NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA: Deru Badai (Bagian 3)

“Sendirian aja, Jo?” kududukkan diriku tepat di samping Joan. Sudah kuduga dia ada di kafe langganan kami ini. Kulihat dia menatapku, terkejut.

“Lama nggak nongkrong bareng, kan?” aku bertanya tanpa perlu menunggu jawaban Joan atas pertanyaanku yang pertama.

“Hm...yah, lumayan juga.”

“Enam bulan, man! Itu lebih dari cuma lumayan,” jawabku sedikit kesal. Jika bukan untuk Ara, aku pasti lebih memilih berjauhan saja dengan lelaki batu satu ini.

“Tapi kan bukan cuma aku yang menjauh,” kudengar Joan mengelak.

“Tapi kamu yang mulai. Sebenarnya apa masalahmu? Ara sampai kepikiran. Dia pikir alasan kita saling menjauh adalah karena dia. Karena aku jadian dengannya.”

“Hampir,” sahutan Joan membuat keningku berkerut.

“Maksudmu?” dengan tidak sabar aku bertanya. Aku tidak suka pernyataan yang membuatku penasaran seperti ini. Membuatku menduga yang tidak-tidak.

“Aku bukan laki-laki yang sangat tegar, Zang. Bagaimana bisa aku bersikap biasa saja jika teman baikku tiba-tiba jadian dengan gadis yang kusukai? Tentu saja aku refleks menjauh, menenangkan diriku sendiri,” nadiku seperti tersengat listrik mendengar pengakuan Joan. Baru kali ini aku berharap aku tuli.

“What?”

“Ya. Aku suka Ara, Zang. Aku baru akan menyatakan perasaanku saat tiba-tiba aku tahu dia sudah jadian denganmu. Aku...”

“Lalu kenapa kamu selama ini bersikap masa bodoh dengan perhatian Ara? Pura-pura tidak tahu atau memang sengaja tidak mau tahu?” tanpa bisa kukontrol, emosiku sudah mencapai puncak kepala. Bagaimana bisa dia dengan enaknya berkata dia menyukai Ara sedangkan sedikit pun sikapnya tidak ada yang menyokong perkataannya itu.

“Apa maksudmu? Kenapa kamu tiba-tiba marah seperti ini?”

“Bagaimana aku tidak marah jika gadis yang menjadi pacarku sekarang sebenarnya menyukaimu, bukan menyukaiku?” perkataanku barusan sepertinya menyengat Joan juga. Kulihat dia tercekat, menatapku nanar dengan matanya yang coklat gelap.

“Itulah alasan kenapa aku menjauhimu. Agar Ara tidak lagi berhubungan denganmu. Agar Ara bisa benar-benar menyukaiku sebagai pasangan dan bukan sebagai pelampiasan karena tidak pernah kamu hiraukan,” tanganku mengepal. Buku-buku jariku sampai memutih.

“Jadi...”

“Ya, seandainya kamu lebih cepat menyadari bagaimana Ara menyukaimu. Seandainya kamu lebih cepat sedikit saja, kalian mungkin sudah jadian sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, Ara sudah memilihku. Salahkan saja otakmu yang terlalu banyak berpikir dan hatimu yang terlalu lama mengambil keputusan,” cetusku sambil beranjak pergi. Aku sudah tidak tahan berlama-lama di sana. Tidak tahan mengetahui kenyataan bahwa sebenarnya aku menjadi orang ketiga di antara Joan dan Ara. Kubiarkan saja Joan yang masih terdiam. Entah merenungi perkataanku, entah meratapi kebodohannya, atau entah apa pun yang membuatnya bisu sementara. Setidaknya aku sudah tahu. Aku sudah tahu harus berkata apa saat ditanya Ara nanti.

...***...

“Udah baikan sama mas Joan?” Ara memegang tanganku saat aku nyaris terlelap di bangkuku. Kutolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Tidak biasanya Ara menghampiriku ke kelas, sendirian.

“Tumben ke sini sendiri?” mendengar pertanyaanku, Ara hanya tersenyum.

“Nggak takut sama Intan?” godaku lagi.

“Nggak, kan ada kamu,” jawabnya masih sambil tersenyum. Dan aku langsung salah tingkah dibuatnya.

“Jadi?” Ara mengingatkanku dengan pertanyaannya tadi.

