Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: First date
Malam itu, jarum jam sudah menunjuk angka sebelas, namun mata Fajar masih enggan terpejam. Pria itu berbaring telentang di atas kasurnya, menatap layar ponsel yang menyala terang dalam kegelapan kamar.
Ruang obrolannya dengan sang direktur utama masih terbuka. Pesan terakhir dari Kirana terus ia baca berulang-ulang, seolah mencari makna tersembunyi di balik deretan huruf tersebut.
Kirana: Besok… jangan terlalu dekat dengan Alya. Ajari seperlunya saja.
Fajar tertawa pelan, senyum lebar tercetak jelas di wajahnya. "Dia beneran cemburu," gumamnya tak percaya. Sisi dingin dan tegas yang selalu Kirana tunjukkan di kantor seolah runtuh hanya karena seorang karyawan baru.
Jari jempol Fajar melayang di atas keyboard virtual. Ia menghapus ketikannya, lalu mengetik ulang. Jantungnya berdebar kencang saat ia akhirnya membulatkan tekad dan menekan tombol kirim.
Fajar: Kalau di kantor gak leluasa… gimana kalau kita ketemu di luar aja besok?
Satu detik. Dua detik.
Status Kirana menunjukkan 'Online', tapi tidak ada balasan.
Satu menit berlalu.
Fajar mulai bangkit dari posisi baringnya, duduk bersila dengan napas tertahan.
Dua menit berlalu.
Keringat dingin mulai merembes di pelipis Fajar. Pikirannya meliar. "Mati gue… gue kecepetan, ya? Apa dia tersinggung? Apa besok gue bakal langsung dipecat gara-gara ngajak jalan direktur sendiri?"
Tiba-tiba, layar berkedip. Satu pesan masuk.
Kirana: Jam berapa?
Mata Fajar membelalak. Ia langsung melompat dari kasur, nyaris menabrak meja belajarnya sendiri. Tangannya mengepal di udara. "WOI, DITERIMA!" teriaknya tertahan, berusaha tidak membangunkan penghuni kos yang lain.
Keesokan harinya, kamar kos Fajar sudah berubah menjadi kapal pecah.
Sejak jam empat sore, Fajar sudah berdiri di depan cermin berukuran sedang di kamarnya. Ia memakai kemeja flanel, lalu menggeleng. Dilepas. Diganti dengan kaus hitam dan jaket denim. Ia menggeleng lagi. Dilepas. Diganti dengan kemeja navy berlengan pendek yang rapi.
Saat ia sedang sibuk menyisir rambutnya dengan pomade, pintu kamar mendadak terbuka tanpa ketukan.
Bayu melangkah masuk, lalu membeku di ambang pintu. Matanya memindai tumpukan baju di kasur dan penampilan temannya yang kelewat rapi.
"Lo mau kondangan ke mana sore-sore begini?" tembak Bayu curiga.
Fajar terperanjat, botol parfum di tangannya nyaris terlepas. "Anjir, Bay! Kebiasaan banget sih lo, ketuk pintu dulu kek!"
Bayu tidak peduli. Ia melipat kedua lengannya di dada, melangkah maju sambil mengendus udara. Matanya menyipit tajam. "Ngaku sama gue. Lo mau ketemu siapa? Wangi lo udah kayak toko minyak wangi. Temen macam apa yang lo temuin sampai harus pakai parfum tiga layer begini?"
Fajar menelan ludah, berusaha keras menyembunyikan kegugupannya. "Temen… temen lama."
"Temen lama, atau… ada hubungannya sama Bu Direktur?" desak Bayu, tepat sasaran seperti biasa.
Fajar langsung membeku. Wajahnya pias seketika, namun ia memaksakan sebuah tawa hambar. "Ngaco! Ya kali gue jalan sama bos besar. Lo kalau halu jangan ketinggian, Bay."
Bayu menatapnya lekat-lekat selama beberapa detik. "Gue peringatin, Jar. Kalau lo sampai berani main api di kantor, gue orang pertama yang bakal ngetawain lo pas sidang HRD nanti."
Di sisi lain kota, di dalam sebuah apartemen mewah yang didominasi warna monokrom, kepanikan yang sama sedang terjadi.
Kirana berdiri mematung di depan walk-in closet-nya yang sangat luas. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup seorang Kirana, ia tidak tahu harus memakai baju apa.
Deretan pakaian di lemarinya hanya berisi setelan blazer, kemeja sutra formal, celana bahan, dan rok pensil. Semuanya memancarkan aura intimidasi dan profesionalisme tingkat tinggi. Tidak ada baju yang terlihat "santai".
