NovelToon NovelToon
Bukan Aku Yang Jahat Mas

Bukan Aku Yang Jahat Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Setiap hari aku difitnah mertuaku.

_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_

Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.

_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_

Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.

_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_

Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.

Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.

Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?


Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌

Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 Bu Ratna marah-marah

Siang itu rumah Bu Ratna yang tadinya tenang tiba-tiba menjadi gaduh.

Bu Ratna dan Tante Yati sedang duduk di ruang tamu sambil menghitung-hitung berapa banyak emas yang akan mereka dapatkan jika Arman berhasil menikah dengan Mbak Santi, janda penjual emas itu. Mereka tertawa-tawa dengan wajah penuh dengan keserakahan, sama sekali tidak memikirkan Arman yang sedang berjuang di jalan menuju pengadilan.

Tiba-tiba, pintu rumah digedor dengan keras dari luar.

"Bu Ratna! Bu Ratna! Gawat, Bu Ratna!"

Seorang tetangga, Pak Karim, datang dengan napas terengah-engah, wajahnya panik, bajunya penuh keringat karena berlari.

Bu Ratna keluar dengan wajah kesal karena lamunannya tentang emas terganggu.

"Ada apa sih, Pak Karim? Teriak-teriak di siang bolong, mengganggu saja."

Pak Karim menatap Bu Ratna dengan tatapan tidak percaya.

"Bu Ratna, anak Ibu, Arman, kecelakaan, Bu! Jatuh dari motor di dekat sawah! Motornya oleng, Bu! Sekarang dibawa ke puskesmas, Bu! Lukanya lumayan parah, Bu!"

Mendengar kata kecelakaan, wajah Bu Ratna yang tadinya berseri-seri langsung pucat seketika. Gelas teh di tangannya sampai jatuh dan pecah.

"Apa? Kecelakaan? Di mana? Bagaimana bisa kecelakaan? Bukannya ban motornya cuma kempes sedikit?"

Pak Karim mengerutkan kening mendengar ucapan Bu Ratna.

"Kempes? Ibu tahu kalau ban motor Arman kempes? Tadi saya lihat ban motor Arman memang kempes habis, Bu, ada bekas tusukan paku. Arman jatuh terpelanting ke parit, Bu. Kasihan, Bu, kemeja putihnya penuh lumpur, lututnya berdarah."

Tante Yati yang ada di dalam langsung menarik tangan Bu Ratna dan berbisik dengan panik.

"Mbak, bagaimana ini, Mbak? Kita kan cuma mau kempesin sedikit biar dia tidak jadi berangkat, Mbak, tapi kok malah jadi kecelakaan parah begini, Mbak?"

Bu Ratna terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa bersalah, tapi rasa bersalah itu langsung ia tutupi dengan rasa marah. Ia tidak mau disalahkan.

"Ah, itu pasti gara-gara Alya, Yati! Pasti gara-gara Alya! Kalau saja Alya tidak menggugat cerai Arman, Arman tidak akan berangkat ke pengadilan dan tidak akan kecelakaan! Semua ini gara-gara perempuan miskin itu!"

Tanpa pikir panjang, Bu Ratna tidak langsung pergi ke puskesmas untuk melihat keadaan anaknya yang sedang terluka. Ia justru mengambil kerudungnya dengan kasar dan berjalan cepat keluar rumah dengan wajah merah padam karena emosi.

"Mbak Ratna mau kemana, Mbak? Kan Arman di puskesmas, Mbak?" tanya Tante Yati bingung.

"Mbak mau ke kebun mangga! Mbak mau datangi Alya! Mbak mau buat perhitungan sama dia! Gara-gara dia anak Mbak celaka!" teriak Bu Ratna sambil naik ojek yang lewat.

Ojek itu melaju kencang menuju Desa Suka Makmur.

Di sisi lain, di kebun mangga yang asri, Alya baru saja pulang dari Pengadilan Agama bersama Mbak Rina.

Ustadzah Munah sudah menunggu di teras rumah besar dengan wajah cemas.

"Bagaimana, Nak Alya? Mediasinya bagaimana?" tanya Ustadzah Munah sambil memeluk Nisa yang berlari menyambut ibunya.

