NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Rendang Pertama

Seminggu setelah aku menemukan surat Yolanda, aku memutuskan membuat rendang.

Bukan untuk meminta maaf. Bukan juga untuk memancing Arya menjelaskan. Aku hanya membutuhkan sesuatu yang bisa dikerjakan dengan kedua tangan, sesuatu yang punya awal, proses, dan hasil yang tidak disembunyikan di saku mantel.

Bang Gino mengirim beberapa kilogram daging sapi sesuai harga internal rumah. Aku mencatatnya tetap sebagai pengeluaran dapur agar tidak membiasakan diri mengambil barang peternakan tanpa hitungan.

Sejak pagi, dapur penuh aroma santan, cabai, serai, daun jeruk, lengkuas, dan rempah yang ditumis perlahan. Aku memakai panci tebal terbesar yang ada. Api dijaga kecil agar santan tidak pecah dan bumbu meresap tanpa membuat daging keras.

Bayu duduk di belakang pagar pengaman dapur sambil memandangi panci.

“Kapan matang?” tanyanya untuk kelima kali.

“Kalau ditanya terus, tambah lama.”

“Api bisa dengar?”

“Bisa. Dia tersinggung.”

Bayu langsung diam dan menatap kompor dengan curiga.

Raka yang sedang mengerjakan soal di meja makan mendesah. “Mbak Laras cuma ingin kamu berhenti bertanya.”

“Kak Raka merusak rahasia dapur.”

Sasa ikut duduk di dekat mereka sambil memeluk stoples permen. Dia mencoba memberikanku satu permen melalui sela pagar, mungkin mengira semua masakan akan lebih cepat matang jika diberi gula.

“Tidak perlu, Sayang. Rendang tidak pakai permen.”

Sasa bersikeras mengulurkan tangan. Aku mengambil satu butir agar dia puas, lalu menyimpannya di saku celemek. Anak itu tersenyum lebar dan kembali menggoyang-goyangkan stoples.

Sambil menunggu rendang menyusut, aku membuat kue talam sederhana dari tepung beras dan santan. Bayu bertugas menyusun daun pisang. Raka menimbang bahan karena perhitungannya paling akurat. Sasa membantu dengan cara memindahkan sendok dari satu mangkuk ke mangkuk lain sampai lantai harus disapu dua kali.

“Kenapa harus diaduk terus?” tanya Bayu.

“Supaya bagian bawah tidak gosong.”

“Kalau capek?”

“Gantian.”

Dia mencoba memegang spatula dengan kedua tangan, tetapi panci terlalu tinggi. Aku memindahkan sedikit bumbu ke wajan kecil yang sudah dingin, lalu membiarkannya mengaduk di meja. Raka mencatat jumlah santan dan waktu masak tanpa kusuruh.

“Untuk apa dicatat?” tanyaku.

“Kalau besok rasanya berbeda, Mbak Laras bisa lihat yang berubah.”

Aku menatap catatannya. Berat daging, jumlah santan, dan waktu mulai api sudah tertulis rapi. Anak sepuluh tahun itu baru saja memberiku bentuk pertama resep baku tanpa menyadarinya.

“Simpan bukunya,” kataku. “Jangan sampai kena kuah.”

Raka memindahkannya ke rak tinggi. Aku tidak menyebut catatan itu rahasia. Saat itu belum ada bisnis yang perlu dilindungi, hanya sebuah keluarga yang sedang belajar memasak bersama.

Menjelang siang, warna rendang berubah gelap dan minyak rempah mulai keluar. Aromanya melewati jendela, halaman, lalu entah bagaimana sampai ke rumah Bu RT.

Dia muncul di depan pintu sambil membawa wadah kosong.

“Saya cuma mau mengembalikan kotak,” katanya.

“Kotaknya sudah dikembalikan kemarin.”

Bu RT menatap wadah di tangannya. “Berarti saya salah bawa.”

