Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senjata makan tuan : 26
Sebelum Saniya menegur, mencegah agar suaminya tidak bertindak kasar — Yarash lebih dulu sadar. Tangannya turun lagi meski masih mengepal.
Dia bukan pribadi ringan tangan, mudah kehilangan kendali. Ia sangat anti mengedepan emosi apalagi sampai memukul orang lain, terlebih wanita.
Air mata Tatiana mengalir deras, bibirnya mencebik, dan suara yang terlontar gemetaran. “Tega Papi mau mukul aku hanya karena aku ngomong fakta bukan mengada-ada?”
Hatinya sakit sekali, ia kecewa berat. “Dari aku kecil sampai sebesar ini, gak pernah sekalipun Papi bentak aku, tapi setelah dia hadir, tinggal sama kita, Papi jadi kasar, pilih kasih, cuek.”
“Papi gak sayang lagi sama aku. Cuma mentingin diri sendiri! Protesku gak di denger, amarahku dianggap kekanakan, Papi jahat!” suaranya serak saat berteriak menyuarakan kesedihan mendalam.
Yarash memejamkan mata sejenak, menarik napas lalu menghembuskannya.
“Sebelum kamu menyuarakan protes, belajarlah berkaca pada diri sendiri. Sudah pantaskah sikapmu? Manusiawi kah kata-kata penghinaan tadi? Bila dirimu merasa diperlakukan tak adil, apa boleh Papi jujur kalau kecewa berat?”
Mendengar suara rendah, jauh lebih berbahaya daripada bentakan tadi. Hilang sudah sorot mata marah, senyum sinis, ia menunduk dalam.
“Ke siapa saja selalu Papi ceritakan kalau punya anak perempuan remaja membanggakan. Dia cantik, manis, manja, pintar di bidang akademik, sangat menyayangi ayah dan adiknya … tapi itu dulu, sewaktu Tatiana kesayangan Papi belum dekat dengan keluarga mommynya. Nak ….” ia menjeda kalimatnya.
“Papi mencoba memahami jiwa penuh rasa ingin tahu, tertantang mencari jati diri, dan belajar menempatkan diri di posisi Tatiana yang masih labil dalam berpikir maupun bertindak, namun … paling tidak kamu bisa membedakan mana yang benar dan salah,” lanjutnya pelan namun menusuk.
“Menghina fisik orang itu perbuatan kurang ajar. Tidak mau meminta maaf jelas-jelas salah — pengecut namanya. Seandainya keadaan dibalik, kamu yang menjadi mami Saniya, apa senang dirimu dihina? Tentu tidak, ‘kan?” Yarash menyudahi menyindir sekaligus memberi petuah.
“Sudahlah. Hari ini kamu berangkat diantar mang Suip.” Kursi didorong ke belakang, dia menyudahi sarapan pagi.
Tatiana hendak protes, tetapi kedatangan seseorang membuatnya urung.
Dari arah depan, mba Juraida berjalan pelan-pelan. Kedua tangannya saling meremas di depan tubuh, wajah tertunduk dalam.
“Ada apa, Mbak?” tanya Yarash, masih berdiri di samping kursi.
“Pak, saya mau minta maaf. Maaf banget, Pak. Itu ….” takut-takut dia mau melaporkan.
“Bicara yang jelas! Ada apa?” suara Yarash tegas namun tak membentak.
Mbak Juraida maju lebih dekat, dia mendongak memandangi nyonya dan sang tuan dengan raut wajah takut, merasa bersalah.
“Pakaian baru Ibu yang saya rendam, sepertinya ketumpahan pemutih baju. Jadi berubah warna. Maaf, Pak.”
Yarash langsung menyentak langkah lebar, dia berjalan cepat ke ruangan loundry.
Saniya menyusul, langkahnya tidak bisa secepat sang suami.
Ketika tiba di area basah, Yarash berjongkok dan menarik tali gaun tidur basah yang ditaruh dalam ember kering. Pada bagian depan terdapat bercak putih, di sampingnya juga ada.
Kemudian pria menahan emosi sampai rahangnya mengeras itu, memeriksa bra, celana dalam, dan dua picis dress santai.
Heuuheuu ….
Demi mengontrol emosi, Yarash menghela napas cepat berulang kali. Dia berdiri, bertemu tatap dengan istrinya yang berdiri tenang di samping mesin cuci.
“Kenapa bisa seceroboh ini, Mbak?” tanyanya dingin, sedingin sorot mata menghujam asisten rumah tangga yang sudah bekerja tiga tahun lamanya.
“Maaf, Pak. Seingat saya, gak ada ngasih pemutih pada pakaian berwarna, lainnya juga tidak saya beri. Maaf, Pak.” Mbak Juraida menunduk memandangi kakinya, bahunya bergetar dan dia menangis dalam diam.
Ini bukan tentang kelalaian saja, tetapi dia merasa gagal, dan berakhir menyalahkan diri sendiri.
