NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Menghilang Di Kabut

Pagi itu langit terlihat aneh. Cerah, tapi ada lapisan kabut tipis yang menempel rendah di tanah, tidak mau naik meski matahari sudah cukup tinggi. Aku bangun dengan perasaan gelisah yang tidak bisa kujelaskan. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang tertinggal di tempat lain, entah di mana. Aku berjalan ke meja belajar, tanganku menyentuh kelopak bunga hitam itu. Biasanya terasa sejuk dan menenangkan. Tapi pagi itu... terasa dingin. Sangat dingin, sampai membuatku menggigil sedikit.

Aku mencoba menenangkan diri. Mungkin hanya imajinasiku. Mungkin karena aku kurang tidur semalam. Tapi saat jam menunjukkan pukul delapan pagi dan Orion belum muncul sama sekali, aku tahu ada yang tidak beres. Dia biasanya menyempatkan diri lewat sebentar saat aku sarapan, sekadar melambaikan tangan dari kejauhan atau berbisik lewat jendela. Tapi pagi itu... sepi. Hanya angin yang berhembus pelan.

Bel pintu berbunyi tepat saat aku hendak mengambil ponsel untuk menelepon Dinda.

"Aruna!" Dinda masuk dengan napas terengah, tasnya tersampir miring di bahu. Dia menutup pintu rapat-rapat di belakangnya, lalu menatapku lekat-lekat. "Kau sudah melihat ke luar? Bukan sekadar kabut pagi biasa, kan? Semua orang di jalan berbisik-bisik. Ada yang bilang kabut itu terasa dingin sampai ke tulang, padahal cuaca sebenarnya hangat sekali."

Aku mengangguk pelan, tanganku meremas ujung kelopak bunga itu. "Orion belum datang, Din. Biasanya dia selalu ada di dekatku pagi-pagi begini. Aku mencoba memanggilnya dalam hati... tapi rasanya seperti berteriak ke dalam gua yang dalam sekali. Tidak ada jawaban."

Dinda terdiam, lalu menarik kursi di meja makan, menatapku dengan lembut namun serius. "Mungkin dia hanya menjauh sebentar. Mengikuti bayangan-bayangan itu seperti yang dia rencanakan kemarin. Dia butuh waktu, Aruna. Kau tidak boleh langsung panik."

"Tapi aku merasakannya, Din. Bukan sekadar rindu. Rasanya... ikatan di antara kita tertarik kencang sekali. Seperti tali yang ditarik dari dua ujung, sebentar lagi bisa putus." Suaraku bergetar, dan aku berusaha menelan kembali air mata yang mulai menggenang. "Aku takut dia melakukan sesuatu yang nekat sendirian."

"Tunggu dulu. Jangan terburu-buru menyimpulkan hal terburuk. Kita cari tahu dulu. Ada tempat lain yang biasa kalian temui, kan? Selain di sini dan di jalan setapak tua?"

Ada secercah harapan yang menyelinap di hatiku. "Pohon beringin besar di pinggir sungai. Di sana tempat pertama kali dia berbicara denganku secara langsung. Dia bilang tempat itu adalah titik perbatasan yang paling lemah. Kalau dia tidak bisa datang ke sini... mungkin dia menungguku di sana, atau terjebak di sana."

"Kalau begitu kita ke sana. Tapi hati-hati, ya? Kita tidak tahu apa yang menunggu di luar sana." Dinda meraih tanganku, genggamannya kuat dan menenangkan. "Kita pergi bersama. Tidak ada yang pergi sendirian."

Saat kami melangkah keluar rumah, kabut terasa semakin tebal. Jalan yang biasanya ramai pagi ini terlihat sepi sekali. Suara langkah kami terdengar terlalu keras di atas aspal basah. Semakin kami mendekati pinggir sungai, semakin dingin udaranya, sampai kami harus melingkarkan lengannya lebih erat di tubuh sendiri.

"Kabut ini... berbau aneh," gumam Dinda, hidungnya sedikit mengerut. "Bukan bau tanah basah seperti biasanya. Bau seperti... sesuatu yang terbakar basah."

