NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Bayangan di Balik Serangan

Xiao Mei, pelayan yang mengundurkan diri secara mendadak, ternyata tidak sulit ditemukan.

Berkat jaringan kecil yang mulai dibangun Zhou Feng di kalangan rakyat biasa—jaringan yang jauh lebih luas daripada yang disadari kebanyakan pangeran lain, mengingat wilayahnya berbatasan langsung dengan jalur perdagangan utama—seorang informan berhasil melacak keberadaan Xiao Mei di sebuah penginapan kecil di pinggiran ibu kota, dua hari setelah serangan terjadi.

"Dia menggunakan nama palsu," lapor Zhou Feng, yang datang langsung ke kediaman Zhou Chen membawa kabar itu. "Tapi pemilik penginapan mengenali wajahnya dari deskripsi yang kuberikan."

Zhou Chen mengangguk, memikirkan langkah selanjutnya dengan hati-hati. Menangkap Xiao Mei secara langsung berisiko menimbulkan konfrontasi terbuka dengan pihak yang mempekerjakannya—sesuatu yang belum siap ia hadapi mengingat kekuatannya yang masih jauh dari cukup.

"Jangan tangkap dia dulu," katanya. "Aku ingin tahu ke mana dia pergi setelah ini, dan siapa yang dia temui."

Selama dua hari berikutnya, Ah Fu dan salah satu orang kepercayaan Zhou Feng mengawasi pergerakan Xiao Mei dari kejauhan, mencatat setiap tempat yang ia kunjungi tanpa terlihat mencurigakan.

Hasil pengawasan itu, ketika akhirnya dilaporkan kepada Zhou Chen, membawa kabar yang tidak sepenuhnya mengejutkan, namun tetap mengkhawatirkan.

"Dia bertemu dengan seorang pria di sebuah kedai teh di distrik pedagang," lapor Ah Fu. "Pria itu mengenakan pakaian sederhana, tapi gerak-geriknya terlatih—kemungkinan besar bukan orang biasa. Setelah pertemuan itu, Xiao Mei menerima sebuah kantong kecil, kemungkinan berisi uang."

"Apakah kau bisa mengenali pria itu?"

Ah Fu menggeleng. "Tidak, Yang Mulia. Tapi..." Ia ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Salah satu orang Kakak Ketujuh mengenali lambang kecil yang terpasang di ikat pinggang pria itu. Lambang burung gagak kecil."

Zhou Chen mengerutkan kening, mencoba mengingat informasi apa pun yang relevan dari ingatan Zhou Li yang lama maupun dari laporan-laporan yang telah ia kumpulkan selama ini.

Lambang burung gagak...

Ia membuka Kitab Langit Tanpa Akhir, memeriksa catatan yang telah ia susun tentang peta kekuatan istana. Tidak ada satu pun pangeran yang secara resmi menggunakan lambang burung gagak sebagai simbol kelompoknya.

Tapi bukan berarti tidak ada hubungan tersembunyi.

Jawaban atas teka-teki itu datang secara tak terduga beberapa hari kemudian, saat Zhou Chen menghadiri pertemuan kecil dengan beberapa pejabat perdagangan istana—pertemuan rutin yang biasanya membahas pajak dan regulasi dagang, namun kali ini menjadi kesempatan baginya untuk mengorek informasi lebih jauh.

Salah satu pejabat senior, seorang pria tua bernama Menteri Song, yang telah lama mengabdi di bagian perdagangan dan dikenal netral dalam perebutan takhta, secara tidak sengaja menyebutkan sesuatu yang menarik perhatian Zhou Chen.

"Belakangan ini, ada kelompok bayaran yang mulai beroperasi di sekitar jalur dagang utama," kata Menteri Song sambil menyesap tehnya. "Mereka menyebut diri mereka Gagak Hitam—kelompok mata-mata dan pembunuh bayaran yang biasa disewa oleh pihak-pihak yang tidak ingin terlibat langsung dalam konflik terbuka."

Zhou Chen menahan diri untuk tidak menunjukkan reaksi berlebihan, meski jantungnya berdegup lebih kencang mendengar informasi itu.

"Siapa biasanya yang menyewa kelompok semacam itu, Menteri?"

Menteri Song menggelengkan kepala pelan. "Sulit dipastikan, Yang Mulia. Mereka bekerja secara rahasia, dan klien mereka biasanya orang-orang yang memiliki cukup dana namun ingin menjaga tangan mereka tetap bersih dari kecurigaan langsung."

Cukup dana, dan ingin menjaga tangan tetap bersih...

Pikiran Zhou Chen langsung melayang pada beberapa nama dalam catatannya—Zhou Yun yang memiliki dukungan militer kuat namun cenderung terbuka dalam meremehkan lawannya secara langsung, atau mungkin Zhou Ming yang lebih menyukai cara-cara tersembunyi dan penuh perhitungan.

Tapi ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan siapa dalangnya.

Malam itu, kembali di ruang kerjanya, Zhou Chen menyusun kembali seluruh informasi yang telah ia kumpulkan—serangan terorganisir, mata-mata yang menyusup, kelompok bayaran misterius bernama Gagak Hitam, dan kemungkinan keterlibatan salah satu saudaranya sendiri.

Seseorang mulai menganggapku sebagai ancaman, pikirnya, menatap catatan yang memenuhi halaman Kitab Langit Tanpa Akhir. Bukan ancaman besar, tapi cukup mengganggu untuk membuat mereka bertindak diam-diam.

Ia menyadari, ini adalah pertanda bahwa waktu untuk bergerak secara pasif sudah mulai habis. Jika ia terus hanya bertahan dan menghindar, cepat atau lambat, serangan berikutnya bisa jadi jauh lebih besar dan lebih mematikan daripada sekadar perampokan jalur dagang.

Ia memanggil Zhao Kai malam itu juga, satu-satunya orang dalam kelompoknya yang memiliki pengalaman militer nyata.

"Zhao Kai," katanya, "aku ingin kau mulai memikirkan cara membangun sistem pertahanan yang lebih serius untuk kelompok kita. Bukan hanya untuk melindungi jalur dagang, tapi juga kediaman kita sendiri."

Zhao Kai mengangguk mantap, matanya menunjukkan tekad yang jauh berbeda dari sosok penuh keraguan yang pertama kali ditemui Zhou Chen di bagian perdagangan beberapa minggu lalu.

"Akan hamba laksanakan, Yang Mulia. Tapi izinkan hamba bertanya—apakah kita sudah siap untuk konflik yang lebih besar?"

Zhou Chen menatap ke luar jendela, ke arah istana yang tampak tenang di kejauhan, namun menyimpan begitu banyak ancaman tersembunyi di baliknya.

"Belum sepenuhnya," jawabnya jujur. "Tapi dunia ini tidak akan menunggu sampai kita benar-benar siap. Yang bisa kita lakukan hanyalah mempersiapkan diri secepat dan sebaik mungkin, sebelum ancaman berikutnya datang."

Ia belum tahu, bahwa bayangan Gagak Hitam yang baru saja ia temukan hanyalah permukaan dari jaringan konspirasi yang jauh lebih dalam dan lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan—sebuah jaringan yang, pada waktunya, akan memaksanya untuk benar-benar mengungkap kekuatan sejati Mata Dewa yang selama ini masih ia sembunyikan dari dunia.

Bersambung ke Bab 11 — Persiapan di Tengah Bayang-Bayang

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!