Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUKUMAN UNTUK EDELYN
Jantung Edelyn seolah berhenti berdetak, mendengar penuturan Joel.
"T-tahan aku?! Kamu sudah gila, Joel! Aku adalah Putri Mahkota! Kamu tidak punya bukti apa-apa!" teriak Edelyn histeris, mencoba melawan saat dua orang pengawal langsung maju mendekatinya.
"Bukti sudah ada di tangan kami, dan Yang Mulia Raja sendiri yang memerintahkan penangkapan ini," jawab Joel dingin tanpa ampun.
"Seret dia!" perintah Joel, tegas.
Dua orang pengawal istana langsung maju, mencengkeram kedua lengan Edelyn dengan kuat.
"Lepaskan aku! Jauhkan tangan kotor kalian dariku, bodoh!" teriak Edelyn, meronta-ronta.
"Kalian semua tidak punya hak! Lepas!" bentak Edelyn, dengan wajah memerah padam.
"Bawa dia!" perintah Panglima Joel lagi, tanpa keraguan sedikit pun.
"Ibu! Ibuuu!" jerit Edelyn sekuat tenaga, mengabaikan cengkeraman pengawal yang semakin erat.
"Ibuu, tolong aku! Selamatkan aku, Ibu!" teriak Edelyn, keras.
Joel menghentikan langkah para pengawalnya sejenak, dia menatap Edelyn dengan sorot mata jijik.
"Jangan buang tenaga untuk memanggil Ratu. Perbuatan busuk mu sudah terbongkar di hadapan Raja," ucap Joel, sinis.
"Tidak! Kalian semua berbohong!" teriak Edelyn terus menjerit histeris.
"Ibuuu! Mereka mau mencelakai ku, Ibu!" teriak Edelyn, dengan air mata kepalsuannya untuk menarik perhatian
"Berhenti! Ada apa ini?!"
Suara Ratu Alice menggelegar tegas.
Ratu Alice yang ingin beristirahat langsung berbalik arah begitu mendengar keributan, didampingi oleh dua pelayan setianya, wajah sang Ratu tampak kaget bercampur cemas saat melihat putrinya dicengkeram oleh para pengawal istana.
"Joel! Apa-apaan ini?!" seru Ratu Alice dengan napas tersengal, melangkah cepat mendekati mereka.
"Lepaskan tangan kalian dari Putri Edelyn! Beraninya kalian memperlakukannya seperti ini di hadapanku!" ucap Ratu Alice, menatap Putri Edelyn.
Melihat ibunya datang, Edelyn langsung memberontak lebih keras, lalu berlari dan menjatuhkan diri bersimpuh di kaki Ratu Alice, memeluk kaki sang Ratu erat-erat sambil terisak pilu.
"Ibu... tolong aku, Ibu..." isak Edelyn, dengan tangisan penuh dusta
"Panglima Joel tiba-tiba mendobrak kamarku bersama para pengawal, dia menuduhku ingin meracuni Ayah, dan mau menyeret ku secara paksa ke penjara bawah tanah, Ibu, aku tidak melakukan semua itu! Sumpah demi langit dan bumi aku difitnah!" ucap Edelyn, begitu lancar.
Ratu Alice hanya diam, dia menatap Edelyn yang menangis tergugu di kakinya, lalu mengalihkan pandangannya dengan tajam ke arah Joel.
Melihat Edelyn menangis, hatinya merasa tidak tega, tapi mengingat apa yang terjadi, dan kalau benar putri nya sendiri yang telah meracuni Raja, Ratu Alice merasa sangat putri nya pantas mendapatkan hukuman atas perbuatannya.
"Ibu... kumohon, katakan pada mereka kalau aku tidak bersalah!" jerit Edelyn semakin kencang, berharap ibunya akan membelanya seperti biasa.
"Ibu percaya padaku, kan? Ibu tahu aku anak yang berbakti!" ucap Edelyn, masih percaya diri, bahwasa Ratu Alice akan membela nya.
"Edelyn, Ibu mendengar sendiri bagaimana ketakutan dan kemarahan Ayahmu saat menyebut namamu tadi," ucap Ratu Alice, pelan.
Edelyn seketika terkesiap, napasnya tercekat di tenggorokan, dan isak tangisnya mendadak berhenti.
"I-Ibu... apa maksudmu? Ibu tidak mempercayai fitnah itu kan?" tanya Edelyn gugup.
"Selama ini, apa pun kesalahanmu, Ibu selalu menutup mata karena Ibu pikir itu hanyalah sifat manja seorang anak perempuan," ucap Ratu Alice, suaranya bergetar menahan amarah dan rasa perih di dadanya.
