Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba.
Sebelumnya, Mayang dan Vanya sempat melayangkan protes keras saat mengetahui pernikahan Nadia dan Arvin digelar secara intimate wedding. Vanya menggerutu karena tidak bisa memamerkan gaun mewahnya di gedung megah, sementara Mayang merasa sayang karena tidak bisa mengundang seluruh kerabat dan tetangga untuk memamerkan calon menantu kayanya. Namun, di hadapan Arvin yang tegas, protes mereka menguap begitu saja tanpa berani memanjang.
"Sah!"
Suara para saksi menggema mantap di dalam ruangan acara yang ditata begitu anggun dan elegan. Hanya keluarga inti serta beberapa rekan terdekat yang hadir.
Di dalam kamar rias, Nadia menghembuskan napas lega yang panjang. Rasa gugup yang sejak pagi meremas dadanya perlahan terangkat. Ia mematut dirinya di depan cermin, tampak begitu anggun dan mempesona dalam balutan gaun pengantin simpel bernuansa putih.
Mayang dan Vanya berdiri di dekat meja rias, masih sibuk merapikan riasan wajah mereka sendiri. Sementara itu, Kenzo duduk di samping Nadia, tak henti-hentinya memegangi pinggiran gaun pengantin wanita itu.
"Tante Nadia..." cicit Kenzo pelan, mendongak menatap wajah manis Nadia.
Nadia menunduk, menyunggingkan senyum hangat. "Iya, Kenzo sayang?"
"Berarti mulai hari ini Tante bakal tinggal di rumah Kenzo, kan?" tanya anak lima tahun itu dengan mata bulatnya yang berbinar penuh harap.
Nadia terkekeh pelan, mengusap lembut pipi halus Kenzo. "Iya, dong. Mulai hari ini Tante akan tinggal di rumah Kenzo, nemenin Kenzo main setiap hari."
"Horeee!" pekik Kenzo gembira, refleks memeluk pinggang Nadia erat-erat.
Mayang memutar bola matanya sambil mengoleskan lipstik. "Duh, Nadia... Ibu masih agak kecewa ya, acara nikahan kamu sesederhana ini. Padahal Pak Arvin itu orang kaya raya, harusnya bisa bikin pesta tujuh hari tujuh malam."
"Iya tuh, Kak," timpal Vanya cemberut sambil membetulkan gaunnya. "Paling tidak ada panggung megah gitu, biar Vanya bisa foto-foto bagus buat diupload."
Nadia hanya menggelengkan kepala. "Sudahlah, Bu, Van. Yang penting kan akadnya sah dan acara begini malah lebih tenang, nggak bikin capek."
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar rias terketuk, lalu terbuka perlahan. Bagas, asisten pribadi Arvin, berdiri di ambang pintu dengan sikap sopan.
"Mbak Nadia, acara ramah tamah dan foto bersama sudah mau dimulai. Pak Arvin sudah menunggu di luar," ujar Bagas ramah.
Nadia mengangguk pelan. "Iya, Mas. Terima kasih."
Nadia berdiri perlahan dari kursinya. Kenzo dengan sigap langsung menggandeng jemari Nadia dengan erat, seolah takut ibu barunya itu akan menghilang. Mereka melangkah keluar dari kamar rias menuju area hall utama yang sudah didekorasi bunga-bunga segar bernuansa putih dan krem.
Begitu pintu hall terbuka, pandangan Nadia langsung tertuju pada sosok Arvin yang berdiri di dekat area pelaminan kecil. Arvin tampak begitu gagah dan sangat tampan dalam balutan jas hitam resmi yang pas di tubuhnya. Pria itu sempat terpana sesaat melihat penampakan Nadia yang anggun, sebelum akhirnya menguasai kembali ekspresi wajahnya menjadi datar.
"Papa! Tante Nadia makin cantik banget, kan?!" puji Kenzo bersemangat saat mereka tiba di hadapan Arvin, lalu menyerahkan tangan Nadia ke genggaman Arvin.
"Nanti malam Tante Nadia langsung tidur di rumah kita, kan, Pa?"
Arvin menggenggam jemari Nadia yang terasa dingin karena sisa rasa gugup. Pria itu menunduk menatap anak bungsunya.
"Bukan Tante Nadia lagi, Kenzo. Sekarang panggil Mama."
Mata bulat Kenzo seketika berbinar terang. "Mama?!" serunya gembira luar biasa. Anak kecil itu langsung melingkarkan lengannya di pinggang Nadia.
"Mama Nadia!"
