NovelToon NovelToon
L.S. Underworld

L.S. Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Mafia
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ANDIKA,312

Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 22

Hari-hari berlalu membalut kota Los Santos dengan ritme barunya. Kediaman megah lima lantai di Little Seoul yang dulu menjadi simbol kejayaan dan teror geng Ying Long kini berdiri bisu, hangus, dan terbengkalai. Setelah kematian bos besar mereka, Lee Dong, serta hancurnya jajaran petinggi dan prajurit terbaik mereka, jaringan sindikat tersebut resmi bubar total. Sisa-sisa anggota kecilnya lari berhamburan meninggalkan kota, takut menjadi sasaran pembantaian berikutnya.

Kehidupan bergerak melewati duka atas kematian Lamar.

Franklin akhirnya memilih untuk melangkah maju. Berkat koneksi kuat dan bantuan penembak jitu di malam pembantaian itu, Franklin resmi kembali bekerja sama dengan Lester Crest dan Michael De Santa. Bersama tim veteran tersebut, Franklin mulai terlibat dalam perencanaan perampokan-perampokan kelas atas yang terorganisir dan menghasilkan jutaan dolar.

Sementara itu, Andika kembali ke garis hidupnya di jalanan keras Los Santos—sebagai seorang pengangguran.

Hari-hari Andika dihabiskan dengan duduk bersandar di teras rumahnya, menatap Chopper Scorpio hitam mengkilat miliknya yang terparkir tenang di halaman. Sesekali ia masih menikmati sore di pesisir pantai Vespucci dengan sebotol bir dan sebatang rokok. Namun, setiap kali ia membuka dompetnya, kenyataan pahit mulai menampar. Uang tunai hasil penjualan amunisi di Cypress Flats dulu kini sudah makin menipis akibat dipakai memenuhi kebutuhan hidup dan bersenang-senang selama pekan-pekan duka.

Andika memutar otak siang dan malam. Ia merebahkan badan di atas sofa, menatap langit-langit kamar sembari memikirkan cara mendapatkan pemasukan besar dalam waktu singkat.

Memulai bisnis amunisi lagi jelas mustahil tanpa jalur pasokan Little Jacob. Menjadi pekerja kantoran biasa atau buruh gajian jelas bukan gayanya. Di kota sekeras Los Santos, uang cepat hanya datang dari pekerjaan berisiko tinggi atau bisnis bawah tanah yang tepat.

Sambil menghisap dalam-dalam rokoknya dan menghembuskan asap tipis ke udara, Andika menyipitkan mata, masih tenggelam dalam kebingungan untuk menentukan langkah dan bisnis gila apa berikutnya yang sanggup mengembalikan kejayaannya di jalanan ini.

Rasa bingung yang menumpuk membuat Andika akhirnya meraih jaket kulit dan kunci motornya. Ia memutuskan untuk datang langsung ke rumah Franklin di La Puerta, berharap sahabatnya itu punya pandangan atau info pekerjaan yang bisa digarap bersama.

Andika melompat ke atas Chopper Scorpio hitam mengkilat miliknya, memutar kunci kontak, dan memicu engkol starter.

BHRRUMMM! BLEGAR-BLEGAR-BLEGAR!

Mesin 225cc kustom itu menyalak gahar. Andika menancap gas, membawa motornya membelah jalanan Los Santos. Setelah puluhan menit berkendara menembus lalu lintas kota, ia tiba di depan kediaman Franklin. Andika memarkirkan motornya di halaman, melangkah ke depan pintu utama, dan mengetuknya beberapa kali.

KNOCK! KNOCK! KNOCK!

Cukup lama Andika berdiri menunggu di depan pintu, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam. Merasa ada yang tidak biasa, Andika merogoh saku jaketnya, mengambil ponsel, lalu menelpon nomor Franklin.

Panggilan tersambung pada dering ketiga.

"Yo, Andika! Ada apa, Bro?" suara Franklin terdengar dari balik sambungan telepon, diiringi deru halus mesin mobil.