Alya duduk di kursi kayu di teras dengan wajah yang terlihat lega, tapi juga sedikit bingung.

"Bu, tadi di pengadilan, Arman tidak datang, Bu," ucap Alya pelan.

"Tidak datang?" Ustadzah Munah mengerutkan kening.

"Iya, Bu. Kami sudah menunggu setengah jam, tapi Arman tidak datang sama sekali. Tidak ada kabar. Akhirnya Bu Mediator menyatakan mediasi gagal, Bu. Katanya sidang akan dilanjutkan minggu depan, Bu."

Mbak Rina menambahkan dengan tegas.

"Benar, Bu Ustadzah. Karena pihak tergugat tidak hadir tanpa alasan, mediasi dinyatakan gagal. Ini justru bagus untuk Mbak Alya, proses gugatannya bisa berjalan lebih cepat dan lancar. Kalau dua kali tidak hadir, bisa diputus verstek."

Alya mengangguk, wajahnya terlihat senang karena proses gugatannya berjalan lancar, tapi di dalam hatinya ada sedikit rasa khawatir juga.

"Bu, Alya senang prosesnya lancar, Bu. Tapi Alya juga khawatir, Bu. Kenapa Arman tidak datang ya, Bu? Padahal kemarin dia datang ke sini dan terlihat ingin mempertahankan rumah tangga. Apakah terjadi sesuatu dengannya, Bu?"

Ustadzah Munah mengelus kepala Alya dengan lembut.

"Sudahlah, Nak Alya, jangan kamu pikirkan dulu. Mungkin memang itu jalan dari Allah untuk memudahkan proses kamu. Kamu sekarang fokus saja sama Nisa dan Raffi. Allah pasti punya rencana yang terbaik."

Alya tersenyum dan mengangguk. Ia merasa tenang karena berada di samping Ustadzah Munah.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba dari ujung jalan kebun mangga yang panjang itu terdengar suara teriakan keras seorang perempuan.

"ALYA! KELUAR KAMU, PEREMPUAN DURHAKA! KELUAR!"

Semua orang di kebun itu terkejut dan menoleh. Bu Ratna datang dengan langkah yang sangat cepat dan kasar, wajahnya merah padam, matanya melotot, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah rumah kecil Alya. Ia datang bersama Tante Yati yang mencoba menahannya tapi tidak berhasil.

Alya berdiri dengan kaget, wajahnya langsung pucat.

"Bu Ratna?"

Bu Ratna langsung menerobos masuk ke halaman rumah kecil Alya tanpa permisi, menginjak bedengan kangkung yang baru saja ditanam Alya.

"Jadi kamu di sini ya, bersembunyi enak-enakan setelah membuat anak saya kecelakaan! Kamu perempuan pembawa sial! Gara-gara kamu menggugat cerai anak saya, anak saya jadi kecelakaan di jalan! Lihat, gara-gara kamu, Arman sekarang ada di puskesmas, berdarah-darah!"

Alya terkejut bukan main dan mundur beberapa langkah sambil memeluk Nisa yang ketakutan.

"Apa? Arman kecelakaan, Bu? Kapan, Bu? Saya tidak tahu apa-apa, Bu. Saya baru saja pulang dari pengadilan, Arman memang tidak datang, Bu," jawab Alya dengan suara bergetar.

"Alah, jangan pura-pura tidak tahu kamu! Kamu pasti senang kan Arman tidak datang? Jadi gugatan cerai kamu bisa lancar! Dasar perempuan licik, tidak tahu terima kasih! Sudah saya kasih tumpangan hidup, kamu malah mau menghancurkan hidup anak saya! Kamu pakai dukun ya, Alya? Kamu santet anak saya ya biar kecelakaan?"

Fitnah itu sangat kejam dan menyakitkan. Alya yang tidak tahu apa-apa dituduh sebagai penyebab kecelakaan Arman.

"Bu, demi Allah, Bu, saya tidak pernah mendoakan yang buruk untuk Arman, Bu. Saya tidak pernah menyantet Arman, Bu," ucap Alya sambil menangis, air matanya jatuh deras.