Matanya tidak pernah meninggalkan panci.

Aku tertawa dan menyendokkan sedikit rendang ke piring. “Coba.”

Bu RT meniup daging, menggigit, lalu memejamkan mata. “Laras, ini keterlaluan.”

“Terlalu pedas?”

“Terlalu enak. Kenapa baru sekarang kamu bikin?”

Belum lima belas menit, dua ibu lain datang. Setelah itu muncul tiga orang lagi dari arah warung. Masing-masing mengaku kebetulan lewat, meski semuanya membawa wadah.

Aku membagikan porsi kecil untuk dicicipi. Beberapa orang langsung bertanya apakah masih ada yang bisa dibawa pulang.

“Jangan gratis,” kata Bu RT. “Bumbunya banyak, masaknya berjam-jam.”

Seorang ibu mengeluarkan uang. “Saya beli setengah kilo.”

“Saya pesan untuk pengajian Jumat,” kata yang lain.

“Kalau Lebaran bisa dua kilogram?”

Permintaan datang begitu cepat hingga aku mengambil buku tulis dari lemari. Aku menghitung biaya daging, santan, bumbu, gas, kemasan, dan waktuku. Harga pertama yang kusebut membuat semua orang tetap mengangguk.

“Pesanan di atas satu kilo pakai uang muka,” kataku. “Supaya saya bisa membeli bahan.”

Salah satu ibu tertawa. “Dengan tetangga saja hitung-hitungan?”

Aku tersenyum. “Justru supaya pesanan tetangga tidak lupa saat belanja bahan sudah dilakukan.”

Bu RT langsung membelaku. “Benar. Kalau mau gratis, masak sendiri.”

Uang muka mulai berpindah tangan. Aku mencatat nama, jumlah, tanggal, dan nomor WhatsApp. Tidak besar, tetapi semuanya jelas. Tidak ada kata nanti, tidak ada keluarga dulu, dan tidak ada hak orang lain yang hilang di tengah jalan.

Bu RT menawarkan sudut warung saudaranya untuk titip jual dua kali sepekan. Aku tidak langsung menyetujui. Kami menghitung potongan warung, biaya wadah, daya tahan makanan, dan jam pengambilan. Aku juga menegaskan bahwa pesanan hanya dibuat sesuai kapasitas dapur agar kebersihan dan rasa tetap terjaga.

“Kamu pernah jualan?” tanya Bu RT.

“Belum.”

“Tapi hitungannya seperti orang sudah rugi dua kali.”

“Aku hanya tidak mau rugi pertama kali.”

Para ibu tertawa, lalu menyetujui harga dan jadwal uji coba.

Saat anak-anak makan siang, Bayu menambah nasi dua kali. Sasa mencelupkan ujung jarinya ke kuah yang sudah dibuat tidak pedas untuknya, lalu menjilatnya. Bahkan Raka yang biasanya makan secukupnya meminta satu potong tambahan.

“Enak?” tanyaku.

“Lumayan,” jawab Raka.

Piringnya bersih sampai tak tersisa bumbu.

Arya pulang menjelang Magrib. Dia berhenti di dapur ketika mencium aroma rendang, lalu melihat panci yang hampir kosong.

“Sisakan untukku?”

Aku mengangkat tutup wadah di meja. “Dua porsi.”

Dia mencuci tangan, duduk, dan makan tanpa banyak bicara. Satu piring habis. Dia mengambil nasi lagi, menuangkan kuah rempah, lalu menghabiskan piring kedua.

“Enak,” katanya.

“Hanya itu?”

“Sangat enak.”

Aku menuangkan teh untuknya. Jari kami bersentuhan ketika dia menerima gelas. Tidak ada permintaan maaf besar atau penjelasan mendadak tentang surat. Namun tatapannya menetap pada wajahku, dan aku tidak lagi memalingkan muka.

Sisa dingin di antara kami mencair di atas meja makan.

