NovelToon NovelToon
Istri Polos Tuan Garra

Istri Polos Tuan Garra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Bad Boy
Popularitas:42.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sept

Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.

Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.

Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.

"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"

Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.

Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Lagi

Bab 10 Istri Polos Tuan Garra

"Mengapa kau baru mengatakannya sekarang?"

Suara Anggara rendah, dingin, tapi justru karena terlalu dingin itulah Alex tahu bosnya sedang menahan amarah yang meledak-ledak.

Alex menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maaf, Pak. Saya baru dapat konfirmasi dari tim rumah sakit pagi ini. Saya juga ingin mengatakannya sejak awal, hanya saja saya belum dapat waktu yang pas karena Pak Garra sedang meeting."

Anggara kemudian diam sejenak. Ia menatap keluar jendela kaca kantornya yang menampilkan pemandangan kota di bawah sana. Wajahnya kaku tanpa ekspresi, tapi pikirannya berisik.

Hamil? Mengandung?

Belum tentu gadis itu mengandung anaknya. Bisa saja anak orang lain. Bukankah gadis itu butuh uang untuk ibunya? Siapa tahu setelah dengannya, ia pergi dengan pria lain.

Tapi logikanya membantah. Gadis sepolos Elisa, yang menangis ketakutan malam itu, yang bahkan tidak tahu harus berbuat apa, tidak mungkin...

Ah, sial. Dia harus menemuinya. Untuk memastikan. Jika itu benar anaknya, ia tidak akan membiarkan darah dagingnya terlantar. Jika bukan, ia akan membuatnya menyesal telah mencatut namanya.

Sesaat kemudian, dia langsung berdiri dan berjalan melewati Alex dengan langkah besar dan cepat.

"Ke rumah sakit sekarang!" titahnya tegas dan jelas. Tidak ada ruang untuk bantahan.

"Baik, Pak." Alex mempercepat langkahnya, ia berlari kecil membuka pintu untuk sang bos. Kemudian mundur selangkah dan memberikan ruang untuk Garra jalan di depannya, seperti biasa. Bosnya selalu harus di depan.

Di rumah sakit, pukul 10 pagi.

Dimas datang menjenguk. Mereka tidak begitu akrab, hanya kenal karena Elisa teman baik adiknya. Susan sedang di kampus, katanya sejam lagi kelas selesai, dia akan langsung nyusul ke rumah sakit. Karena merasa kasihan pada Elisa yang tak punya saudara sama sekali di kota itu, Susan merengek minta abangnya menjaga Elisa dan mengurus segala administrasinya.

Elisa sedang berbaring, matanya sendu menatap jendela. Wajahnya bengkak karena semalaman menangis, bibirnya pucat. Selang infus masih menempel di punggung tangannya.

Dimas duduk di kursi jaga, agak canggung. Ia membuka bekal roti yang dibelikan Susan.

"Kamu udah mendingan, Lis?" tanyanya pelan.

Elisa hanya mengangguk kecil.

Hening sejenak. Lalu Dimas memberanikan diri. Sebagai laki-laki yang lebih tua, ia merasa harus bertanya. Bukan untuk menghakimi, tapi karena khawatir.

"Maaf, kalau aku ikut campur ya, Lis. Tapi... siapa ayah dari bayi yang kamu kandung?"

Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong.

Tubuh Elisa langsung menegang. Ia menundukkan kepalanya rapat-rapat, sampai dagunya hampir menyentuh dada. Malu. Aibnya akhirnya terbongkar dengan cara paling memalukan, saat dia pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Sekarang semua orang tahu.

Ia ingin menjawab, tapi lidahnya kelu.

Tapi, satu hal yang membuatnya harus bersyukur sampai detik ini. Susan tidak menjauhinya. Sahabatnya itu malah menjaga Elisa saat dirawat di hari pertama. Menginap semalam di kursi rumah sakit yang keras itu, memeluknya saat ia mimpi buruk.

Abang Dimas pun tidak memandangnya rendah. Meskipun ia hamil sebelum menikah, tatapan Dimas tetap teduh, tidak menghakimi. Tapi tetap saja, Elisa seperti tak punya muka untuk bertemu dengan kedua orang baik itu.

Kini, daripada harus bercerita siapa bapak kandung dari bayi ini, Elisa lebih memilih bungkam dan diam dalam tangisnya. Air matanya kembali menetes.

"Baiklah, kalau kamu masih belum mau cerita. Tidak apa-apa," Dimas buru-buru meralat, merasa bersalah telah membuatnya menangis. "Yang penting kamu segera sehat kembali. Jangan dipikirin dulu ya. Istirahat aja."

Elisa masih tertunduk diam, hanya isakannya yang terdengar pelan.

Terdengar dering telepon. Suara hp Dimas bergetar. Nama Susan muncul di layar.