"Saya lagi di depan rumahmu ini, Frank. Kau ada di mana?" tanya Andika.

"Wah, maaf sekali, Bro! Saya sedang di jalan, ini sedikit lagi sampai di rumah Michael," jawab Franklin. "Begini saja, kau menyusul ke sini sekarang. Biar kita kumpul sekalian. Saya kirim titik lokasinya ke ponselmu."

"Oke, kirim lokasinya. Saya meluncur sekarang," balas Andika singkat.

Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk berisi GPS peta menuju kawasan elite Rockford Hills. Andika kembali naik ke jok Chopper-nya, memutar haluan, dan melesat menuju kediaman mewah Michael De Santa.

Begitu sampai di alamat tujuan di kawasan Rockford Hills, Andika memelankan laju motornya. Di depan sebuah rumah megah bergaya Spanyol dengan pagar tinggi, terlihat sedan Bravado Buffalo milik Franklin terparkir rapi.

Andika memarkirkan Chopper-nya tepat di belakang mobil Franklin, lalu merogoh ponselnya untuk menelpon Franklin agar menjemputnya di luar pagar. Beberapa menit kemudian, pintu gerbang kecil terbuka. Franklin keluar dengan senyuman lebar, menepuk bahu Andika, dan mengajaknya masuk ke dalam area rumah.

Mereka berdua berjalan menyusuri koridor samping rumah yang asri, melangkah menuju area halaman belakang. Di sana, di samping kolam renang yang jernih dengan pemandangan pemukiman mewah dari atas bukit, Michael De Santa sedang duduk santai di kursi berjemur.

"Michael, ini kawan saya yang waktu itu ikut di Little Seoul, Andika," ujar Franklin mengenalkan.

Michael berdiri dari kursinya, menyambut uluran tangan Andika dengan genggaman mantap. "Senang akhirnya bisa bertemu langsung tanpa ada peluru yang terbang di atas kepala kita, Andika. Tembakanmu dan Frank malam itu rapi sekali."

"Senang bertemu denganmu juga, Michael. Terima kasih atas bantuan penembak jitu malam itu," balas Andika tenang.

Michael tersenyum tipis, lalu meraih botol wiski mahal dan tiga gelas kristal di atas meja. Ia menuangkan cairan emas beralkohol itu ke tiap gelas, membagikannya kepada Andika dan Franklin. Ketiganya meneguk minuman itu santai sambil menikmati hembusan angin sore di tepi kolam.

Di tengah-tengah obrolan santai mengenai situasi jalanan Los Santos setelah Ying Long runtuh, Andika menyandarkan punggungnya di kursi, menghembuskan napas panjang.

"Sejujurnya, saya ke sini sebenarnya mau cari info pekerjaan dari Franklin," akui Andika terus terang. "Uang hasil penjualan amunisi kemarin sudah hampir habis. Sekarang saya benar-benar nganggur dan bingung mau buka bisnis atau kerja apa lagi."

Michael yang mendengar keluhan itu menaruh gelas wiskinya di atas meja, menatap Andika dengan selera yang tertarik.

"Nganggur, huh?" kekeh Michael pelan, lalu menyandarkan badannya. "Anak muda dengan nyali besar dan kemampuan memegang senjata seperti dirimu tidak boleh dibiarkan menganggur lama-lama di kota ini. Itu pembuangan bakat namanya."

Andika menaikkan alisnya. "Kau punya ide, Mike?"

Michael menyunggingkan senyum misteriusnya. "Aku dan Franklin sedang menyiapkan sesuatu yang besar bersama Lester. Proyek ini tidak main-main—bayarannya bisa bikin kau tidak perlu memikirkan uang sewa rumah atau bensin motor sampai beberapa tahun ke depan."

"Pekerjaan apa itu?" tanya Andika penasaran.