Nadia tersenyum hangat, dadanya berdesir mendengar panggilan baru itu. Ia meremas lembut jemari Arvin yang terasa kokoh dan hangat di tangannya.
Sementara itu, Mayang dan Vanya melangkah mendekat dengan senyum dipaksakan. "Selamat ya, Mas Arvin," ucap Mayang sedikit canggung.
"Tolong bimbing Nadia ya. Anak ini kadang memang agak keras kepala."
"Iya, Bu. Terima kasih," jawab Arvin tenang dan sopan.
"Nadia sekarang sudah jadi tanggung jawab saya."
Di sudut ruangan, tampak Damian dan Jovan berdiri memperhatikan dari kejauhan. Damian menyilangkan tangan di dada dengan ekspresi tenang tak terbaca, sementara Jovan menyandarkan tubuhnya ke dinding seraya memalingkan muka, menolak menatap momen tersebut.
Arvin yang menyadari keberadaan kedua putranya langsung memberi isyarat dengan pandangan mata. Damian menghela napas pendek, menepuk bahu adiknya.
"Ayo. Jangan bikin Papa malu di depan orang banyak."
Dengan ogah-ogahan dan raut wajah cemberut, Jovan akhirnya menyusul Damian melangkah mendekati pelaminan kecil.
"Kalian berdiri di sebelah Papa dan Mama," perintah Arvin datar begitu kedua putranya sampai.
Jovan sempat mendelik kesal mendengar kata 'Mama' yang diucapkan papanya, tapi ia terpaksa berdiri di sebelah Arvin dengan wajah tertekuk rapat, sedangkan Damian berdiri santai di samping Nadia.
FLAS!
Satu foto keluarga baru resmi diabadikan. Meski masih tersisa dingin dan penolakan di mata Jovan dan Damian, pegangan erat Kenzo pada tangan Nadia serta genggaman protektif Arvin di jemari istrinya menjadi tanda awal dari babak baru dalam hidup mereka.
...****************...
Malam pertama di rumah megah keluarga Ganendra terasa begitu dingin dan sepi. Setelah seluruh rangkaian acara pernikahan kilat itu usai, Nadia kini berdiri mematung di tengah kamar utama yang sangat luas dan bernuansa modern minimalis.
Ia baru saja selesai membersihkan riasannya dan mengganti gaun pengantin yang berat dengan piyama satin panjang yang tertutup rapi. Nadia mengedarkan pandangannya, memperhatikan setiap sudut kamar megah yang mulai malam ini akan menjadi tempat tinggalnya.
Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Arvin yang keluar hanya dengan balutan piyama hitam kasual. Rambut basahnya yang sedikit berantakan membuat pria itu tampak lebih muda, namun pancaran matanya tetap tajam, dingin, dan penuh dengan aura intimidasi.
Arvin berjalan santai menuju meja rias, meletakkan jam tangan mewahnya di sana, lalu berbalik menatap Nadia yang masih berdiri kaku di dekat ujung ranjang king size mereka.
"Kenapa masih berdiri di situ?" suara berat Arvin mengalun datar, memecah keheningan kamar yang menekan.
"Tutup pintunya dan duduk di sofa."
Nadia menarik napas panjang, menetralkan jantungnya yang berdegup kencang, lalu menuruti perintah pria itu. Ia melangkah menuju sofa panjang yang terletak di sudut kamar dan mendaratkan tubuhnya di sana.
Arvin melangkah mendekat, berdiri tegap di hadapan Nadia dengan kedua tangan bersedekap di dada. Pria itu menatap Nadia dari atas ke bawah sebelum akhirnya membuka suara dengan intonasi yang begitu dingin dan menekan.
"Sebelum kita menjalani kehidupan di bawah satu atap yang sama, ada beberapa hal mendasar yang harus kamu mengerti dan ingat baik-baik," buka Arvin tanpa basa-basi, suaranya terdengar seperti seorang atasan yang sedang membeberkan aturan kerja kepada bawahannya.
Nadia menaikkan sebelah alisnya. "Hal mendasar seperti apa, Mas?"
Arvin menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman dingin tanpa rasa hangat sedikit pun.
"Jaga sikapmu. Ingat siapa diri kamu dan dari mana kamu berasal di rumah ini," tegas Arvin dengan pandangan menghujam.
"Pernikahan ini terjadi hanya karena kebutuhan Kenzo akan sosok ibu dan keinginan keluarga besar. Kamu harus tahu batasanmu. Kamu tidak akan pernah saya anggap sebagai istri saya dalam arti yang sesungguhnya. Jangan pernah bermimpi atau berharap lebih tentang status pernikahan ini."