"Halo, San? Iya, abang masih di sini... Iya, dia masih lemes... Oke, abang tungguin sampai kamu datang ya."

Setelah telepon ditutup, wajah Dimas berubah. "Aduh, ada panggilan dari kantor, Lis. Ada urusan mendadak. Abang harus ke site sekarang."

"Lisa, aku pergi dulu ya. Nanti Susan kesini. Cepat sembuh. Kalau ada apa-apa, kabari saja kami, jangan sungkan! Anggap aja abang sendiri abang kamu," kata Dimas sambil menepuk pelan selimut Elisa.

Lisa mengangguk lemah.

Dimas pun memasukkan ponselnya ke saku celana dan keluar dari kamar rawat inap Elisa dengan langkah terburu-buru.

Ia melewati beberapa koridor rumah sakit yang ramai, tanpa dia ketahui, dia telah berpapasan dengan seseorang yang sudah membuat Elisa hamil. Dua pria itu bersimpangan di tikungan koridor.

Keduanya tak saling kenal, hanya saja sempat saling menatap sekejap mata dengan tatapan menilai. Dimas dengan kemeja kerjanya yang sederhana, Anggara dengan setelan jas mahal dan aura mengintimidasi. Kemudian mereka melanjutkan langkah masing-masing.

Anggara, pengusaha kaya raya itu berjalan dengan tenang tapi penuh tekanan di koridor. Di belakangnya ada Alex yang menenteng map.

"Aku mau kau mengecek janin itu, apa betul itu anakku! Lakukan tes DNA secepat mungkin setelah memungkinkan!" titahnya sambil berjalan, suaranya pelan tapi Alex jelas mendengarnya.

"Baik, perintah Pak Garra akan kami lakukan. Saya sudah hubungi dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini."

Saat sudah dekat dengan kamar Elisa, nomor 312, Alex langsung inisiatif maju dan membuka pintu untuk Garra.

"Silahkan, Pak!"

Garra masuk dengan langkah angkuh, tapi kamar itu kosong. Ranjangnya berantakan.

"Kau yakin ini kamarnya?" suara Anggara langsung berubah tajam.

Alex sampai mundur selangkah dan melihat nomor ruangan di pintu. Tak mungkin anak buahnya salah memberikan informasi. "Se-sebentar, Pak!" sela Alex panik. Dia langsung menelpon seseorang untuk memastikan. Namun, memang benar itu ruangannya.

Klek!

Suara pintu kamar mandi terbuka.

Elisa baru muncul dari kamar mandi, sambil menyeret tiang infus di tangannya dengan susah payah. Wajahnya kaget bukan main melihat siapa yang datang. Pria itu. Pria yang menghantui mimpi buruknya.

Kenapa bisa ada di rumah sakit ini? Siapa yang memberitahunya? Susan? Tidak mungkin. Mas Dimas? Malah tidak mungkin lagi.

"A... anda. Kenapa anda di sini?" Elisa mulai gugup, tubuhnya mundur selangkah sampai punggungnya menempel di dinding kamar mandi yang dingin.

Garra tidak menjawab. Ia langsung menarik kursi jaga yang ada di samping ranjang, ia duduk dengan tenang, menyilangkan kakinya, menatap Elisa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapannya menilai, dingin.

Sementara Alex, dia kini menunggu di depan pintu, sengaja tidak masuk. Alisnya terangkat. Bibirnya mengkerut.

(Ada apa dengan Pak Garra. Bukannya dia beberapa minggu lalu mencari-cari gadis ini sampai aku harus susah payah mengumpulkan informasi sampai ke kampungnya? Sekarang sudah dapat, kenapa sikapnya sangat dingin sekali? Sebenarnya dia menginginkan gadis itu atau tidak?)

Alex hanya berani berbicara dalam hati.

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu!" kata Garra akhirnya, memecah keheningan.

Elisa menelan ludah dengan kasar. "Anda mau apa?"

"Aku? Aku mau apa? Aku hanya memastikan... barang ku tidak dipakai oleh orang lain!"

Nadanya dingin, ekspresinya datar dan kaku. Kata "barang" itu menghunjam tepat di jantung Elisa.

"Apa maksud anda?!" wajah Elisa akhirnya terangkat, menatap pria yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri dengan amarah yang tertahan.

"Duduk dulu! Kulihat kau sedang menderita," perintah Anggara, suaranya tidak bisa dibantah.

Elisa jalan perlahan, bukannya membantu membawakan tiang infus yang berat itu, Garra hanya menatapnya. Menatap bagaimana tubuhnya terlihat lebih kurus.

(Dia kehilangan banyak berat badannya!) batin Garra.

Elisa sudah berbaring, dia bahkan menarik kain selimut sampai leher, mencoba melindungi dirinya dari tatapan pria itu.

