NovelToon NovelToon
SANG PENGUKIR JIWA

SANG PENGUKIR JIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:474
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Wanita Tua di Sungai Tenang

Desa Sungai Tenang muncul di balik bukit terakhir tepat saat matahari sore mulai menguning, lebih kecil dari yang Ji Ming bayangkan—hanya beberapa lusin rumah kayu beratap jerami yang tersusun rapi di sepanjang sungai dangkal berarus tenang, tempat anak-anak desa bermain sambil tertawa tanpa beban.

Tidak ada yang istimewa dari desa ini sepintas lalu. Justru itulah yang membuatnya sempurna sebagai tempat bersembunyi, pikir Ji Ming—begitu biasa hingga tak seorang pun akan mencurigainya menyimpan rahasia apa pun.

"Rumah wanita tua bernama Mei," Yun Xia bertanya pada seorang petani yang sedang membawa pulang hasil panen, "di mana kami bisa menemukannya?"

Petani itu menunjuk ke arah rumah paling ujung desa, sedikit terpisah dari yang lain, dikelilingi pagar bambu rendah dengan kebun kecil berisi bunga-bunga liar yang tumbuh subur meski tak terlihat dirawat dengan sengaja.

Rumah itu sederhana, tapi begitu mereka mendekat, Ji Ming merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan—getaran halus di dadanya yang kosong, seperti gema samar yang mengenali sesuatu di dalam rumah itu, mirip dengan yang ia rasakan saat gerbang Makam Terlarang terbuka.

Xiao Mu, di pangkuannya, tiba-tiba bergerak gelisah, cahaya matanya berpendar lebih terang dari biasanya.

Yun Xia mengetuk pintu kayu tua itu tiga kali. Beberapa saat berlalu sebelum terdengar langkah pelan dari dalam, dan pintu terbuka menampilkan seorang wanita tua bertubuh kecil, rambut putihnya disanggul rapi, matanya yang keriput menyimpan ketajaman yang tak pudar dimakan usia.

Wanita itu menatap mereka bertiga—dua manusia dan sepasang boneka kayu—dengan ekspresi yang perlahan berubah dari kewaspadaan menjadi sesuatu yang jauh lebih rapuh.

"Kami dikirim oleh Tabib Hong," Ji Ming berkata, mengingat pesan yang dititipkan padanya. "Ia bilang untuk mengatakan... Boneka Musim Semi akhirnya kembali."

Wanita tua itu terdiam, tangannya yang keriput mulai gemetar di gagang pintu. Matanya tertuju pada Xiao Mu, dan untuk waktu yang lama, tak ada yang berkata apa-apa selain suara sungai yang mengalir tenang di kejauhan.

"Hong masih hidup," gumam wanita itu, lebih pada dirinya sendiri daripada pada mereka. "Aku sudah lama tidak dengar kabar darinya. Tiga puluh tahun." Ia menatap Ji Ming lebih dalam, lalu turun ke boneka kayu di pangkuannya. "Dan itu... itu benar-benar dia. Xiao Mu."

"Kau mengenal boneka ini?"

"Aku yang membuatnya." Suara wanita tua itu bergetar, dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, air mata menetes di sudut matanya yang keriput. "Masuklah. Ada banyak yang harus kuceritakan, dan sudah terlalu lama aku menunggu seseorang untuk menceritakannya."

Di dalam rumah kecil itu, di atas meja kayu sederhana dengan cahaya lilin yang berkelap-kelip, Mei—atau lebih tepatnya, seperti yang akhirnya ia ungkapkan, nama aslinya adalah Su Mei, salah satu dari segelintir pengukir jiwa yang selamat dari pemusnahan tiga ratus tahun lalu—mulai bercerita.

"Kalian diajarkan bahwa Perang Boneka Jiwa dimulai dan diakhiri dalam satu generasi, bukan begitu? Bahwa sekte pengukir jiwa membangun pasukan jahat, lalu dihancurkan total oleh aliansi sekte-sekte kebenaran." Su Mei menghela napas panjang. "Sebagian benar. Tapi yang tak diceritakan adalah: yang mencuri jiwa hidup untuk memperkuat pasukan boneka hanya sebagian kecil dari sekte kami—sebuah faksi yang dipimpin oleh seorang bernama Mo Yan, yang percaya kekuatan mutlak lebih penting daripada prinsip apa pun.

"Sisa dari kami—ratusan pengukir jiwa yang tak pernah setuju dengan cara Mo Yan—justru menjadi korban pertama saat aliansi sekte menyerang, sebelum sempat membedakan siapa kawan dan siapa lawan. Ribuan tewas dalam semalam. Yang tersisa, seperti aku, seperti gurumu—" ia menatap Xiao Mu, "—terpaksa bersembunyi, mengganti nama, membuang identitas kami selamanya, demi bertahan hidup di dunia yang menganggap kami semua sama jahatnya."

"Grandmaster yang mewariskan manual ini padaku," Ji Ming berkata pelan, "ia bilang seninya bukan yang jahat, tapi tangan yang menyalahgunakannya."

"Dia benar." Su Mei tersenyum tipis, meski matanya masih berkaca-kaca. "Aku menduga siapa dia, dari cara kau menceritakan pertemuan itu. Guru Chen—salah satu penentang paling keras Mo Yan, orang yang mengorbankan diri melindungi murid-muridnya saat pemusnahan terjadi. Aku tak menyangka sisa tekadnya masih bertahan sekian lama, menunggu seseorang dengan Meridian Kosong lewat."

Ji Ming merasakan sesuatu yang hangat dan berat sekaligus di dadanya—nama sang Grandmaster akhirnya punya wajah, punya cerita, bukan sekadar sosok kabut yang menghilang setelah mewariskan segalanya padanya.

"Kenapa kau dan Tabib Hong berpisah?" Yun Xia bertanya. "Kalian sama-sama selamat, tapi hidup terpisah selama tiga puluh tahun?"

"Karena bersama-sama, kami lebih mudah dikenali." Su Mei menunduk. "Kami berjanji, kalau salah satu dari kami suatu hari bertemu tanda bahwa seni ini masih hidup—kata sandi itu, Boneka Musim Semi, nama boneka pertama yang kami buat bersama saat masih muda dan penuh harapan—kami akan tahu saatnya telah tiba untuk berkumpul kembali, apa pun risikonya."

Su Mei menatap Ji Ming lurus-lurus, matanya kini dipenuhi tekad yang sudah lama terpendam. "Kau bukan hanya pewaris satu manual dan satu boneka, Nak. Kau adalah bukti bahwa seni kami masih bisa hidup dengan cara yang benar—tanpa mencuri, tanpa memaksa, seperti yang seharusnya sejak awal. Ada beberapa dari kami yang masih hidup, tersebar, menunggu tanda seperti ini selama puluhan tahun. Kalau kau bersedia, aku bisa membantumu menemukan mereka—bukan untuk membangun kembali sekte lama, tapi untuk memastikan seni ini tak benar-benar punah, dan agar generasi setelahmu tak perlu lari sendirian seperti dirimu sekarang."

Di luar jendela kecil rumah itu, malam mulai turun di Desa Sungai Tenang, dan untuk pertama kalinya sejak gerbang Makam Terlarang terbuka, Ji Ming merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar bertahan hidup—sebuah tujuan yang jauh melampaui dirinya sendiri.

Xiao Mu, di pangkuannya, menggenggam jarinya erat-erat, cahaya hijau di matanya berpendar tenang seperti seseorang yang akhirnya pulang setelah perjalanan yang sangat panjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!