Nadia tertegun sejenak. Meski ia sudah menduga bahwa Arvin bukanlah pria romantis, mendengar penegasan yang begitu terang-terangan dan dingin tetap saja membuat hatinya sedikit berdesir. Namun, Nadia menolak untuk terlihat lemah di depan pria arogan ini. Ia menyandarkan punggungnya di sofa, melipat tangan di dada dengan raut wajah santai.
"Lalu? Apa lagi aturan mainnya, Mas Arvin yang terhormat?" sahut Nadia bernada sedikit sindiran.
Arvin menyipitkan matanya, sedikit terkejut dengan respons tenang Nadia yang sama sekali tidak terlihat terluka atau menangis.
"Jangan pernah buat ulah di rumah ini," lanjut Arvin dengan suara yang semakin menekan.
"Patuhi semua peraturan yang berlaku di rumah ini. Jangan mencampuri urusan pribadi saya, dan jangan pernah bertindak seolah-olah kamu memegang kendali penuh atas rumah ini. Tugas utamamu di sini hanya mengurus anak-anak, terutama Kenzo, serta mengikuti setiap perintah yang saya berikan tanpa banyak membantah."
Nadia terkekeh pelan, sebuah kekehan renyah yang membuat dahi Arvin seketika berkerut tajam karena merasa diremehkan.
"Kenapa kamu tertawa?" tegur Arvin dingin.
Nadia mendongak, menatap lurus ke dalam iris mata hitam milik Arvin tanpa ada rasa gentar sedikit pun.
"Saya tertawa karena Mas Arvin sepertinya terlalu percaya diri," paut Nadia dengan nada bicara yang santai namun menghujam balik.
"Mas pikir saya menerima perjodohan ini karena mengincar status sebagai istri seorang pengusaha kaya raya? Atau Mas pikir saya bakalan bertekuk lutut memohon-mohon cinta dari Mas Arvin?"
Arvin diam mematung, mendengarkan ucapan berani dari wanita di depannya.
"Dengar ya, Mas Arvin," lanjut Nadia seraya berdiri dari sofa, menyejajarkan posisinya meski tinggi badannya masih kalah jauh dari Arvin.
"Sejak awal saya setuju menikah hanya karena melihat Kenzo yang polos dan butuh kasih sayang, serta permintaan orang tua kita. Saya sama sekali tidak berniat menguasai harta Mas, atau bertingkah sok kuasa di rumah ini. Jadi Mas tidak perlu khawatir saya akan bertindak kekanak-kanakan seperti yang Mas bayangkan."
Arvin menatap rahang tegas Nadia. "Bagus kalau kamu sadar diri. Tapi tetap saja, kamu harus patuh pada kata-kata saya."
"Saya akan mematuhi aturan rumah ini selama itu masuk akal dan berhubungan dengan kebaikan anak-anak," balas Nadia tenang.
"Tapi kalau soal perintah yang sewenang-wenang hanya untuk memuaskan rasa egois dan kearoganan Mas Arvin... maaf ya, saya punya mulut untuk bersuara dan punya otak untuk berpikir. Saya bukan pajangan atau pembantu yang bisa Mas atur sesuka hati."
Arvin menarik napas dalam-dalam, mengamati keberanian wanita di hadapannya. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani menatap matanya secara langsung dan membalas setiap perkataannya dengan begitu lugas.
"Satu hal lagi," potong Arvin memutus adu argumen mereka. Pria itu menunjuk ke arah sofa panjang tempat Nadia duduk tadi.
"Malam ini, dan malam-malam berikutnya, kamu tidur di sofa itu. Jangan coba-coba menyentuh atau naik ke atas tempat tidur saya."
Nadia melirik tempat tidur king size yang sangat luas itu, lalu beralih menatap sofa empuk di sudut kamar.
"Tidak masalah," jawab Nadia cepat tanpa beban.
"Lagipula saya juga lebih nyenyak tidur di sofa daripada harus tidur berdampingan sama pria dingin yang mukanya datar seperti papan gilasan. Takutnya pas bangun pagi saya malah kena serangan jantung."
Arvin mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengutuk dalam hati ketajaman lidah istri barunya itu. "Terserah kamu. Yang penting ingat semua ucapan saya malam ini!"
Tanpa membalas lagi, Arvin berbalik dan melangkah menuju tempat tidur mewahnya, mematikan lampu utama kamar dan hanya menyisakan lampu tidur yang temaram, meninggalkan Nadia yang membetulkan selimut di sofa dengan senyuman tipis di bibirnya.