NovelToon NovelToon
BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.

Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.

Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.

Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Namun ketenangan itu ternyata tidak berlangsung lama karena sebuah masalah baru muncul menjelang sore hari.

Arga pulang dari lembah hijau rahasia dengan wajah yang dipenuhi oleh peluh dan kerutan kecemasan yang dalam.

"Ada apa, Mas Arga, kenapa wajahmu terlihat tegang sekali?"

Mira menyambut suaminya dengan membawakan segelas air putih dingin.

Arga meminum air itu dalam satu kali tegukan panjang sebelum akhirnya menghela napas berat.

"Lembah rahasia kita sedang dalam ancaman bahaya besar, Mira."

"Tadi siang aku melihat banyak sekali lubang galian baru di sekitar ladang ubi jalar yang baru saja kita rapihkan."

"Lubang galian apa maksud Ayah?"

Natasya yang sedang menyapu lantai langsung menghentikan pekerjaannya dan ikut mendengarkan.

"Itu adalah lubang galian sarang tikus tanah liar dan tikus hutan yang sangat besar."

Arga duduk di kursi kayu dengan tubuh yang terasa sangat lemas membayangkan bencana baru itu.

"Sepertinya aroma ubi jalar kita yang manis telah memancing koloni hama tikus dari hutan sebelah untuk pindah ke lembah."

Mira menutup mulutnya dengan kedua tangan saking terkejutnya mendengar kabar buruk tersebut.

"Kalau koloni tikus itu sampai berkembang biak, mereka bisa menghabiskan seluruh tanaman kita dalam waktu beberapa malam saja."

"Kita akan kembali mengalami kelaparan kalau lembah itu sampai hancur diserang hama."

"Kita sudah mencoba menutupi lubangnya dengan batu, tapi tikus hutan itu sangat pintar menggali jalan baru."

Arga memijat keningnya yang berdenyut pusing memikirkan jalan keluar yang buntu.

"Besok warga desa berencana untuk berjaga semalaman di lembah dengan membawa kayu pemukul tikus."

Mendengar rencana putus asa dari ayahnya itu, Natasya tahu bahwa tenaga manusia tidak akan pernah menang melawan ribuan hama tikus.

Manusia desa tidak memiliki racun hama yang ampuh dan berjaga semalaman hanya akan membuang-buang tenaga mereka saja.

"Aku harus mencari cara alami untuk mengusir tikus-tikus nakal itu dari lembah kita."

Malam harinya, saat kedua orang tuanya sudah tertidur pulas karena kelelahan bekerja, Natasya kembali beraksi.

Gadis kecil itu menyelinap keluar rumah lewat jendela kamar belakang dengan gerakan selincah kucing.

Ia berlari menembus gelapnya malam menuju pepohonan bambu lebat yang ada di pinggir desa.

Sesampainya di bawah pohon bambu yang gelap gulita itu, Natasya menirukan suara decakan lidah yang aneh.

Ck.

Ck.

Ck.

Suara itu menggema di keheningan malam bagaikan panggilan rahasia bagi para penguasa kegelapan.

Huu.

Huu.

Dari arah dahan pohon bambu yang paling tinggi, sesosok burung hantu berukuran cukup besar melayang turun tanpa suara sama sekali.

Burung itu mendarat di atas sebuah batu padas tepat di depan Natasya dengan sepasang mata bulatnya yang bersinar kekuningan.

"Malam yang sangat tenang untuk berjalan-jalan, manusia kecil penyapa hewan."

Burung hantu itu memutar lehernya hingga hampir seratus delapan puluh derajat menatap Natasya.

"Apa yang membuatmu repot-repot memanggil salah satu dari kami kaum pemburu malam ke tempat sepi ini?"

"Halo Tuan Hantu, namaku Natasya."

Natasya membungkukkan badannya sedikit untuk memberikan salam hormat pada predator malam tersebut.

"Aku ingin menawarkan sebuah kesepakatan bisnis makanan yang sangat menguntungkan untuk seluruh kaummu."

"Kesepakatan bisnis makanan katamu?"

Burung hantu itu mematuk-matukkan paruhnya ke batu seolah sedang menertawakan ucapan Natasya.

"Kaum kami tidak makan singkong atau ikan asin seperti kera bodoh atau ular sanca pemalas itu, Natasya."

"Kami hanya memakan daging segar yang bergerak dan mengalirkan darah berbau amis."

"Aku tahu persis apa makanan kesukaan kalian."

Natasya tersenyum penuh kemenangan karena umpannya sudah dimakan oleh burung tersebut.

"Apa kalian suka memakan tikus tanah liar yang dagingnya tebal dan berlemak?"

Mata bulat burung hantu itu seketika melebar mendengar nama makanan favoritnya disebut.

"Tentu saja kami sangat menyukai daging tikus tanah liar."

"Tapi belakangan ini sangat susah mencari mereka karena tanah hutan sangat kering dan keras untuk mereka gali."

"Aku tahu sebuah lembah hijau yang tanahnya sangat gembur dan penuh dengan ribuan tikus tanah liar yang gemuk."

Natasya melangkah maju dan merendahkan suaranya seolah sedang membagikan rahasia besar.

"Lembah itu ada di ujung timur desa dan kalian bisa berburu sepuasnya di sana setiap malam tanpa henti."

"Lembah hijau di timur desa itu kan wilayah ladang makanan milik kaum manusia desamu."

Burung hantu itu kembali memutar lehernya dengan cepat seakan menolak tawaran tersebut.

"Kaum kami tidak pernah mau berburu di dekat ladang manusia karena kami sering dilempari batu atau ditangkap menggunakan jaring."

"Di situlah letak kesepakatan bisnis kita berlaku, Tuan Hantu."

