Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 016 - Uji Racun Cangkir Giok
Uap tipis berwarna kehitaman membubung lambat dari permukaan cangkir giok di lantai, membawa aroma karat tembaga yang tajam dan menusuk dinding rongga hidung Gu Yuan. Di balik lempengan batu giok hijau tersebut, cairan merah kental itu tampak seperti darah binatang buas purba yang mulai membusuk oleh endapan bisa rawa.
Tangan kiri Gu Yuan di dalam saku jubahnya seketika tersengat hawa panas yang luar biasa pekat. Rasa panas logam cermin perunggu itu bergetar liar tanpa henti, mengirimkan gelombang sengatan peringatan maut yang merambat ke seluruh urat lengannya hingga ke pangkal bahu.
Niat membunuh dari sosok di atas singgasana kayu cendana merah itu begitu nyata, padat, dan mengunci seluruh ruang gerak di dalam aula balai obat. Setiap sudut ruangan terasa seperti ditindih oleh telapak tangan raksasa yang tak kasatmata.
Dunia membeku; garis batas ruang retak menjadi pola perunggu abu-abu.
Suara letupan gelembung racun di dalam cangkir giok berhenti seketika di udara. Sorot mata kuning keruh Tetua Mo Cheng yang menatapnya tajam membeku kaku di atas mimbar kayu. Lanskap aula yang temaram seketika memudar menjadi warna abu-abu perunggu yang hampa dan sunyi, menarik kesadaran Gu Yuan masuk ke dalam simulasi pilihan maut.
...****************...
Di dalam dunia cermin, Gu Yuan menolak menyentuh cangkir tersebut. Ia mundur selangkah, tangannya bergerak secepat kilat mencabut pedang baja berkarat di sabuknya untuk melancarkan tusukan nekat ke arah tenggorokan Mo Cheng sebelum racun itu dipaksakan ke mulutnya.
Namun, perbedaan ranah kultivasi antara Pemurnian Raga lapis ketiga dengan tahap tengah Fondasi Sejati adalah jurang pemisah yang mustahil diseberangi oleh sekadar keberanian dan kenekatan fana.
Bahkan sebelum ujung bilah pedang Gu Yuan terangkat setinggi dada, Mo Cheng yang duduk bersila hanya mengibaskan lengan jubah sutra merah marunnya secara santai tanpa mengubah posisi duduknya.
Sebuah gelombang Qi merah darah yang padat seperti benteng baja melesat menghantam rongga dada Gu Yuan dengan kekuatan ribuan kati. Pedang bajanya patah berkeping-keping menjadi serpihan tumpul di udara, tulang-tulang iganya remuk berkeping-keping ke dalam paru-paru, dan tengkoraknya hancur menghantam tiang pilar batu marmer di belakangnya dalam hitungan dua denyut jantung. Kematian seketika tanpa ada peluang sedikit pun untuk bertahan hidup.
Menolak meminum racun berarti mati di tempat dalam dua hitungan napas.
Namun, meminum seluruh isi cangkir giok itu juga merupakan tindakan bunuh diri; cairan tersebut adalah Darah Korosi Tulang murni yang diramu khusus untuk melumpuhkan seluruh seratus delapan meridian mikro manusia dalam waktu sepuluh tarikan napas agar korban pasrah menjadi bejana darah tak berdaya di atas altar.
Satu-satunya celah hidup yang tersisa adalah menelan setetes kecil racun tersebut untuk memicu reaksi fisik alami yang bisa dilihat langsung oleh mata sang tetua, sementara sebagian besar cairan beracun disembunyikan di bawah lipatan lidah sebelum dibuang secara diam-diam.
...****************...
Udara kembali berhembus, tetesan keringat dingin jatuh ke tanah tepat di detik yang sama.
Gu Yuan menahan sentakan hebat di dadanya. Pilihan yang ada di hadapannya bukanlah antara hidup dan mati, melainkan antara mati seketika dihantam kibasan lengan Fondasi Sejati atau menelan racun yang membakar kerongkongan demi membeli waktu satu jam ke depan.
