Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SURAT TERAKHIR ARMAND RAVENCROFT
Kalimat itu terus terngiang di kepala Aren.
AYAHMU TIDAK MATI UNTUK MENYELAMATKANMU. DIA MATI KARENA MENCOBA MEMBUNUHMU.
Aren menatap tulisan di belakang foto itu tanpa berkedip. Kedua tangannya menggenggam foto bayi yang baru saja diberikan kepadanya. Dalam foto tersebut, seorang bayi terbaring di pelukan seorang pria. Wajah pria itu sengaja dirusak dengan goresan tajam hingga tidak ada satu pun bagian yang bisa dikenali.
Bayi itu adalah dirinya.
Gelang hitam berlambang serigala melingkar di pergelangan tangan mungilnya.
Namun, siapa pria yang menggendongnya?
Dan mengapa seseorang bersusah payah menyampaikan pesan yang begitu kejam?
"Ayahmu mencoba membunuhmu."
Aren mengucapkan kalimat itu lirih. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Di hadapannya, layar besar di dinding menampilkan wajah Alistair Valerius. Pria tua itu duduk dengan tenang, kedua tangannya bertaut di atas meja, seolah-olah sedang menikmati sebuah pertunjukan yang telah direncanakannya selama bertahun-tahun.
"Kau sudah membacanya," kata Alistair.
Aren mengangkat wajah.
"Siapa yang menulis pesan ini?"
"Apakah nama penulisnya akan mengubah isi pesan tersebut?"
"Jawab pertanyaanku!"
Suara Aren menggema di ruangan bawah tanah itu.
Alistair mengangkat sebelah alis. Senyumnya justru semakin lebar, seolah-olah kemarahan Aren merupakan sesuatu yang menarik untuk diamati.
"Kau memiliki keberanian ayahmu," katanya. "Armand juga selalu membentakku seperti itu setiap kali dia tidak menyukai jawabanku."
"Jangan menyebut nama ayahku seolah-olah kau mengenalnya lebih baik daripada aku."
"Aku mengenalnya lebih baik daripada siapa pun."
"Kalau begitu, katakan yang sebenarnya!"
Aren berdiri. Kursi di belakangnya bergeser, menggores lantai beton. Ia tidak peduli pada kamera yang mungkin merekam setiap gerakannya. Ia juga tidak peduli jika Alistair menganggapnya sebagai anak muda yang mudah dipancing emosinya.
Ada satu pertanyaan yang kini memenuhi seluruh pikirannya.
"Apakah ayahku benar-benar mencoba membunuhku?"
Untuk pertama kalinya, Alistair tidak langsung menjawab.
Keheningan singkat itu justru terasa lebih menakutkan daripada semua ancamannya.
"Armand adalah seorang pria yang mencintai keluarganya," ujar Alistair akhirnya. "Namun, dia juga seorang pemimpin. Dan terkadang, seorang pemimpin harus memilih antara orang yang dicintainya dan sesuatu yang jauh lebih besar."
Aren mengepalkan tangan.
"Itu bukan jawaban."
"Armand mengetahui bahwa darahmu memiliki kemampuan membuka protokol terakhir Proyek Serigala Hitam. Selama kau hidup, proyek itu bisa diaktifkan kembali. Dia berusaha menghancurkan sistem tersebut, tetapi ada harga yang harus dibayar."
"Apa maksudmu?"
"Dia memilihmu sebagai harga itu."
Aren terdiam.
Alistair tidak menunjukkan rekaman baru. Ia tidak memberikan bukti. Ia hanya menyusun kalimat-kalimat dengan hati-hati, seperti seseorang yang sedang menanam benih beracun di dalam pikiran orang lain.
Namun, justru itulah yang membuat Aren ketakutan.
Bagaimana jika sebagian dari semua itu benar?
Bagaimana jika Armand memang pernah menganggap dirinya sebagai ancaman?
Bagaimana jika selama ini Aren membangun kerinduan terhadap seorang ayah yang bahkan tidak pernah benar-benar ingin dirinya hidup?
Napasnya mulai tidak teratur.
Ia memejamkan mata, berusaha mengusir gambaran yang tidak pernah benar-benar dimilikinya. Ia bahkan tidak mengingat wajah Armand. Semua yang ia ketahui tentang ayah kandungnya berasal dari foto, cerita orang lain, dan surat yang belum pernah ia baca.
"Aku ingin melihat rekaman lengkapnya," kata Aren.
Alistair tersenyum tipis.
"Rekaman apa?"
"Rekaman malam keluarga Ravencroft dihancurkan. Kau menunjukkan potongan rekaman Adrian dan ayahku. Sekarang kau mengatakan ayahku ingin membunuhku. Tunjukkan semuanya. Jangan hanya bagian yang membuatku membenci orang-orang di sekitarku."
