"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Teman kecil
3 hari kemudian.
"Lily bisakah kamu membantu aku sebentar," pinta Marcel mengejar Lily ketika mereka baru keluar kelas.
"Bantu apa?" tanya Lily berhenti berjalan.
"Kita akan tampil besok tapi aku belum sepenuhnya paham materi ini," kata Marcel rada memohon agar Lily mau membantunya sambil menunjukkan materi di iPad-nya.
"Ooooo, yang ini," kata Lily menengok sekilas.
"Kita duduk di kantin aja, aku traktir ayam cheese crispy deh," kata Marcel.
"Wahhhh, ayo," kata Lily langsung semangat kalau mendengar makanan.
Sesampai di kantin Marcel memesan beberapa makanan dan membuka laptopnya.
"Katanya kamu nggak ngerti tapi PPT-nya udah selesai, bagus dan detail lagi yang bagian kamu," kata Lily setelah memeriksanya.
"Ya justru karena aku tidak paham makanya aku buat sedetail mungkin, biar pas presentasi aku nggak kebingungan," alasan logis Marcel.
"Apa yang tidak kamu mengerti?" tanya Lily.
"Yang ini bagaimana caranya?" tanya Marcel duduk di dekat Lily dan menunjuk bagian yang tidak dia pahami.
"Jadi begini..." Lily menjelaskan sampai rekan satu kelompoknya itu paham.
"Kamu benar-benar hebat Lily," kata Marcel yang jadi kagum, ketika Lily yang menjelaskan dia lebih cepat mengerti daripada mendengarkan dosen.
"Hehehe, bukan hebat, aku sengaja menyederhanakan materi, karena malas menghafal terlalu banyak," kata Lily menggaruk tengkuknya, baru Marcel yang mengatakan dia pintar.
"Jadi kalau misalkan teman-teman mempertanyakan soal ini kita jawab apa?" tanya Marcel menunjuk satu lagi materi yang cukup rumit.
"Sebentar," kata Lily mengeluarkan buku dari tasnya dan mulai menebak pertanyaan yang mungkin muncul serta mencari jawabannya.
.......
Ting
Lucas yang sedang berada di ruang meeting langsung melihat ponselnya yang masuk sebuah notifikasi.
"Dave, percepat meeting-nya," kata Lucas pada Dave yang duduk di sebelahnya.
15 menit kemudian, Lucas keluar dari ruang meeting dengan perasaan kesal dan emosi yang tidak stabil.
Begitu sampai di ruangannya Lucas duduk dan meminum segelas air putih dalam beberapa tegukan.
Lucas menggebrak meja dengan emosi yang masih belum redam, melihat foto Lily yang makan berdua dengan seorang pria seumurannya.
Tok
Tok
"Masuk," kata Lucas setelah mengambil napas beberapa kali.
"Papi," kata Lucas segera menghampiri dan berpelukan.
"Kamu sakit Boy?" tanya Papi melihat wajah putranya yang sampai merah dan Lucas pun terlihat tidak tenang.
"Aku tidak apa-apa Pi, ada sedikit masalah di perusahaan," ucap Lucas.
"Oooo, begitu," kata Papi menepuk pundak putranya.
"Papi kenapa ke sini?" tanya Lucas.
"Mau ketemu Lily," kata Papi yang tiba-tiba merindukan gadis yang jauh sebelum jadi menantu sudah dia anggap seperti putri sendiri.
"Lily, masih, masih di kampusnya," ucap Lucas setelah beberapa saat.
"Mmmm, Papi pikir dia di sini, tapi iya juga, ngapain dia di sini?" kata Papi yang merasa sebuah kesalahan dia datang ke perusahaan Lucas jika ingin bertemu Lily.
"Papi kok bilang gitu, aku suaminya Lily jadi wajar juga Papi mencarinya ke sini, kemungkinan dia memang berada di kantorku," ucap Lucas melihat ekspresi Papinya seolah merasa salah tempat.
"Emang Lily pernah temenin kamu kerja? Bukannya kamu nggak suka kalau ada Lily dekat kamu?" kata Papi yang tahu itu.
"I, itu kan dulu Pi," ucap Lucas gelagapan.
"Tidak usah mengelak, kamu pikir Papi nggak tahu kalau kamu itu masih bersikap dingin dan tidak ramah pada Lily," kata Papi yang tahu itu.
