Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pasokan Gandum dan Senjata
Hari keempat sejak kepulangan dari Hutan Kuno. Sesuai kesepakatan, ini adalah batas waktu istirahat bagi kelima prajurit inti Baroni Denwick.
Pagi itu, Max, Josh, Willi, Kin, dan Erson sudah bersiaga di pelataran Kastil Denwick. Mereka mengenakan zirah pelat baja murni yang dibeli dari Rustwood. Sikap tubuh mereka tidak lagi mencerminkan pemuda desa yang santai; punggung mereka tegap, pandangan mereka waspada, dan tangan mereka terbiasa berada di dekat gagang pedang. Pengalaman selamat dari zona transisi Hutan Kuno telah membentuk insting mereka.
Menjelang siang, suara derit roda kayu terdengar dari jalan utama menuju gerbang kastil.
Sebuah iring-iringan karavan dari Guild Pedagang Vane tiba. Lima gerobak pengangkut berukuran besar ditarik perlahan memasuki pelataran, dikawal oleh selusin tentara bayaran serikat. Vane turun dari kereta kuda utamanya, mengenakan mantel perjalanannya yang rapi, dan langsung disambut oleh Arya di undakan pintu masuk aula.
"Tepat waktu, Vane," kata Arya.
"Serikatku selalu menepati jadwal pelayaran daratnya, Tuan Muda," balas Vane. Ia berbalik dan menunjuk ke arah barisan gerobaknya. "Sesuai pesanan Anda. Lima gerobak ini memuat gandum kualitas menengah ke atas. Sedangkan untuk persenjataan, semuanya berada di dalam peti-peti kayu panjang di dasar gerobak, sengaja kututup rapat dengan tumpukan karung gandum agar tidak mencolok di jalan."
Arya mengangguk pelan, lalu menoleh ke arah Max. "Bawa pasukanku. Mulai bongkar muatannya. Pindahkan karung-karung gandum itu ke lumbung utama kastil. Untuk peti-peti di dasarnya... bawa langsung ke gudang persenjataan dalam. Jangan buka satu pun peti itu di pelataran ini."
"Siap," jawab Max. Ia memberi isyarat, dan kelima prajurit inti itu langsung bergerak memimpin para pelayan kastil untuk memulai proses bongkar muat secara efisien.
Arya kemudian mengarahkan Vane untuk masuk ke dalam aula kastil. Hans, sang kepala pelayan, telah menyiapkan jamuan sederhana berupa daging asap dan dua gelas anggur di atas meja kayu panjang. Keduanya duduk berhadapan.
"Jadi, pesanan militernya sudah lengkap?" tanya Arya sambil menyodorkan salah satu gelas anggur.
Vane mengangguk, menerima gelas tersebut. "Sangat lengkap. Tiga puluh set peralatan kesatria ukuran standar dengan kualitas standar militer kerajaan, lengkap dengan zirah logamnya. Tiga puluh pedang panjang, tiga puluh tombak, dan tiga puluh busur panah beserta tabungnya. Semuanya buatan pandai besi resmi serikat."
"Bagus. Logistik adalah fondasi. Tanpa senjata dan makanan, pasukan hanya akan menjadi sekumpulan pengemis yang memegang tongkat," ucap Arya datar.
Setelah memastikan rincian persenjataan, Arya beralih ke pokok permasalahan geografis yang ia temukan saat memetakan wilayah baroninya kemarin.
"Ada hal lain yang ingin kutanyakan padamu, Vane," kata Arya, menatap lurus ke arah saudagar tersebut. "Sebagian besar lahan di baroni ini adalah rawa dan tanah yang terus-menerus digenangi air. Gandum biasa yang selama ini ditanam selalu membusuk di bagian akarnya. Pertanyaannya, apakah ada jenis gandum atau tanaman pangan pokok yang memang bisa tumbuh subur di lahan rawa atau tanah yang berair?"
Vane terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab, melainkan mengingat-ingat kembali ribuan komoditas yang pernah melintas di jalur perniagaan guild-nya. Mengelola lahan basah bukanlah hal yang lazim di wilayah Verdentia, di mana sebagian besar kerajaan manusia mengandalkan tanah kering untuk bertani.
