NovelToon NovelToon
Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:29.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."

Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.

Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.

​Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.

​Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.

​Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.

Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25 Mendatangi Psikolog

Ardy baru saja meletakkan jas kerjanya yang kusut ke atas sofa dan Siska buru-buru menghampirinya. Mata wanita itu masih sembap, hidungnya memerah, menampilkan raut wajah paling menyedihkan yang ia bisa.

“Mas...” panggil Siska lirih. Ia meraih dan menggenggam kedua tangan Ardy erat-erat, menatap pria itu dengan wajah memelas.

“Hmm.”

“Apa kamu sudah memikirkannya?" tanya Siska.

“Soal apa?” Ardy mlah bertanya balik.

“Bayi ini butuh ayah, Mas. Aku nggak mau darah dagingmu lahir tanpa status yang jelas. Aku nggak mau dia dicap sebagai anak di luar nikah!”

Ucapan itu membuat Ardy kembali terdiam kaku. Kepalanya masih berdenyut hebat. Belum sempat ia menjawab, Sarah yang sejak tadi duduk memperhatikan mereka, ikut melangkah maju dan angkat bicara.

“Siska benar, Ardy! Dengarkan kata-katanya!” sahut Sarah tegas.

“Setelah sekian lama keluarga ini menunggu, setelah semua tekanan dari kerabat, akhirnya Mama akan punya cucu penerus keluarga. Apalagi yang kamu pikirkan. Ceraikan Kirana secepat mungkin. Singkirkan perempuan benalu itu dari rumah ini!”

Ardy mengusap wajahnya kasar. Di satu sisi, ia masih terikat janji suci kepada almarhum kakek Kirana. Namun di sisi lain, hasil USG yang diremasnya tadi adalah bukti nyata. Bayi yang dikandung Siska adalah darah dagingnya. Ia tak ingin anak itu lahir tanpa pengakuan.

“Ma, ini nggak semudah membalikkan telapak tangan,” ucap Ardy pelan, mencoba mencari jalan tengah yang tak masuk akal.

“Aku harus bicara dulu dengan Kirana. Siapa tahu dia mau menerima Siska. Aku bisa menjadikannya istri kedua, dan kita bisa merawat bayi ini bersama.”

“Istri kedua?!” pekik Siska tak percaya. “Nggak, Mas! Sampai mati pun aku nggak mau dimadu! Aku nggak sudi berbagi suami dengan perempuan itu!”

Air mata Siska kembali mengalir deras, kali ini disertai isak tangis yang terdengar penuh amarah.

“Kenapa sih kamu masih saja mempertahankan janji konyol dengan orang yang sudah mati itu? Buka matamu, Mas. Jelas-jelas mbak Kirana itu perempuan cacat! Dia nggak bisa ngasih kamu keturunan! Dia mandul!”

“Jaga bicaramu, Siska!” bentak Ardy spontan. Entah mengapa, kata mandul yang ditujukan pada Kirana membuat dadanya panas.

“Apa, Mas? Kenapa kamu membentak ku? Sekarang kamu malah membela perempuan itu di depanku?!” cecarnya dengan napas memburu. “Memangnya aku bohong? Selama tiga tahun kalian menikah, lihat hasilnya! Dia tetap nggak bisa kasih anak buat keluarga ini! Dan sekarang, saat aku yang memberimu keturunan, kamu malah menyuruhku jadi yang kedua?!”

Ardy mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, tak mampu membantah ucapan Siska.

“Kalau kamu benar-benar masih mau mempertahankan mbak Kirana, buat apa aku mempertahankan bayi ini?”

Sebelum Ardy dan Sarah menyadari maksud dari kalimat itu, Siska tiba-tiba berbalik dan berlari kencang menuju dapur bersih. Siska menarik laci perlengkapan dengan kasar. Saat ia berbalik, tangannya sudah menggenggam erat sebilah pisau dapur daging yang berkilau tajam.

“Siska!” Sarah menjerit histeris, wajahnya pucat pasi melihat benda itu. “Apa yang kamu lakukan, Sayang?! Istigfar!”

“Siska! Buang itu sekarang! Turunkan pisaunya!” perintah Ardy sembari melangkah maju dengan tangan terangkat.

“Jangan mendekat, Mas!” teriak Siska histeris. Ia justru mengarahkan ujung pisau yang tajam itu tepat ke perutnya sendiri. Air matanya mengalir semakin deras, bercampur dengan senyum getir.