"Kalau pakai blazer ini… terlalu formal. Nanti dikira mau meeting saham," gumam Kirana, melempar sebuah jas mahal ke atas ranjang. "Kalau pakai dress hitam ini… terlalu berlebihan."
Setelah perdebatan batin yang melelahkan selama hampir satu jam, Kirana akhirnya memilih pakaian yang paling sederhana yang ia miliki: sebuah blus berwarna krem lembut berlengan panjang, dipadukan dengan celana kulot berwarna senada. Riasan wajahnya pun dibuat sangat tipis, jauh dari riasan tegas yang biasa ia pakai untuk menaklukkan dewan direksi.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin full-body. Jantungnya berdetak dalam ritme yang tidak wajar.
"Ini bukan rapat evaluasi bulanan, Kirana," bisiknya pada dirinya sendiri, menarik napas panjang untuk meredakan gemuruh di dadanya. "Ini… kencan."
Hanya dengan mengucapkan kata itu, semburat merah tipis langsung menjalar di kedua pipinya yang putih.
Fajar sudah duduk di sudut sebuah kafe berkonsep vintage yang agak jauh dari pusat perkantoran mereka. Jari-jarinya terus mengetuk meja kayu dengan gelisah. Ia melirik jam tangannya setiap sepuluh detik sekali.
Kepalanya penuh dengan gladi bersih percakapan. "Gue harus ngomong apa nanti? Bahas laporan keuangan? Jangan bego, ini bukan di kantor. Bahas cuaca? Terlalu klise."
Di tengah kecamuk pikirannya, lonceng pintu kafe bergemerincing.
Suara langkah kaki dengan heels rendah terdengar mendekat. Fajar menoleh perlahan, dan seketika itu juga, napasnya seolah tercekat di tenggorokan. Seluruh kata-kata yang sudah ia susun di kepalanya menguap tanpa sisa.
Kirana berdiri di sana. Bukan sebagai sosok direktur utama yang dingin dan menakutkan, bukan pula wanita dengan aura pembeku ruangan. Pakaian lembut yang membalut tubuhnya, ditambah rambutnya yang dibiarkan tergerai natural tanpa jepitan kaku, membuatnya terlihat seperti seseorang yang sama sekali berbeda. Ia terlihat begitu anggun, hangat, dan… sangat cantik.
"Maaf… aku membuatmu menunggu lama?" tanya Kirana pelan, suaranya sedikit ragu saat ia menarik kursi di hadapan Fajar.
Fajar masih mematung, matanya tak berkedip menatap wanita itu. Butuh waktu lima detik baginya untuk tersadar kembali ke dunia nyata.
"Eh—enggak. Sama sekali enggak lama," jawab Fajar cepat, kebohongan total meluncur mulus dari bibirnya padahal ia sudah duduk di sana selama empat puluh lima menit.
Keduanya kini duduk berhadapan. Suasana kafe yang diiringi musik jazz pelan justru membuat keheningan di antara mereka terasa semakin tebal dan canggung.
Fajar buru-buru meraih gelas air putihnya dan meminumnya perlahan untuk mengusir gugup, sementara Kirana sibuk merapikan posisi tas dan lipatan bajunya yang sebenarnya sudah sempurna.
"Eee… Bu—" Fajar membuka suara tanpa sadar.
Kirana langsung mengangkat wajah, menatap Fajar dengan peringatan yang tertahan di matanya.
Fajar tersentak panik, langsung meralat panggilannya. "Eh—Kirana! Maksudnya, Kirana."
Mendengar namanya disebut dengan benar, Kirana mengangguk pelan. Sudut bibirnya nyaris menyunggingkan senyum. "Bagus."
Hening kembali mengambil alih. Fajar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jadi…" Fajar memecah kesunyian lagi. "Ini… bener-bener pertama kalinya, ya?"
Kirana menunduk menatap cangkir kosong di depannya, lalu mengangguk pelan. "Iya. Ini pertama kalinya… aku pergi keluar dengan seseorang seperti ini."
Fajar tersenyum kecil, sebuah senyum lega yang hangat. "Gue juga, Kirana."
Entah sihir apa yang bekerja, pengakuan kecil itu seolah memecah dinding es di antara mereka. Setelah pesanan minuman dan makanan ringan mereka tiba, percakapan mulai mengalir jauh lebih cair.
"Gue penasaran," Fajar menopang dagu, menatap Kirana dengan ketertarikan penuh. "Waktu kecil, kehidupan seorang Kirana itu kayak gimana sih? Pasti main bonekanya pakai kalkulator, ya?"
