NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:540.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28 - Pembantu Baru

Rumah baru Ratna cepat menjadi bahan pembicaraan.

Bu Rini datang membawa panci sayur lodeh pada hari pertama Ratna pindah.

"Saya cuma mau lihat, bukan gosip."

Ratna membuka pintu. "Kalau sudah membawa panci, berarti niatnya lebih dari lihat."

"Lihat sambil makan kan boleh."

Bu Rini masuk dan langsung berkeliling seperti petugas inspeksi. Ia melihat ruang tamu, dapur, kamar, halaman belakang, lalu berdecak.

"Sederhana, tapi enak. Tidak serem. Kalau malam, Bu Dokter tidak takut?"

"Takut apa?"

"Takut sepi."

Ratna melihat ruang tamu yang masih kosong. "Sepi tidak selalu menakutkan."

Bu Rini mengangguk pelan, mungkin tidak sepenuhnya paham, tetapi menghormati.

Masalah muncul ketika Arman mengirim dua orang perempuan ke rumah Ratna keesokan harinya.

Mereka datang bersama seorang pria muda dari kantor Arman. Perempuan pertama bernama Sulastri, usia sekitar lima puluh, tubuh agak berisi, wajah ramah. Perempuan kedua bernama Mira, lebih muda, sekitar empat puluh lima, riasannya cukup tebal, matanya cepat menilai isi rumah.

Ratna berdiri di teras, menatap mereka.

"Ini apa?"

Pria muda itu membungkuk sopan. "Bu Ratna, Pak Arman meminta kami menawarkan bantuan rumah tangga. Bukan tinggal penuh kalau Ibu tidak mau. Bisa datang pagi, bersih-bersih, memasak ringan, lalu pulang."

Ratna langsung mengambil ponsel.

Arman mengangkat setelah dering kedua.

"Pak Arman."

"Ya, Bu Ratna."

"Kenapa ada dua orang di depan rumah saya?"

Arman diam sebentar. "Mereka staf rumah tangga yang biasa membantu properti keluarga. Saya pikir Ibu mungkin butuh bantuan beres-beres."

"Saya bisa menyapu."

"Saya tahu."

"Saya bisa memasak."

"Saya juga tahu."

"Lalu kenapa?"

Arman menghela napas pelan. "Karena Ibu baru pindah, masih membuka klinik, masih menyiapkan sidang, dan saya melihat Ibu mengangkat galon sendiri kemarin."

Ratna menoleh ke galon di sudut dapur.

"Bapak memata-matai?"

"Sopir saya melihat saat mengantar dokumen notaris."

"Sama saja."

"Maaf."

Ratna terdiam karena Arman langsung meminta maaf.

"Kalau Ibu tidak mau, mereka pulang. Tidak ada masalah."

Ratna melihat Sulastri yang tersenyum canggung dan Mira yang tampak mulai bosan berdiri.

Rumah memang berantakan. Kardus belum dibuka. Lantai berdebu. Ia harus membuka klinik sore nanti. Lututnya kadang masih nyeri.

"Datang tiga kali seminggu," kata Ratna akhirnya. "Pagi saja. Saya yang bayar."

"Baik."

"Dengan harga wajar."

"Baik."

"Dan lain kali tanya dulu."

"Baik."

"Pak Arman, jangan hanya bilang baik kalau nanti mengulang."

Ada jeda kecil, lalu suara Arman terdengar menahan senyum. "Baik. Saya akan berusaha membuat kata baik punya isi."

Ratna menutup telepon sebelum ia ikut tersenyum.

Sulastri dan Mira mulai bekerja hari itu.

Sulastri bergerak pelan tetapi teliti. Ia membersihkan dapur, mencuci gelas, bertanya di mana Ratna ingin meletakkan bumbu. Mira lebih cepat, tetapi mulutnya juga lebih cepat.

"Bu Ratna ini dokter, ya?"

"Iya."

"Tapi rumahnya sederhana sekali. Saya kira..."

Ratna yang sedang membuka kardus obat pribadi menoleh. "Kira apa?"

Mira tertawa kecil. "Tidak apa-apa, Bu. Soalnya kata orang, Bu Ratna dekat dengan Pak Arman. Saya pikir rumahnya langsung mewah."

