Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GELANG DU ATANRA RERUMPUTAN
Laras tidak tidur sampai fajar.
Begitu langit di balik gorden berubah kelabu, ia menyelinap keluar kamar, memakai sandal, dan membuka pintu belakang tanpa suara. Udara pagi menusuk kulit lengannya. Embun masih menempel di rumput, dan di pagar pembatas, sarang laba-laba tampak berkilau seperti kaca.
Ia melangkah ke sudut halaman, tempat Vania menjatuhkan sesuatu semalam. Matanya menyusuri tanah.
Di sana. Terselip di antara akar bugenvil, sehelai rantai perak tipis memantulkan cahaya pucat.
Laras berjongkok dan memungutnya. Gelang itu dingin dan sedikit basah. Liontin huruf V di ujungnya berat dan halus, terlalu halus untuk sebuah benda yang dibuang begitu saja. Ia membalikkannya. Di sisi belakang liontin, terukir huruf-huruf mungil yang nyaris tak terbaca:
*"Untuk V, dari R. Selamanya."*
Laras mematung.
R. Jadi huruf R itu bukan nama perempuan. R adalah seseorang yang memberi Vania gelang ini. Dan struk toko perhiasan di Surabaya, gelang huruf R seharga satu juta delapan ratus ribu, bukan untuk perempuan ketiga.
Itu untuk *R*, pemberi gelang. Atau malah sebaliknya.
Kepalanya berputar. Potongan-potongan teka-teki yang tadinya terpisah mulai bergeser, mencari tempatnya. Pesan di ponsel Dimas dari "R" yang bertanya *"Istrimu masih belum tahu, kan?"*. Pesan di ponsel Vania yang dibaca Reza: *"Jangan lupa pakai gelang pemberianku."*
Berarti R menghubungi *keduanya*. Dimas dan Vania.
"Mbak Laras?"
Ia tersentak. Di seberang pagar, Vania berdiri dengan jubah tidur yang sama seperti semalam, wajahnya pucat dan matanya merah. Perempuan itu menatap gelang di tangan Laras, lalu menatap wajahnya.
Tak ada senyum manis. Tak ada topeng.
"Aku tahu Mbak akan datang pagi-pagi," kata Vania pelan. Suaranya serak, seperti orang yang sudah menangis berjam-jam. "Aku sengaja menjatuhkannya di situ."
Laras berdiri, menggenggam gelang itu erat. "Apa maksud semua ini, Vania?"
"Kita harus bicara. Tapi bukan di sini." Vania melirik jendela rumah Reza dengan cemas. "Mas Reza belum bangun. Dua jam lagi dia berangkat. Setelah itu, bisakah Mbak datang ke rumahku? Sendirian. Tanpa Dimas, tanpa Kenzo."
"Kenapa aku harus percaya padamu?"
Vania tersenyum pahit. "Nggak ada alasan. Kecuali satu: aku nggak sedang berusaha merebut suamimu, Mbak. Aku sedang berusaha *menyelamatkan* seseorang dari orang yang sama."
Sebelum Laras sempat bertanya lebih jauh, jendela kamar rumah nomor 14 terbuka pelan. Suara serak Reza terdengar dari dalam. "Sayang? Kamu di mana?"
Wajah Vania berubah dalam sedetik. Topengnya kembali, senyum manis dan mata berbinar. "Di halaman, Mas! Cari angin!"
Ia menoleh sekali lagi pada Laras. Matanya memohon. Lalu ia menghilang di balik pintu.
---
Pukul sembilan, setelah mengantar Kenzo dan melihat mobil Reza keluar dari gang, Laras berdiri di depan pintu rumah nomor 14.
Tangannya terangkat hendak mengetuk, tapi berhenti di udara. Setiap naluri yang ia punya berteriak bahwa ini jebakan. Bahwa Vania adalah perempuan yang tersenyum semanis madu sambil menyimpan pisau di balik punggung.