Kirana tertawa kecil, suara yang sangat jarang didengar oleh siapa pun di kantor. "Tidak ada boneka. Waktu kecilku dihabiskan untuk belajar."
"Belajar doang?" Fajar mengernyitkan dahi.
"Belajar dan dilatih," koreksi Kirana. "Sekolah asrama yang ketat, les bahasa asing, kelas piano, simulasi bisnis sejak remaja. Orang tuaku selalu menuntut kesempurnaan. Tidak ada waktu untuk sekadar… bermain di taman atau pergi ke bioskop."
Fajar terdiam mendengar itu. Ia menatap lekat mata Kirana yang menyimpan sedikit kekosongan di balik ketegasannya. "Pantesan…" gumam Fajar.
"Kenapa?"
"Pantesan lo sekarang kelihatan kayak orang yang baru aja kenal dunia," jawab Fajar jujur, suaranya melembut.
Kirana terdiam cukup lama. Jari-jarinya bertaut erat di atas meja. Ia menunduk, menyembunyikan keraguan di matanya. "Apakah itu… sesuatu yang buruk? Terlihat seperti orang yang tidak tahu cara bersenang-senang?"
Fajar langsung menggeleng tegas. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memastikan Kirana menatap matanya. "Enggak sama sekali. Malah sebaliknya." Fajar tersenyum hangat. "Berarti… masih banyak banget hal-hal sederhana dan menyenangkan di dunia ini yang bisa lo rasain sekarang. Dan gue… bakal dengan senang hati nemenin lo nyobain itu semua."
Mata Kirana sedikit melebar. Kata-kata Fajar terasa seperti pelukan hangat yang tak kasat mata, menyusup masuk ke bagian terdalam hatinya yang selalu dipaksa untuk kuat sendirian. Untuk pertama kalinya, Kirana membalas tatapan pria itu dan tersenyum—senyum yang benar-benar lepas dan tanpa ragu.
Saat sepiring kue waffle pesanan mereka datang, Kirana memotong ujungnya dengan garpu dan mencicipinya dengan perlahan. Ia belum pernah memesan makanan semacam ini.
"Gimana? Enak?" tanya Fajar penasaran.
Kirana mengunyah pelan. Matanya tiba-tiba berbinar terang, sedikit membesar karena terkejut dengan rasanya. "…enak sekali," gumamnya takjub.
Melihat reaksi murni itu, Fajar tak kuasa menahan tawa kecilnya. "Sumpah, muka lo lucu banget barusan."
Kirana langsung menatapnya tajam, kembali memasang defense andalannya. "Lucu? Apa ada yang salah dengan wajahku?"
Fajar langsung gelagapan. "Eh—bukan! Maksudnya lucu yang… cantik! Bagus! Gitu maksudnya."
Kirana memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca, namun Fajar bisa melihat jelas bagaimana wanita itu mati-matian menahan senyumnya agar tidak meledak.
Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, malam semakin larut. Setelah menyelesaikan kencan pertama mereka, Fajar dan Kirana berjalan pelan menuju area parkir tempat mobil Kirana berada. Angin malam berhembus lembut, menyapu wajah keduanya.
Tidak ada lagi langkah yang terburu-buru seperti di koridor kantor. Tidak ada lagi suasana canggung di antara mereka.
"Kalau dipikir-pikir… rasanya beda jauh ya kalau kita lagi di kantor sama di luar begini," ucap Fajar memecah keheningan malam.
Kirana mengangguk pelan, memandangi ujung sepatunya yang melangkah beriringan dengan sepatu Fajar. "Di sana… aku harus menjadi seseorang yang dihormati, seseorang yang tidak boleh menunjukkan kelemahan." Kirana menoleh, menatap Fajar dari samping. "Tapi kalau sekarang… di sini, aku merasa bisa menjadi diriku sendiri."
Fajar membalas tatapannya dengan senyuman lembut. "Bagus dong. Gue lebih suka Kirana yang ini."
Setibanya di depan pintu mobil sedan hitam milik Kirana, keduanya menghentikan langkah. Suasana mendadak hening, namun bukan hening yang mencekam, melainkan hening yang dipenuhi oleh debar jantung yang seirama.
Kirana menunduk sedikit, memainkan tali tasnya. "Fajar…" panggilnya pelan.
"Iya?"
"Hari ini… sangat menyenangkan."
Fajar tersenyum lebar. "Gue juga ngerasain hal yang sama."
