NovelToon NovelToon
Langit Tak Selamanya Mendung, Seraphina

Langit Tak Selamanya Mendung, Seraphina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.

Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.

Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.

Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Tubuh Kalani membeku. Pertama kalinya, Kaivan membentaknya seperti ini. Dan, itu semua gara-gara Seraphina.

"Sera, tahan sedikit."

Kaivan mulai membersihkan luka Seraphina. Dia mengoleskan obat lalu menempelkan plester luka untuk mencegah infeksi.

"Bagaimana? Sudah tidak sakit lagi, kan?" tanya Kaivan dengan senyum yang terlihat sangat manis di wajah gagahnya.

Ya, terkadang Kaivan memang bisa bertindak semanis ini. Tapi, terkadang Kaivan juga bisa bertindak begitu dingin seolah tanpa perasaan.

"Terima kasih," lirih Seraphina. Dia memandangi jarinya yang sudah ditutup plester luka.

Hatinya bertanya. Masihkah jejak rasa itu tertinggal untuk Kaivan? Dan, jawabannya tidak.

Jantungnya tak lagi berdetak kencang saat Kaivan bersikap semanis sekarang. Hatinya tak lagi menghangat saat melihat Kaivan tersenyum segagah itu.

Padahal, hal pertama yang dulu memikat Seraphina adalah senyuman pria itu.

"Sera, kamu bertindak aneh malam ini," kata Kaivan sambil duduk disamping istrinya.

Keduanya sedang berada di kamar Seraphina. Sebuah kamar yang jauh lebih kecil dibanding kamar Kalani yang letaknya persis disamping.

Jika kamar Kalani dipenuhi dengan pakaian-pakaian mahal, tas-tas bermerk, serta perhiasan-perhiasan yang berkilauan, maka kamar Seraphina justru sebaliknya.

Di kamar kecil itu berderet piagam penghargaan yang jumlahnya mungkin ada ratusan. Boneka-boneka kecil yang diambil dari mesin capit, buku-buku tebal, serta tumpukan lukisan yang terletak di sudut ruangan.

"Aneh bagaimana?" tanya Seraphina.

"Kamu tidak lagi mengupaskan udang untukku," jawab Kaivan.

"Itu karena aku lihat kamu bisa mengupas udang sendiri."

"Aku..."

Ucapan Kaivan terhenti. Dia ingat jika tadi dia mengupaskan udang untuk Kalani.

Walau sebenarnya Kaivan paling benci mengupas udang, namun dia rela melakukannya demi Kalani.

"Tadi, aku hanya membantu Kalani karena dia memohon padaku."

Dan, Seraphina hanya mengangguk. Malas membahas masalah ini lebih lanjut. Lagipula, dia tak butuh penjelasan.

"Sudah larut malam. Apa kita bisa pulang sekarang?"

"Kamu mau pulang? Tidak ingin menginap?"

Seraphina terdiam cukup lama. Dia memandangi wajah suaminya dalam-dalam.

Seraphina tahu jika suaminya ingin menginap karena Kalani juga menginap. Padahal, biasanya Kaivan paling tidak suka menginap di sana.

"Tidak."

Jawaban itu tegas.

Namun, Kaivan tak menerima penolakan.

"Kita menginap saja. Aku lelah. Rasanya tidak kuat jika harus menyetir pulang."

Pria itu kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjang Seraphina yang sempit. Untuk tidur berdua, ranjang itu sebenarnya tidak cukup leluasa .

"Biar aku yang menyetir."

Perkataan Seraphina membuat kening Kaivan berkerut heran.

Seraphina tidak seperti biasanya.

Seraphina terasa berbeda.

Bukankah, Seraphina paling senang jika Kaivan setuju menginap di rumah orangtuanya? Tapi, ada apa dengan hari ini?

"Sera, apa kamu marah pada Ayahmu karena tadi dia menegurmu?"

"Tidak."

"Lalu, kenapa kamu berbeda sekali hari ini? Daritadi, kamu hanya diam."

"Aku baik-baik saja."

Kaivan kembali bangkit. Dia menggenggam tangan Seraphina.

"Sayang... sebenarnya ada masalah apa? Tidak bisakah kamu cerita padaku?"

"Aku bilang, aku baik-baik saja."

"Seraphina!"

Kaivan memegang kedua pipi Seraphina. Dia tak membiarkan istrinya memalingkan wajah sedikitpun darinya.

"Apa?" tanya Seraphina.

Kaivan menelan ludah dengan susah payah. Sudah lama dirinya tergoda dengan bibir tipis berwarna merah muda itu.

Namun, selama ini Kaivan terus menahan dirinya. Dia tak mau menyentuh istrinya sendiri karena sudah terikat janji pada seseorang.

Tapi, malam ini... Bolehkah Kaivan khilaf? Seraphina terlalu cantik. Lelaki manapun tak akan sanggup menahan godaan jika berduaan saja dengan Seraphina seperti dirinya sekarang.

"Sera, bolehkah aku mencium mu?" tanya Kaivan sambil mengusap bibir Seraphina dengan ibu jarinya.

"Terserah kamu," jawab Seraphina.

Perempuan itu sedang bertaruh dengan dirinya sendiri. Dia yakin, Kaivan tak akan pernah benar-benar menciumnya.

Napas Seraphina tertahan saat wajah Kaivan semakin mendekat. Sepasang mata pria itu terlihat begitu dalam dan kelam.

Dan, tepat saat bibir Kaivan mulai menempel di bibir Seraphina, suara barang pecah tiba-tiba terdengar dari arah pintu.

Lewat celah pintu yang terbuka sedikit, Kaivan bisa melihat siapa yang tadi berdiri di sana.

Kalani.