Senyum Alistair perlahan menghilang.
Untuk sesaat, Aren melihat sesuatu di mata pria tua itu.
Bukan kemarahan.
Melainkan ketidaksenangan karena rencananya tidak berjalan semulus yang diharapkan.
"Kau mulai belajar," ujar Alistair.
"Aku belajar dari orang-orang yang berusaha membohongiku."
"Dan kau pikir keluargamu tidak pernah berbohong?"
Pertanyaan itu menghantam Aren lebih keras daripada yang ingin ia akui.
Alistair mendekatkan wajahnya ke kamera.
"Adrian menyembunyikan surat ayahmu selama tujuh belas tahun. Elena tidak pernah kembali untuk mencarimu sampai sekarang. Gabriel menyembunyikan apa yang dilihatnya pada malam Armand meninggal. Lima kakakmu bahkan tidak mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya sampai semuanya terlambat."
Aren menggigit bagian dalam pipinya.
"Setidaknya mereka tidak memaksaku memilih siapa yang harus kubenci."
Alistair terdiam.
Aren mengangkat foto di tangannya.
"Aku tidak tahu apakah ayahku orang baik. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tujuh belas tahun lalu. Tapi aku tahu satu hal."
"Apa itu?"
"Kalau kau benar-benar ingin aku mengetahui kebenaran, kau tidak perlu membuatku membenci semua orang yang kusayangi."
Aren meletakkan foto tersebut di atas meja.
"Jadi, aku tidak akan memercayaimu hanya karena kau memiliki bukti yang belum lengkap."
Alistair menatapnya cukup lama.
Kemudian, pria tua itu tertawa pelan.
"Kau benar-benar cucu Armand."
Layar mendadak berubah gelap.
Aren segera menoleh ke arah kamera di sudut ruangan. Lampu merah kecil yang sejak tadi berkedip kini padam.
Pintu besi di belakangnya terbuka.
Dua orang penjaga masuk.
"Ikut kami," kata salah satunya.
Aren tidak bergerak.
"Ke mana?"
"Ruang utama."
"Untuk apa?"
Penjaga itu saling berpandangan sebelum menjawab.
"Tuan Alistair ingin menunjukkan sesuatu kepadamu."
Aren melirik gelang serigala hitam di pergelangan tangannya.
Ia tidak tahu apa yang menunggunya di ruang utama. Namun, satu hal menjadi jelas: Alistair tidak akan berhenti sampai berhasil mendapatkan gelang tersebut.
Dan Aren tidak berniat menyerahkannya.
---
Di rumah tua Bukit Arvantis, suasana tidak kalah mencekam.
Adrian Valerius berdiri di dekat meja panjang dengan sebuah amplop berwarna cokelat tua di tangannya. Sudut amplop itu telah menguning dimakan waktu. Segelnya masih utuh, dengan lambang serigala yang hampir pudar.
Surat terakhir Armand Ravencroft.
Surat yang selama tujuh belas tahun disimpan Adrian tanpa pernah dibuka.
Elena berdiri di seberangnya. Wajah perempuan itu pucat, tetapi matanya menyala penuh kemarahan.
"Kau benar-benar tidak pernah membacanya?" tanyanya.
Adrian menggeleng.
"Aku berjanji kepada Armand."
"Jangan gunakan janji itu sebagai alasan untuk menyembunyikan sesuatu lagi!"
"Aku tidak menyembunyikan surat ini untuk menyakitimu."
"Tapi kau tetap menyembunyikannya dariku!" Elena membalas dengan suara bergetar. "Aku kehilangan suamiku, kehilangan anakku, dan menghabiskan bertahun-tahun dalam kurungan. Ketika akhirnya aku kembali, ternyata semua orang masih menyimpan rahasia."
Adrian menundukkan kepala.
"Aku tahu."
"Tidak. Kau tidak tahu." Elena menunjuk amplop itu. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya bertanya-tanya apakah anakmu masih hidup setiap malam. Kau tidak tahu bagaimana rasanya mendengar namanya disebut sebagai subjek dalam sebuah proyek yang mengerikan."
"Aku memang tidak tahu," jawab Adrian pelan. "Dan aku tidak akan berpura-pura tahu."
Jawaban itu membuat Elena terdiam sesaat.
Adrian mengangkat amplop tersebut.
"Armand menyerahkannya kepadaku sebelum malam penyerangan. Dia mengatakan bahwa surat ini hanya boleh dibuka ketika Aren sudah cukup dewasa untuk menentukan sendiri siapa yang akan dipercayainya."
"Dan menurutmu, sekarang adalah waktunya?"
"Menurutku, kita tidak punya pilihan lain."
