Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - BERAT YANG BERUBAH
Pagi itu, Mo tidak menyerahkan pamflet atau meminta Lin membersihkan rak. Ia meletakkan sebuah buku bersampul kain di meja, lalu mendorongnya ke arah pemuda itu.
“Catat persediaan kering di ruang belakang,” katanya. “Jumlah bundel dan beratnya. Pisahkan yang baru datang dari yang sudah lama disimpan.”
Lin membuka buku tersebut. Ada daftar nama bahan, angka berat, dan beberapa coretan yang tampak seperti koreksi. “Saya yang menghitung semuanya?”
“Kau yang mencatat. Aku akan memeriksa hasilnya nanti.” Mo mengetuk satu halaman. “Jangan mengubah angka lama. Kalau ada selisih, tulis selisihnya. Jangan menebak penyebabnya.”
Itu terdengar seperti pekerjaan sederhana, tetapi Lin tahu catatan dua kolomnya akan segera diuji. Ia membawa buku dan timbangan kecil ke ruang belakang. Di sana, bundel akar dan daun digantung pada rak bambu. Udara berbau tanah kering, kayu, dan sedikit pahit.
Ia mulai dari rak paling dekat pintu. Satu bundel, timbang, lalu tandai. Ia menulis nama yang dipakai Mo, jumlah, dan berat. Untuk nama yang belum ia kenal, ia menyalin hurufnya perlahan agar tidak keliru. Setelah beberapa bundel, ia sadar bahwa timbangan bergoyang jika diletakkan di atas peti yang permukaannya retak. Ia memindahkannya ke meja rendah yang lebih rata dan mengulang tiga pengukuran pertama.
Mo mengawasi dari ambang pintu. “Kenapa diulang?”
“Peti tadi tidak rata. Angkanya berbeda sampai satu bagian kecil.”
“Bagus. Catat alasan pengukuran diulang.”
Lin menuliskan catatan pendek di sisi halaman. Ia tidak tahu apakah perbedaan itu penting bagi obat, tetapi jika angka awal dibiarkan tanpa penjelasan, orang berikutnya mungkin menganggap stoknya berkurang.
Di rak kedua, ia menemukan dua wadah bertanda akar embun. Buku lama menyebut masing-masing satu jin. Ketika ditimbang, wadah pertama lebih ringan, sementara yang kedua lebih berat sedikit. Ia mengosongkan isi ke nampan dan melihat beberapa potong akar remuk menempel pada kain pembungkus. Timbangan menunjukkan angka yang sama setelah wadah ditukar.
Lin menahan diri untuk tidak menulis “kehilangan” di kolom catatan. Ia menuliskan angka aktual dan membuat tanda tanya di samping berat lama.
“Jangan memberi nama pada sesuatu yang belum kau pahami,” ujar Mo dari belakangnya.
“Saya belum menulis penyebab.”
“Wajahmu sudah menulisnya.”
Lin tertawa kecil. “Kalau begitu saya akan mencatat bahwa wajah saya tidak bisa dipercaya.”
Mo mengambil satu potong akar dari nampan, memeriksanya dengan kuku. “Ini kering selama beberapa hari setelah ditimbang kemarin. Airnya menguap. Berat bisa berubah. Kain pembungkus yang menyerap lembap juga bisa membuat angka naik.”
“Jadi angka di buku lama mungkin benar pada saat dicatat.”
“Mungkin. Atau orang yang mencatat salah. Kita tidak tahu sampai menemukan bukti.”
Lin mengangguk. Ia menambahkan kolom baru pada halaman: berat saat masuk, berat saat diperiksa, dan kondisi penyimpanan. Mo melihatnya, lalu tidak menyuruhnya menghapus kolom itu.
Menjelang tengah pagi, seorang pekerja pengantar membawa dua keranjang dari pemasok selatan. Mo menyuruh Lin mencatat beratnya sebelum keranjang dibuka. Angka pada keping kayu yang terikat di pegangan menyatakan berat bersih, tetapi keranjang itu basah oleh gerimis dan beberapa daunnya masih menempel pada tutup.
Lin memanggil Mo sebelum menulis hasilnya. “Saya pisahkan berat keranjang dan bahan?”
“Kalau bisa.”
Mereka meletakkan keranjang kosong di timbangan setelah memindahkan isinya. Lin menimbang wadah, lalu mengurangi beratnya dari berat keseluruhan. Ia belum terbiasa dengan hitungan semacam itu dan harus mengulang sekali setelah salah mencatat satu angka. Mo tidak memarahinya, tetapi menunjuk baris yang keliru.
“Jangan hapus sampai tidak terlihat,” katanya. “Tarik satu garis. Tulis angka baru dan beri tanda.”
“Supaya kesalahan tidak hilang dari catatan?”
“Supaya orang bisa tahu apa yang terjadi. Catatan yang bersih belum tentu jujur.”
Kalimat itu menempel di benak Lin. Di dunia game, angka persediaan biasanya hanya data yang muncul di layar. Satu klik bisa memperbarui jumlah tanpa meninggalkan bekas. Di sini, setiap angka berasal dari tangan yang menimbang, mata yang mengamati, dan keputusan seseorang tentang apa yang layak ditulis.
Ia memberi tanda pada tiga jenis daun yang belum bisa dikenali. Mo mengonfirmasi dua di antaranya, tetapi yang ketiga tidak tercantum dalam pamflet toko. Pemasok menyebutnya daun sisik hujan. Lin mengingat nama serupa dari salah satu panduan permainan, tetapi deskripsi bentuknya tidak cocok. Ia mencatat nama lokal itu dan menulis: “Belum cocok dengan ingatan; perlu pemeriksaan.”