"Tapi saat Ayahmu sendiri, pria yang paling mencintaimu, justru mengusir mu, ibu tidak bisa lagi menutup telinga, kali ini perbuatan mu sudah sangat keterlaluan Edelyn, tega sekali kamu ingin membunuh ayah mu sendiri, hanya demi sebuah kekuasaan," ucap Ratu Alice, menatap Edelyn kecewa.
"Tidak! Ibu bohong! Ayah hanya salah paham karena dihasut oleh tabib sialan itu!" teriak Edelyn histeris.
PLAK
"Cukup, Edelyn!" bentak Ratu Alice, menampar pipi Edelyn keras, membuat Edelyn terperanjat kaget hingga terduduk lemas di lantai.
Ratu Alice menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya dengan wibawa seorang permaisuri.
"Panglima Joel," ucap Ratu Alice dingin.
"Saya mendengarkan, Yang Mulia Ratu," jawab Joel sigap.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyeretnya secara kasar ke penjara bawah tanah layaknya seorang penjahat rendahan, karena bagaimana pun darah kerajaan mengalir di nadinya," ucap Ratu Alice tegas.
"Tapi, aku juga tidak akan menghalangi penegakan hukum istana!" lanjut Ratu Alice, tegas.
Edelyn membelalakkan matanya, menatap sang ibu dengan tatapan tidak percaya.
"I-ibu, jadi Ibu benar-benar ingin memenjarakan ku?! Aku anak kandungmu!" teriak Edelyn, tidak terima.
"Kurung dia di kamarnya sendiri! Jangan biarkan dia keluar, dan tempatkan pasukan pengawal khusus di depan pintu, tidak seorang pun diizinkan masuk atau keluar tanpa izin dariku atau Raja sampai sidang resmi dewan pembuktian digelar!" perintah Ratu Alice, tegas.
"Baik Yang Mulia!" jawab Joel tegas.
"Tidak! Ibu! Jangan lakukan ini padaku! Ibuuu!" teriak Edelyn histeris, meronta-ronta saat dua pengawal kembali maju dan mengangkat tubuhnya secara paksa untuk dilemparkan ke dalam kamar lalu menguncinya dari luar.
Brak
Pintu kamar itu ditutup rapat-rapat, dan suara teriakan Edelyn dari dalam yang memukul-mukul pintu terdengar nyaring diiringi jerit tangis frustrasi.
Brak
Brak
Brak
"Buka pintunya! Kalian tidak bisa memperlakukan aku seperti ini! aku ini Putri mahkota!" jerit Edelyn, menggedor-gedor pintu.
Ratu Alice berdiri terpaku di depan pintu yang tertutup itu, perlahan, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
"Edelyn, kenapa kamu tega melakukan itu pada Ayah mu sendiri nak," gumam Ratu Alice dengan hati berdenyut sakit.
BRAK
BRAK
BRAK
Pintu kamar Edelyn terus digedor dari dalam, disusul jeritan histeris dan isak tangis frustrasi yang menggema di sepanjang koridor istana.
"Buka pintunya! Sialan kalian! Beraninya mengurungku di sini! Ibuuu! Buka pintunya!" jerit Edelyn kalap, suaranya mulai parau karena terus berteriak tanpa henti.
Di luar pintu, Panglima Joel memberi isyarat kepada empat pengawal khusus untuk berdiri tegap mengamankan area tersebut. Setelah memastikan situasi di sekitar kamar Edelyn sudah terkunci rapat, Joel melangkah mendekati Ratu Alice yang masih berdiri terpaku menatap pintu dengan mata sembab.
"Yang Mulia Ratu, silakan kembali beristirahat," ucap Joel dengan nada penuh rasa hormat.
"Putri Edelyn sudah dikurung sesuai perintah Anda, dan tidak ada seorang pun yang bisa membantunya keluar dari kamar nya, sampai sidang dewan nanti di lakukan," lanjut Joel, yakin.
Ratu Alice mendesah berat, mengusap pelan sudut matanya yang basah.
"Terima kasih, Joel, biarkan dia merenungi semua perbuatannya di dalam sana, kuharap hukuman ini bisa menyadarkan betapa salah jalan yang dia ambil," ucap Ratu Alice, pelan.
"Baik, Yang Mulia," jawab Joel singkat.
Beberapa langkah dari tempat mereka berdiri, Grand Duke Erik Klaus dan Kalyca yang masih mengenakan cadar penutup wajah, menyaksikan semuanya dalam diam.
makaci crazy up nya 😍👍