Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.
Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.
500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.
Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.
Mereka salah besar.
Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.
Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.
Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:
Menagih darah dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Menelan Api Pembakar Surga
Kawah magma kini diselimuti cahaya putih yang menyilaukan. Sangkar kristal telah hancur. Api Pembakar Surga melayang bebas di udara.
Api putih seukuran kepalan tangan itu berdenyut liar seperti binatang buas yang baru terbebas setelah ribuan tahun. Hawa panasnya melonjak. Danau magma di bawahnya mendidih dan meledak tanpa henti.
Xiao Ya terpaksa mundur ke lorong. Ia mengerahkan seluruh Qi untuk melindungi tubuhnya dari panas yang membakar.
Di tepi danau magma, Lin Xuan tetap berdiri tegak. Jubah hitamnya berkibar diterpa gelombang panas. Tatapannya tak sedikit pun gentar.
"Mengaumlah sesukamu."
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Pada akhirnya, kau tetap akan menjadi api milikku."
Seolah memahami penghinaan itu, Api Pembakar Surga tiba-tiba mengamuk.
Wussh!
Pilar api putih melesat ke arah Lin Xuan. Hawa panasnya bahkan membuat ruang di sekitarnya bergetar.
Lin Xuan tidak mundur.
"Kuali Naga Hitam! Buka rahangmu!"
Di dalam Lautan Jiwanya, Kuali Naga Hitam bergetar hebat. Dua naga yang telah terbangun mengaum di permukaannya.
Pada saat yang sama, Fondasi Singgasana Kaisar berputar. Api Teratai Bumi Terdalam menyembur dari telapak tangan Lin Xuan dan berubah menjadi jaring teratai biru kehijauan.
"Api Surgawi melawan Api Surgawi."
Tatapan Lin Xuan menajam.
"Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang lebih kuat."
Blaarrr!
Dua Api Surgawi bertabrakan di tengah kawah. Ledakan dahsyat mengguncang seluruh reruntuhan.
Api Pembakar Surga mencoba menghancurkan jaring itu dengan ledakannya. Namun, Api Teratai Bumi Terdalam terus menutup setiap celah dan menyerap panasnya sedikit demi sedikit.
Hukum pertukaran langit bekerja. Ledakan dahsyat hanya bisa ditahan oleh daya tahan yang sama kuatnya.
"Tunduk padaku!"
Lin Xuan mengerahkan Kekuatan Jiwa tingkat Kaisar. Kekuatannya memadat menjadi palu jiwa yang menghantam inti kesadaran Api Pembakar Surga.
Traaang!
Api putih itu bergetar hebat. Kesadarannya terguncang.
Memanfaatkan kesempatan itu, Lin Xuan menarik napas dalam-dalam.
Wussh!
Seluruh Api Pembakar Surga tersedot ke dalam mulutnya.
Glek.
Lin Xuan menelannya!
Dalam sekejap, tubuhnya berubah pucat hingga pembuluh darahnya terlihat jelas. Api putih mengalir di dalam meridian seperti lava yang membakar dari dalam. Bahkan Fisik Berlian miliknya mulai retak.
"Energinya sungguh ganas."
Darah mengalir dari sudut bibirnya lalu menguap sebelum jatuh.
"Namun di dalam Dantianku, akulah hukumnya."
Tulang Naga Kuno di pusat Fondasi Singgasana Kaisar memancarkan cahaya keemasan. Singgasana itu menekan amukan Api Pembakar Surga.
Api Teratai Bumi Terdalam mengalirkan kekuatan kehidupan untuk memulihkan tubuh Lin Xuan. Sementara itu, aura Naga Sejati menekan Api Pembakar Surga hingga perlahan kehilangan perlawanan.
Api putih itu akhirnya menyerah.
Sedikit demi sedikit, kekuatannya menyatu ke dalam Fondasi Singgasana Kaisar.
Proses tersebut berlangsung selama satu jam.
Selama itu, danau magma perlahan mendingin. Seluruh panas di dalam kawah terserap ke tubuh Lin Xuan.
Ketika Lin Xuan membuka mata, pupil kirinya memancarkan cahaya biru kehijauan. Pupil kanannya bersinar putih menyilaukan. Dalam sekejap, keduanya kembali menjadi hitam pekat.
Ia mengangkat kedua tangannya.
Api Teratai Bumi Terdalam berkobar di tangan kiri. Api Pembakar Surga menyala di tangan kanan.
"Pembakaran dari dalam dan ledakan dari luar."
Lin Xuan menyatukan kedua telapak tangannya.
Dua Api Surgawi bergabung. Sebuah teratai putih dengan inti biru kehijauan muncul di telapak tangannya. Bentuknya indah, tetapi ruang di sekitarnya bergetar menahan daya hancurnya.
"Teknik ini akan disebut... Teratai Amarah Langit."
Lin Xuan mengepalkan tangannya. Teratai itu pun lenyap.
Ia menatap balkon.
"Xiao Ya, turun. Masih ada satu tikus yang harus kita tangkap."
Xiao Ya segera melompat turun.
"Tuan Muda, Yan Tianze melarikan diri lewat lorong utara saat Anda menyerap api."
"Dia tak akan pergi jauh."
Lin Xuan berbalik.
"Ayo."
Di ujung lorong utara.
Yan Tianze merangkak dengan napas tersengal. Mahkota emasnya telah lenyap. Jubahnya robek dan penuh debu. Kesombongannya sebagai Tuan Muda Sekte Api Suci telah berubah menjadi ketakutan.