Aku tidak menjawab. Mataku terpaku pada siluet pohon beringin tua yang mulai terlihat di kejauhan. Di bawah pohon itu, ada sosok yang berdiri membelakangi kami. Jubahnya yang gelap terlihat pudar di tengah kabut, bahunya tampak lebih rendah dari biasanya.

"Orion!" seruku, melupakan segalanya dan berlari kecil mendekat.

Sosok itu berbalik perlahan. Tapi senyum yang biasa menyambutku tidak ada di sana. Wajahnya tegang, matanya memindai sekelilingku dengan cemas yang mendalam.

"Kau seharusnya tidak datang ke sini, Aruna," suaranya berat, seolah ada beban besar di pundaknya. Dia melangkah maju, lalu berhenti sejenak saat melihat Dinda ikut berdiri di belakangku. "Maaf kalau aku membuatmu khawatir. Aku hanya... terjebak lebih lama dari yang kubayangkan."

Aku tidak peduli dengan kata-katanya. Aku hanya berlari dan memeluknya erat. Dia terasa lebih dingin dari biasanya, dan saat pipiku menempel di dadanya, aku mendengar detak jantungnya yang tidak beraturan. Tangannya terangkat perlahan, memelukku balik dengan kehati-hatian yang aneh.

"Kau terluka?" bisikku, menarik diri sedikit untuk menatapnya. "Ada yang salah. Ceritakan padaku. Jangan sembunyikan lagi."

Orion menghela napas panjang, lalu menatap Dinda yang berdiri tak jauh dari kami dengan sopan namun tegas. "Maaf, Dinda. Bisa kau tunggu sebentar di dekat tepian jalan? Aku perlu bicara sebentar dengan Aruna. Sendirian."

Dinda menatapku ragu, lalu mengangguk pelan. "Baik. Aku di sana. Kalau ada apa-apa... panggil aku. Aku tidak akan pergi jauh."

Saat Dinda sudah menjauh, Orion menggenggam kedua tanganku, jemarinya sedikit gemetar. "Dengar aku, Aruna. Keadaan lebih buruk dari yang kukira semalam. Valdris tidak hanya mengirim pengintai. Dia menutup jalur-jalur aman yang biasa kulewati. Kabut ini... itu bukan kabut alami. Itu penanda bahwa batas antara dua dunia semakin tipis. Mereka bisa masuk lebih mudah sekarang, dan aku... aku semakin sulit bergerak bebas di duniamu."

"Maksudmu... kau tidak bisa datang menemuiku kapan pun kau mau lagi?" tanyaku pelan, dadaku terasa sesak.

Dia menggeleng pelan, tapi matanya menyiratkan kebenaran yang menyakitkan. "Bukan tidak bisa. Tapi setiap kali aku datang, aku semakin melemah. Dan setiap kali aku pergi, semakin sulit bagiku untuk kembali. Valdris tahu itu. Dia sedang membiarkan kabut ini bekerja perlahan. Dia ingin aku yang menyerah duluan. Dia ingin aku yang pergi dengan sendirinya, tanpa dia perlu mengangkat satu jari pun."

"Tapi kita tidak akan membiarkan dia menang begitu saja, kan? Kita cari jalan lain. Kita cari cara memperkuat batas itu. Atau aku bisa ikut bersamamu ke tempat yang lebih aman. Aku tidak peduli ke mana pun kita pergi, asalkan bersama."

Orion tersenyum sedih, jemarinya menyisir rambutku dengan lembut seolah menghafal setiap detail wajahku. "Kau tidak mengerti, Aruna. Semakin lama aku berada di sisimu... semakin besar bahayanya untukmu. Cahayamu... itu seperti suar bagi mereka. Semakin dekat aku padamu, semakin terang kau bersinar di mata mereka. Mereka bisa menemuimu dari jarak yang jauh."

Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum tegas, meremas tangannya yang dingin. "Kalau begitu ajari aku. Ajari aku cara menyembunyikan cahayaku. Atau gunakan cahayaku itu untuk melawan mereka. Jangan kirim aku pergi seolah aku beban bagimu. Aku bukan beban, kan?"

