NovelToon NovelToon
" Kota Sane " Tertinggal Diujung Dunia

" Kota Sane " Tertinggal Diujung Dunia

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Misteri / Tamat
Popularitas:708
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."

Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.

Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.

Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.

Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?

​Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NAYA BERSIAP PULANG KE ASALNYA

Hari-hari yang dipenuhi kecanggungan dan rasa sesak berlalu begitu saja tanpa terasa. Waktu yang ditakutkan itu akhirnya benar-benar terjadi : hari perpisahan telah tiba.

Di dermaga Pulau Sane, deru ombak dan angin laut terasa membelai dingin. Devan berdiri tegap dengan raut wajah yang kembali membeku, menyembunyikan rapat-rapat gejolak rasa bersalah dan kehilangan di dalam dadanya. Pria itu menggenggam ponselnya, baru saja selesai mengurus tiket kepulangan Naya.

"Tiket kapal cepat untuk besok sudah penuh seluruhnya," ujar Devan dengan suara bariton yang dingin dan teratur, seolah hanya bicara urusan bisnis. "Penumpang kelas elit sudah memesan jauh-jauh hari. Karena perjalanan ke Pulau Sina cukup jauh, pihak pengelola tidak mau menyelipkan penumpang demi keselamatan."

Naya yang berdiri di sampingnya dengan tas bahu tergalas hanya menghela napas panjang. Sikap dingin Devan sejak kejadian pagi itu masih mencubit dadanya, namun ia berusaha tetap tenang.

"Tidak apa-apa, Bang," sahut Naya pelan tanpa memandang wajah Devan. "Naik kapal besar atau kapal lambat saja tidak masalah."

Belum sempat Devan membalas, dari arah kejauhan langkah kaki tergesa-gesa memecah riak dermaga. Seorang pria paruh baya berseragam pelaut dengan wajah penuh peluh berjalan menghampiri mereka. Pria itu memegang selembar foto cetak di tangannya, memutar mata bolak-balik antara foto dan wajah Naya.

"Sebentar... ini benar kamu, kan?" seru pria itu—Pak Seno, salah satu nahkoda kapal antarpulau yang kawakan. Ia menyipitkan mata menatap Naya, lalu terkekeh pelan. "Aduh, beda dikit ya... kulitnya agak gelapan sekarang. Tapi kamu pasti Naya, kan?"

Naya tersentak kaget, melirik Devan sekejap sebelum menatap Pak Seno. "E-eh... iya, saya Naya, Pak."

Pak Seno mendengus napas lega seraya menepuk jidatnya sendiri. "Aduh, Neng Naya! Kamu ini tahu tidak, satu pulau di sana sampai riuh dan heboh gara-gara ayahmu!"

"Maksudnya bagaimana, Pak?" tanya Naya bingung.

"Ayahmu itu hampir setiap hari menelepon pihak pelabuhan dan pemerintah daerah, nanya terus kapan jalur Pulau Sane resmi dibuka penuh!" cerocos Pak Seno bersemangat. "Pemerintah saja sampai repot dibuat ayahmu gara-gara nyariin anak gadisnya yang hilang kontak! Kamu nanti pulang bersama kami di kapal khusus. Lagian... Abangmu itu sudah keliling muter-muter pulau ini dari kemarin tapi tidak ketemu-ketemu, nama penginapan Bahari ini kan banyak!"

Naya langsung menepuk jidatnya sendiri dengan rasa bersalah yang membuncah. "Iya ampun, Naya lupa menelepon Rumah! Soalnya dari kemarin repot sekali mengurus persiapan kafe dan penginapan...serta tamu yang datang ,Lagipula di area penginapan Naya sendiri sinyalnya belum ada, Pak."

Pak Seno tertawa terkekeh melihat kepolosan Naya, sementara Devan di sebelahnya hanya bisa tertegun membisu mendengar fakta tersebut.

Naya lalu menoleh sedikit ke arah Devan, mencoba mencairkan suasana kaku di antara mereka meski hatinya masih jengkel. "Nanti kalau Naya sudah sampai rumah, Naya suruh Ayah pasangkan pemancar Wi-Fi di sini, biar Penginapan Bahari dan kafe Bang Devan makin maju dan tidak terisolasi lagi."

Devan merapatkan bibir, tak sanggup membalas gurauan halus Naya. Tenggorokannya terasa tersumbat.

"Nah, sebentar!" pangkas Pak Seno seraya mengotak-atik ponsel di tangannya. "Ini saya sambungkan telepon ke Abangmu dulu. Dia memang sengaja menyusul ke Pulau Sane buat jemput kamu!"

Tak berapa lama, Pak Seno menyodorkan ponselnya ke arah Naya. "Ini, Abangmu mau bicara!"

Dengan tangan yang gemetar halus, Naya menerima ponsel tersebut dan mendekatkannya ke telinga.

"Halo... Abang?" sapa Naya pelan, suaranya bergetar menahan haru sekaligus rasa bersalah.

Dari balik telepon, suara tegap dan tegas milik kakak laki-lakinya memecah hening, terdengar begitu lega namun sarat akan nada khawatir yang mendalam. "Naya?! Kamu di mana saja, Dedek?! Abang dari kemarin muter-muter di Pulau Sane sampai mau gila nyariin kamu! Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi sama sekali?!"

"Maaf ya, Bang..." bisik Naya tulus, matanya tak sengaja beradu dengan pandangan mata Devan yang menatapnya dalam diam dari balik topeng dinginnya. "Naya baik-baik saja di sini. Naya... di Penginapan Bahari."

