NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Formasi kota mati

Ye Chan menatap pintu batu raksasa itu dengan mata menyipit. Sisa-sisa energi di sekitarnya masih terasa berdesir, seolah pintu itu menolak untuk menerima tamu yang tidak diundang.

Ia tidak membuang tenaga untuk mendobrak.

Ia mengamati alur formasi di sela-sela celah pintu. Energinya tipis, namun arsitekturnya sangat presisi. Setelah beberapa saat, Ye Chan menyadari sebuah simpul yang tampak sedikit berbeda—lebih redup dibandingkan bagian lain.

'Ternyata di sini katupnya,' pikirnya.

Dengan sangat hati-hati, ia mengalirkan sedikit sekali Qi ke titik tersebut. Ia tidak mendorongnya dengan paksa, melainkan hanya menyentuhnya agar formasi itu mengira ada pemilik sah yang lewat.

Klik.

Suara mekanis rendah bergema. Pintu batu itu bergeser perlahan ke samping tanpa menimbulkan getaran yang berarti. Jalan terbuka, menyingkapkan ruang yang lebih luas di baliknya.

***

Alun-alun pusat kota terpampang di depannya. Tempat ini jauh lebih megah dibandingkan lorong-lorong sempit yang ia lewati sebelumnya. Deretan pilar batu setinggi pohon besar berdiri melingkari area utama, masing-masing diukir dengan simbol yang saling terhubung oleh jalur-jalur energi halus di lantai.

Ye Chan melangkah masuk. Tidak ada harta karun yang berserakan, tidak ada emas atau senjata legendaris. Hanya hamparan batu yang dingin dan kesunyian yang mencekam.

'Ini bukan gudang penyimpanan biasa,' gumamnya.

Saat tangannya tak sengaja menyentuh permukaan dingin salah satu pilar, sensasi dingin menyengat kulitnya. Seketika, simbol-simbol di lantai berpendar biru terang. Cahaya itu merambat cepat, memanjat setiap pilar, lalu melompat ke udara membentuk kubah energi yang menyelimuti seluruh alun-alun.

Ye Chan mundur selangkah, siap untuk melompat pergi. Namun, ia tertegun. Lingkungan di sekitarnya berubah drastis.

Reruntuhan di sekelilingnya seolah melipat diri, menyusun kembali batu-batu yang hancur menjadi bangunan utuh. Debu-debu beterbangan, tersapu oleh angin yang entah datang dari mana. Suara gaduh kehidupan tiba-tiba memenuhi telinganya.

Ia tidak berada di reruntuhan lagi. Ia sedang berdiri di tengah kota yang hidup.

Para penduduk berlalu-lalang. Mereka berpakaian rapi, berbicara dengan suara yang terdengar samar namun nyata. Ye Chan melihat seorang pria di dekatnya sedang berlatih teknik bela diri dengan aliran Qi yang stabil dan kuat. Di sudut lain, beberapa orang sedang meracik ramuan dengan konsentrasi tinggi.

'Rekonstruksi,' simpulnya cepat.

Ia memahami bahwa ini bukan kebangkitan kota yang sebenarnya. Ia sedang terjebak dalam memori massal yang direkam oleh formasi.

Ye Chan tetap tenang.

Ia tidak mencoba melawan atau menghancurkan formasi itu, karena ia tahu, melawan memori yang diputar oleh formasi kuno hanya akan membakar kesadarannya sendiri.

Ia memilih untuk mengamati.

Selama beberapa saat, ia menyaksikan kemajuan peradaban itu. Kultivasi bukan lagi barang mewah; itu adalah bagian dari napas mereka. Setiap orang, dari pedagang hingga anak kecil, memiliki akses untuk menyerap energi alam dengan cara yang begitu alami.

Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama.

Langit di atas kota berubah warna. Mendung hitam pekat menelan matahari. Aktivitas di jalanan terhenti seketika. Ye Chan melihat seorang kultivator yang sedang berlatih tiba-tiba jatuh berlutut, memegangi dadanya dengan ekspresi ngeri.

Pria itu mencoba memanggil Qi-nya kembali, namun tangannya bergetar hebat. Tidak ada aliran yang muncul. Jalur energinya seolah tertutup rapat oleh sesuatu yang tidak terlihat. Di sekelilingnya, orang-orang lain mengalami nasib serupa.

'Mengerikan,' batin Ye Chan. 'Metode yang sangat mengerikan.'

Pemandangan itu mengingatkannya pada kejadian yang menimpa dirinya sendiri saat dikhianati Shi Zhong. Namun, ini berbeda. Ini bukan penghancuran satu orang. Ini adalah pemutusan hak kultivasi secara massal dan sistematis.

Ye Chan berjalan di antara bayangan penduduk yang panik. Ia mendengar bisikan-bisikan ketakutan yang semakin nyaring. Nama itu disebut berulang kali dengan nada penuh kebencian dan rasa takut yang mendalam.

Kaisar.

Tidak ada detail tentang wajahnya. Tidak ada penjelasan tentang kekuatannya. Hanya satu gelar itu yang menggema di setiap sudut alun-alun. Kaisar telah merampas segalanya.

Seketika, rekonstruksi itu mulai terdistorsi. Suara penduduk berubah menjadi deru angin yang memekakkan telinga. Gambar-gambar di sekitar Ye Chan mulai mencair seperti lilin yang terbakar. Formasi itu kehabisan energi untuk mempertahankan ingatannya.

Ye Chan memejamkan mata sejenak, menghafal pola formasi yang menjadi sumber proyeksi tersebut sebelum cahayanya benar-benar mati.

Satu detik kemudian, kesunyian kembali. Ia berdiri di alun-alun yang kembali menjadi reruntuhan.

Namun, sesuatu telah berubah. Di tengah pusat alun-alun, sebuah lempengan lantai terbuka, menyingkapkan tangga yang menuju ke bawah tanah. Di dinding sisi tangga itu, terukir sebuah kalimat dengan aksara yang masih tajam:

"Hari ketika Kaisar merampas hak kami untuk berkultivasi adalah hari ketika peradaban ini mulai mati."

Ye Chan menatap tulisan itu lama. Ia tidak membuang waktu. Ia membenahi posisi jubahnya, menarik napas panjang, dan mulai melangkah turun ke dalam lorong gelap tersebut.

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!