NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 - Sahabat Mulai Curiga

Kesepakatan di balik dinding itu berhasil. Untuk dua hari.

Hari ketiga, Dina sudah mulai curiga.

Ceritanya waktu itu lagi muhadharah mingguan. Acara pidato santri putri, semua santri putri wajib dengerin di aula. Muthi'ah kebagian jadi notulen, duduk di depan dekat panggung sama Zahra dan Salsa.

Pembawa acaranya menyebut, "Selanjutnya, materi akan disampaikan oleh Gus Jay tentang pentingnya adab menuntut ilmu."

Nama itu doang.

"Gus Jay".

Muthi'ah yang lagi nulis, pulpennya langsung selip. Tulisannya yang biasanya rapi, tiba-tiba menceng ke mana-mana. Lehernya yang biasanya anteng, langsung merah.

Dina yang duduk di sampingnya langsung melirik.

"Muth, kamu kenapa?" bisik Dina.

Muthi'ah gelagapan, "Hah? Nggak, nggak kenapa-kenapa. Pulpennya macet."

Dina tidak percaya. Dia kan sahabat dari tsanawiyah, hafal banget gerak-gerik Muthi'ah. Kalau Muthi'ah bohong, ujung jilbabnya ditarik-tarik.

Dan sekarang ujung jilbabnya lagi ditarik kencang.

Waktu Jay naik ke panggung, semua santri putri duduk tegak. Jay pakai koko hitam, pecinya miring dikit. Ngomongnya masih tegas, to the point, tidak banyak basa-basi.

Tapi Dina tidak memperhatikan materi. Dia memperhatikan Muthi'ah.

Setiap Jay bilang kata "adab", Muthi'ah menunduk. Setiap Jay jeda, Muthi'ah pura-pura menulis padahal bukunya kosong. Pas Jay selesai dan bilang "Syukron", napas Muthi'ah kedengaran lega sekali.

Selesai muhadharah, Dina langsung menyeret Muthi'ah ke belakang aula.

"Muthi'ah Azzahra, jujur. Ada apa? Jangan bohong, aku tahu kamu ada yang disembunyiin," kata Dina, tangannya di pinggang seperti polisi.

Muthi'ah panik, "Apaan sih, Din. Nggak ada apa-apa."

"Bohong! Tadi pas nama Gus Jay disebut, kamu salting! Pulpenmu menceng! Aku lihat! Terus kemarin kamu ngilang ke belakang perpustakaan sama Zahra, katanya ngobrol di balik dinding? Ngobrol sama siapa? Hantu?" Dina nyerocos.

Zahra yang baru datang langsung pasang badan, "Din, sudah. Jangan dipaksa."

"Justru harus dipaksa! Aku sahabatnya! Kalau ada apa-apa aku harus tahu! Jangan-jangan..." Dina melotot ke Muthi'ah, "Jangan-jangan kamu ada masalah sama Gus Jay?!"

Muthi'ah hampir jatuh.

"Nggak! Nggak! Demi Allah nggak! Jangan ngaco!" jawabnya kencang, mukanya merah padam.

Salsa yang tiba-tiba nongol dari belakang bawa gorengan, ikut nimbrung, "Masalah? Masalah apa? Muthi'ah sama Gus Jay? Wah, berita gede ini!"

"Sst! Salsa! Kecilin suaranya!" Zahra panik.

Muthi'ah sudah mau nangis. "Bukan masalah! Kita cuma... cuma lagi ada urusan. Urusan keluarga. Sudah, ya? Jangan tanya lagi."

Dina, Zahra, Salsa saling lihat. Mereka tahu Muthi'ah kalau sudah bilang "sudah ya" dengan nada seperti itu, berarti benar-benar tidak mau dibahas.

Di sisi lain, di asrama putra, nasib Jay juga tidak jauh beda.

Sejak kesepakatan itu, Jay jadi rajin. Rajin yang aneh.

Biasanya kalau ada kegiatan pramuka gabungan, dia menyuruh Jungwon atau Heeseung yang mewakili. Sekarang dia datang sendiri. Alasannya jadi pembina upacara gabungan. Padahal dia berdiri di lapangan putra, melihat lapangan putri dari kejauhan pakai pengeras suara.

Sahabat-sahabatnya langsung berkumpul di belakang.

Sunoo yang paling jago baca suasana langsung berbisik ke Jake, "Tuh kan, gue bilang apa. Semenjak balik dari perpustakaan kemarin, dia jadi rajin upacara gabungan."

Jake mengangguk sambil mengunyah permen, "Iya. Biasanya disuruh jadi pembina malesnya minta ampun. Sekarang malah nawarin diri."

Sunghoon yang kalem, cuma bicara satu kalimat, "Mencurigakan."

Ni-ki yang usil langsung teriak dari belakang, "Gus Jay! Semangat, Gus! Yang di barisan depan dibina yang benar, Gus!"

Jay kaget, mic-nya hampir jatuh. "Ni-ki! Diam!"

Semua santri putra ngakak.

Habis upacara, Jay dikerubuti.

"Jay, jujur. Ada apa? Tumben banget lu betah di lapangan panas-panas gini," tanya Jungwon.

Jay pura-pura membetulkan peci, "Apaan sih. Kan tugas. Abi menyuruh biar lebih dekat sama santri."

"Alah, dekat sama santri atau dekat sama Muthi'ah?" Sunoo nyeletuk, senyumnya lebar.

Jay langsung melotot, "Sunoo!"

Heeseung akhirnya menolong, "Sudah, sudah, jangan digodain terus. Jay itu lagi ada urusan keluarga. Privasi. Jangan kepo."

Tapi justru kata "urusan keluarga" itu yang bikin mereka makin kepo.

Malamnya, di kamar putri, Dina masih belum menyerah. Dia mengajak rapat darurat bertiga tanpa Muthi'ah.

"Oke, fix. Muthi'ah ada yang disembunyiin dan itu ada hubungannya sama Gus Jay," kata Dina, gaya seperti detektif.

Salsa mengangguk, "Gue juga ngerasa. Soalnya Muthi'ah biasanya kalau ditanya apa-apa jawabnya jujur. Lah ini ditanya soal Gus Jay jawabnya muter-muter."

Zahra yang paling bijak bicara pelan, "Kita jangan maksa dia cerita. Kalau dia belum siap, jangan dipaksa. Tapi kita jagain saja. Jangan sampai dia merasa sendirian."

Di kamar putra, rapat yang sama juga kejadian.

"Gue yakin Jay lagi dekatin Muthi'ah. Tapi dengan cara yang... Jay banget. Kaku," kata Jake.

"Tapi Muthi'ah anaknya baik, lho. Pintar. Cocok sih sama Jay yang serius," kata Jungwon.

Sunoo heboh, "Cocok! Makanya kita harus dukung! Jadi tim mata-mata!"

Sunghoon menambahkan, "Tapi jangan sampai bikin gosip. Kasihan Muthi'ah kalau jadi bahan omongan."

Ni-ki mengacung, "Siap! Tim mata-mata Gus Jay dan Muthi'ah resmi dibentuk!"

Heeseung hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan adik-adiknya.

Dua geng sahabat itu, tanpa janjian, tanpa tahu cerita aslinya, tiba-tiba jadi tim pengawas yang kocak. Yang satu ngawasin Muthi'ah biar nggak salah tingkah, yang satu ngawasin Jay biar nggak kelihatan kangen.

Dan Muthi'ah sama Jay? Mereka masih berusaha keras buat kelihatan biasa saja.

Padahal makin berusaha biasa, makin kelihatan tidak biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!