Tanpa ragu satu detik pun, Gu Yuan menjatuhkan lututnya ke lantai marmer yang dingin, lalu mengulurkan kedua tangannya memungut cangkir giok tersebut dengan gerakan yang tampak gemetar patuh.
“Hamba tunduk pada perintah Tetua,” kata Gu Yuan dengan suara parau yang tertahan dari balik bayangan tepi topi jeraminya.
Ia mengangkat cangkir giok itu ke dekat bibirnya. Bau tembaga karat yang menyengat langsung membakar rongga mulutnya bahkan sebelum cairan itu menyentuh permukaan bibir. Menggunakan teknik penahanan napas dasar para penyelam tambang bawah air yang pernah ia pelajari dari ayah angkatnya di masa lalu, Gu Yuan melipat ujung lidahnya ke atas langit-langit mulut, menciptakan rongga kantung udara kecil di bawah pangkal lidahnya.
Ia memiringkan cangkir giok tersebut, membiarkan cairan merah kental itu mengalir masuk ke rongga mulutnya.
Sebagian besar cairan beracun yang dingin dan lengket berhasil ia tampung di bawah lipatan lidahnya yang terkatup rapat. Namun, untuk meyakinkan seorang kultivator Fondasi Sejati yang memiliki indra persepsi tajam, Gu Yuan sengaja melepaskan setetes kecil cairan tersebut menuruni pangkal kerongkongannya.
Sssss!
Hanya setetes kecil, namun efek destruktif racun Korosi Tulang itu luar biasa mengerikan.
Rasa panas menyengat yang setara dengan tetesan timah cair mendidih seketika membakar dinding kerongkongan Gu Yuan. Rasa perih yang amat sangat menjalar cepat ke saluran pernapasannya, disusul kejang otot yang hebat di rongga dada sebelah kiri. Meridian di lehernya serasa dicengkeram dan diremas oleh kawat berduri yang membara, memaksanya tercekik kehabisan udara dalam hitungan detik.
Prang!
Cangkir giok yang kini tinggal menyisakan genangan cairan kosong terlepas dari tangannya yang gemetar hebat, jatuh membentur lantai marmer hingga berputar di lantai.
Gu Yuan jatuh tersungkur dengan kedua telapak tangan menopang lantai marmer putih, tubuhnya mengejang hebat sambil terbatuk-batuk keras dengan napas yang terputus-putus. Bersamaan dengan batuknya yang hebat, ia dengan cepat menyapukan lengan baju jubah abu-abunya yang tebal ke depan mulut, melepehkan sisa cairan beracun yang tertahan di bawah lidahnya ke lipatan kain lengan baju bagian dalam tanpa menimbulkan kecurigaan.
Keringat dingin sebesar butiran jagung mengucur deras membasahi dahinya, menetes membasahi marmer putih di bawah wajahnya. Matanya memerah dan berair menahan rasa sakit yang membakar saluran pernapasan, urat-urat lehernya menonjol kebiruan.
Melihat reaksi tubuh yang kejang, batuk parau yang tertahan, dan tetesan keringat dingin dari sosok pengawas di depannya, senyum tipis yang dingin perlahan terukir di sudut bibir Tetua Mo Cheng.
Bagi Mo Cheng, reaksi kejang meridian dan ketidakberdayaan fisik tersebut adalah bukti tak terbantahkan bahwa racun Korosi Tulang di dalam cangkir giok bekerja dengan sempurna melumpuhkan kekuatan raga mangsanya. Pengawas di depannya kini telah sepenuhnya berada di bawah kendali racun, tidak akan memiliki kemampuan sedikit pun untuk mengkhianatinya atau membocorkan rahasia ritual malam ini.
Mo Cheng perlahan menurunkan tangannya kembali ke atas lutut, matanya yang kuning keruh menatap Gu Yuan yang masih terkapar batuk di lantai dengan tatapan puas seorang pemangsa yang telah mengunci mangsanya rapat-rapat.