“Jadi, kemarin aku udah nyamperin dia. Udah ngomong dan nanya juga apa masalah dia sebenernya. Udah sih gitu aja. Aku nggak tahu dia nganggep kita baikan apa nggak.”

“Oh. Kalau kataku sih kalian udah baikan,” mendengar kata-kata Ara, keningku mengerut.

“Soalnya tadi pagi mas Joan tiba-tiba nyapa aku dan ngasih aku coklat gitu...”

“Apa?” aku langsung mendudukkan badanku tegak-tegak. That damn guy!

“Nggak usah marah, cuma ngasih coklat aja kok,” Ara mengelus tanganku. Belum sempat aku membuka mulutku untuk bertanya lebih jauh, tiba-tiba kulihat Intan masuk ke kelas dengan wajah dongkol.

“Hai, Mbak!” Aku menoleh cepat. Antara percaya dan tidak dengan pendengaranku. Ara menyapa Intan?

“Oh, hai..Ra!” Kulihat Intan susah payah menjawab sapaan sederhana itu. Kulihat dia juga menunjukkan senyumnya. Meskipun senyum itu sudah jelas terlihat dipaksakan. Tinggallah aku yang tak tahu harus mulai bicara apa pada Ara. Kuputuskan menarik pergelangan tangannya yang ramping untuk mengikutiku keluar kelas.

“Hari ini kamu aneh,” akhirnya pernyataan itu yang keluar dari mulutku. Kudengar dia tertawa.

“Aneh? Karena aku nyapa mbak Intan duluan?”

“Well, that’s one!” kusandarkan bahuku di dinding sambil tak lepas menatapnya. Ah, aku suka sekali menatapnya dari samping.

“Ada lagi?” tanyanya lagi. Aku memutar bola mataku.

“Ah, Mas Joan? Kan udah kubilang dia cuma kasih aku coklat. Nggak ada yang salah dengan itu, Chan.”

“Ya bakal salah kalau dia ngasih ke pacar orang. Chan, are you that blind about it?”

“Chan, are you that jealous of him?” bukannya menjawab, Ara malah bertanya balik padaku.

Of course I’m jealous like hell. He likes you and you like him. This knowledge makes me fucking crazy...

“Hei!” Ara memencet pipiku dengan telunjuknya. Aku menatapnya, tak menjawab.

“Aku nggak bermaksud bikin kamu cemburu. Tapi, kelakuan Mas Joan hari ini juga di luar dugaan kita berdua. Mungkin dia cuma ingin terlihat baik, nggak usah khawatir berlebihan. Aku ini pacarmu, jadi aku juga bakal jaga perasaanmu. Percaya deh!” aku menghela napas panjang mendengarnya.

“Oke. Lalu Intan?”

“What about her? You see that we’re both fine,” aku kembali memutar bola mataku. Aku tahu bahwa wanita tidak akan semudah itu memaafkan wanita lainnya. Meskipun dalam masalah ini Ara bukanlah tersangka perebut pacar orang, tapi tetap saja Intan melihatnya seperti itu.

“Emang kamu nggak yakin aku bakal bisa jadi pacar yang kuat buat kamu?” Ara mengerlingkan matanya ke arahku. Alisku menyatu.

“Ha? Pacar yang kuat? Buat apa?”

“Cause we’re going to have a long distance relationship. And I know you won’t be around me anymore,” jawaban Ara menamparku. Aku tercekat.

“Chan..”

“I’ll be fine, Chan. Yakinlah aku bakal jadi cewek yang kuat, yang nggak melulu ngandalin kamu kalau ada masalah. Mbak Intan atau mas Joan cuma masalah awal yang harus aku hadapi. Nanti ke depannya pasti ada masalah lain yang lebih rumit dari ini,” potong Ara sambil menyelipkan tawa dalam kalimatnya.

“Mulai sekarang kamu harus belajar percaya sama aku. Jangan bikin aku jadi cewek yang manja. Tapi bantu aku biar berani ambil keputusan sendiri. Toh, kamu cuma di Bandung kan? Bandung-Malang deket bukan sih?” candanya lagi. Kulihat Ara lamat-lamat. Dia, yang entah kenapa membuatku jatuh cinta sampai seperti ini, terlihat menyeka ujung matanya cepat-cepat. Aku pun sadar wajahku memerah. Entah karena bersemu bahagia atau karena ingin menangis sejadi-jadinya.

“Deket kok. And we will always be this close too,” jawabku pelan sambil menggenggam tangan Ara.

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!