Raka, yang sejak tadi berdiri di ujung meja, akhirnya angkat bicara.
"Kita punya masalah yang lebih besar daripada sekadar membuka surat."
Semua orang menoleh kepadanya.
Raka mengenakan kemeja hitam dengan lengan tergulung sampai siku. Wajahnya tampak dingin seperti biasa, tetapi rahangnya mengeras. Di hadapannya terbentang peta fasilitas bawah tanah Proyek Serigala Hitam, lengkap dengan jalur masuk, lorong servis, serta beberapa titik yang belum berhasil diidentifikasi Kian.
"Aren masih berada di tangan Alistair," lanjut Raka. "Kita tidak akan mendapatkan adik kita kembali hanya dengan mengetahui isi surat."
"Kalau surat itu memang yang dia inginkan, kita bisa menggunakannya sebagai alat tawar," ujar Darren.
Darren berdiri di sisi Raka sambil memeriksa beberapa dokumen yang berhasil dikumpulkan Kian. Sebagai orang yang terbiasa menangani negosiasi berisiko tinggi, ia memahami bahwa setiap informasi bisa menjadi senjata. Namun, ia juga tahu bahwa Alistair bukan lawan yang bisa diperlakukan seperti mitra bisnis biasa.
"Masalahnya, kita tidak tahu apakah dia akan menepati kesepakatan," kata Darren. "Dia bisa saja mengambil suratnya lalu tetap menahan Aren."
"Kalau begitu, kita tidak menyerahkan surat aslinya," sahut Kian.
Hacker keluarga itu duduk di depan tiga monitor portabel. Jari-jarinya bergerak cepat, menelusuri data yang baru saja ia dapatkan dari sistem keamanan fasilitas.
"Kita buat salinan digital, lalu kirimkan bagian yang diperlukan sebagai umpan. Sementara itu, kita gunakan waktu pertukaran untuk mencari lokasi Aren."
"Dan kalau dia meminta surat asli?" tanya Leon.
"Kita buat dia percaya bahwa kita akan memberikannya."
Riven mendengus dari dekat pintu.
"Kalian terlalu sibuk membicarakan surat, salinan, dan umpan. Aku hanya ingin tahu kapan kita masuk dan menghajar semua orang yang menyentuh Aren."
"Begitu kita masuk tanpa rencana, kita bisa membuat Aren berada dalam bahaya yang lebih besar," jawab Raka tajam.
"Aku tahu!"
"Kalau kau tahu, berhentilah bertindak seolah-olah kemarahanmu lebih penting daripada keselamatan adik kita."
Riven terdiam.
Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia tidak membantah karena Raka benar.
Sejak Aren menghilang, Riven terus memikirkan saat ketika ia hampir berhasil menangkap tangan adiknya di tengah kegelapan. Hanya selisih beberapa sentimeter. Hanya beberapa detik. Namun, kegagalan itu terus menghantuinya.
"Aku tidak akan membiarkan dia terluka lagi," gumam Riven.
Leon mendekatinya dan menepuk bahunya.
"Kita semua tidak akan membiarkannya."
Riven mengangkat wajah. Untuk sesaat, kemarahan di matanya terlihat bercampur dengan ketakutan yang berusaha ia sembunyikan.
"Kalau sesuatu terjadi padanya—"
"Jangan selesaikan kalimat itu," potong Leon lembut. "Aren masih hidup. Kita akan membawanya pulang."
Kalimat itu bukan jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, bagi Riven, kalimat itu cukup untuk membuatnya tetap berdiri.
---
Gabriel Soren yang sejak tadi diam akhirnya mendekati meja.
"Ada sesuatu yang harus kalian ketahui sebelum surat itu dibuka."
Viktor langsung menoleh kepada kakaknya.
"Kalau kau mengatakan bahwa ada rahasia lain yang belum kau ceritakan, Gabriel, aku bersumpah—"
"Aku tahu," potong Gabriel. "Aku tahu kalian sudah muak mendengar kata rahasia."
"Kalau begitu, berhentilah menyimpan rahasia!"
Gabriel menerima kemarahan itu tanpa membela diri.
Ia menatap surat di tangan Adrian.
"Pada malam Armand meninggal, aku melihatnya membawa sebuah kotak kecil. Kotak itu bukan bagian dari arsip Proyek Serigala Hitam. Dia mengatakan kepadaku bahwa jika sesuatu terjadi padanya, kotak tersebut harus ditemukan oleh Aren."
Adrian langsung mengangkat kepala.
"Kotak apa?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah melihat isinya."
"Kenapa kau baru mengatakan ini sekarang?" tanya Raka.
"Karena aku tidak yakin kotak itu masih ada."