Di teras, Bu RT sedang membantu menyusun catatan pesanan. Uang muka yang diterima dimasukkan ke dalam baskom enamel agar tidak tercampur dengan uang rumah. Lembar-lembar rupiah kusut memenuhi dasarnya.

“Kalau rasa ini konsisten, kamu harus jualan,” kata Bu RT. “Titip di warung dulu. Nanti kalau pesanan banyak, baru pikirkan tempat sendiri.”

Aku menatap nama-nama di buku dan uang hasil masakanku.

Selama ini aku berpikir kemandirian harus dimulai dari pekerjaan besar di kota, studio, atau mikrofon. Ternyata ia juga bisa bermula dari panci, buku pesanan, dan orang-orang yang bersedia membayar hasil tanganku.

Aku bisa memperoleh penghasilan sendiri.

Pikiran itu baru menyala ketika sebuah wajah muncul di celah pintu pagar.

Seorang perempuan berpakaian modis yang belum pernah kulihat berdiri di sana, matanya terpaku pada panci rendang dan baskom berisi uang.

1
мєσωzα
kenapa gak langsung dipecat aja si inah itu?
Sri Supriatin
lanjuut thor...eeh sy bc marathon kok .. kayanya sdh end🤭🤭🤣🤣
Sri Supriatin
gas keun pa Arya😍😍😍😍
Sri Supriatin
6 bulan lho ....anak2kurus n bi Inah kayaaa....ampun lebih galak dr mak tiri atau mertua tocik
Sri Supriatin
mampir ah, certanya end, jd ngk nunggu up🤭🤭biar marathon bc👍👍👍
Sri Hartini
wah2 akhirnya jd nyonya Arya
Sri Hartini
nah bik inah ketahuan bohongnya
Sri Hartini
pamanya terlalu sibuk di peyernakan jd nggak peduli sama ponakan
Sri Hartini
om nya kurang perhatian pdhal ponakannya kurus2
Sri Hartini
padahal bi inah msh sodara kok tega ya
Sri Hartini
arya kenapa diem klau ponakannya kurus
Sri Hartini
lamjut
Sri Hartini
lanjut ceritanya seru
Sri Hartini
ceritanya bagus
Anik Setyowati
iya kadang q bingung critanya,bener sih nggak monoton critanya nggak itu itu aja critanya,tp kapan crita kuliahnya,
Anik Setyowati
semua wanitanya iri sama Laras,tapi tidak membuat dirinya berusaha menjadi seorang wanita yg dibarengi dengan perbuatan yg baik,meningkatkan kecerdasanya, meningkatkan perekonomianya dengan jalan yg halal dan kerja keras,tapi mendahulukan prasangka buruk iri dengki,dan akhlak tercelah,nggak bisa mengontrol emosi yg malah akan menghancurkan hidup dan kebahagiaannya
Anik Setyowati
kenapa pernikahan denandra dan Almira tidak disetujui,sedangkan damar dan Vera disetujui,apakah karna Vera anak orang terpandang dan Almira anak orang biasa orang desa,padahal Vera tidak ada kelebihannya, ahklaqnya buruk
Anik Setyowati
orang seperti ini nggak pantas jadi guru,jual gorengan aja setiap hari berinteraksi sama gorengan, nggak ada orang iri sama gorengan
Anik Setyowati
Bu Ratih takut kecerdasannya tersaingi anak bocil,kasihan deh otaknya tumpul bukan tumpul ilmu tp tumpul mengelolah emosi kejiwaanya nol kosong nol,tua ilmu kedewasaannya nggak ada,yg ada ambisi dan kesombongan
Anik Setyowati
kalau Arya jadi mantu bik Inah boh aboh kasihan 3 anak krucil itu pasti di sia siakan,belum jadi aja 3 Mak itu sudah nggak terawat apalagi jadi,sungguh ancur dunia persilatan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!