Kirana ragu sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum memberanikan diri bertanya, "Apakah… suatu saat nanti, boleh kita lakukan lagi?"
Tanpa perlu berpikir sedetik pun, Fajar langsung menjawab dengan mantap. "Tentu saja. Kapan pun lo mau."
Saat Kirana hendak berbalik untuk membuka pintu mobil, secara refleks, Fajar mengulurkan tangannya untuk membantu menahan pintu. Namun di saat yang sama, tangan Kirana juga terulur ke gagang pintu.
Kulit mereka bersentuhan.
Pergerakan keduanya sama-sama terhenti seketika. Fajar menahan napasnya. Anehnya, tak satu pun dari mereka menarik tangan itu menjauh. Fajar justru membiarkan jemarinya beristirahat dengan lembut di punggung tangan Kirana. Hawa hangat menjalar dari titik sentuh itu, mengalir cepat ke seluruh aliran darah mereka.
Kirana menatap tangan mereka yang bersentuhan, lalu mendongak menatap mata Fajar. Suaranya nyaris berbisik saat ia berkata, "Ini… juga pertama kalinya buatku."
Fajar membalas tatapan itu, tak berniat melepaskan sentuhannya. "Gue juga."
Dan di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, untuk beberapa detik yang terasa selamanya, mereka tetap berdiri dalam posisi itu. Membiarkan dunia di sekitar mereka menghilang, menyisakan hanya mereka berdua.
Keesokan paginya, suasana lantai divisi pemasaran mendadak dilanda anomali.
Semua karyawan saling berbisik, bertukar pandang dengan wajah penuh kebingungan. Pasalnya, Kirana baru saja melewati koridor divisi mereka menuju ruang direktur. Sangat aneh, karena alih-alih memasang wajah datar yang biasa membuat semua orang menunduk, wanita itu terlihat begitu cerah. Ia bahkan tidak menegur staf magang yang tidak sengaja menjatuhkan map di depannya.
Di meja kerjanya, Fajar sedang tersenyum sendiri ke arah layar komputer yang menampilkan dokumen kosong. Pikirannya masih melayang pada malam yang indah kemarin.
Tiba-tiba, kerah kemeja belakangnya ditarik kasar.
Bayu menarik Fajar secara paksa hingga pria itu setengah berdiri. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bayu menyeret Fajar menuju pantry kantor yang kebetulan sedang kosong, mendorong temannya masuk, dan mengunci pintunya rapat-rapat.
"Eh, apa-apaan sih lo, Bay?! Ngajak ribut pagi-pagi!" protes Fajar sambil merapikan kerahnya yang kusut.
Wajah Bayu terlihat sangat serius, nyaris pucat. Ia tidak tertawa atau membalas candaan Fajar. Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan mengetuk layar beberapa kali sebelum menyodorkannya tepat di depan wajah Fajar.
"Lo utang penjelasan besar sama gue, Jar," desis Bayu tajam.
Fajar mengernyit bingung. Ia memfokuskan pandangannya pada layar ponsel Bayu. Itu adalah halaman forum anonim internal perusahaan yang biasa digunakan para karyawan untuk bergosip ria.
Di layar itu terpampang sebuah postingan baru yang diunggah tadi malam, dengan huruf kapital yang tebal:
SIAPA COWOK BERUNTUNG YANG BIKIN IBU BOS KITA TERSENYUM LEBAR SEMALAM?!
Fajar merasa jantungnya seakan merosot ke lambung. Di bawah tulisan itu, terdapat sebuah foto buram yang diambil diam-diam dari kejauhan. Foto itu menampilkan Kirana yang sedang duduk di sebuah kafe, tersenyum begitu manis pada seorang pria yang duduk memunggunginya. Wajah si pria memang tidak terlihat sama sekali.
Fajar menelan ludah dengan susah payah, berusaha mempertahankan wajah bodohnya. "T-terus? Kenapa lo nunjukin gosip receh ini ke gue? Siapa tahu itu kliennya, kan?"
Bayu mematikan layar ponselnya, lalu menunjuk lurus ke arah jaket denim yang tersampir di kursi luar pantry—jaket yang sama persis dengan yang dipakai pria di foto itu.
"Gue kenal banget jaket denim butut dengan sobekan di bahu kanan itu, Jar," ucap Bayu dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Karena gue yang nemenin lo beli jaket itu di Tanah Abang dua tahun lalu."
Tubuh Fajar menegang kaku layaknya patung es. Udara di dalam pantry mendadak terasa ditarik habis.
Rahasia besar itu kini tak lagi menjadi milik mereka berdua. Badai baru saja dimulai.