"Iblis... Dia bukan manusia..."
Di hadapannya berdiri sebuah altar batu yang memancarkan cahaya merah.
Itulah Formasi Transmisi Darurat yang ditinggalkan pasukan Sekte Api Suci. Formasi tersebut tidak bisa memindahkan tubuh, tetapi dapat mengirim pesan langsung ke markas sekte di Benua Tengah.
Yan Tianze menggigit pergelangan tangannya hingga darah mengalir. Ia menekan telapak tangannya ke atas altar.
Wussh!
Cahaya merah menyala. Sebuah tirai cahaya muncul di udara. Di dalamnya tampak seorang pria paruh baya duduk di atas singgasana api.
Meski hanya proyeksi, auranya tetap mengerikan. Ia adalah Yan Canghai, Ketua Sekte Api Suci sekaligus ayah Yan Tianze.
"Ze'er! Apa yang terjadi? Mengapa kau memakai formasi darurat? Di mana Tetua Gui?"
"Ayah. Selamatkan aku."
Yan Tianze menangis panik. Wajahnya penuh darah dan debu.
"Tetua Gui tewas! Seluruh pasukan kita dibantai! Api Pembakar Surga juga dirampas!"
Wajah Yan Canghai langsung dipenuhi amarah.
"Siapa yang berani melakukan ini? Monster tua dari sekte musuh?"
"Bukan..."
Yan Tianze menggertakkan giginya.
"Dia hanya pemuda seusiaku. Namanya Lin Xuan. Ayah, dia iblis. Balaskan dendamku."
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki terdengar dari lorong gelap.
Tubuh Yan Tianze menegang. Ia perlahan menoleh.
Lin Xuan muncul dari balik bayangan dengan tangan terlipat di belakang punggung. Xiao Ya mengikuti di belakangnya dengan belati terhunus.
Lin Xuan melirik tirai cahaya di hadapannya. Tatapan Yan Canghai yang penuh amarah sama sekali tidak membuatnya gentar.
"Jadi kau sedang mengadu kepada ayahmu?"
Ia tersenyum tipis.
"Bagus. Aku jadi tak perlu repot mencari kalian nanti."
Yan Canghai menatapnya dengan niat membunuh yang mengerikan.
"Bocah keparat! Jadi kau yang melukai putraku?"
Suaranya mengguncang lorong.
"Aku Yan Canghai. Ketua Sekte Api Suci!"
Tatapannya menjadi dingin.
"Jika kau berani menyentuh putraku lagi, aku akan mengerahkan seluruh sekte untuk turun ke Benua Bawah dan mencincang tubuhmu menjadi seribu keping!"
Lin Xuan pura-pura terkejut sambil menepuk dadanya.
"Oh, aku takut sekali."
Ia menghampiri Yan Tianze yang meringkuk ketakutan. Tatapannya jatuh tepat ke mata pemuda itu.
"Kau dengar sendiri ucapan ayahmu. Dia bilang aku tidak boleh menyentuh sehelai rambutmu."
Lin Xuan mengangkat telunjuknya. Api putih kecil menyala di ujung jarinya. Itulah Api Pembakar Surga yang kini telah sepenuhnya tunduk kepadanya.
"Karena itu..."
Senyumnya menipis.
"Aku tidak akan menyentuhmu. Aku hanya akan menghapusmu."
Jentikan jarinya mengirimkan api putih itu ke dahi Yan Tianze.
"Aaaah!"
Boom!
Cahaya putih menyelimuti tubuh Yan Tianze. Dalam sekejap, tubuh, tulang, dan jubahnya berubah menjadi abu.
Tuan Muda Sekte Api Suci lenyap tanpa meninggalkan sedikit pun jejak.
Di dalam tirai cahaya, Yan Canghai menyaksikan putra tunggalnya tewas di depan mata. Wajahnya dipenuhi amarah dan kesedihan.
"Lin Xuan!"
Raungannya mengguncang seluruh altar.
"Aku akan mencabik jiwamu dan membakarnya selama sepuluh ribu tahun!"
Lin Xuan mendekat ke formasi. Tatapannya dingin.
"Tak perlu datang ke Benua Bawah." Ia tersenyum tipis.
"Siapkan petimu. Aku sendiri yang akan datang mengambil nyawamu."
Bam!
Kakinya menghantam altar batu. Formasi transmisi hancur seketika. Tirai cahaya pun lenyap.
Lorong kembali sunyi.
Xiao Ya menelan ludahnya.
"Tuan Muda... kita baru saja menyatakan perang kepada salah satu dari tiga sekte terkuat di Benua Tengah."
"Perang?"
Lin Xuan menepuk debu di lengan jubahnya.
"Ini bukan perang. Hanya membersihkan hama."
Ia berbalik dan meninggalkan reruntuhan.
Cahaya matahari gurun menyambut mereka. Di kejauhan, hamparan pasir merah berakhir di balik pegunungan raksasa yang menembus awan. Hutan spiritual membentang tanpa ujung. Qi di sana jauh lebih pekat daripada di Benua Bawah.
Itulah perbatasan Benua Tengah.
Di sana, kultivator Jiwa Baru Lahir bukan lagi legenda. Mereka adalah penguasa.
Lin Xuan melangkah melewati batas benua.
"Selamat datang di wilayah yang lebih besar."