"Sebagian besar gandum memang menuntut tanah yang kering, Tuan Muda. Air yang terlalu banyak adalah racun bagi tanaman itu," Vane mulai menjelaskan. "Tetapi... kurasa tumbuhan seperti yang kau maksud itu ada. Hanya saja, tidak di Kerajaan Mossgate."
"Di mana?"
"Di wilayah barat jauh. Di Kerajaan Ravenwood dan Sylvaneth Kingdom," jawab Vane. "Itu adalah wilayah kerajaan para elf. Aku pernah mendengar cerita dari pedagang-pedagang jalur lintas benua. Di sana, mereka menanam sejenis gandum yang justru hidup di atas tanah yang digenangi air. Tanaman itu tumbuh subur di lahan basah."
Arya menyimak informasi tersebut. Rencana kasarnya mengenai sistem bendungan irigasi dan lahan persawahan kini memiliki jawaban logistik yang pasti. Tanaman itu benar-benar ada.
"Apa kau bisa mencarikan bibitnya untukku?" tanya Arya tanpa basa-basi.
Vane meletakkan gelas anggurnya ke atas meja. Matanya menyipit, menimbang jarak tempuh, biaya operasional, dan risiko berurusan dengan perantara dari kerajaan ras elf yang terkenal tertutup.
"Membawa komoditas agraris dari perbatasan Ravenwood atau Sylvaneth kemari..." Vane bergumam pelan. "Itu cukup sulit, Tuan Muda. Sangat sulit... tapi tidak mustahil."
Sementara negosiasi di dalam aula kastil itu berlangsung, sebuah pergerakan sunyi terjadi di luar batas wilayah Denwick.
Sekitar satu kilometer di sebelah barat Kastil Denwick, tepat di atas sebuah bukit berbatu yang berbatasan langsung dengan rute karavan, seorang pria berbalut jubah kamuflase hijau gelap sedang berbaring tengkurap di balik rimbunnya semak belukar.
Pria itu adalah seorang mata-mata. Ia dikirim langsung dari Baroni Deepwood, wilayah tetangga yang dipimpin oleh Baron Nesta Deepwood.
Dengan menggunakan teropong kuningan kecil, mata-mata itu memantau setiap aktivitas di pelataran Kastil Denwick dengan saksama. Dari posisinya di ketinggian, ia memiliki sudut pandang yang cukup jelas ke arah gerbang.
Ia melihat iring-iringan lima gerobak dagang masuk. Ia melihat karung-karung diturunkan satu per satu oleh para pekerja. Karung itu sangat khas, berdebu dan memiliki cap serikat pangan.
Matanya juga menangkap kehadiran lima orang berzirah pelat yang ikut mengawasi jalannya bongkar muat. Ia berasumsi bahwa kelima orang itu adalah sisa-sisa penjaga kastil yang ditinggalkan, karena semua orang tahu Baron Aran Denwick telah membawa pergi sebagian besar pasukannya untuk memenuhi panggilan perang teritori.
Namun, karena posisi peti-peti kayu panjang itu berada di dasar gerobak, dan Max memindahkannya langsung ke dalam gudang tertutup tanpa pernah membukanya di luar, mata-mata itu sama sekali tidak melihat kilauan logam pedang, ujung tombak, atau busur panah. Ia mengira peti-peti kayu itu hanyalah wadah untuk bahan logistik dapur lainnya.
Di atas perkamen kecilnya, mata-mata itu menuliskan hasil pantauannya dengan cepat: Baroni Denwick baru saja menerima pasokan logistik besar. Lima gerobak penuh gandum tiba dari guild dagang. Tidak ada tanda-tanda bala bantuan militer. Penjagaan kastil sangat minim, hanya dikawal oleh lima prajurit. Kastil ini memiliki banyak makanan, tetapi sangat lemah.
Mata-mata itu menggulung perkamennya, memasukkannya ke dalam tabung kulit seukuran jari telunjuk, lalu menyegelnya dengan lilin. Ia merangkak mundur dari tepi bukit dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara gemerisik.
Begitu dirasa aman, ia bangkit berdiri, berbalik arah ke barat, dan bergegas kembali menuju Baroni Deepwood. Ia harus segera memberikan laporan ini kepada tuannya. Sebuah wilayah lemah yang dipenuhi gandum di ambang musim dingin adalah mangsa yang paling dicari.
👍