Sulastri menatap Mira, memberi tanda agar diam.

Ratna menutup kardus.

"Saya menyewa rumah ini."

"Iya, Bu. Saya cuma heran."

"Heran boleh. Tapi tidak perlu keras-keras."

Mira tersenyum kaku. "Maaf, Bu."

Ratna kembali bekerja, tetapi ia mencatat dalam hati.

Hari kedua, Mira bertanya soal sidang cerai.

"Bu, benar suami Ibu selingkuh dengan cinta lama?"

Ratna sedang menulis daftar belanja. Ia mengangkat wajah.

"Mira, kamu datang untuk bekerja atau wawancara?"

Mira tertawa gugup. "Maaf, Bu. Orang kampung cerita macam-macam."

"Kalau ingin dengar cerita, tanya orang kampung. Kalau bekerja di rumah saya, jaga mulut."

Sulastri berkata cepat, "Maaf, Bu. Nanti saya ingatkan."

Mira diam, tetapi wajahnya tidak senang.

Ratna mulai memahami. Bantuan Arman bukan hanya bantuan. Ia membawa orang-orang baru, mata baru, risiko baru. Tidak semua orang yang masuk rumah akan menghormati batas hanya karena Arman menyuruh.

Sore itu, Melati datang membantu menata kamar. Ia melihat Sulastri dan Mira pulang dari rumah.

"Bu, mereka siapa?"

"Bantuan bersih-bersih. Tiga kali seminggu. Ibu bayar."

Melati tersenyum. "Bagus. Ibu jangan capek-capek."

Ratna menatapnya. "Kamu tidak keberatan?"

"Kenapa keberatan?"

"Dulu kamu sering bilang Ibu terlalu boros kalau pakai jasa orang."

Melati tampak malu. "Dulu aku pikir Ibu kuat terus."

Ratna tidak menjawab.

Melati membuka kardus berisi piring. "Aku juga dulu enak sekali menyuruh Ibu jagain cucu. Padahal Ibu masih buka klinik."

"Kamu sedang minta maaf?"

"Iya."

Ratna mengambil piring dari tangannya. "Diterima."

Melati tersenyum lega.

Malamnya, Ratna memasak nasi goreng sederhana. Ia makan di lantai ruang tamu bersama Melati. Untuk pertama kalinya setelah lama, mereka bicara tentang hal ringan: warna gorden, rak sepatu, tanaman apa yang cocok di teras.

Saat Melati pulang, ia memeluk Ratna.

"Rumah ini enak, Bu."

"Masih kosong."

"Tapi rasanya tidak sesak."

Ratna mengerti maksudnya.

Setelah Melati pergi, Ratna berjalan ke kamar. Ia membuka laci kecil untuk mengambil salep lutut. Tangannya berhenti.

Kotak perhiasan kecil yang ia bawa dari klinik sedikit bergeser.

Ratna mengerutkan kening.

Ia tidak punya banyak perhiasan. Hanya cincin lama, gelang tipis, dan sepasang anting emas yang dulu diberikan ibunya. Setelah konflik, ia menyimpan semuanya di kotak itu. Selain itu, ada satu kotak beludru biru dari Arman.

Kotak itu berisi bros emas kecil dengan batu hijau tua.

Arman memberikannya sehari setelah kontrak rumah ditandatangani, katanya hadiah rumah baru. Ratna menolak keras. Arman kemudian berkata itu bukan barang mahal, hanya bros yang cocok dengan selendang batiknya. Ratna tetap ingin mengembalikan, tetapi Arman tidak mau mengambil.

Akhirnya bros itu ia simpan, belum pernah dipakai.

Kini kotaknya tidak berada di posisi semula.

Ratna membuka kotak perhiasan.

Bros itu masih ada.

Ia menghela napas lega.

Mungkin ia sendiri yang menggeser.

Namun keesokan paginya, saat Sulastri dan Mira datang, Ratna sengaja memperhatikan.

Sulastri membersihkan dapur.

Mira menyapu kamar.

Terlalu lama.

Ratna berdiri di pintu kamar. "Mira."

Mira tersentak. "Iya, Bu?"

"Bagian kamar cukup. Lanjut ruang tamu."

"Baik."

