NovelToon NovelToon
PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Gerbang Sekte yang Hampir Runtuh

Sepuluh hari sejak meninggalkan Kerajaan Chu, dan enam hari sejak menyelamatkan Hei dari Hutan Terlantar, Chu Feng akhirnya tiba di kaki sebuah bukit rendah di wilayah selatan Benua Timur—tempat menurut petanya, dan menurut petunjuk yang tertulis dalam surat pengantar ayahnya, Sekte Awan Langit seharusnya berdiri.

Pemandangan yang menyambutnya jauh dari ekspektasinya.

Gerbang utama sekte itu—kalau bisa disebut gerbang—hanyalah dua pilar batu tua yang sudah retak di beberapa bagian, dengan papan kayu bertuliskan "Sekte Awan Langit" yang catnya sudah pudar hingga hampir tidak terbaca. Di baliknya, terhampar kompleks bangunan yang jauh lebih kecil dan lebih sederhana dari yang pernah ia bayangkan—beberapa aula latihan yang tampak jarang digunakan, asrama murid yang separuh bangunannya tampak tidak terawat, dan sebuah menara pusat yang meski masih berdiri kokoh, jelas sudah dimakan usia.

Hei, yang mengintip dari balik jubah Chu Feng, mengendus udara dengan penasaran, seolah turut merasakan aura sepi yang menyelimuti tempat itu.

"Ini dia," gumam Chu Feng, sedikit tidak yakin, memeriksa kembali surat pengantar di tangannya untuk memastikan ia tidak salah tempat. "Sekte yang disebutkan ibuku."

"Jauh lebih kecil dari yang kubayangkan," komentar suara di dalam dirinya, nada agak skeptis.

Ukuran bukan segalanya, Chu Feng membalas dalam hati, meski ia sendiri tidak sepenuhnya yakin dengan kata-katanya sendiri, mengingat kondisi yang ia lihat di hadapannya. Ibuku pasti punya alasan memilih tempat ini.

Ia melangkah maju, melewati gerbang yang setengah runtuh, menuju bagian dalam kompleks sekte yang tampak lengang meski matahari sudah cukup tinggi di langit.

Tidak butuh waktu lama sebelum kehadirannya disadari. Seorang pemuda berjubah abu-abu sederhana—jelas seorang murid, meski usianya tidak jauh berbeda dari Chu Feng sendiri—muncul dari salah satu aula latihan, terkejut melihat sosok asing berdiri di halaman utama sekte.

"Siapa kau?" tanyanya, nada suaranya lebih penasaran daripada bermusuhan, meski tetap waspada. "Jarang sekali ada orang asing yang datang ke sini."

"Namaku Chu Feng," jawabnya, membungkuk sopan. "Aku datang membawa surat pengantar untuk pemimpin sekte ini."

Pemuda itu mengangkat alis, matanya melirik ke arah gulungan bersegel di tangan Chu Feng. "Surat pengantar? Dari siapa?"

"Dari Kaisar Chu, dari Kerajaan Chu."

Keterkejutan jelas terlihat di wajah pemuda itu—jelas nama kerajaan mana pun, sekecil apa pun kerajaan itu, adalah sesuatu yang jarang sekali terhubung dengan sekte kecil dan hampir terlupakan seperti ini.

"Tunggu di sini," katanya cepat, sedikit gugup. "Aku akan memanggil Tetua Wang."

Beberapa saat kemudian, seorang pria paruh baya dengan jubah yang sedikit lebih layak dibandingkan murid-murid lain—meski masih jauh dari kesan mewah—muncul dari menara pusat, berjalan dengan langkah yang meski sudah dimakan usia, masih menunjukkan sisa-sisa ketegapan seorang kultivator yang pernah cukup kuat di masanya.

"Kau membawa surat dari Kerajaan Chu?" tanyanya langsung, tanpa banyak basa-basi, matanya menatap tajam ke arah Chu Feng.

"Benar, Tetua," Chu Feng menyerahkan gulungan bersegel itu dengan kedua tangan, tanda hormat yang sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil di istana.

Tetua Wang membuka segel itu dengan hati-hati, membaca isinya dengan saksama. Ekspresinya berubah beberapa kali selama proses membaca—dari skeptis, menjadi terkejut, hingga akhirnya sesuatu yang menyerupai pengertian mendalam.

"Yun Xiang," gumamnya pelan, cukup keras untuk didengar Chu Feng. "Sudah lama sekali sejak nama itu disebutkan di sekte ini."

"Anda mengenal ibuku?" tanya Chu Feng, terkejut.

Tetua Wang menatapnya lama, matanya menyipit seolah mencoba mencari kemiripan wajah di antara ingatan lama dan sosok muda di hadapannya. "Aku mengenalnya lebih dari sekadar kenal, Nak. Aku adalah salah satu tetua yang membantu keluarganya, keluarga penjaga di Desa Kabut Hening, selama bertahun-tahun sebelum kejadian yang menghancurkan desa itu."

Chu Feng terdiam, mencerna informasi baru ini. "Ayahku bilang sekte ini memiliki hubungan lama dengan keluarga ibuku, tapi aku tidak menyangka hubungannya sedekat ini."

"Sekte Awan Langit," Tetua Wang menghela napas panjang, matanya menatap ke sekeliling kompleks sekte yang tampak lengang dan sepi, "dulu jauh lebih besar dari yang kau lihat sekarang. Kami adalah salah satu sekte yang dipercaya untuk membantu menjaga rahasia tentang pecahan tubuh Dewa yang tersimpan di Lembah Kabut. Tapi setelah serangan itu, setelah kematian ibumu, sekte ini kehilangan banyak hal—murid-murid terbaik kami gugur dalam upaya membantu mempertahankan desa itu, dan reputasi kami hancur karena dianggap gagal melindungi apa yang seharusnya kami jaga."