Dia tertawa pelan, suaranya bergetar. "Kau adalah hal terindah yang pernah kumiliki. Tapi justru karena itu aku tidak ingin kau terluka." Dia menarikku ke pelukannya, memelukku erat seolah takut aku akan lenyap jika dia melepaskanku sebentar saja. "Mulai sekarang, kita harus lebih berhati-hati. Jangan pernah berjalan sendirian. Dan kalau kau melihat kabut yang tidak wajar... masuk ke dalam tempat tertutup dan panggil namaku. Aku akan datang, walau aku harus merobek kegelapan itu sendiri untuk menjangkaumu."

"Kau berjanji? Kau tidak akan menghilang begitu saja?"

Dia mencium keningku lama sekali, lalu menatap mataku dalam-dalam. "Aku berjanji. Kematian pun tidak akan bisa memisahkan kita sebelum waktunya. Tapi... kau harus berjanji juga padaku. Kalau suatu hari kau merasa aku semakin lemah, semakin sulit menjagamu... kau harus bersembunyi di tempat yang aman. Jangan mencoba mencariku kalau aku yang menyuruhmu pergi. Demi aku."

Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba kabut di sekitar kami berputar kencang sekali. Suara desisan rendah terdengar dari segala arah, seperti ribuan ular yang berbisik sekaligus. Orion langsung mendorongku ke belakang tubuhnya, tangannya terulur ke depan memancarkan cahaya redup yang menolak mendekatnya kabut itu.

"Pergi, Aruna! Sekarang! Panggil Dinda dan lari dari sini!" serunya, suaranya bergetar menahan beban berat.

"Aku tidak akan meninggalkanmu!" teriakku, meraih tangannya yang terulur ke depan.

Dia menoleh cepat, matanya memancarkan ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Mereka menunggumu terpisah dariku, Aruna! Sekarang mereka berusaha memancingmu agar tetap di sini! Tolong... lari! Aku menyusulmu sesegera mungkin!"

Suara desisan itu semakin keras, dan dari balik kabut, sepasang mata kelabu mulai terlihat satu per satu, mengelilingi kami perlahan. Orion berdiri tegak di depanku, meski aku melihat kakinya sedikit gemetar. Dia melindungiku dengan tubuhnya yang semakin melemah, dan di detik itu aku sadar — Valdris tidak ingin menyerang secara langsung. Dia ingin Orion kelelahan sampai tak berdaya, hanya karena terlalu banyak melindungiku.

"Aruna! Pergi sekarang!" teriaknya lagi, kali ini suaranya pecah.

Aku menatapnya sekali lagi, lalu berlari mundur ke arah Dinda yang sudah berlari mendekat. Kami berdua berlari secepat mungkin, napas kami memburu di tengah kabut yang semakin pekat. Saat aku menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, Orion masih berdiri di sana, satu-satunya titik terang di tengah kegelapan yang semakin menelan tempat itu. Dia tidak bergerak mengejarku. Dia berdiri diam, memblokir jalan mereka agar aku bisa selamat.

Dan di kejauhan, di balik dahan pohon tua yang gelap, aku melihatnya sekilas — Valdris berdiri di sana, bersandar santai pada batang pohon, menonton adegan itu dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Dia tidak perlu menyerang. Dia hanya perlu menunggu sampai kekuatan Orion habis, perlahan tapi pasti.

Saat kami sampai di rumah, aku mengunci semua pintu dan jendela dengan tangan yang masih gemetar. Dinda memelukku erat saat aku duduk di lantai sambil menangis. Di saku jubahku, kelopak bunga hitam itu terasa semakin dingin. Aku tidak tahu apakah dia baik-baik saja di sana sendirian. Aku tidak tahu kapan dia bisa kembali. Tapi satu hal yang kutahu — pertempuran sejati baru saja dimulai. Dan kali ini, pertempuran itu bukan dengan pedang atau sihir. Tapi dengan kesabaran, ketabahan, dan kepercayaan bahwa kami berdua cukup kuat untuk bertahan, walau kami harus terpisah sementara oleh kabut yang semakin tebal.

 

Bersambung...

Lanjut ke Bab 36? 🖤

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!