Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Halaman yang Tidak Berangka
...Bima tidak tidur, atau tidur sebentar dengan kartu hitam itu tetap di saku celana, di bawah bantal, lalu di saku lagi. Waktu azan subuh terdengar dari masjid di ujung gang, ia sudah duduk di kursi plastik dapur dengan lampu neon yang berkedip-kedip....
...Wartini masuk sambil menguap, membawa panci kecil. Ia melihat Bima, lalu melihat gelas kopi yang belum tersentuh di depannya....
..."Kamu dari tadi duduk begini?"...
..."Nggak."...
..."Itu gelasnya dingin."...
..."Ya nanti diminum."...
...Wartini meletakkan panci di atas kompor, menyalakannya, lalu mengambil bungkus beras. Ia tidak bertanya lagi. Itu kebiasaan ibunya sejak dulu, kalau ada yang disembunyikan, ia pura-pura sibuk sampai orang itu mengaku sendiri. Kadang berhasil. Kadang tidak....
...Dimas datang dengan rambut berdiri di satu sisi dan seragam yang kancingnya salah satu. Ia langsung menuju meja, mengambil roti tawar, dan berhenti setengah jalan....
..."Kenapa?" tanya Bima....
..."Nggak. Aku kira Mas udah berangkat ke pasar."...
..."Makan dulu. Kancingmu salah."...
...Dimas menunduk, melihat kancingnya, lalu membetulkannya tanpa menjawab. Ketika ia mengambil roti, Bima melihat tangannya sedikit gemetar. Mungkin karena kurang tidur. Mungkin bukan....
..."Mas," kata Dimas. "Tadi malam aku lihat mobilnya lagi."...
..."Mobil apa?"...
..."Yang hitam. Di depan gang. Mobilnya sama."...
...Wartini berhenti mengaduk beras. Tidak menoleh, tapi punggungnya berubah. Bima melihat itu, dan ia tahu ibunya juga mendengar....
..."Kamu lihat orangnya?" tanya Bima....
..."Nggak. Kacanya gelap."...
..."Ya sudah. Kamu langsung pulang setelah sekolah, jangan mampir ke warnet dulu."...
..."Aku nggak mampir ke warnet."...
..."Bagus."...
..."Aku juga nggak takut."...
..."Siapa yang bilang kamu takut?"...
...Dimas tidak menjawab. Ia menghabiskan roti dalam dua gigitan, menyambar tasnya, dan keluar lewat pintu belakang. Pintu itu menutup terlalu keras, dan dari kompor Wartini mendengus kecil....
..."Dia itu sebenarnya takut," kata Wartini....
..."Aku tahu."...
..."Makanya jangan dibentak."...
..."Aku nggak bentak."...
..."Mukamu tadi kayak mau bentak."...
...Bima tidak membantah. Ia meraih gelas kopi dingin dan meminumnya sekali teguk, lalu meringis karena pahit....
...Setelah Wartini masuk ke kamar untuk mandi, Bima berdiri dan berjalan ke lemari kecil di sudut dapur. Ia membuka pintu bawahnya, mengeluarkan kardus berisi buku-buku bekas dan kertas nota, lalu di bawahnya, terbungkus kain batik yang sudah pudar, buku resep itu....
...Sampulnya cokelat, tipis di pinggir, dan ada noda minyak di satu sudut. Judulnya sudah tidak terbaca. Bima membawanya ke meja dan duduk dengan hati-hati, seperti orang yang sedang membuka surat yang bukan miliknya....
...Halaman pertama berisi daftar bumbu. Bawang merah, bawang putih, kunyit, ketumbar, lengkuas. Tulisan tangan ayahnya, miring, sedikit naik ke kanan. Di sebelah tiap bumbu ada angka kecil dalam lingkaran pensil....
...Halaman kedua: *Bumbu kacang, dasar.* Takaran kacang tertulis, lalu di pinggir kertas, sebuah baris kecil....
...*Kacang 7 — 14 — 3*...
...Bima membaca baris itu dua kali. Ia membuka halaman berikutnya, lalu yang berikutnya lagi. Setiap resep punya baris seperti itu di bagian bawah. Kadang dua angka, kadang tiga. Kadang ada tanggal di sebelahnya, tapi tanggalnya tidak lengkap, hanya tanggal dan bulan, tanpa tahun....
...*14/3.* Ada di salah satu halaman, di sebelah resep sambal. Bima tidak berhenti di situ. Ia pikir itu cuma ayahnya yang suka mencatat hari beli bumbu. Ayahnya memang begitu. Kadang catatan belanja ditulis di punggung kalender....