Chu Feng merasakan beban baru di dadanya, menyadari bahwa kehancuran sekte ini juga terkait dengan tragedi yang sama yang merenggut nyawa ibunya. "Aku tidak tahu sekte ini juga terkena dampaknya."

"Jangan menyalahkan dirimu, Nak," Tetua Wang menggeleng pelan, suaranya melembut. "Kau bahkan belum lahir saat itu terjadi. Ini bukan salahmu."

Ia menatap Chu Feng lekat-lekat, sebuah keputusan tampak terbentuk di matanya.

"Suratmu ini meminta kami untuk menerimamu sebagai murid, melatihmu jauh dari perhatian dunia luar," lanjutnya. "Meski sekte kami sudah tidak sebesar dulu, dan sumber daya kami terbatas, aku merasa ini adalah kesempatan untuk membayar hutang lama kami pada keluarga penjaga yang telah berkorban begitu banyak untuk melindungi rahasia yang kami percayakan pada mereka."

"Terima kasih, Tetua," Chu Feng membungkuk dalam, rasa syukur yang tulus menggenang di dadanya.

"Jangan berterima kasih dulu," Tetua Wang tersenyum tipis, ekspresi seriusnya sedikit melunak. "Kehidupan sebagai murid di sini tidak akan mudah, apalagi mengingat kondisi sekte kami sekarang. Kau akan berlatih keras, hidup sederhana, dan mungkin menghadapi ejekan dari sekte-sekte lain yang memandang rendah kami karena ukuran dan reputasi kami yang sudah jatuh."

"Aku sudah terbiasa diremehkan, Tetua," Chu Feng tersenyum tipis, teringat tujuh belas tahun hidupnya sebagai "pangeran tanpa bakat" di Kerajaan Chu. "Itu bukan masalah besar bagiku."

Tetua Wang menatapnya sejenak, sebuah tawa kecil namun tulus terlontar dari mulutnya. "Aku mulai menyukaimu, Nak. Baiklah—selamat datang di Sekte Awan Langit, Chu Feng. Mulai hari ini, kau adalah murid kami."

Ketika Chu Feng dituntun ke asrama murid yang akan menjadi tempat tinggalnya, Hei mengintip keluar dari jubahnya, mengendus-endus udara sekitar dengan penasaran, sudah mulai terbiasa dengan lingkungan baru yang jauh berbeda dari hutan liar tempat ia lahir.

"Sebuah permulaan baru," komentar suara di dalam dirinya, nada penuh makna. "Perjalananmu di sini baru saja dimulai, Pangeran Ketujuh—atau mungkin, sudah waktunya kau berhenti menyebut dirimu begitu. Di sini, kau hanyalah Chu Feng, murid baru Sekte Awan Langit."

Chu Feng tersenyum tipis, menyadari kebenaran dalam kata-kata itu. Gelar pangeran yang selama ini membebani sekaligus melindunginya kini harus ia tanggalkan sementara, digantikan dengan identitas baru yang lebih sederhana namun mungkin, pada akhirnya, akan membawanya jauh lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan.

Chu Feng, murid Sekte Awan Langit, pikirnya, melangkah masuk ke asrama sederhana yang akan menjadi rumah barunya untuk waktu yang tidak ditentukan. Sebuah permulaan yang sederhana, untuk perjalanan yang akan menjadi jauh lebih besar dari yang pernah kubayangkan.

1
Nanik S
Menjadi Murid sekte
Nanik S
Chu Feng ada teman dalam perjalanan
Nanik S
Akhirnya Chu Feng pergi menuju Sekte Langit
Irhab Hauzan: lanjut kak🙏
total 1 replies
Nanik S
Siapa nanti yang akan berkhianat pada Chu Feng apakah itu Su Yue
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya 🙏👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng harus berlindung disekte dan terus berlatih agar menjadi Kuat
Irhab Hauzan: terimakasi🙏😄
total 1 replies
Nanik S
Keturunan siapakah sebenarnya Ibu Chu Feng
Nanik S
Lanjutkan💪💪💪
Irhab Hauzan: terimakasih 🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Yan... kenapa tidak malu melawan adiknya yang paling Lemah
Irhab Hauzan: suka mbuly soalnya😄👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng.... mulai menunjukan kemampuannya dan pasti akan berbahaya bagi Kakak²nya😇😇😇
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng memang harus berhati hati karena kelicikan wanita
Irhab Hauzan: 😄😄😄 wanita memang tipudaya
total 1 replies
Nanik S
Semoga pangeran Ketuju tidak terlalu tertarik dengan asmara agar cerita ini tidak membosankan
Irhab Hauzan: terimakasih atas masukanya🙏
total 1 replies
Nanik S
Ada yang mengawasi ... dan kenapa sang Dewa tidak menyadarunya
Irhab Hauzan
terimakasih masukanya🙏
Nanik S
Lanjutkan Tor... jangan sampai ada perjodohan atau pernikahan muda pasti Ceritanya sudah TDK akan menarik
Nanik S
Lanjutkan Tor💪💪💪
Nanik S
Dewa... yang dianggap Intensitas tertinggi
Nanik S
Semoga cerita ini sampai selesai
Irhab Hauzan: terimakasih supportnya🙏
total 1 replies
Nanik S
Hadir.... cukup menarik di awal
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai k salam kenal . masuk grup aku mau gak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!