Mira keluar sambil membawa sapu. Wajahnya biasa saja, tetapi Ratna melihat matanya sempat melirik laci.

Siang itu, setelah mereka pulang, Ratna membuka kotak perhiasan lagi.

Bros emas hijau itu hilang.

Ratna berdiri diam di tengah kamar.

Rumah baru yang semalam terasa lapang, tiba-tiba terasa dimasuki tangan asing.

Ia mengambil ponsel, lalu menelepon Arman.

Kali ini, suaranya dingin.

"Pak Arman, kita punya masalah."

Arman tidak langsung bertanya panjang.

"Saya ke sana sekarang."

"Tidak perlu membawa banyak orang."

"Saya perlu tahu apa yang terjadi dulu."

"Bros dari Bapak hilang."

Di seberang, suara Arman berubah lebih rendah. "Kapan Ibu sadar?"

"Baru saja."

"Jangan sentuh laci lagi. Jangan panggil siapa pun dulu. Saya datang."

Ratna menatap laci yang masih terbuka.

"Pak Arman, ini rumah saya. Saya bisa mengurus."

"Saya tahu. Tapi orang yang saya kirim masuk ke rumah Ibu. Biarkan saya ikut bertanggung jawab."

Ratna ingin menolak, namun kata bertanggung jawab menahannya.

Bambang selama bertahun-tahun selalu menghindari kata itu. Arman justru mengucapkannya sebelum diminta.

"Baik," kata Ratna akhirnya. "Tapi semua keputusan di rumah ini tetap keputusan saya."

"Tentu."

Setelah telepon ditutup, Ratna duduk di tepi ranjang. Ia melihat laci, kotak perhiasan, dan ruang kamar yang tiba-tiba terasa tidak sepenuhnya miliknya.

Kemarahan datang pelan.

Bukan hanya karena bros.

Karena sekali lagi, ada orang masuk ke ruang yang baru ia bangun, lalu menganggap sesuatu di dalamnya bisa diambil.

Ratna menggenggam ponsel.

Kali ini ia tidak akan diam demi menjaga perasaan siapa pun.

Sambil menunggu Arman, Ratna memeriksa ulang seluruh kamar.

Ia tidak menemukan tanda lain yang hilang. Tetapi rasa aman tidak kembali begitu saja. Ia mengganti posisi kotak perhiasan, mengeluarkan dokumen penting, lalu memasukkannya ke tas yang selalu ia bawa.

Rumah baru ini masih harus belajar menjadi rumah.

Dan Ratna juga harus belajar menjadi pemiliknya.

Pemilik bukan hanya orang yang membayar sewa.

Pemilik adalah orang yang berani berkata, "Di sini, aturanku berlaku."

1
ika
Bu Rini skrg di apartemen???
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
Ida Yudiawati
bagus banget ceritanya
Tismar Khadijah
untuk menjadi penguat diri
ika
Bambang ma bu Ratna udah resmi cerai kah?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ika
gagal paham dech
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ika
ntar ntar...
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
Annisa
sedih nangis bombay/Sob//Sob//Sob/
Rika Yudesni
emosi oii
emosiiii akuuuuu
Annisa
bukannya ayah nya Arman sudah meninggal?
Bernadette Ivonne
😍💪Bu Ratna bina keluarga baru penu kebahagiaan
tris tanto
bisa move on gk aku dr nopel ini
tris tanto
sari gimn ituu
tris tanto
part dimana akan direal kehidupan kita dan semoga diusia senja kita sll ingat ALLAH SWT
santi suryaatmaja
😁😁 kadang agak membingungkan jalannya cerita, meskipun begitu masih dg bahasa yg tertata.
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan
santi suryaatmaja
katanya di rmh sewa, tp bu Rini koq masih bisa dengar dn pak Mahfud jg bisa langsung keluar dr pagar 😵‍💫
Bernadette Ivonne
👍
arniya
tetangga pada kepo
santi suryaatmaja
kalimat terakhir itu semua sama persis, dn sdh 33 th,, sakit memang meskipun semua bukan soal selingkuh 😔
Anita Tanjung
luarr biasa.. memberi batasan... itu penting. terimakasih author.. ini bagus sekali
Sri Supriatin
Say setuju alur ceritany bagus 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!