---

"Naya tunggu di Penginapan Bahari saja ya, Pak Seno," ujar Naya lembut seraya menyerahkan kembali ponsel itu kepada Pak Seno.

Pak Seno mengangguk mantap sambil tersenyum lebar. "Baik, Neng. Biar Abangmu yang menyusul ke penginapan nanti. Saya mau balik ke dermaga dulu buat koordinasi kapal."

Malam pun jatuh di atas Penginapan Bahari. Lampu-lampu gantung gantung gantung berwarna keemasan di pelataran kafe menyala hangat, membiaskan cahaya di atas meja-meja kayu yang dipenuhi sisa-sisa keriuhan tamu. Angin laut bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma garam dan wangi kopi yang menenangkan.

Di pintu masuk pelataran, seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja rapi dan langkah mantap melangkah masuk. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan yang asri dan estetis itu dengan raut penuh selidik.

Budi yang sedang menyapu pelataran langsung menyambutnya dengan senyum ramah khas Penginapan Bahari. "Selamat malam, Mas! Selamat datang di Penginapan Bahari. Mau cari meja untuk makan malam, atau mau pesan kamar?"

Pria itu menghentikan langkahnya, menatap Budi dengan wibawa yang tenang. "Selamat malam. Saya sedang mencari adik saya."

"Cari adiknya?" Budi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedikit bingung. "Maksudnya... ada janji dengan tamu penginapan?"

"Ada Naya di sini?" tanyanya langsung tanpa berbelit-belit.

Mendengar nama Naya disebut, Budi tersentak kaget. "E-eh! Mbak Naya? Ada, Mas! Mbak Naya ada di dalam!"

Devan yang baru saja keluar dari area dapur sambil membawa nampan kayu langsung menghentikan langkahnya saat mendengar percakapan di pintu depan. Sorot mata baritonnya mengunci sosok pria tegap di depan Budi—pria dari Pulau Sina yang memancarkan aura ketegasan dan kepedulian yang sama kuatnya dengan dirinya.

Langkah Devan mendekat dengan tenang, memecah hening di antara mereka. "Saya pemilik penginapan ini. Naya ada bersama kami di dalam."

Mendengar keributan kecil di pintu depan, Naya melangkah cepat keluar dari koridor bawah. Begitu matanya menagkap sosok pria tegap yang berdiri di dekat meja bar, dada Naya mendadak berdesir hebat.

"Bang!" jerit Naya parau.

Pria itu berbalik. Wajah kaku dan tegasnya seketika luntur saat melihat adik kesayangannya berjalan mendekat. "Naya!"

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Naya berlari dan langsung menghambur ke dalam dekapan hangat sang kakak. Tangannya memeluk erat pinggang kakaknya, menyandarkan wajahnya di dada bidang pria itu sambil meluapkan seluruh kerinduan dan sesak yang membendung di dadanya selama di Pulau Sane.

"Naya kangen banget sama Abang... Maaf ya, Naya bikin Abang sama Ayah cemas," bisik Naya terisak halus dalam pelukan kakaknya.

Abang Naya membalas pelukan itu dengan sangat erat, mengusap lembut rambut adiknya dengan penuh kehangatan seorang pelindung. "Abang juga kangen sama kamu, Dedek. Abang sampai mau gila keliling pulau ini nyariin kamu. Yang penting kamu selamat dan tidak kenapa-kenapa..."

Devan berdiri mematung beberapa langkah dari mereka. Melihat betapa eratnya pelukan itu dan betapa besarnya rasa sayang sang kakak pada adiknya, ada rasa legawa sekaligus denyut nyeri yang makin dalam di dada Devan. Ia tahu, tempat Naya memang berada di dunia yang aman dan hangat bersama keluarganya.

Namun, keharuan momen reuni itu mendadak terganggu oleh suara langkah centil yang mendekat.

Clarissa—yang sejak tadi memperhatikan kedatangan pria tampan berpenampilan mapan dari Pulau Sina itu—langsung membetulkan tatanan rambut dan merapikan gaun pantainya. Dengan senyum manis yang dibuat-buat dan gaya yang menggatal, Clarissa berjalan mendekat seraya mengibaskan rambutnya.

"Aduh... ini Abangnya Naya ya?" celetuk Clarissa dengan suara mendayu-dayu, sengaja berdiri sangat dekat di samping kakak Naya. tangannya mengibas-ngibas pelan seolah merasa kegirangan. "Ganteng banget ya, beda banget sama Naya... Perkenalkan, Mas, aku Clarissa, sepupunya Bang Devan yang paling cantik di penginapan ini."

Clarissa mengulurkan tangannya sambil mengedipkan sebelah mata, mencoba memamerkan pesona lokalnya yang menor.

Abang Naya mengurai pelukannya dari Naya, lalu melirik tangan Clarissa yang terulur dengan tatapan dingin, datar, dan serba canggung. Rasa hormatnya hanya tertuju pada tempat ini, bukan pada godaan murahan. Ia menyambut uluran tangan itu sekadar formalitas singkat dengan jarak aman.

"Saya abangnya Naya," jawabnya singkat dan tegas, tanpa sedikit pun terbuai oleh tingkah centil Clarissa.

Pandangannya langsung beralih kembali menatap Devan dengan tatapan menilai yang tajam. "Terima kasih sudah menjaga adik saya selama dia di Pulau sane"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!