Kian berhenti mengetik.
"Tunggu. Kotak kecil?"
Gabriel mengangguk.
"Kayu hitam, dengan lambang bulan sabit di bagian atasnya. Armand menyimpannya di ruang pribadi."
Elena tiba-tiba memucat.
"Lambang bulan sabit?"
Semua mata beralih kepadanya.
Perempuan itu perlahan meraih kalung yang tergantung di lehernya. Sebuah liontin berbentuk bulan sabit muncul dari balik kerah bajunya.
"Armand pernah memberiku lambang ini," katanya. "Dia mengatakan bahwa lambang tersebut akan membawaku kepada sesuatu yang harus kulindungi jika suatu hari kami terpisah."
Adrian memandang liontin itu dengan serius.
"Apakah kau pernah melihat kotak yang dimaksud Gabriel?"
Elena menggeleng perlahan.
"Tidak. Tetapi Armand pernah mengatakan bahwa ada seseorang yang menyimpan bagian kedua dari rahasia keluarga kami."
"Siapa?" tanya Darren.
Elena menutup liontinnya kembali.
"Aku tidak tahu. Saat itu aku mengira dia hanya membicarakan seseorang dari keluarga Ravencroft."
Gabriel menghela napas berat.
"Kalau begitu, mungkin kotak itu bukan sekadar peninggalan Armand. Mungkin ada sesuatu di dalamnya yang bisa membuktikan apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu."
Raka menatap Adrian.
"Apakah kau pernah melihat kotak seperti itu?"
Adrian terdiam cukup lama sebelum menjawab.
"Pernah."
Elena langsung mendekatinya.
"Kapan?"
"Tujuh belas tahun lalu. Setelah serangan terhadap keluarga Ravencroft, aku menemukan sebuah kotak kecil di ruang kerja Armand. Tetapi sebelum aku sempat membukanya, seseorang mengambilnya."
"Siapa?" tanya Viktor.
Adrian menatap Gabriel.
"Aku tidak pernah melihat wajahnya. Aku hanya melihat cincin perak berbentuk serigala di tangannya."
Gabriel mendadak pucat.
Viktor menyadari perubahan wajah kakaknya.
"Gabriel?"
Gabriel tidak segera menjawab.
Tatapannya tertuju pada amplop di tangan Adrian seolah-olah ia sedang melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada surat yang belum dibuka itu.
"Aku pernah melihat cincin itu," katanya akhirnya.
"Di mana?" desak Raka.
Gabriel menelan ludah.
"Di tangan orang yang berdiri di samping Armand pada malam dia meninggal."
Keheningan menyelimuti ruangan.
Elena mundur selangkah, seolah-olah lantai di bawah kakinya mendadak kehilangan kekuatan.
"Siapa orang itu?" tanyanya.
Gabriel memejamkan mata.
"Aku belum bisa memastikannya."
Viktor mencengkeram lengan kakaknya.
"Kau melihatnya sendiri! Kau mengatakan bahwa kau menyaksikan kematian Armand!"
"Aku melihatnya dari balik pintu yang setengah terbuka. Lampu di ruangan itu padam sesaat sebelum tembakan terdengar. Ketika lampu menyala kembali, Armand sudah tergeletak di lantai. Orang itu berdiri di sampingnya."
"Lalu kenapa kau tidak menolongnya?"
Pertanyaan Viktor terdengar seperti tuduhan, tetapi suaranya dipenuhi rasa sakit.
Gabriel menunduk.
"Karena saat itu aku sendiri sedang diburu. Aku mencoba masuk, tetapi seseorang menyerangku dari belakang. Ketika aku sadar, Armand sudah tidak ada di ruangan itu."
"Mayatnya tidak ada?" tanya Leon.
Gabriel menggeleng.
"Tidak. Aku tidak pernah melihat tubuhnya lagi."
Elena menutup mulutnya dengan tangan.
Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa Armand telah meninggal. Ia membangun hidupnya di atas kesedihan itu, berusaha menerima bahwa pria yang dicintainya tidak akan pernah kembali.
Kini, bahkan kematian Armand kembali menjadi pertanyaan.
Adrian meletakkan amplop di atas meja.
"Kita harus membuka surat ini."
Tidak ada seorang pun yang membantah.
---
Segel amplop itu akhirnya dipatahkan.
Adrian melakukannya dengan hati-hati, seolah-olah satu gerakan yang salah dapat menghancurkan satu-satunya peninggalan sahabat lamanya.
Di dalamnya terdapat dua lembar kertas.
Lembar pertama berisi tulisan tangan Armand, rapi tetapi sedikit miring. Lembar kedua lebih kecil, dilipat beberapa kali dan diselipkan di balik lembar pertama.