Tapi gelang itu terasa berat di saku dasternya, dan pertanyaan di kepalanya jauh lebih berat. Ia harus tahu.
Ia mengetuk.
Pintu langsung terbuka seolah Vania sudah menunggu di baliknya. Perempuan itu sudah berpakaian rapi, tapi wajahnya tetap pucat. Tanpa kata, ia menarik Laras masuk dan mengunci pintu.
Ruang tamu itu masih sama seperti yang Laras ingat dari kunjungan Reza, hangat dan rapi, penuh foto pernikahan. Tapi suasananya berbeda. Gorden semua tertutup, lampu dinyalakan, dan di meja ada dua cangkir teh yang sudah disiapkan.
"Duduk, Mbak. Tolong."
Laras duduk di ujung sofa, menjaga jarak. Vania duduk di seberangnya, kedua tangannya saling meremas di pangkuan.
"Aku mulai dari mana ya..." Vania tertawa getir. "Pertama, aku minta maaf. Soal Dimas. Aku tahu aku salah. Aku tahu Mbak pasti membenciku."
"Jangan minta maaf untuk hal yang belum kau jelaskan."
"Baik." Vania menarik napas dalam. "Aku mengenal Dimas dua tahun lalu. Bukan di sini. Di Surabaya, saat dia dinas. Aku bekerja di sebuah firma konsultan. Kami bertemu di sebuah acara."
"Dua tahun?" Suara Laras bergetar. "Kau sudah menjalin hubungan dengan suamiku selama dua tahun, lalu pindah ke sebelah rumahku?"
"Bukan. Dengar dulu." Vania mengangkat tangan. "Awalnya kami cuma kenalan. Dimas bercerita tentang keluarganya, tentang Mbak, tentang Kenzo. Aku mengira dia pria baik-baik. Lalu setahun lalu, dia mulai berubah. Mulai mengirim pesan terlalu sering. Mulai bilang kesepian. Aku bodoh, Mbak. Aku merasa dibutuhkan. Mas Reza terlalu sibuk, dan aku merasa tidak terlihat. Dimas melihatku."
Laras mengepalkan tangan. Kalimat itu terlalu mirip dengan yang ia dengar semalam dari mulut Reza.
"Tapi aku nggak pernah berniat pindah ke sini," lanjut Vania. "Dimas yang mengusulkan. Dia bilang rumah nomor 14 ini sedang dijual murah, dan dia bisa mengatur semuanya. Aku pikir dia ingin dekat denganku, jadi aku setuju. Aku bahkan meyakinkan Mas Reza untuk pindah."
"Berarti kau memang sengaja mendekat."
"Aku pikir begitu." Vania menatap Laras dengan mata berkaca-kaca. "Tapi setelah kami pindah, aku mulai curiga. Dimas terlalu mengatur. Dia tahu jadwal Mas Reza. Dia tahu kapan rumah ini kosong. Dia menyuruhku mendekati Mbak, bersikap ramah, jadi sahabat. Katanya supaya Mbak tidak curiga."
Laras menahan napas. "Dia menyuruhmu?"
"Iya." Vania menunduk. "Dan aku baru sadar kemarin, di Surabaya. Dia nggak benar-benar mencintaiku, Mbak. Aku cuma bagian dari rencana."
"Rencana apa?"
Vania mengangkat wajah. Dan ketika ia bicara, kata-katanya jatuh seperti batu ke dalam sumur dalam.
"Rencana R."
Seluruh ruangan seperti berhenti berputar.
"Siapa R?"
"Aku nggak tahu nama lengkapnya." Vania menggeleng cepat. "Aku cuma pernah mendengar Dimas bicara di telepon, tengah malam, saat dia pikir aku tertidur. Dia memanggilnya 'Bos R'. Dimas bukan sekadar karyawan biasa, Mbak. Dia terlibat dalam sesuatu. Uang. Banyak uang. Dan R menyuruh Dimas mendekati keluarga kami, karena Mas Reza..."