"Kita sudah tidak punya urusan lagi, silahkan anda keluar dari kamar ini!" usir Elisa dengan suara bergetar. Daripada minta tanggung jawab dari Garra, Elisa malah mengusir pria penguasa tersebut. Harga dirinya lebih penting.

"Kau berani mengusirku? Kau tak tahu siapa aku, Elisa?" Anggara berdiri. Kesabarannya habis.

"Tidak, dan aku tidak mau tahu siapa anda! Tolong tinggalkan saya sendiri!" usirnya lagi, kali ini matanya sedikit berani menatap dan seolah menantang. Air matanya sudah menggenang.

(Gadis ini... dia berani mengusirku? Belum ada satu pun wanita yang berani mengusir Anggara)

Anggara langsung maju dua langkah besar. Dalam sekejap ia sudah di sisi ranjang. Ia mencengkram lengan Elisa yang tersembunyi di balik selimut dengan kuat. Tidak kasar sampai menyakiti, tapi cukup untuk mengunci dan menunjukkan kekuasaan.

"Dengar baik-baik! Kau tidak bisa menyuruhku! Kau mengandung anakku, jadi kau adalah tanggung jawabku sekarang! Kau pikir kau bisa lari?"

Elisa terbelalak. Jadi pria itu sudah tahu.

Bersambung.

1
Maya's ❤️
sudah di empet lama itu lisa , nanti ndak makin layu dia 🤭😂
Nur Azizah
awas ra garra nanti elisa kabur lagi🤣
Sri Rahayu
itu Gara2 minum obat sengaja atau dijebak orang... iya kali sengaja biar.bisa mengeksekusi Elisa 🤩🤩🤩🤩🤩...lanjut Thorr😘😘😘
Eka ELissa
di ksih jatah kah... entahlah hy emak yg tau.... bersambung besok yooo gaess 🤣🤭
Kar Genjreng
🤭🤭 lagi menahan ya Tuan takut singkong rebus nya itu itu Lo anu itu,,,,
gagal kena serangan fajar ini hampir kena serangan setelah Isya 😂Ay ga coment ahhh takut dosa ,,,Tuan lagi di bekukan agar semua kenceng biar ga berisik!!!!!!! besok bangun Bobo panggilan nya ganti ya Elisa jangan Tuan tapi Den Kang Mas Garra,,, Pembaca jangan pada Traveloka ya,,🤣🤣
mrs younge
Hayuk gasss mumpung ada kesempatan gar
PK dokter di macetin dulu aje KK dept 🤭🤣🤣🤣
Mia Camelia
aduh Elisa kena juga🤣🤭😭
Tiniewiniebitie Mimie Pisae
semoga bukan modus
Sept September: 🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Tiniewiniebitie Mimie Pisae
berisik pngen ngerasain surga y bang🤣🤣🤣👻👻👻🤭🤭
Sept September: jangan suudzon 🤭🤣🤣🤣🤣🙏
total 1 replies
Tiniewiniebitie Mimie Pisae
berisik pngen ngerasain surga y bang🤣🤣🤣👻👻👻🤭🤭
Nur Azizah
piye iki kak sept singkong matang.e rong sido d entas po piye🤣🤣🤣
Bu Yudi Wahono
kak sept mana lagi
mrs younge
next KK 💪
*Septi*
awww di bikin penasaran 🤣🤣🤭
Ayla Pratama
🤣
Eka ELissa
di ksih gak ya...ma elisa 🤣🤣🤣 entahlah Hnya emak yg tau....
Nur Azizah
pagi² sarapan singkong matang🤣
Sept September: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🙏
total 1 replies
Tiniewiniebitie Mimie Pisae
tinggal kasih keju mozarella sama susu kental manis ya el
hemmmm yumii🤭🤭🤭🤭
Tiniewiniebitie Mimie Pisae
buaya buntung👻👻👻
Sept September: 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Kar Genjreng
Ooommoo 🤭 singkong mageeell. berulah harus menemukan sarang nya supaya bisa menyalurkan benih Garra Junior OO,, langsung Traveloka. boleh ya sayang ini si
magell pingin di semai supaya tetap. waras pemiliknya ,,,siap Tuan Putri. Elisa
pakai donk. gombalan muara piye si endang kondo. sambil senyum manis tanpa biang 😂 nah kalau lagi puyeng belum tersalurkan. jadi sikap manis behhh ga enek si g ngiro. ,,,,Juragan MBG. lagi
menginginkan Apem milik Elisa jadi. ga garamg. wiss passs selak kewengen,,,
besok ga bisa bangun Lo lemes abis kena serangan tengah malam hahaha ngakak shubuh,,,🤣🤣
Kar Genjreng: sekarang ga MBG lagi ahhh sudah mesummm,,,pasti akan baik ya walaupun banyak mata nya si ga masalah pokonya,,
sudah ke priskolog kelihatan nya jadi ga kongslet lagi Barra Berre 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!