Adrian mengeluarkan keduanya.
Namun, sebelum ia sempat membaca kalimat pertama, sebuah suara terdengar dari salah satu monitor Kian.
Bip.
Satu pesan masuk.
Kian segera membuka jendela pesan itu. Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri berubah tegang ketika ia melihat gambar yang dikirimkan.
Foto Aren.
Adik mereka duduk di sebuah kursi di ruang berdinding beton. Wajahnya pucat, tetapi ia masih sadar. Gelang serigala hitam tampak jelas di pergelangan tangannya.
Di bawah foto itu terdapat pesan singkat.
KIRIM SURAT ASLI DALAM WAKTU TIGA PULUH MENIT. JANGAN MEMBUAT SALINAN. JANGAN MEMBAWA POLISI. JIKA KALIAN MELANGGAR, AREN AKAN MENGETAHUI SIAPA YANG MEMBUNUH AYAHNYA.
Riven menghantam meja dengan telapak tangan.
"Brengsek!"
Leon segera memeriksa foto itu lebih dekat.
"Aren tidak terlihat terluka secara serius. Tapi kita tidak tahu apakah ada luka yang tidak terlihat."
"Dia sengaja menggunakan Aren untuk memaksa kita menyerahkan surat," kata Darren. "Artinya, surat itu benar-benar penting."
Raka menatap pesan tersebut dengan dingin.
"Atau dia ingin kita percaya bahwa surat itu penting karena dia sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar."
Kian memperbesar gambar dan memeriksa latar belakangnya.
"Ada pantulan cahaya di dinding sebelah kiri. Sepertinya ruang itu berada di dekat panel kaca atau pintu observasi. Aku akan mencoba mencocokkan pola dindingnya dengan denah fasilitas."
"Berapa lama?" tanya Raka.
"Kalau sistemnya masih terhubung ke jaringan utama, sepuluh menit. Kalau tidak, aku harus mencari jalur lain."
"Kau punya delapan menit."
Kian tidak membantah.
Elena menatap foto Aren dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Dia pasti ketakutan."
"Dia juga keras kepala," ujar Leon. "Kalau dia masih bisa berpikir jernih, dia akan mencari cara untuk bertahan."
"Dia tidak seharusnya menghadapi semua ini sendirian," bisik Elena.
Riven mendekati layar dan menatap wajah Aren.
"Dengar, bocah kecil. Kau boleh marah kepada kami nanti. Kau boleh memukulku kalau kau mau. Tapi kau harus pulang dulu."
Suaranya serak.
"Kakak akan menjemputmu."
---
Adrian akhirnya membuka lembar pertama surat itu.
Ia membaca beberapa baris, kemudian wajahnya berubah.
Raka segera menyadarinya.
"Apa isinya?"
Adrian tidak menjawab.
Ia membaca ulang kalimat tersebut, seolah-olah berharap kata-kata di atas kertas akan berubah jika ia menatapnya lebih lama.
"Adrian," desak Elena. "Apa yang ditulis Armand?"
Adrian perlahan mengangkat wajah.
"Surat ini bukan hanya untukku."
Ia memandang Aren dalam foto yang masih terpampang di monitor.
"Surat ini ditujukan kepada Aren."
Darren mengerutkan kening.
"Tapi Aren bahkan masih bayi ketika surat ini ditulis."
"Armand tahu bahwa suatu hari Aren akan membacanya."
Adrian kembali menatap tulisan tangan sahabat lamanya, lalu mulai membacakan isinya.
"'Untuk anakku, Aren Ravencroft.
Jika surat ini sampai kepadamu, berarti ada seseorang yang berhasil membuatmu meragukan cinta ayahmu. Mungkin mereka mengatakan bahwa aku meninggalkanmu. Mungkin mereka mengatakan bahwa aku ingin membunuhmu. Dan mungkin mereka akan menunjukkan bukti yang tampak begitu meyakinkan hingga kau merasa tidak memiliki alasan untuk mempercayai siapa pun.'"
Elena menangis tanpa suara.
Adrian melanjutkan.
"'Jika itu terjadi, jangan langsung membenci mereka. Tetapi jangan pula memercayai siapa pun hanya karena mereka mengaku menyayangimu. Carilah kebenaran, sekalipun kebenaran itu akan menghancurkan semua yang selama ini kau yakini.'"
Raka menatap surat tersebut dengan rahang mengeras.
Armand seolah-olah telah mengetahui bahwa putranya akan tumbuh di tengah kebohongan.
"'Ada satu hal yang harus kau ketahui, anakku. Pada malam keluargaku dihancurkan, aku tidak sedang berusaha membunuhmu. Aku sedang berusaha memastikan bahwa mereka tidak pernah bisa menggunakanmu untuk menghidupkan kembali Proyek Serigala Hitam.'"
