisah, tiga hari lalu. Mereka tidak banyak bicara soal perang hari itu. Sebaliknya, Nafisah membawa sebuah kitab hafalan kecil dan meminta Zaki mengujinya.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Zaki waktu itu.
"Karena kalau nanti keadaan memburuk, saya ingin hafalan saya sudah selesai. Supaya tidak ada yang tertunda karena saya menunda-nunda." Nafisah tersenyum kecil, tapi matanya serius. "Kang juga begitu, kan? Ada yang belum selesai dihafal?"
Zaki mengakui, ada. Beberapa surat pendek yang selalu ia tunda karena merasa waktu masih banyak.
Sejak hari itu, setiap pertemuan mereka diselingi dengan saling menguji hafalan, bergantian membacakan ayat dan mendengarkan koreksi, seperti dua orang yang berlomba menyelesaikan sesuatu sebelum lonceng waktu berbunyi tanpa peringatan.
Sore itu, di perpustakaan, Zaki duduk di tempat biasa sambil membuka kitab hafalannya. Nafisah belum datang, dan Ustaz Malik sedang sibuk merapikan rak-rak kitab yang berdebu.
"Nak Zaki," kata Ustaz Malik tanpa menoleh, "kamu sudah sampai mana hafalannya?"
"Hampir selesai juz terakhir, Ustaz."
"Bagus. Cepat sekali kemajuanmu." Ustaz Malik berhenti merapikan, lalu menatapnya sekilas dari balik kacamata yang melorot. "Ada yang mendorongmu belakangan ini, sepertinya."
Zaki merasa wajahnya memanas. "Mungkin, Ustaz."
"Tidak apa-apa. Selama yang mendorong itu membawa kebaikan, bukan sebaliknya." Ustaz Malik kembali ke rak kitabnya. "Saya sudah lama mengajar di sini, Nak Zaki. Saya pernah melihat cinta yang membuat orang lalai, dan saya pernah melihat cinta yang membuat orang jadi lebih baik. Yang kalian berdua tunjukkan, sejauh ini, jenis yang kedua."
Zaki tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya menunduk hormat. "Terima kasih, Ustaz."
"Jangan berterima kasih pada saya. Jaga saja terus seperti itu." Ustaz Malik menutup satu rak dan membuka rak lain. "Tapi ingat satu hal, Nak. Zaman yang akan datang mungkin tidak akan semudah ini. Kalau nanti kalian harus berpisah karena keadaan, jangan biarkan hafalan kalian ikut tertunda karena hati yang berat. Ilmu itu bekal, di mana pun kalian berada."
Kata-kata itu terdengar seperti nasihat biasa, tapi ada sesuatu di nada Ustaz Malik yang membuat Zaki merasa itu lebih dari sekadar nasihat. Seperti sebuah firasat yang dibungkus dengan kehati-hatian seorang guru.
Pintu perpustakaan berderit terbuka. Nafisah masuk dengan napas sedikit terengah, seperti baru berjalan cepat.
"Maaf terlambat," katanya, duduk di tempat biasa. "Ada urusan di dapur."
"Tidak apa-apa," jawab Zaki.
Nafisah membuka kitab hafalannya, tapi sebelum mereka mulai, ia menatap Zaki dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya, campuran antara khawatir dan sesuatu yang belum bisa ia jelaskan.
"Kang," katanya pelan. "Tadi saya dengar dari Bu Nyai. Katanya besok ada pertemuan penting di rumah Kiai. Seluruh pengurus pondok diundang, termasuk Abah saya dari Kediri."
"Pertemuan tentang apa?"
"Saya tidak tahu pasti. Tapi Bu Nyai bilang, kalau pertemuan itu jadi, kemungkinan besar ada keputusan besar yang akan diambil. Tentang pondok. Tentang kita semua."
Zaki merasakan dadanya kembali menegang, sama seperti hari ia mendengar kabar dari Surabaya. Ada sesuatu yang bergerak di luar sana, sesuatu yang lebih besar dari mereka berdua, dan ia tidak tahu apakah mereka masih punya cukup waktu untuk menyelesaikan apa yang baru saja mereka mulai.
"Apa pun keputusannya," kata Zaki akhirnya, mencoba menenangkan diri sendiri sekaligus Nafisah, "kita hadapi bersama-sama. Dengan cara yang kita bisa."
Nafisah menatapnya lama, lalu mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca tapi tidak jatuh.
"Baik," katanya. "Sekarang, uji hafalan saya. Saya ingin menyelesaikan juz ini sebelum apa pun terjadi."
Mereka menghabiskan setengah jam berikutnya dengan saling menguji, suara mereka pelan dan penuh konsentrasi, sementara di luar jendela, langit sore mulai berubah warna, dan di kejauhan, entah kenapa, suara burung-burung terdengar lebih ribut dari biasanya, seperti sedang bersiap untuk sesuatu yang akan datang.