...Ia mencoba membuat bumbu kacang menurut angka pertama. Tujuh sendok... Ah, bukan. Ia mengambil timbangan dan menimbang kacang, menambahkan gula, lalu mencicipi sedikit. Rasanya terlalu manis dan tidak ada apa-apanya....
...Bima menatap mangkuk itu....
..."Kamu ngapain?"...
...Wartini sudah keluar dari kamar, rambutnya masih basah. Ia melihat buku di meja, lalu mangkuk, lalu wajah Bima....
..."Nggak ngapa-ngapain."...
..."Itu buku bapakmu."...
..."Aku tahu."...
..."Dulu bapakmu nggak suka buku itu disentuh orang."...
..."Aku bukan orang, Bu. Aku anaknya."...
..."Ya, tetap saja." Wartini datang dan menutup buku itu dengan telapak tangannya. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat Bima melepas tangannya. "Bapakmu itu... dulu kalau pulang tengah malam, dia pegang buku ini di kursi depan. Lama. Kadang aku lihat dia baca, kadang cuma diam sambil pegang. Aku tanya, dia bilang ini resep. Ya sudah."...
..."Ibu nggak pernah baca?"...
..."Ibu nggak bisa baca tulisannya. Lihat sendiri, kan. Tulisan bapakmu itu kayak cakar ayam." Wartini mengangkat sedikit sudut bibirnya, tapi matanya tidak ikut tersenyum. "Dia dulu kerja apa, Ibu juga nggak tahu pasti. Dia bilang kerja kantor. Pengiriman barang. Di dekat pelabuhan. Terus dia berhenti, dan buka sate."...
..."Kapan?"...
..."Sebelum kamu lahir."...
..."Ibu nggak pernah cerita."...
..."Kamu nggak pernah tanya."...
...Bima menggaruk alisnya. Itu benar, dan itu membuatnya kesal sendiri. Ia tidak pernah bertanya apa-apa tentang ayahnya selain resep dan harga daging....
...Wartini mengambil buku itu dari meja dan membungkusnya lagi dengan kain batik. "Simpan lagi. Jangan dibawa ke warung."...
..."Kenapa?"...
..."Karena orang-orang di warung itu suka lihat-lihat."...
..."Siapa?"...
...Wartini tidak menjawab. Ia hanya menatap pintu belakang, tempat Dimas tadi keluar, dan menggeleng kecil. Lalu ia membawa buku itu ke lemari dan menutupnya dengan dua kali bunyi kayu....
... ...
...Warung dibuka seperti biasa, jam sembilan, meski pagi itu jalan di depan pasar masih basah dan pedagang sayur di seberang baru separuh menata dagangannya. Bima menyalakan arang, memotong daging di talenan dengan pisau yang sudah tipis, dan mendengarkan bunyi kipas yang berdengung di atas tungku....
...Pak Darto datang sejam kemudian. Ia tidak menyapa. Ia menaruh tas kecilnya di gudang, lalu keluar lagi dan langsung mengambil tusuk sate dari kardus, menghitungnya satu per satu seolah itu pekerjaan paling penting di dunia....
...Bima membiarkannya beberapa menit. Lalu ia meletakkan pisau....
..."Pak."...
..."Hm."...
..."Semalam Bapak bilang besok mau cerita."...
..."Saya bilang besok, bukan semalam."...
..."Ini besok."...
...Pak Darto berhenti menghitung. Ia menatap tusuk di tangannya, lalu meletakkannya kembali ke kardus dengan rapi....
..."Mas Bima ingat orang yang minta sewa tanah di belakang?"...
..."Yang bawa map?"...
..."Itu bukan orang pengelola. Itu orang yang dikirim orang lain."...
..."Siapa orang lain itu?"...
..."Saya nggak tahu namanya, Mas. Serius. Dulu waktu ayah Mas masih hidup, ada juga orang-orang kayak gitu. Datang sore, duduk di pojok, pesan teh, nggak makan. Ayah Mas nggak suka. Tapi nggak pernah ngusir."...
..."Kenapa nggak diusir?"...
..."Karena ayah Mas bilang, kalau diusir, mereka bakal balik lagi lebih sering."...
...Bima mengerutkan dahi. "Itu waktu kapan?"...
..."Waktu Mas masih SMP. Mungkin SMA."...