Pemasok sempat menyeringai. “Anak baru takut salah nama?”
“Kalau salah nama, orang bisa membawa pulang bahan yang tidak mereka cari.”
“Daun tetap daun.”
“Dan akar tetap akar,” sahut Mo datar. “Namun tak semua bisa ditukar.”
Pemasok mengangkat kedua tangan, lalu membantu menjelaskan tempat tumbuh tanaman itu. Ia menyebutnya biasa ditemukan di lereng yang menghadap sungai, setelah hujan pertama. Lin menulis keterangan tersebut, tetapi tetap membiarkan bagian bentuk dan kegunaan kosong.
Ketika pekerjaan selesai, Mo memeriksa buku dari halaman pertama. Ia bertanya tentang beberapa tanda, termasuk angka yang dicoret dan perbedaan berat akar embun. Lin menjelaskan apa yang ia timbang dan apa yang masih berupa dugaan. Mo membalik halaman tanpa komentar sampai tiba di catatan daun sisik hujan.
“Bagus. Kau tidak mengisi ruang kosong hanya agar halaman tampak lengkap.”
Lin menyandarkan punggung ke kursi. “Saya dulu mengira yang penting punya semua jawaban.”
“Orang yang menjual obat dengan cara itu biasanya cepat kehilangan pelanggan.”
Di tengah hari, Bai Xiao muncul di depan toko. Ia membawa tas kecil dan pedang yang sarungnya terikat rapat. Balutan tangannya sudah diganti lagi. Kali ini ia tampak sedikit tegang, walau berusaha menutupinya dengan senyum.
“Besok berangkat,” katanya. “Kami harus berkumpul sebelum matahari terbit. Dua pengawal senior, kusir, dan aku. Barangnya kain dan perkakas, bukan sesuatu yang mahal.”
“Apakah tanganmu sudah membaik?” tanya Lin.
“Bisa kugerakkan tanpa sakit. Tapi mereka melarangku mengangkat barang berat. Tugas pertama: berdiri di tempat dan mengikuti instruksi.”
“Sepertinya cocok untuk orang yang biasa berlari duluan.”
“Aku sedang belajar menghargai perintah yang membosankan.” Bai mengangkat telunjuknya. “Jangan sebarkan kabar ini. Aku sedang membangun reputasi sebagai orang yang bijak.”
Mo mendengus dari dalam toko. “Kau membangun reputasi sebagai orang yang banyak bicara.”
“Dua reputasi bisa hidup berdampingan.” Bai menoleh kepada Lin. “Kalau aku kembali, ceritakan apa yang terjadi di toko. Aku ingin mendengar perkembangan daftar obatmu.”
“Kalau ada perkembangan, akan kucatat.”
“Jangan hanya mencatat kesalahan.”
Bai segera melangkah pergi sebelum Lin sempat membalas. Dari ambang pintu, Lin melihatnya menyesuaikan tali tas dengan tangan yang sehat. Kali ini ia tidak mengayunkan pedang atau berpura-pura tak takut. Langkahnya tetap ringan, tapi terukur.
Sore itu, Mo memberikan dua keping tembaga sebagai upah hari itu—satu lebih banyak dari biasanya karena tugas inventaris menambah pekerjaan. Lin membeli semangkuk bubur dan roti kecil dengan sekeping, menghabiskan bubur, lalu menyimpan roti untuk pagi. Keping yang tersisa cukup untuk tempat tidur di penginapan; ia kembali tak punya uang cadangan, tetapi setidaknya tidak tidur lapar.
Sebelum tutup, ia menulis ulang ringkasan persediaan di bagian depan buku dan menyerahkan buku itu kepada Mo. Selisih berat tidak ia sebut sebagai kehilangan. Daun baru tidak ia beri kegunaan. Nama yang mirip dengan ingatannya tetap dibiarkan sebagai pertanyaan.
Mo menutup buku. “Besok kau periksa kembali angka yang berubah setelah bahan mengering. Tidak semua stok bisa ditimbang setiap hari, jadi pilih yang perlu diamati.”
“Baik.”
“Dan jangan mengubah daftar toko tanpa memberi tahu.”
“Catat, jangan menebak, lalu laporkan.”
Mo mengangguk. Bukan pujian, tetapi juga bukan koreksi.
Malamnya, Lin memikirkan perbedaan antara mengetahui angka dan mengetahui apa arti angka itu. Ia belum memahami alkimia. Ia bahkan belum tahu apakah tubuhnya mampu mengolah Qi. Namun hari ini ia belajar bahwa ketelitian bukan berarti selalu benar sejak awal. Ketelitian berarti meninggalkan jejak yang cukup agar kesalahan bisa ditemukan dan diperbaiki.
Di penginapan, ia membuka catatan dua kolom. Pada kolom ingatan, ia menulis: “Berat bahan bisa berubah setelah disimpan.” Pada kolom yang lain: “Akar embun yang diperiksa menunjukkan perubahan; Mo menyebut pengeringan sebagai kemungkinan.” Ia berhenti, lalu menambahkan satu baris lagi: “Belum menguji sendiri.”
Besok, Bai akan meninggalkan kota. Lin tak tahu apakah perjalanan pendek itu akan mengubah nasib temannya. Ia hanya tahu bahwa pagi akan datang dengan pekerjaan yang sama, timbangan yang sama, dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Untuk saat ini, itu cukup.