Ustadzah Munah yang melihat keributan itu maju.

"Bu Ratna! Jaga mulut Ibu! Ini kebun saya, ini rumah saya! Ibu tidak ada hak menghina Alya di sini! Alya itu sudah saya anggap seperti anak saya sendiri! Jika ibu membentak,memarahi dan menghina dia saya tidak akan tinggal diam Bu!"

Bu Ratna tidak takut sama sekali, ia malah semakin menjadi-jadi.

"Kamu siapa? Kamu yang menyembunyikan menantu saya ya? Kamu yang menghasut Alya untuk menggugat cerai anak saya ya? Kalian semua sama saja, perempuan-perempuan pembawa sial!"

Mbak Rina yang masih ada di sana langsung maju ke depan dan berdiri di depan Alya untuk melindunginya.

"Bu Ratna, saya peringatkan Ibu, Ibu sudah melakukan pencemaran nama baik dan masuk ke pekarangan orang tanpa izin. Saya bisa melaporkan Ibu ke polisi sekarang juga!"

Mendengar kata polisi, Tante Yati langsung menarik tangan Bu Ratna dengan takut.

"Mbak Ratna, sudah, Mbak, ayo pulang, Mbak, nanti kita dilaporin polisi, Mbak."

Bu Ratna mendengus kesal, tapi ia masih sempat meludahi tanah di depan kaki Alya.

"Ingat ya, Alya! Kalau terjadi apa-apa sama Arman, kamu yang tanggung jawab! Kamu perempuan pembawa sial! Anak saya celaka gara-gara kamu!"

Setelah memaki-maki dengan kata-kata yang sangat hina, Bu Ratna akhirnya pergi dengan Tante Yati sambil masih menggerutu sepanjang jalan kebun mangga.

Alya langsung jatuh terduduk di atas tikar di teras rumah kecilnya sambil menangis sejadi-jadinya. Nisa memeluk ibunya dengan erat.

"Mama jangan nangis, Mama..."

Ustadzah Munah memeluk Alya dengan erat.

"Sabar, Nak, sabar. Ibu tahu kamu tidak salah apa-apa, Nak. Ibu tahu kamu tidak pernah mendoakan yang buruk untuk Arman."

Alya menangis di dalam pelukan Ustadzah Munah. Hari yang tadinya ia kira akan berjalan lancar dan membahagiakan karena mediasi gagal, kini berubah menjadi hari yang penuh dengan fitnah dan hinaan yang sangat menyakitkan.

Ia tidak tahu bahwa Arman kecelakaan karena ban motornya yang dikempeskan oleh ibunya sendiri, bukan karena dirinya.

Bersambung...

1
Dewi kunti
pernikahan kami thor
Atha Diyuta
iya mau balik tapi Alya udah nolak😄
Dewi kunti
sampai ak ngitung disini bilang man sampai 8x🤭
Atha Diyuta: 😅😅😅😅😅😅
total 3 replies
Dewi kunti
balik lagi Man🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
biasanya manggil cm man,sekarang tumben mas
Atha Diyuta: 😄😄😄😄😄😄😄
total 5 replies
Dewi kunti
mending ngekost man ,drpd hidup sama msk Lampir
Atha Diyuta: semoga Arman berkenan 😅
total 9 replies
Dewi kunti
ibu po mama iki🤭🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
lha bukannya nisa sudah paham ya mereka pergi dari rumah karena dimarahi nenek dan ayahnya,bahkan lihat ibunya yg ditampar
Atha Diyuta: yah anak kcil critanya cuman tau pergi dan akan kembali🤭🤭
total 1 replies
Dewi kunti
terlunta2 dijalanan 🤭
Dewi kunti
memperlihatkan kejulidannya mungkin
Atha Diyuta: Aduuh iya k typo lagi , trimakasih nanti direvisii 🙈🙈
total 1 replies
Dewi kunti
nama kamu hrsnya
Atha Diyuta: baik ka trimakasih nnti direvisi ☺️☺️
total 1 replies
Atha Diyuta
Asiap ka trimakasih sudah mampir
senjani jingga
semangat thor!, kalau berkenan mampir juga di novel baruku ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!