“Sebelum kamu kasih kepastian hari ini juga, aku nggak mau hidup digantung seperti ini! Kalau kamu nggak mau menceraikan dia dan menikahi ku, biar sekalian saja bayi ini ikut mati bersamaku," ancamnya.

“Siska, jangan! Itu cucu Mama!” Sarah menangis tersedu-sedu sambil menahan lengan Ardy, tubuh tuanya gemetar ketakutan.

“Tolong, Sayang... aku mohon...” bujuk Ardy dengan napas memburu, matanya tak lepas dari ujung pisau yang sudah menekan kain baju Siska. “Buang pisaunya. Kita bicarakan ini baik-baik.”

“Nggak akan ada yang dibicarakan lagi! Aku cuma mau satu janji! Kecuali kamu janji menceraikan mbak Kirana sekarang juga!”

Ruangan itu mendadak sunyi, hanya terdengar isak tangis Sarah dan napas Siska yang tersengal.

Ardy memejamkan matanya rapat-rapat. Dadanya terasa begitu sesak, seolah dihimpit ribuan ton batu. Bayangan senyum Kirana, aroma vanilla wanita itu, dan janji pada kakeknya berkelebat cepat, namun terhapus oleh ancaman hilangnya darah dagingnya sendiri.

Beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Ardy mengembuskan napas panjang yang terdengar putus asa.

“Baiklah. Aku janji. Aku akan menceraikan Kirana,” ucap Ardy.

Pisau di tangan Siska langsung terlepas dan jatuh membentur lantai. Tangis histerisnya seketika mereda, perlahan berubah menjadi senyum kemenangan.

Tanpa membuang waktu, Siska berlari dan memeluk tubuh kaku Ardy erat-erat, membenamkan wajahnya di dada pria itu.

“Makasih, Mas... Makasih. Aku tahu kamu memang selalu mencintaiku dan bayi kita,” bisiknya lembut.

*

*

Kirana duduk membisu di atas sofa empuk sebuah ruang praktik psikolog.

Vanessa, sahabatnya, yang memaksa dan menyarankannya datang ke tempat ini.

Selama beberapa hari terakhir pasca kecelakaan, Kirana memang terlihat luar biasa kuat di hadapan semua orang.

Namun, semua itu hanyalah topeng.

Setiap malam, saat lampu kamar dimatikan, saat pintu kamar mandi tertutup rapat dan suara keran shower dibuka deras agar isak tangisnya tak terdengar siapa pun.

Dokter Laras, tidak langsung mencecar Kirana dengan pertanyaan. Wanita itu membiarkan keheningan mengalir selama belasan menit dan hanya menatap Kirana dengan sorot mata keibuan yang sangat lembut.

Lalu, dengan suara yang begitu pelan dan menenangkan, ia bertanya, “Kapan terakhir kali anda membiarkan diri anda benar-benar menangis, Kirana?”

“Saya tidak pernah menangis, Dok. Saya baik-baik saja. Saya hanya sedikit lelah karena kecelakaan dan masa pemulihan luka di dahi saya,” jawab Kirana.

Dokter Laras mengangguk pelan, tatapannya tak beralih sedikit pun.

“Kalau anda benar-benar merasa baik-baik saja, lalu kenapa sejak pertama kali anda melangkah masuk ke ruangan ini, kedua tangan anda tidak berhenti gemetar?”

Kalimat yang sangat sederhana itu pun terucap dan efeknya bagaikan godam yang menghantam dada Kirana.

Mata Kirana perlahan turun menatap kedua tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan. Dokter itu benar. Jari-jemarinya bergetar hebat, buku-buku jarinya memutih karena ia terlalu keras menggenggam tangannya sendiri demi menahan kehancuran di dalam dadanya.

Mata Kirana mendadak panas. Pertahanan yang mati-matian ia bangun selama berhari-hari akhirnya retak, lalu hancur berkeping-keping. Air mata yang sekuat tenaga ia bendung akhirnya menetes jatuh membasahi punggung tangannya. Hingga akhirnya berubah menjadi tangisan pilu yang tak lagi mampu ia sembunyikan.

Kirana menunduk, bahunya pun berguncang hebat.

“Dok, saya capek...” isaknya terdengar begitu lirih dan menyayat hati.

Tangan kanannya terangkat, mencengkeram kemeja di bagian dadanya yang terasa begitu sesak hingga membuatnya sulit bernapas.