Adrian berhenti sejenak.
Kemudian ia membaca kalimat berikutnya dengan suara lebih pelan.
"'Namun, aku terlambat menyadari bahwa orang yang paling kupercaya telah mengetahui rencanaku.'"
Darren mencondongkan tubuh.
"Siapa orang itu?"
Adrian menggeleng.
"Namanya tidak disebutkan di bagian ini."
Ia melanjutkan membaca.
"'Aku tidak bisa menuliskan namanya di surat ini karena surat ini mungkin jatuh ke tangan orang yang salah. Karena itu, aku meninggalkan petunjuk pada bagian kedua. Jika kau telah menemukan gelang serigala dan liontin bulan milik ibumu, satukan keduanya. Di tempat kedua lambang itu bertemu, kau akan menemukan nama orang yang mengkhianati kami.'"
Elena segera meraih liontin di lehernya.
"Armand mengatakan hal yang sama kepadaku," bisiknya. "Dia pernah berkata bahwa gelang dan liontin itu dibuat berpasangan."
Kian menoleh tajam.
"Kalau begitu, kita harus memeriksa bagian kedua."
Adrian membalik lembar pertama.
Di bagian bawah, terdapat satu kalimat terakhir.
"'Tetapi sebelum kau mencari namanya, ingatlah ini: orang yang mengkhianatiku tidak selalu membenciku. Ada kemungkinan dia melakukannya karena percaya bahwa tindakannya akan menyelamatkanmu.'"
Tidak ada yang berbicara.
Kalimat itu membuat mereka semua menyadari sesuatu yang mengerikan.
Pengkhianatan tidak selalu lahir dari kebencian.
Terkadang, seseorang bisa melakukan hal yang paling kejam sambil meyakini bahwa dirinya sedang melakukan hal yang benar.
Adrian mengangkat lembar kedua.
Di sana hanya ada gambar sederhana: sebuah lingkaran, lambang serigala, dan bulan sabit yang saling bertautan. Di tengahnya terdapat sederet huruf dan angka.
M.S. — R-17 — PENGAWAL TERAKHIR.
Gabriel langsung berdiri.
Wajahnya kehilangan seluruh warna.
Viktor memandangnya dengan kebingungan.
"Apa arti inisial itu?"
Gabriel tidak menjawab.
Ia hanya menatap dua huruf tersebut, lalu mengucapkan sebuah nama dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
"Mara."
Elena membeku.
"Mara Soren?"
Gabriel mengangguk pelan.
"Tidak mungkin," ujar Viktor. "Mara sudah meninggal tujuh belas tahun lalu."
"Begitulah yang selama ini kita percaya."
Gabriel meraih tepi meja untuk menopang tubuhnya.
"Namun, pada malam Armand meninggal, aku melihat seorang perempuan berdiri di lorong yang sama. Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Tapi dia mengenakan liontin bulan sabit yang sama."
Elena menatap gambar di surat itu.
"Jadi, Mara mungkin masih hidup?"
"Aku tidak tahu," jawab Gabriel. "Tetapi jika Armand menuliskan inisialnya di sini, berarti dia mengetahui sesuatu tentang Mara yang tidak pernah kita ketahui."
Raka segera mengambil keputusan.
"Kian, cari lokasi Aren. Darren, siapkan pertukaran palsu dengan salinan surat. Leon, kau ikut denganku ke fasilitas. Riven, kau tetap dekat dengan Elena dan Gabriel sampai kita memiliki jalur masuk yang aman."
"Aku ikut menjemput Aren," potong Riven.
"Kau ikut setelah Kian menemukan jalurnya. Kita tidak akan masuk tanpa mengetahui posisi adik kita."
Riven tampak ingin membantah, tetapi akhirnya mengangguk.
Raka menoleh kepada Adrian.
"Kau membawa surat asli."
Adrian memandang kedua lembar itu.
"Kalau surat ini satu-satunya cara untuk membawa Aren pulang, aku akan menyerahkannya."
Elena mencengkeram lengannya.
"Jangan serahkan sesuatu yang bisa menghancurkan kita semua tanpa rencana."
"Aku tidak akan membiarkan Aren membayar harga dari rahasia yang kami sembunyikan."
"Kalau begitu, jangan bertindak sendirian lagi," kata Elena tegas. "Armand sudah kehilangan nyawanya karena orang-orang yang memilih bergerak sendiri. Kita tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Adrian menatapnya, kemudian mengangguk.
"Kau benar."
Untuk pertama kalinya sejak Elena kembali, mereka berdiri di sisi yang sama tanpa saling menuduh.
Namun, waktu terus berjalan.
Dua puluh menit tersisa.