..."Dan Bapak nggak pernah bilang apa-apa?"...
..."Saya disuruh jaga laci kasir, Mas. Itu aja." Pak Darto menelan ludah. "Ayah Mas pesan, jangan buka laci bawah, kecuali dia sendiri yang minta. Saya nggak pernah buka. Tapi saya lihat sekali, waktu dia ambil buku dari situ. Ya cuma sekali."...
..."Bapak tahu isinya?"...
..."Nggak."...
..."Yakin?"...
...Pak Darto menatapnya lama. Itu bukan tatapan orang yang sedang berbohong. Itu tatapan orang yang sedang memutuskan seberapa banyak yang boleh ia bawa keluar dari mulutnya....
..."Saya tahu ayah Mas sering pulang larut," katanya akhirnya. "Tiap pertengahan Maret, dia pergi malam-malam. Bilang ada pengiriman, atau ada orang yang harus ditemui. Pulangnya sebelum subuh. Mas Bima masih tidur waktu itu, dan Ibu juga."...
..."Pertengahan Maret?"...
..."Iya."...
..."Terus?"...
..."Terus dia pulang, dan badannya basah. Padahal waktu itu nggak hujan."...
...Bima tidak langsung bicara. Ia melihat kipas, lalu bara yang mulai merah di tungku. Ada sesuatu di dadanya yang terasa seperti kawat yang ditarik pelan, tidak sakit, tapi terus terasa....
..."Pak," katanya. "Kenapa baru bilang sekarang?"...
..."Karena baru sekarang ada yang nanya."...
...Pak Darto berbalik dan mengambil ember di pojok. Di pintu gudang ia berhenti, seolah ingin menambahkan sesuatu, lalu tidak jadi....
... ...
...Siang, ketika warung mulai ramai oleh tukang ojek dan pegawai kantor yang kabur sebentar dari meja, mobil abu-abu parkir di depan. Laki-laki yang turun memakai jas yang sama dengan kemarin. Mapnya tidak lagi di tangan. Ia membawa amplop cokelat yang terlipat di bagian ujung....
...Ia masuk, memesan dua tusuk, lalu duduk di bangku tempat Dimas biasa belajar. Bima tidak menyuruhnya pindah....
..."Mas Bima," kata laki-laki itu ramah. Terlalu ramah. "Masih ingat saya?"...
..."Ingat."...
..."Saya cuma mau menyampaikan, supaya tidak ada salah paham. Sisa waktu sebulan itu dari pemilik lahan. Saya cuma kurir."...
..."Kurir dari siapa?"...
..."Dari pemilik lahan."...
..."Siapa pemiliknya?"...
...Laki-laki itu tersenyum kecil, seperti sedang menilai apakah Bima cukup bodoh atau cukup berani. "Kemarin ada tamu yang mampir ke sini, kan?"...
...Bima tidak menjawab. Tangannya berhenti di atas talenan, lalu bergerak lagi, memotong sisa daging dengan tempo yang sama, meski pisaunya sekarang terasa lebih berat....
..."Dia titip pesan," lanjut laki-laki itu. "Katanya, Mas Bima tidak perlu bicara ke pengelola pasar. Tidak perlu lapor polisi. Kalau Mas Bima butuh bantuan, langsung saja ke dia."...
..."Dia siapa?"...
..."Mas Bima sudah tahu."...
..."Saya nggak tahu, Mas."...
...Laki-laki itu mengambil tusuk sate yang sudah matang dan menggigit satu potong. Ia mengunyah pelan, mengangguk sekali, lalu menaruh uang di meja. Pas, sama seperti kemarin....
..."Sate Mas Bima enak," katanya. "Pantas bapaknya dulu banyak yang suka."...
...Ia berdiri, merapikan jasnya, dan keluar. Mobil abu-abu itu pergi tanpa tergesa....
...Bima menatap uang itu sebentar. Lalu ia menyapu sisa daging ke ember dan mencuci tangannya lama di bak, sampai air dingin membuat jarinya memutih....
..."Mas," panggil Pak Darto dari gudang. Tidak keluar. "Orang itu bawa surat?"...
..."Amplop."...
..."Jangan dibuka di depan orang."...
..."Ya, saya tahu."...
...Pak Darto tidak bicara lagi....
... ...
...Dimas pulang sekolah dengan wajah yang sudah dibuat tidak peduli. Ia melewati warung tanpa berhenti, dan Bima yang sedang menutup panggangan harus memanggilnya dua kali....