"Awas aja nanti kamu nyesel kalau Lily didekati pria lain," sambung Papi yang menikmati sekali perubahan ekspresi di wajah Lucas.
Foto Lily bersama teman kampusnya yang dilihat Lucas dikirimkan oleh bodyguard dan itu Papi yang menyuruhnya.
Papi yang menjodohkan mereka sejak kecil, jadi dia tidak bisa diam berpangku tangan membiarkan rumah tangga anaknya dingin layaknya tidak punya arah tujuan.
"Kalian berdua itu harus bersama melanjutkan keturunan dan juga mempertahankan posisi keluarga kita," batin Papi.
"Ya sudah lah, Papi pulang saja," kata Papi setelah beberapa saat.
"Kok Papi buru-buru banget," kata Lucas yang sejenak melamun.
"Papi mau jemput Mami kamu, nanti digoda pria lain pula," kata Papi bergegas pergi.
"Astaga Pi, Mami itu wanita sudah berumur nggak mungkin bakal digoda pria, lagian juga dijaga bodyguard," suara lesu Lucas menatap Papi-nya yang dari dulu overprotektif sekali.
"Nggak mungkin kata kamu, sakit banget tahu melihat istri sendiri digoda pria lain, apalagi sampai duduk berduaan, dih, amit-amit Boy," kata Papi menutup pintu ruangan Lucas dengan cepat.
Begitu Papinya pergi, Lucas duduk di kursinya dengan perasaan tidak karuan dan tidak bisa lagi fokus bekerja.
Ting
Sebuah notifikasi kembali masuk ke ponsel Lucas, foto Lily jalan berdua dengan pria tadi dengan mobil Lamborghini Aventador yang sunroof-nya terbuka.
Pranggggh.
Lucas langsung membanting ponselnya ke lantai dengan emosi, "Dave!" teriak Lucas kembali duduk melonggarkan dasinya.
"Iya Tuan," kata Dave yang terkejut melihat penampilan Lucas yang terlihat begitu kacau, belum lagi ponselnya yang sudah retak di atas lantai.
"Selidiki pria yang sedang bersama Lily sekarang," perintah Lucas memijit pelipisnya.
"Bo, boleh saya tahu fotonya Tuan?" tanya Dave dengan pelan.
Lucas membuka laptopnya untuk membuka WeChat, karena ponselnya sudah hancur.
"Astaga," batin Dave mengelus dada, tidak terbayang betapa kerasnya Lucas membanting sampai ponsel mewah berstandar internasional itu bisa hancur mengenaskan sampai layarnya retak.
"Ini," ketus Lucas bahkan untuk melihat kembali foto itu rasanya tidak sudi.
10 menit kemudian.
"Pria ini namanya Marcel Chandrawinata, teman sekelompok Nyonya dan juga merupakan anak dari salah satu teman Tuan Brisbane," ucap Dave memberitahu.
"Anak teman Daddy, jadi mereka pernah bertemu sejak kecil?" tanya Lucas.
"Iya Tuan, sejak TK sampai sekarang mereka selalu sekolah di tempat yang sama dan juga sekelas," ucap Dave yang membuat Lucas syok mendengarnya.
"Pria itu sudah punya tunangan?" tanya Lucas.
"Belum Tuan, tapi,"
"Tapi apa?" tanya Lucas malah menggertak Dave.
"Dalam beberapa artikel publik, tunangan Marcel, itu, Nyonya," kata Dave memberitahu dengan ragu-ragu.
Brakkkkk.
Sekarang laptop di atas meja ikut menyusul ponsel yang retak di atas lantai, ketika Lucas membantingnya dengan begitu kesal.
"Keluar dari ruanganku," perintah Lucas yang diangguki Dave.
Sepanjang Dave mengenal Lucas, jika dia sudah emosi dan marah maka seisi ruangan ini akan hancur dalam sekejap.
....
Malam harinya, Lily duduk di tepi ranjang dengan perasaan khawatir karena Lucas belum juga pulang dan ponselnya tidak aktif.
Begitu pintu terbuka Lily langsung menghampiri Lucas yang wajahnya tanpa ekspresi.
"Kak Lucas kok pulang lama, ponselnya juga tidak aktif?" tanya Lily.