"Aku belum bisa sebut detailnya sekarang sebelum kau bertemu langsung dengan Lester," sahut Michael pelan, menepuk pelan meja. "Tapi gambaran besarnya... ini bukan sekadar baku tembak di lorong pasar. Ini soal membobol tempat dengan pengamanan ketat, mengambil aset bernilai jutaan dolar, dan keluar tanpa meninggalkan jejak. Jika kau siap main di tingkat atas, aku bisa sediakan satu tempat untukmu di tim kami."

Michael merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kartu nama berdesain simpel namun elegan, lalu menyerahkannya kepada Andika.

​"Simpan nomor ponselku," ujar Michael sambil mengetuk pelan kartu itu di meja. "Nanti kalau Lester sudah menyelesaikan semua perhitungan detailnya, aku sendiri yang akan menelponmu."

​Andika menerima kartu nama tersebut dan mengangguk pelan, menyimpannya rapi di dalam dompet.

​"Nah, untuk hari ini, lupakan dulu masalah uang dan pekerjaan," tambah Michael seraya mengangkat kembali gelas wiskinya. "Sore ini kita nikmati saja dulu hasil kemenangan kita atas Lee Dong."

​Tiga pria itu menghabiskan sisa sore hingga malam merayap naik di tepi kolam renang kawasan Rockford Hills. Denting gelas kristal, gelak tawa, racikan cerita pertempuran masa lalu, serta kepulan asap rokok yang membumbung tinggi menyelimuti kehangatan nongkrong mereka. Rasa lelah dan tegang pasca-pembantaian geng Ying Long perlahan menguap, digantikan jeda santai yang sangat berharga.

​Ketika jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, mereka akhirnya sepakat untuk menyudahi kumpul-kumpul tersebut dan bersiap kembali ke rumah masing-masing.

​Andika dan Franklin berjalan berdampingan menuju halaman depan rumah Michael. Suasana malam terasa dingin dan tenang. Andika melangkah mendekati Chopper Scorpio hitam mengkilatnya yang terparkir anggun di tepi jalan.

​Namun, saat Andika baru saja hendak mengangkang naik ke atas jok motornya, Franklin tiba-tiba menahan stang motor Andika.

​"Tunggu sebentar, Bro," kata Franklin pelan.

​Franklin merogoh saku dalam jaket tebalnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang agak lusuh, lalu menyodorkannya tepat ke dada Andika.

​Andika mengerutkan keningnya, menatap amplop itu bingung. "Apa ini, Frank?"

​"Pakai ini dulu untuk sementara," ujar Franklin dengan senyuman tulus. "Ada uang lima juta rupiah di dalam. Saya tahu kau lagi krisis keuangan setelah stok amunisi habis dan geng bubar. Jangan menolak, kita ini saudara. Lamar juga pasti tidak suka melihatmu bingung sendirian."

​Andika memandangi amplop di tangannya, lalu menatap mata Franklin. Rasa hormat dan haru hangat menyelinap di dadanya—ikatan persaudaraan yang mereka jalin lewat darah dan peluru terbukti jauh lebih kuat dari sekadar uang.

​Andika menepuk bahu Franklin dengan genggaman erat. "Terima kasih banyak, Frank. Ini sangat membantu. Saya tidak akan lupa ini."

​"Santai saja, kawan. Persiapkan dirimu untuk rencana besar Michael dan Lester nanti," balas Franklin sambil terkekeh pelan dan melangkah menuju sedan Buffalo-nya.

​Andika memasukkan amplop tersebut ke dalam saku dalam jaket kulitnya, lalu memutar kunci kontak dan menginjak engkol starter Chopper-nya.

​BHRRUMMM! BLEGAR-BLEGAR-BLEGAR!

​Dentuman mesin 225cc itu menyalak gagah memecah keheningan malam Rockford Hills. Andika menancap gas, meluncur mulus menembus gemerlap lampu jalanan Los Santos menuju rumahnya, membawa lembaran baru dan harapan akan perampokan besar yang menantinya di depan mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!