..."Dimas."...
..."Apa?"...
..."Sini."...
...Dimas datang dengan langkah malas, tapi ketika ia sudah dekat, Bima melihat sesuatu di lehernya. Bekas merah kecil, mungkin dari tali tas yang tertarik terlalu keras. Atau dari sesuatu yang lain....
..."Kenapa itu?"...
..."Apa?"...
..."Lehermu."...
...Dimas refleks menyentuhnya, lalu menurunkan tangan. "Tadi kena tas. Orang di gerbang dorong."...
..."Orang mana?"...
..."Nggak tahu. Ada yang nanya-nanya soal aku. Aku bilang nggak kenal."...
..."Nanya apa?"...
..."Ya nanya aku anak siapa."...
...Bima merasa ada sesuatu yang berhenti di tenggorokannya. Ia menarik lengan adiknya, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Dimas menoleh kaget....
..."Kamu nggak bilang apa-apa?"...
..."Aku bilang aku anak penjual sate!"...
..."Terus?"...
..."Terus dia ketawa!" Dimas menarik lengannya kembali. Kali ini lebih keras. "Mas kenapa sih? Aku udah bilang aku nggak takut!"...
..."Siapa yang bilang kamu takut?"...
..."Mas tadi nanya kayak gitu!"...
...Bima tidak punya jawaban yang cukup baik. Ia melihat adiknya berdiri di depannya, lebih tinggi dari setahun lalu, dengan bahu yang masih kurus dan mata yang berusaha keras untuk tidak berkaca-kaca....
..."Maaf," kata Bima pelan....
...Dimas tidak menjawab. Ia berbalik dan masuk ke rumah lewat pintu depan, meninggalkan tasnya di bangku warung. Bima mengambil tas itu, membersihkan debu dari talinya, dan membawanya masuk....
...Di dalam, Wartini sedang menyiapkan nasi goreng untuk makan malam. Ia menoleh ke tas itu, lalu ke Dimas yang sudah duduk di kamar dengan pintu terbuka sedikit....
..."Ada apa?"...
..."Nggak ada."...
..."Dimas nangis?"...
..."Nggak."...
..."Kamu yang nangis?"...
..."Bu."...
...Wartini mengangkat wajan dari kompor dan menaruhnya di meja dengan sedikit terlalu keras. "Kamu itu sama bapakmu, tahu nggak? Kalau ada sesuatu, diam. Terus pulang-pulang kayak orang kena tampar."...
... ...
...Malam itu Bima duduk di kasir sampai warung tutup. Tidak ada pembeli lagi. Pak Darto sudah pulang lewat pintu samping, dan tukang ojek terakhir sudah pergi sambil menggerutu soal hujan yang tidak jadi turun....
...Ia mengeluarkan kartu hitam dari saku dan meletakkannya di atas meja kasir. Tulisan emasnya tetap tidak terbaca di bawah lampu neon. Satu baris angka. Ia membalik kartu itu. Coretan pensil di belakangnya masih ada....
...*Jangan biarkan dia tahu kamu sudah membaca buku itu.*...
...Bima menatapnya cukup lama. Lalu ia menarik laci kasir, mengambil buku resep dari bawah kertas nota, dan membukanya di halaman tanggal yang tadi ia lihat....
...Di sana, di pinggir resep sambal, tulisan ayahnya yang tidak rapi: *14/3*. Dan di bawahnya, tanpa angka, hanya satu kata yang ditulis lebih tebal dari yang lain....
...*Pelabuhan.*...
...Bima menutup buku itu dengan telapak tangannya, seperti ibunya tadi pagi....
...Ponsel di saku celananya bergetar....
...Ia mengeluarkannya. Layarnya menyala dengan nomor yang tidak tersimpan, dan nomor itu sama persis dengan angka di bagian bawah kartu hitam....
...Bima menatap layar itu sampai dering kedua. Ketiga. Ia tahu kalau tidak mengangkat, benda itu akan terus berbunyi di atas meja, dan Wartini akan keluar dari kamar untuk menanyakannya....
...Ia menekan tombol hijau....
...Hening sebentar. Lalu suara perempuan, rendah dan tenang, seperti orang yang sudah menunggu sejak sore....
..."Kamu belum sampai halaman tiga belas, kan?"...
...Bima tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam ponsel lebih erat....
..."Siapa ini?"...
..."Kamu tahu siapa aku," kata perempuan itu. "Jangan tutup dulu, Bima. Aku belum selesai."...