---
Di fasilitas bawah tanah, Aren dibawa menuju ruang observasi.
Kedua penjaga berdiri di sisi pintu ketika Alistair muncul dari lorong seberang. Pria tua itu membawa sebuah benda kecil yang dibungkus kain hitam.
"Aku melihat kau mulai memahami siapa ayahmu sebenarnya," katanya.
Aren menatapnya tanpa menjawab.
"Aku juga melihatmu membaca surat itu."
Jantung Aren berdegup lebih cepat.
"Bagaimana kau tahu?"
Alistair membuka kain hitam tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah liontin berbentuk bulan sabit.
Aren mengenali bentuknya dari foto-foto yang pernah diperlihatkan Adrian kepadanya.
"Itu milik ibuku."
"Benar."
Alistair memegang liontin itu di antara dua jarinya.
"Dan ibumu bukan satu-satunya orang yang menyimpan rahasia tentang malam ayahmu meninggal."
Aren melangkah maju.
"Apa yang kau inginkan?"
"Berikan gelangmu kepadaku, lalu aku akan membiarkanmu membaca seluruh rekaman malam itu."
"Tidak."
Senyum Alistair menghilang.
"Kau bahkan belum tahu apa yang akan kau lihat."
"Karena itu aku ingin melihatnya. Bukan menukarnya dengan sesuatu yang kau inginkan."
Alistair menatap Aren cukup lama.
Kemudian, ia mengangguk kepada salah satu penjaga.
Pria itu mendekati panel di dinding. Sebuah layar besar menyala, menampilkan rekaman lama dengan tanggal tujuh belas tahun sebelumnya.
Aren melihat sebuah ruangan yang tampak seperti ruang kerja. Seorang pria berdiri membelakanginya. Tubuhnya tegap, rambutnya hitam, dan di pergelangan tangannya terdapat gelang yang sama seperti milik Aren.
Armand Ravencroft.
Aren menahan napas.
Untuk pertama kalinya, ia melihat ayah kandungnya bergerak, berbicara, dan bernapas dalam sebuah rekaman.
Di seberang Armand berdiri Adrian yang jauh lebih muda.
"Kau berjanji akan melindungi Elena dan anakku!" teriak Armand.
"Aku sedang berusaha!" balas Adrian.
"Kalau begitu, hentikan mereka!"
"Aku tidak bisa menghentikan sesuatu yang bahkan tidak kuketahui seluruh rencananya!"
Rekaman bergetar. Suara tembakan terdengar dari luar ruangan.
Armand segera berbalik.
Sebelum gambar terputus, Aren melihat seseorang memasuki ruangan melalui pintu belakang.
Orang itu mengenakan sarung tangan hitam.
Di salah satu jarinya, berkilau cincin perak berbentuk serigala.
Aren mendekat ke layar.
"Tunggu!"
Rekaman berhenti.
"Putar lagi!" perintah Aren.
Alistair tidak bergerak.
"Siapa orang itu?" desak Aren. "Putar kembali!"
"Kau akan mengetahuinya setelah menyerahkan gelangmu."
Aren menoleh kepadanya.
"Kau memotong bagian penting dari rekaman itu."
"Aku memberimu kesempatan untuk melihat kebenaran."
"Tidak. Kau memberiku potongan cerita yang membuatku semakin bingung."
Alistair mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah darinya.
"Kalau begitu, bersiaplah untuk kebingungan yang lebih besar."
Ia mengangkat liontin bulan sabit.
"Karena orang yang memakai cincin itu bukan orang asing bagi keluargamu."
Aren merasakan darahnya seolah-olah berhenti mengalir.
Alistair menatap gelang hitam di pergelangan tangannya.
"Dan jika aku tidak salah, orang itu masih hidup."
Sebelum Aren sempat bertanya lebih jauh, seluruh lampu ruang observasi berubah merah.
Sebuah alarm berbunyi keras.
Penjaga di dekat pintu langsung memeriksa alat komunikasinya.
"Tuan Alistair! Ada penyusupan di sektor timur!"
Alistair mengumpat pelan.
"Berapa orang?"
"Kami belum mengetahui jumlahnya. Sistem pengawasan di tiga lorong telah mati."
Aren menahan napas.
Raka.
Darren.
Leon.
Kian.
Riven.
Mereka datang.
Namun, Alistair tidak terlihat panik. Ia justru menoleh kepada Aren dan tersenyum tipis.
"Sepertinya kakak-kakakmu sangat merindukanmu."
Aren tidak menjawab.
"Sayang sekali," lanjut Alistair, "mereka datang tepat ketika aku hendak menunjukkan siapa sebenarnya orang yang membunuh ayahmu."
Ia menekan sebuah tombol pada panel.
