Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Ilusi Sebelas Tahun
Hujan turun membasahi kota malam itu, bukan dengan rintik yang merdu, melainkan dengan badai yang seolah ingin menghancurkan apa pun yang dilewatinya. Petir menyambar di kejauhan, membelah langit malam yang pekat, diikuti oleh gemuruh yang menggetarkan kaca-kaca jendela koridor apartemen mewah di lantai empat belas.
Clara melangkah pelan.
Hak sepatunya beradu dengan lantai marmer yang dingin, menciptakan gema yang teratur di lorong yang sepi. Udara pendingin ruangan terasa lebih menusuk dari biasanya, namun Clara tidak mempedulikannya. Hatinya terlalu hangat. Di kedua tangannya, ia mendekap sebuah kotak kue berhiaskan pita beludru merah dengan sangat hati-hati, seolah kotak itu berisi nyawanya sendiri.
Itu adalah kue Black Forest.
Ia menghabiskan waktu berjam-jam di dapur kecilnya, mengaduk adonan, memanggang, dan menghiasnya dengan sempurna. Hari ini adalah hari ulang tahun Daniel, pria yang telah bersamanya selama lima tahun. Pria yang telah berjanji akan berdiri di altar bersamanya dalam hitungan bulan. Pria yang menjadi satu-satunya rumah bagi Clara, seorang yatim piatu yang tidak lagi memiliki siapa-siapa di dunia ini, selain sahabatnya.
Sahabatnya, Vera.
Mengingat nama Vera, senyum kecil mengembang di bibir Clara. Sebelas tahun. Mereka telah bersahabat selama sebelas tahun. Sejak masa seragam sekolah, berbagi makanan, berbagi tempat tidur, berbagi rahasia, hingga berbagi mimpi. Vera adalah bagian dari jiwanya. Ketika Clara menangis karena merasa sendirian di dunia ini, Vera yang memeluknya dan berkata, "Kau punya aku, Clara. Aku keluargamu."
Vera juga yang paling antusias mengurus pernikahannya dengan Daniel. Vera yang menemaninya memilih gaun pengantin, memilih bunga, dan meyakinkan Clara bahwa Daniel adalah pria yang tepat.
Clara merasa hidupnya sempurna. Tuhan mungkin mengambil orang tuanya sejak kecil, tetapi Tuhan menggantinya dengan dua malaikat penolong: Daniel dan Vera.
Langkah Clara berhenti tepat di depan pintu kayu ek bernomor 1408.
Ia tersenyum, merogoh saku mantelnya untuk mencari kartu akses cadangan. Ia sengaja mematikan ponselnya sejak sore agar Daniel mengira ia sedang sibuk bekerja. Ini akan menjadi kejutan yang manis.
Namun, sebelum jemarinya menyentuh pemindai elektronik, tangan Clara terhenti di udara.
Pintu itu tidak tertutup rapat.
Ada celah setipis ibu jari. Cahaya temaram dari dalam apartemen menerobos keluar, mengiris kegelapan lorong yang sunyi.
Kening Clara berkerut. Daniel adalah pria yang sangat teliti. Ia terobsesi dengan keamanan dan tidak pernah sekalipun membiarkan pintunya tidak terkunci, apalagi terbuka di malam badai seperti ini. Rasa khawatir mulai merayap di dada Clara. Apakah terjadi sesuatu? Apakah Daniel sakit? Atau ada orang jahat yang masuk?
Dengan gerakan perlahan, sangat pelan hingga engsel pintu tidak mengeluarkan bunyi derit sekecil apa pun, Clara mendorong pintu tersebut.
Ia melangkah masuk ke dalam foyer apartemen yang remang-remang.
Hal pertama yang menyambutnya bukanlah kehangatan atau aroma kopi kesukaan Daniel.
Melainkan aroma parfum.
Wangi mawar merah yang kuat, dipadukan dengan sentuhan vanilla yang memabukkan.
Darah di nadi Clara seolah berhenti mengalir detik itu juga. Otaknya yang cerdas mengenali aroma itu tanpa perlu waktu lama. Itu adalah parfum edisi terbatas dari Prancis. Parfum yang sangat mahal, yang baru bulan lalu Clara belikan sebagai hadiah ulang tahun untuk Vera dengan menyisihkan sebagian besar tabungannya.
Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa begitu tipis. Jantung Clara mulai berdebar dengan ritme yang tidak wajar. Ia berjalan melewati ruang tamu dengan langkah yang diseret.
Sepinya ruangan itu terasa janggal dan mengerikan. Jas kerja Daniel tergeletak sembarangan di atas sofa kulit. Dan tepat di sebelahnya, berdampingan dengan jas itu... tergeletak sebuah mantel wanita berwarna merah marun.
Mantel milik Vera.
Clara berhenti bernapas.
