Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Tingal Warana
Lanjut...
Aroma kopi hitam hangat menyelinap di antara bau khas formalin dan disinfektan yang biasa mendominasi lantai bawah tanah IKKJ RSUD Bina Husada.
Arya sedang merapikan lemari penyimpanan instrumen otopsi ketika pintu geser ruang staf berbunyi mendesis. Bukan Teguh atau Iptu Farhan yang melangkah masuk, melainkan seorang wanita muda bersnelli (jas dokter) bersih yang lengannya tergulung rapi hingga siku. Rambut hitamnya diikat satu ke belakang, memancarkan kesan sigap namun ramah.
"Permisi, apakah Mas Arya ada di dalam?" suara wanita itu lembut, memecah hening ruangan.
Arya memutar tubuhnya, seraya memegang kain lap di tangan. "Saya Arya. Ada yang bisa saya bantu, Dok?"
Wanita muda itu tersenyum lebar hingga matanya menyipit halus. Ia lalu mengulurkan tangannya yang bersih dan ramping.
"Saya dr. Nisa, Annisa Saraswati. Dokter spesialis forensik baru yang ditugaskan menggantikan Dokter Aris selama beliau ambil studi lanjut di Jakarta. Salam kenal, Arya."
Arya ragu sejenak sebelum menjabat jemari dr. Nisa dengan canggung. Cengkeraman tangannya hangat dan mantap, tipikal dokter bedah yang terbiasa memegang pisau bedah dengan ketepatan tinggi.
"Salam kenal, Dok. Saya pemulasara di sini. Kalau butuh bantuan preparasi tempat atau berkas visum, bilang saja ke saya atau Mas Teguh," sahut Arya sopan.
"Sebenarnya saya sudah dengar banyak tentang kamu dari Dokter Aris sebelum beliau berangkat," ujar dr. Nisa seraya menyandarkan tubuhnya di tepi meja racik obat, dan menatap Arya dengan rasa ingin tahu yang kentara. "Katanya, kamu punya insting analisis ketepatan luka dan perkiraan waktu kematian yang luar biasa tajam. Bahkan polisi sekelas Iptu Farhan dari Polda sering minta bantuan penilaianmu sebelum autopsi formal dilakukan."
Jantung Arya berdesir pelan. "Dokter Aris bicara apa saja pada dr. Nisa?"
"Ah, tidak Dok. Dokter Aris berlebihan," potong Arya cepat seraya menundukkan kepala, dan berusaha merendah. "Saya cuma kebetulan sering memperhatikan detail luka saat memandikan jenazah. Logika kasusnya murni dari Pak Farhan."
"Insting detail itu langka di bidang ini, Arya," puji dr. Nisa tulus. Ia mengambil sebuah termos kecil dari tasnya dan meletakkannya di atas meja. "Saya bawa teh herbal camomile hangat. Kalau kamu tidak keberatan, nanti siang kita bisa diskusi sebentar soal berkas kasus-kasus lama di sini? Saya ingin belajar banyak dari ritme kerja kalian."
Melihat senyum tulus dan kehangatan dokter muda di depannya, Arya merasakannya lagi, sebuah desakan manusiawi yang sederhana. Sudah sangat lama ia membatasi dirinya dari interaksi sosial yang normal. Kehadiran dr. Nisa bagaikan secercah cahaya hangat di antara dinginnya ubin kamar mayat.
"Boleh, Dok... terima kasih tehnya," jawab Arya pelan.
Minggu-minggu berikutnya berlalu dengan cepat. Kehadiran dr. Nisa membawa warna baru di lingkungan IKKJ yang kaku.
Berbeda dengan dr. Aris yang cenderung kaku dan birokratis, dr. Nisa adalah tipe akademisi muda yang kritis, penuh empati pada keluarga korban, dan sangat menyukai diskusi ilmiah.
Ia sering menghabiskan waktu jam istirahatnya di ruang staf bawah tanah bersama Arya, membagi makan siang atau sekadar berdiskusi tentang analisis luka dan histopatologi.
Bagi dr. Nisa, Arya adalah sosok pemuda yang tenang, memiliki kepekaan emosional yang dalam, dan misterius. Arya tidak pernah menyombongkan kemampuannya, namun setiap kali dr. Nisa menemui jalan buntu dalam memeriksa kasus-kasus pelik, saran kecil yang dilontarkan Arya selalu tepat sasaran, seolah-olah Arya 'melihat' kejadian itu sendiri.
Sore itu, hujan deras mengguyur area RSUD. dr. Nisa dan Arya duduk berdua di koridor luar IKKJ yang sepi, sambil menikmati dua cangkir cokelat panas dari mesin pembuat minuman otomatis.
"Kamu tahu, Arya?" kata dr. Nisa seraya menatap rintik hujan yang jatuh di halaman. "Awalnya saya takut bertugas di IKKJ. Bayangan tempat ini selalu identik dengan duka dan kesepian. Tapi melihat cara kamu memandikan dan memperlakukan setiap jenazah dengan rasa hormat yang tinggi... tempat ini rasanya jadi hangat."