Di layar, rekaman berubah menjadi gambar diam. Wajah orang bercincin serigala itu masih tersembunyi di balik bayangan, tetapi di belakangnya tampak sebuah lambang yang sangat dikenali Aren.
Lambang keluarga Valerius.
Alistair berbisik tepat di dekat telinga Aren.
"Bagaimana jika orang yang membunuh ayahmu adalah seseorang yang selama ini kau panggil keluarga?"
Pintu ruang observasi mendadak bergetar akibat benturan dari luar.
Terdengar suara tembakan.
Para penjaga segera mengangkat senjata.
Aren memanfaatkan kekacauan itu untuk mundur dari Alistair. Ia tidak tahu siapa yang berada di balik pintu, tetapi ia tahu bahwa ia tidak boleh menyerahkan gelangnya.
Bukan kepada Alistair.
Bukan kepada siapa pun.
Karena sebelum ia mengetahui kebenaran tentang ayahnya, ia harus bertahan hidup.
Pintu besi akhirnya terbuka.
Asap memenuhi lorong.
Di antara bayangan yang bergerak, terdengar suara yang sangat dikenalnya.
"AREN!"
Suara Raka.
Aren menoleh.
Namun, sebelum ia sempat menjawab, sebuah tangan muncul dari balik asap dan menariknya ke sisi lain ruangan.
Aren terkejut, berusaha melepaskan diri.
Lalu ia melihat cincin perak berbentuk serigala di tangan orang itu.
Cincin yang sama dengan yang terlihat dalam rekaman.
Orang itu menunduk dan berbisik tepat di telinganya.
"Jangan percaya Alistair. Jangan percaya Adrian. Dan untuk apa pun yang terjadi, jangan biarkan kakak-kakakmu membaca bagian terakhir surat ayahmu."
Aren membeku.
"Siapa kau?"
Orang itu akhirnya mengangkat wajah.
Sebuah bekas luka melintang di dekat alisnya.
Wajahnya sangat mirip dengan Elena Ravencroft.
Perempuan itu tersenyum getir.
"Namaku Mara Soren."
Aren belum sempat mencerna jawabannya ketika Mara menyelipkan selembar kertas kecil ke tangannya.
"Jika kau ingin tahu siapa yang membunuh ayahmu, bacalah ini. Tetapi ingat, Aren—"
Suara langkah kaki terdengar semakin dekat.
Mara menoleh ke arah pintu, lalu kembali menatap Aren dengan mata yang dipenuhi ketakutan.
"—orang yang paling ingin menyelamatkanmu mungkin adalah orang yang paling berbahaya bagimu."
Tembakan kembali terdengar.
Lampu padam.
Dan ketika cahaya darurat menyala beberapa detik kemudian, Mara Soren telah menghilang.
Di tangan Aren, kertas kecil itu masih tergenggam erat.
Hanya ada satu kalimat di atasnya.
PEMBUNUH ARMAND RAVENCROFT ADALAH ORANG YANG MENYIMPAN SURAT KEDUA.
Aren mengangkat wajah tepat ketika Raka menerobos masuk ke ruangan.
"Kau tidak apa-apa?!"
Raka langsung menariknya ke dalam pelukan, memeriksa wajah dan tubuh adiknya dengan panik yang berusaha ia sembunyikan.
Di belakang Raka, Leon dan Riven menyusul. Riven langsung memeluk Aren begitu kuat hingga Aren hampir kehilangan napas.
"Jangan pernah melakukan ini lagi!" bentak Riven, suaranya pecah. "Jangan pernah menghilang dari kami!"
"Aku tidak sengaja menghilang," jawab Aren lemah.
"Pokoknya jangan!"
Leon segera memeriksa kondisi Aren, sementara Raka menatap Alistair yang kini berdiri di dekat panel dengan ekspresi dingin.
"Permainanmu selesai," kata Raka.
Alistair tersenyum.
"Belum, cucuku."
Ia menatap Aren, lalu melirik tangan adik mereka yang menggenggam kertas kecil.
"Justru sekarang permainan yang sebenarnya baru dimulai."
Aren perlahan menyembunyikan kertas itu di dalam saku.
Ia telah kembali ke pelukan kakak-kakaknya.
Namun, untuk pertama kalinya, Aren menyadari bahwa bahaya terbesar mungkin tidak terletak pada orang-orang yang berusaha menculiknya.
Bahaya itu bisa saja berada di antara orang-orang yang akan melakukan apa pun demi melindunginya.
Termasuk berbohong.
Termasuk berkhianat.
Bahkan mungkin membunuh.
Dan di suatu tempat di dalam fasilitas bawah tanah itu, surat kedua Armand Ravencroft masih menunggu untuk ditemukan.