Matanya menatap mantel itu dengan pandangan kosong. Tubuhnya mulai gemetar. Logikanya berusaha mencari ribuan alasan. Mungkin Vera sedang berkunjung. Mungkin mereka sedang membahas kejutan ulang tahun untukku. Mungkin Vera kehujanan dan meminjam tempat Daniel untuk berteduh.
Namun suara dari arah kamar tidur utama di ujung lorong menghancurkan semua kebohongan yang coba ia bangun di kepalanya.
Pintu kamar tidur itu setengah terbuka.
Dari celah pintu, terdengar suara ranjang yang berderit pelan. Terdengar desahan napas yang berat, erangan kecil yang tertahan, dan tawa serak seorang wanita. Tawa yang sangat ia kenal. Tawa yang selalu menemaninya menangis dan tertawa selama sebelas tahun terakhir.
Clara berjalan menuju pintu itu bagai mayat hidup. Kakinya terasa seperti beton, tapi ia terus melangkah. Ia harus melihatnya. Ia harus membuktikan bahwa telinganya berbohong.
Clara berdiri di luar pintu.
Matanya menatap melalui celah.
Dan di atas ranjang bersprei putih itu, sprei yang Clara pilihkan sendiri bersama Vera bulan lalu, dua orang yang menjadi pusat dunianya sedang menghancurkan hidupnya.
Pria itu adalah Daniel. Punggungnya yang bidang kini menindih tubuh wanita lain. Dan wanita yang berada di bawahnya, yang jemarinya sedang mencengkeram erat punggung Daniel, yang bibirnya mendesahkan nama pria itu dengan penuh gairah... adalah Vera.
Dunia Clara runtuh malam itu.
Tidak ada suara pecahan kaca. Tidak ada jeritan histeris. Alam bawah sadarnya seolah mematikan seluruh sistem sarafnya agar ia tidak mati mendadak karena serangan jantung. Ia membeku. Menjadi patung es di tengah neraka yang membakar jiwanya.
Kotak kue di tangannya terasa sangat berat, tetapi genggamannya tidak mengendur sedikit pun. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya hingga berdarah, tetapi ia sama sekali tidak merasakan sakit. Rasa sakit di dadanya jutaan kali lipat lebih menyiksa, seolah sebuah palu godam baru saja menghantam tulang rusuknya berkali-kali.
Di tengah kebekuan itu, telinganya masih dipaksa untuk merekam percakapan mereka.
"Bagaimana jika Clara tahu?" Suara Vera terdengar manja, jemarinya menelusuri bahu Daniel. Nada suaranya tidak memiliki penyesalan sedikit pun.
"Dia tidak akan pernah tahu," jawab Daniel dengan suara serak, mencium leher Vera. "Lagipula, kau tahu sendiri... pernikahan ini hanya soal kewajiban yang sudah terlanjur berjalan. Tapi kau... kau tahu siapa yang benar-benar aku inginkan. Clara terlalu kaku. Dia terlalu naif. Aku bosan berpura-pura menjadi pria baik di depannya."
Naif.
Kata itu berdenging di telinga Clara. Naif. Cinta dan kesetiaannya yang murni, perjuangannya menyisihkan uang untuk membelikan Vera parfum mahal, kepercayaannya yang buta kepada dua manusia ini... semuanya hanya dianggap sebagai kenaifan yang membosankan.
Air mata Clara tidak jatuh. Matanya memerah, menahan tekanan darah yang mendidih.
Di detik yang hening dan mematikan itu, Clara yang lembut telah mati. Clara yang pemaaf, Clara yang percaya pada kebaikan sahabat, telah dibunuh dengan kejam oleh dua orang di dalam kamar itu.
Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, Clara melangkah mundur. Ia tidak melempar kuenya. Ia tidak mendobrak pintu. Ia berbalik, berjalan keluar menyusuri lorong apartemen, dan menarik pintu perlahan hingga tertutup rapat.
Seolah ia tidak pernah ada. Seolah ia tidak pernah melihat apa-apa.
Clara berjalan keluar dari gedung apartemen. Badai menyambutnya. Hujan es mengguyur tubuhnya yang gemetar, menembus mantelnya, membasahi rambutnya hingga menempel di wajahnya yang pucat pasi.
Ia membuang kotak kue itu ke tempat sampah di pinggir jalan.
Ia berdiri di bawah guyuran hujan, menatap ke arah jendela apartemen di lantai empat belas. Bibirnya yang kebiruan perlahan melengkung, membentuk sebuah senyuman yang kosong, mengerikan, dan mati.
"Kalian pikir... kalian bisa menghancurkanku begitu saja?" bisik Clara pada badai. Suaranya tenggelam oleh guntur, tetapi tersimpan abadi di dalam hatinya. "Aku akan membiarkan kalian merasa menang. Aku akan membiarkan kalian terbang. Dan ketika kalian merasa hidup kalian sangat sempurna... aku akan merampas segalanya dari kalian."
Malam itu, persahabatan sebelas tahun lenyap tanpa sisa. Digantikan oleh kebencian yang akan mengubah takdir banyak nyawa.