Arya menatap cangkir kertas di tangannya. Ucapan dr. Nisa merayap halus ke dalam dadanya. "Mereka sudah tidak punya suara lagi, Dok. Tugas kita cuma menjaga martabat terakhir mereka."
dr. Nisa menoleh, dan menatap wajah Arya dari samping dengan tatapan yang semakin hangat. Ia mengulurkan tangannya, dan secara refleks menepuk pelan punggung tangan Arya yang bersandar di bangku kayu.
"Kamu orang yang sangat baik, Arya. Kadang saya merasa... ada beban sangat besar yang kamu sembunyikan di balik mata kamu. Kalau kapan-kapan kamu butuh teman cerita, bukan soal pekerjaan, tapi soal dirimu sendiri, saya selalu siap mendengarkan."
Sentuhan tangan dr. Nisa terasa hangat dan nyata. Arya mendongak, dan menatap mata bening dokter muda itu. Untuk sekejap, Arya merasa ingin sekali jujur.
Ia ingin menumpahkan seluruh rahasianya: tentang 'Tingal Warana', tentang ingatan orang mati yang sering singgah di otaknya, dan tentang betapa terisolasinya ia dari dunia normal.
Namun tepat pada saat itu, pintu koridor mendesis terbuka.
Iptu Farhan melangkah masuk dengan jas hujan hitamnya yang basah kuyup. Langkah kakinya yang berat terhenti saat melihat kedekatan posisi duduk Arya dan dr. Nisa.
"Sore, Dokter Nisa. Sore, Arya," sapa Farhan dengan nada datar, dan menguasai raut wajahnya.
dr. Nisa tersenyum dan menarik tangannya kembali dengan sopan. "Sore, Pak Farhan. Mau koordinasi kasus pembunuhan di dermaga kemarin?"
"Iya, Dok. Tapi ada beberapa berkas awal yang harus saya diskusikan dulu dengan Arya di kantor luar," jawab Farhan beralasan.
"Oh, begitu. Baiklah, saya kembali ke laboratorium dulu ya. Arya, terima kasih cokelat panasnya," pamit dr. Nisa hangat sebelum berbalik melangkah menuju ruang pemeriksa.
Setelah sosok dr. Nisa menghilang di balik pintu, Farhan melangkah mendekati Arya. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding koridor, dan merogoh rokoknya tanpa menyalakannya.
"Kamu makin dekat dengan Dokter Nisa," kata Farhan tanpa basa-basi.
Arya mengusap tengkuknya yang terasa kaku. "Kami cuma rekan kerja, Pak Farhan. Dokter Nisa sering minta bantuan memeriksa data jaringan luar."
"Bagus kalau cuma rekan kerja," balas Farhan dengan suara berat yang dipenuhi keseriusan seorang perwira berpengalaman. "Tapi cara dia menatapmu tadi bukan cuma cara menatap rekan kerja, Arya. Dan cara kamu menatap balik... kamu mulai membuka diri padanya."
Arya menghela napas panjang. "Memangnya salah, Pak? Apa saya tidak boleh punya hubungan normal dengan orang biasa?"
Farhan menatap Arya lurus-lurus. Tatapannya tidak mengandung kemarahan, melainkan kekhawatiran yang teramat dalam.
"Aku tidak pernah melarangmu bahagia, Arya," ujar Farhan pelan. "Tapi kamu harus ingat siapa dirimu dan dunia apa yang kamu geluti sekarang. Rahasia kemampuanku dan kemampuanmu itu magnet bahaya. Kamu ingat apa yang terjadi saat musuh-musuh dari kasus lalu mencoba mencari tahu dari mana aku mendapat informasi rahasia?"
Kata-kata Farhan memukul kesadaran Arya bagaikan air es.
"Kalau orang-orang jahat di luar sana tahu bahwa kamu adalah 'kunci' dari setiap kasus yang dipecahkan Polda, siapa yang bakal jadi sasaran empuk mereka untuk menekannmu?" lanjut Farhan. "Orang terdekatmu, Arya. Semakin dekat Dokter Nisa denganmu, semakin besar bayangan bahaya yang kamu tarik ke arahnya."
Dada Arya terasa sesak. "Jadi... saya tidak boleh jujur padanya?"
"Jujur?" Farhan menggelengkan kepala. "Kalau kamu cerita soal 'Tingal Warana' dan ingatan orang mati, ada dua kemungkinan: dia menganggapmu gila dan melaporkanmu ke psikiatri, atau dia percaya dan hidupnya tidak akan pernah tenang lagi karena terseret ke dalam dunia bayangan kita. Kamu mau membahayakan keselamatan dan karier masa depannya?"
Arya membisu. Kebenaran ucapan Farhan terhampar kaku di depannya. Kasih sayang atau kepedulian yang sejati kadang bukan ditunjukkan dengan cara mendekat, melainkan dengan membiarkan orang tersebut tetap berada di dalam zona aman.
Bersambung...