Natasya mengulurkan kelingking kecilnya ke depan paruh burung pemburu malam itu.

"Kalian boleh memakan semua hama tikus di lembah itu sampai perut kalian meledak kekenyangan."

"Dan sebagai bayarannya, aku berjanji akan menjamin keselamatan kalian dari gangguan manusia desa."

"Aku akan memastikan ayahku dan warga desa lainnya tidak akan pernah melempari atau mengganggu kalian saat berburu di sana."

"Bahkan kami manusia desa akan sangat berterima kasih karena kalian sudah membersihkan hama perusak tanaman kami."

Burung hantu itu terdiam cukup lama merenungkan tawaran kerja sama yang sangat masuk akal tersebut.

Tidak ada ruginya sama sekali bagi kaum burung hantu untuk mendapatkan prasmanan tikus gratis setiap malam jika keamanan mereka dijamin.

"Ini adalah simbiosis mutualisme yang sangat cerdas, anak manusia."

Burung hantu itu menyentuhkan paruhnya ke kelingking Natasya sebagai tanda setuju.

"Mulai malam ini juga, aku akan mengerahkan seluruh keluargaku dan teman-temanku untuk membasmi setiap tikus di lembah itu."

"Tidak akan ada satu pun tikus kotor yang berani mencuri ubi jalar kalian lagi."

"Terima kasih banyak atas kerja samanya, Tuan Hantu yang hebat."

Natasya menarik kembali tangannya dan bersorak gembira dalam hati.

"Selamat menikmati pesta makan malam yang lezat ya."

Burung hantu itu langsung mengepakkan sayapnya dan terbang melesat membelah langit malam tanpa menghasilkan suara kepakan sedikitpun.

Natasya menatap kepergian rekan bisnis barunya itu dengan senyum kepuasan yang luar biasa.

Ia langsung berbalik dan berlari pulang menyusup kembali ke kamarnya sebelum orang tuanya menyadari kehilangannya.

Keesokan paginya, warga desa berbondong-bondong pergi ke lembah dengan membawa kayu dan bambu runcing.

Mereka sudah bersiap secara mental untuk bertarung melawan hama tikus yang merusak tanaman.

Namun sesampainya di lembah, mereka semua dibuat terkejut setengah mati oleh pemandangan aneh di sana.

"Lihat ini, ada banyak sekali bangkai tikus hutan yang kepalanya sudah putus berserakan di tanah."

Pak Joko berteriak memanggil warga lainnya sambil menunjuk tumpukan bangkai tikus di dekat lubang galian.

Arga berlari mendekat dan memeriksa luka gigitan pada bangkai hewan pengerat tersebut dengan teliti.

"Ini adalah bekas gigitan dan cakaran dari burung hantu malam."

Arga mendongak menatap pohon-pohon tinggi di sekitar lembah dengan perasaan takjub.

"Pasti semalaman ini ada puluhan burung hantu yang datang dan berpesta memakan hama tikus di ladang kita."

"Benar-benar luar biasa, bahkan alam pun ikut melindungi ladang makanan kita dari kehancuran."

Mang Udin bersorak kegirangan sambil membuang jauh-jauh kayu pemukul tikusnya.

"Desa kita benar-benar diberkati oleh Tuhan sejak kita menemukan lembah ini."

Berita tentang keajaiban burung hantu penjaga lembah itu menyebar secepat kilat ke seluruh pelosok desa.

Warga desa semakin percaya bahwa keselamatan mereka dijamin oleh sebuah kekuatan tak kasat mata yang penuh kebaikan.

Di sudut warung kopi desa, Bu Rini sedang duduk sambil mengunyah biji kuaci dengan kasar.

Wanita itu mendengarkan pembicaraan antusias para ibu-ibu tentang berbagai keajaiban tersebut.

"Kalian semua ini benar-benar buta atau memang bodoh."

Bu Rini membuang kulit kuacinya sembarangan ke tanah dan menatap tetangganya dengan sinis.

"Apa kalian tidak sadar kalau rentetan semua kejadian ajaib ini baru dimulai sejak anak angkat Arga itu berumur tujuh tahun?"

Beberapa ibu-ibu saling berpandangan dengan kening berkerut mulai memikirkan ucapan Bu Rini.

"Coba kalian ingat-ingat lagi dengan baik."

Bu Rini mencondongkan badannya ke depan merendahkan suaranya seperti sedang membongkar rahasia negara.

"Ibunya sembuh ajaib, ayahnya menemukan lembah karena dicegah pergi olehnya, lalu dia yang menemukan kambing Pak Joko secara kebetulan."

"Dan sekarang hama tikus mendadak dimakan burung hantu dalam semalam."

"Semua keajaiban ini selalu berpusat pada satu titik, yaitu pada gadis kecil aneh yang dibuang di Hutan Larangan itu."

Bisik-bisik keraguan perlahan mulai muncul menanggapi analisis tajam dari Bu Rini tersebut.

Reputasi Natasya sebagai anak pembawa keberuntungan kini perlahan mulai bergeser ke arah yang lebih berbahaya.

Gadis kecil itu tanpa sadar telah membuat dirinya menjadi pusat perhatian penuh dan target dari rumor sihir yang tidak masuk akal.

1
Wega Luna
orang macam Bu Rini sangat cocok ditumbalkan untuk penghuni hutan larangan terutama buat si sanca hitam ,👍👍sudah pengecut beraninya main fitnah dan ngomporin orang 😤
Wega Luna
lintah cocoknya pakai garam tasya🤭🤭🤭🤭
Wega Luna
Thor salam tonjok buat ibu kandung Natasya,😤😤,
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Fauziah Daud
mantap Natasha 👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!