Yarash termasuk bos baik hati, royal, tidak banyak bicara, jarang mengatur.
Saniya menatap nanar dua dress, tiga gaun tidur, dua bra, serta empat picis celana dalam yang sudah berubah warna belang-belang.
Satu ember rendaman terakhir, airnya berbau cairan pemutih pakaian.
Dibalik jendela tertutup gorden tebal, gadis yang tadi menangis iba, kini tersenyum puas.
Sesudah melihat kemesraan menyakitkan mata, Tatiana melampiaskan kekesalannya ke pakaian baru Ibu tiri.
Seperempat isi pemutih pakaian dituang ke ember rendaman wangi pengharum baju.
“Buang pakaian itu!” titah Yarash, masih belum mengubah intonasinya.
Tatiana berlari ke meja makan, sebelum mencapai kursi, dia memelototi kedua asisten rumah tangga dan adiknya sendiri yang berdiri di batas dapur basah. Kemudian duduk tenang seolah tidak mendengar, melihat apapun.
Yarash berteriak sedikit kencang memanggil sopir keluarga, dia kembali ke ruang makan.
Saniya Syamira melangkah dibelakang pria berusaha keras untuk tidak marah.
“Mang, tolong antar Tatiana ke sekolah.”
“Baik, Pak.” Mang Suip mengangguk, tidak berani bertanya lain, sebab dapat merasakan aura dingin bosnya.
Yarash mengambil ponsel dalam saku celana, dia menghubungi asisten sekaligus sepupunya.
Begitu tersambung langsung mengatakan maksudnya. “Tolong hubungi teknisi cctv yang dua bulan lalu memasang kamera pengawas di gudang kita. Saya mau secepatnya. Hari ini juga!”
Rasa senang langsung hilang tergantikan perasaan kesal sekaligus was-was. Tatiana gelisah.
“Pasang disetiap sudut dari lantai satu sampai dua. Jangan ada yang terlewat kecuali kamar tidur!” perintahnya tidak mau dibantah.
Seperti senjata makan tuan, begitulah istilah yang cocok untuk Tatiana. Baru saja senang merasa menang, sekarang dia harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk.
Yarash menyimpan lagi ponselnya ke dalam saku celana.
“Papi, aku gak suka rumah ini dipasangi cctv!” suaranya tidak selantang tadi.
“Papi tidak mau jadi orang asal menuduh, berakhir fitnah. Pakaian baru mami Saniya rusak. Jika itu kesalahan mbak Juraida, rasanya gak mungkin karena selama ini dia bekerja bukan cuma pakai tenaga, tetapi juga menggunakan otak dan hati,” pendiriannya tak tergoyahkan.
“Sekarang kamu berangkat ke sekolah!” titah Yarash.
Tatiana merajuk, langkahnya menghentak lantai, saat melewati ayahnya, ia enggan mencium punggung tangan, lalu tiba-tiba tubuhnya mematung ditempat.
“Tita, selama ini Papi percaya ke kamu. Tolong jangan dikecewakan. Nak, gak mudah membuat orang kembali menaruh rasa percaya jika sudah dikhianati, jadi harap dijaga, jangan dipandang sebelah mata.” Diusapnya lembut pucuk kepala putrinya.
“Kelak ketika Tita sudah dewasa, kamu akan berterima kasih atas bentuk perlindungan Papi yang dianggap mengekang. Nak … hidup ini perlu adanya rem, supaya kita tak salah arah, bisa berhenti disaat tepat sebelum semuanya terlambat.” Yarash mengelus sebentar pundak putrinya, lalu dia berlalu dan masuk ke dalam kamar.
Saniya berjalan penuh perhitungan mendekati Tatiana. “Marahnya orang sabar — dia tidak akan membentak, tak pula memukul, tetapi memilih diam sebagai bentuk ungkapan rasa kecewa mendalam. Bila itu sudah terjadi … bersiaplah kehilangan seseorang yang mungkin tak lagi pernah ditemukan pada sosok yang sama.”
Saniya berdiri tepat di depan gadis terbungkam. “Saya pernah mengatakan; luput dari mata manusia, bukan berarti lolos dari pengamatan sang pencipta. Diberi kesempatan berbuat hal tak terpuji, belum tentu akan selalu berhasil melakukan hal curang. Bisa jadi Tuhan menunda demi memberi hukuman yang mungkin akan kamu kenang seumur hidup.”
Pandangan mereka tak terputus, dia melanjutkan perkataannya. “Kamu boleh membenciku, tapi ingat satu hal! Ayahmu dengan sadar memilih menikahiku daripada kembali rujuk dengan ibumu. Bila kamu pintar, seharusnya bisa menyimpulkan bukan?”
.
.
Bersambung.
...----------------...
Kakak ... masih inget sama Nelli biduan pantat tonggek gak? Kok aku kangen ya sama dia? Rasanya pengen nulis kisahnya 😉😁
Ya ampun apa kabar bang Bondan ku? terus gimana sama bang Randu? 🫣
...****************...
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...