"Tunggu di sini!" titah Kaivan yang langsung buru-buru turun dari tempat tidur lalu mengejar wanita yang dia cintai.

Seraphina ikut menyusul. Tapi, dia turut membawa ponselnya. Dia yakin, bisa menemukan sesuatu yang akan membuat Kalani maupun Kaivan jadi malu.

"Kamu menciumnya, Kaivan? Serius?"

Suara Kalani yang sedang marah terdengar melengking di bawah lampu taman belakang.

"Dia istriku. Wajar, jika aku menciumnya."

Kaivan membela diri.

Membenarkan perbuatannya.

"Tapi, kamu sudah berjanji tidak akan pernah menyentuhnya."

"Aku memang pernah menjanjikan hal itu. Tapi, sekarang sudah empat tahun berlalu, Lani. Usiaku sekarang sudah 30 tahun. Kedua orangtua ku sudah ribut meminta cucu. Apa menurutmu aku akan terus seperti ini? Hidup tanpa memberikan penerus untuk keluargaku?"

Kalani merangsek maju. Dia mencengkram kerah kemeja Kaivan erat.

"Kamu bisa mengatakan jika Seraphina itu mandul." Mata Kalani memerah.

"Tidak bisa," tolak Kaivan. "Seraphina terlalu baik. Tidak pernah menyentuhnya selama empat tahun saja, sudah keterlaluan, Lani. Apalagi, jika aku harus memberinya tuduhan sekejam itu."

Plak.

Kalani yang kalap langsung menampar wajah Kaivan.

"KAIVAN!!!" Dia berteriak sekuat tenaga. "Apa kamu sudah tidak mencintai ku lagi?"

"Aku masih mencintai mu. Makanya, aku juga masih bertahan dengan Seraphina."

Embusan angin malam tampak menerbangkan anak rambut Kalani. Wajahnya yang basah oleh air mata membuat lelaki manapun akan menjadi iba.

Ya, inilah daya tarik Kalani. Dia bisa menjebak pria manapun dengan kelemahannya yang memikat.

"Kalau begitu... bercerai lah dengan Seraphina."

Deg.

Sepasang mata Kaivan tampak membesar. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.

"Apa kamu bilang?" lirih Kaivan tak percaya.

"Ceraikan Seraphina!"

Kalani mengulang kata-katanya. Sepasang tangannya mulai mengelus lengan, leher, dan akhirnya berhenti di wajah pria tampan itu.

"Lani..."

"Aku juga akan menceraikan Arsen," potong Kalani cepat.

Tampak, Kaivan mematung. Otaknya mendadak terlalu lamban untuk memproses kata-kata Kalani.

"Kaivan..." Kalani mengusap pipi pria itu lembut. "...kamu tahu apa penyesalan terbesar dalam hidupku?"

Kaivan diam.

Dia menunggu jawaban.

"Melewatkanmu."

Dan, bibir keduanya langsung beradu dengan panas. Awalnya, Kaivan masih belum merespon.Dia bahkan berusaha mendorong Kalani beberapa kali.

Namun, lama-kelamaan pria itu akhirnya luluh juga. Dia membalas. Bahkan, mencium Kalani jauh lebih agresif.

"Kaivan, aku mencintaimu!"

Prok! Prok! Prok!

Suara tepuk tangan membuat keduanya terperanjat kaget. Disana, Seraphina muncul dari balik pohon.

Wajah perempuan itu tampak dingin, nyaris tanpa ekspresi.

"Sera..."

Kaivan buru-buru mendorong Kalani menjauh.

"... kamu salah paham," lanjutnya berbicara.

"Brengsek."

Bugh.

Kaivan terjatuh saat sebuah pukulan tepat mengenai rahangnya dengan keras.

1
ryuka
aku nunggu upp nyaaa thooorrr 🔥🔥🔥🔥🤭🤭🤭🤭
partini
pasti kalani ngiler Ampe ngcesssss kemana" lihat calon suaminya Sera
menyusun rencana merebut lagi
Vie
kadang untuk membalas sakit hati, kita tidak perlu berteriak2 ataupun dengan menjambak mereka, tapi balasan yang cantik dan elegan adalah dengan memperlihatkan kesuksesan kita dimana dulu kita lah yang mereka hina dan rendahkan.... 🤭🤭🤭🤭
Vie
halah bulshit loh lani... nanti pas lihat Noah kamu pasti bakalan iri lagi sama sera dan kehidupan barunya... apalagi sekarang Noah jauh lebih kaya dari para lelaki sampah itu... wah pasti nanti dia tantrum sendiri dan ada aja lagi alasan untuk bisa kembali merebut kebahagiaan milik sera...
Vie
waaahhh pasti nanti yang ada dia bakalan pingsan deh... 🤭🤭🤭
Ani Rahmawati
👍
Tri Handayani
waaah gk kebayang gimana muka orang" dipesta itu😅😅😅😅lanjut thooor 😍😍😍
mam ray
whoahhhhhhhhhh,,,, lanjut thorrrr,,, gregettt
Dew666
💝💝💝
Dew666
Up lagi lagi dong💄💎
ryuka
akkhhh aku suka aku suka... 🤭🤭🤭😍😍
noah & sera kalian keren sekali 🤭🤭🤭🤭
Riri DH
aku suka keributan ini😂
Yoyoh Rokayah
lanjut kaka
Ibuk Oppo
lanjut kakak seru bnget
Riri DH
Siap2 Kalani tantrum lagi..
partini
keluar yah tapi nanti masuk keluarga lebih parah lagi sere
Dew666
💝💝💝💝
Dew666
Lanjutttt penasaran banget
ryuka
aku sabarr aku tunggu upppp nya thorrrrr🔥🔥🔥🔥👍👍👍
ryuka
bagus thor karya mu ini.. 😍🤩🤩 aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!