Ia terhenti. Bahunya bergetar.
"Karena Mas Reza apa?"
"Karena Mas Reza adalah satu-satunya ahli waris dari perusahaan besar yang dulu dimiliki orang tuanya. Perusahaan yang sekarang dikuasai orang lain. Mas Reza nggak pernah tahu. Dia pikir orang tuanya cuma pegawai biasa. Tapi ada dokumen, surat wasiat yang disembunyikan. Dan R ingin dokumen itu."
Laras merasa lantai di bawah kakinya menghilang. Semua potongan yang tadinya berserakan kini disatukan oleh satu tangan tak terlihat. Dimas tidak sekadar berselingkuh. Perselingkuhan itu hanya kedok.
"Kenapa kau memberitahuku semua ini?" bisiknya.
"Karena kemarin, di Surabaya, aku menemukan sesuatu di tas Dimas." Vania merogoh saku, mengeluarkan selembar foto yang sudah kusut. "Aku mengambilnya diam-diam."
Foto itu menampilkan tiga orang di depan sebuah kantor besar. Seorang pria paruh baya berjas mahal, tersenyum dingin. Di sebelah kirinya, Dimas, lebih muda beberapa tahun, tampak canggung dan tegang. Dan di sebelah kanannya, seorang perempuan muda berambut pendek dengan senyum yang tak mencapai matanya.
Laras mengenali perempuan itu.
Ia menatap foto itu, lalu menatap Vania, lalu menatap foto itu lagi. Dunia terasa miring.
"Itu..." suaranya pecah. "Itu Mira."
Vania mengangguk perlahan, wajahnya penuh ketakutan. "Teman baik Mbak. Yang bekerja di firma hukum. Aku nggak yakin dia R, tapi dia ada di foto ini bersama Dimas dan bos mereka. Dan Mbak bilang sendiri tadi pagi lewat pesan yang tak sengaja kulihat di ponsel Mbak..."
"Kau melihat ponselku?"
"Aku mengikuti Mbak kemarin di toko perhiasan. Aku melihat Mbak mengetik pesan pada seseorang." Vania menggigit bibir. "Mbak bercerita pada Mira semua yang Mbak tahu, kan? Tentang pesan, struk, tentang aku."
Laras tak mampu menjawab. Tubuhnya dingin dari ujung kepala sampai kaki.
Ia mengingat semuanya. Mira yang langsung menawarkan bantuan. Mira yang bilang akan mencari tahu data hotel. Mira yang meminta waktu dua hari untuk menyelidiki Vania. Mira yang selalu ada, selalu mendengarkan, selalu tahu.
*Aku sudah memberinya semuanya.*
"Mbak," bisik Vania sambil meraih tangannya, dingin dan gemetar. "Kalau Mira bagian dari mereka, berarti mereka sudah tahu Mbak mencurigai Dimas. Dan mereka tahu Mbak sudah bicara denganku."
Dari luar, terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah.
Pintu pagar berderit. Langkah kaki di atas kerikil.
Vania menoleh ke jendela dengan mata melebar. Wajahnya memutih seperti kertas.
"Itu bukan Mas Reza," bisiknya. "Dia nggak pernah pulang jam segini."
Laras bangkit pelan, jantungnya menghantam tulang dada. Dengan satu gerakan, ia menyingkap gorden sedikit.
Di depan pagar rumah nomor 14, berdiri sebuah sedan hitam yang tak pernah ia lihat. Dan dari pintu pengemudi, turun seorang perempuan berambut pendek dengan kacamata hitam dan senyum tipis.
Mira.
Ia melepas kacamatanya perlahan, menatap rumah itu seolah tahu persis siapa yang berada di dalamnya, lalu mengangkat tangan dan mengetuk pintu pagar dengan tiga ketukan pelan.