“Setiap malam, saya selalu bermimpi. Di dalam mimpi itu, saya mendengar suara bayi saya menangis kencang memanggil saya. Ruangannya sangat gelap, Dok. Saya meraba-raba, saya berlari ke sana kemari mencarinya, tapi setiap kali saya hampir menemukannya, setiap kali saya mengulurkan tangan untuk memeluknya, dia menghilang.”

Kirana memukul pelan dadanya sendiri. Ia merintih dalam keputusasaan yang teramat sangat.

“Kenapa Tuhan menyelamatkan saya hari itu, Dok? Kenapa? Rasanya sakit sekali. Sakit sampai saya tidak tahu bagaimana caranya saya harus bernapas dan hidup besok pagi tanpa mengingat bahwa anak saya meninggal karena saya gagal melindunginya!”

Untuk pertama kalinya setelah terbangun dari kecelakaan maut itu, Kirana melepaskan topeng keangkuhannya. Ia mengizinkan dirinya hancur. Ia mengizinkan dirinya menjadi wanita yang paling rapuh di dunia.

Bukan sebagai istri sah Ardy yang dikhianati. Bukan sebagai menantu keluarga kaya yang dituntut sempurna. Melainkan murni sebagai seorang ibu.

Seorang ibu berhati hancur yang harus meratapi kepergian anaknya, bahkan sebelum ia memiliki kesempatan untuk mendengar tangisan pertama buah hatinya di dunia ini.

1
🇦 🇵 🇷 🇾👎
cakep jgn lm x satu bln
Nice1808
tuh Ardy krna kau mulaimencintai kirana tp kau gk mengakui perasaanmu🤣🤣🤣
Sri Rahayu
apa mungkin Siska hanya pura2 hamil agar Ardi selekasnya menikahinya 😇😇😇.... semoga Tristan mendpt kan bukti2 kejahatan dan kebohongan Siska...lanjut Thorr😘😘😘
stela aza
jangan lama2 donk Thor bikin Ardi jadi gembel ,,, q udh g sabar liatnya 🤭
Senja: Hehehe sabar y kak🤣
total 1 replies
Esther
Nanti kalau sakit beneran, gak akan ada orang yang percaya Siska, terlalu banyak berbohong sih.
Heni Fitoria
g sabar lihat kehancuran nya Ardy, perusahaan bangkrut, tahu kenyataan klu anak yg dikandung Siska BKN anaknya 🤭🤭🤭
Heni Fitoria
doa mu tak aamiin kan Kirana
Deasy Suryandari
lanjoooot
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy
Nice1808
tuh org diam di ganggu dia akn melebihi singa ngamuk🤣🤣kirana akan bertindak dan kalian akn jd gembel ardy, sarah dan kau siska🤭🤣
Nice1808
gak sadar kau ardy, kau yg berkhianat malah nuduh kirana selingkuh, bagus kirana lawan aja tuh ardy yg sok berkuasa🤣
Sri Rahayu
ayo cepet bantu Kirana bikin Ardi bangkrut, kahilangan segalanya Tristan... dan buka kedok sprt apa Siska sebenarnya...lanjut Thorr😘😘😘
sunaryati jarum
Ah emak tidak sabar melihat kemiskinan Ardy dan runtuhnya kesombongannya ibunya dan Siska.Emak juga ingin tahu reaksi Ardy jika terbongkar anak yang dikandung Siska bukan anaknya.
Senja: heheh siapppp makk
total 1 replies
sunaryati jarum
Benar balikan tuduhan padamu ke Ardy yang tidak berkaca pada dirinya sendiri, semoga dalang terjadinya kecelakaan padamu segera terungkap dan pelakunya ditangkap bersama bukti yang tidak bisa dibantah
stela aza
ceritanya keren, karakter toko utama perempuan nya hebat ,,, g cengeng kaya di novel lain ,,, yg bisanya cuma nangis,,, pokoknya best bgt ceritanya ❤️❤️❤️❤️
stela aza
good job Kirana ,, q suka gayamu ❤️❤️❤️
🇦 🇵 🇷 🇾👎
yes😀
Elina thea
benar Kirana buat si Ardy bangkrut...dgn dia bangkrut maka selingkuhannya juga pergi karna gak tahan hidup miskin
Margaretha Indrayani
ardy tidak berkaca dirinya lebih parah karena malah membawa pulang siska
🇦 🇵 🇷 🇾👎
good
🇦 🇵 🇷 🇾👎
bntr lg jd suami tan🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!