Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Mobil limousine hitam mewah milik Bashkar akhirnya berhenti tepat di pelataran utama gedung pencakar langit Deluca Corp. Begitu pintu mobil dibukakan oleh pengawal, Bashkar melangkah keluar lebih dulu, disusul oleh Zela yang membetulkan letak mantel tebalnya dengan raut wajah berbinar-binar.
Langkah kaki mereka memasuki lobby utama yang teramat luas dan megah dengan lantai marmer yang mengkilap bagai cermin. Puluhan karyawan berjas rapi, staf resepsionis, hingga para pengawal yang berjaga di setiap sudut langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka berdiri tegap, menundukkan kepala dalam-dalam memberi penghormatan penuh pada Bashkar.
"Selamat pagi, Tuan Deluca. Selamat pagi, Nyonya," sapa para karyawan dengan nada penuh kepatuhan dan ketegangan.
Melihat semua orang membungkuk hormat padanya dan membukakan jalan dengan penuh rasa segan, Zela menyunggingkan senyum tipis yang anggun di bibirnya. Ia berjalan membusungkan dada sedikit di samping tubuh tegap Bashkar yang kaku.
Anjirr, rasanya gini ya jadi nyonya besar di keluarga mafia?! seru Zela girang dalam hatinya seraya menyapa beberapa staf dengan anggukan kepala yang sok anggun. Serasa ratu sejagat raya! Aura gue langsung berasa mahal banget!
Mereka menggunakan lift khusus eksekutif menuju lantai paling atas. Begitu pintu lift terbuka, mereka melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadi Bashkar yang sangat luas, mewah, dan didominasi warna-warna gelap yang elegan. Dinding kaca raksasa di ujung ruangan menampilkan pemandangan seluruh sudut kota yang tertutup salju.
Bashkar melangkah menuju meja kerja kayu jatinya, melepas jas mewahnya, lalu menyandarkannya di sandaran kursi kebesarannya.
Zela, yang ingin menunjukkan baktinya sebagai seorang istri yang baik, langsung menghampiri meja kerja suaminya dengan mata berbinar-binar.
"Mas! Aku bikinin kopi hangat ya? Mau kan? Biar kamu tambah semangat kerjanya!" tawar Zela antusias seraya meletakkan tas tangannya di atas meja.
Bashkar melirik dingin dari balik dokumen yang baru saja ia buka. "Di sini ada staf yang bisa menyiapkannya."
"Ih, beda dong! Kopi buatan istri tercinta itu racikannya pakai rasa kasih sayang, pasti lebih enak!" cerocos Zela tak mau kalah, memanyunkan bibirnya tipis. "Aku bikinin ya? Yaa? Plisss?"
Bashkar hanya menghembuskan napas pelan tanpa membalas, yang diartikan oleh Zela sebagai lampu hijau.
"Oke sip! Tunggu sebentar ya, Suamiku!" seru Zela ceria seraya berjalan keluar menuju pantry khusus lantai eksekutif yang terletak tak jauh dari ruang kerja Bashkar.
Di dalam pantry yang bersih dan bernuansa modern itu, Zela mulai sibuk meracik kopi. Ia menyeduh biji kopi pilihan, menambahkan sedikit takaran gula, dan mengaduknya perlahan seraya bersenandung kecil. Aroma harum kopi hangat langsung memenuhi udara.
Saat Zela sedang meraih cangkir porselen di rak atas, suara derap langkah kaki dua orang staf wanita berjas formal terdengar mendekat menuju area luar pantry. Mereka tampaknya tidak menyadari keberadaan Zela di balik kubikel pembuat kopi.
"Eh, kamu tahu kan Nyonya Zelara ikut Tuan Bashkar ke kantor hari ini?" bisik salah satu staf wanita dengan nada suara yang tertahan namun penuh rasa penasaran.
"Iya, aku lihat tadi di lobby! Bener-bener tumben banget Nyonya ke sini," sahut staf wanita lainnya, merendahkan suaranya seolah sedang membagikan rahasia besar. "Tapi kasihan juga ya kalau dipikir-pikir..."
"Kasihan kenapa?"
"Ya iyalah! Bagaimana kalau Nona Clarissa sampai tahu Nyonya Zelara makin menempel sama Tuan Bashkar?" bisik staf itu lagi, nada suaranya berubah sinis. "Semua orang di lantai atas kan tahu kalau Nona Clarissa itu wanita kesayangan Tuan yang sebenarnya. Dari latar belakang keluarga, kecantikan, sampai relasi bisnis, Nona Clarissa jauh lebih cocok bersanding sama Tuan Bashkar dibanding Nyonya Zelara yang cuma bikin malu."
"Bener juga sih... Nona Clarissa kan baru pulang dari luar negeri minggu depan. Kalau beliau tahu, bisa perang dingin tuh!"
Denting sendok di tangan Zela seketika terhenti. Jemari lentiknya membeku di udara.
Kalimat-kalimat dari kedua staf itu bergema nyaring di dalam kepalanya, memotong seluruh keceriaan yang tadi menyelimuti hatinya.
Zela berdiri kaku di balik lemari pantry, matanya membelalak pelan dengan raut wajah bingung bercampur terkejut yang mendalam.
Nona Clarissa...? Kekasih? Wanita kesayangan? batin Zela mengulang nama itu dalam hati dengan dada yang mendadak berdesir aneh.
Otak Zela berputar keras mencoba menggali ingatan dari novel yang pernah ia baca. Namun, karena ia dulu tidak membaca novel tersebut sampai tuntas, nama Clarissa terasa sangat asing di kepalanya.
Siapa dia sebenarnya...? Kekasih rahasia Bashkar? Kok gue kagak ingat ada karakter nama Clarissa di plot awal?! bisik Zela dalam hati, menatap cangkir kopi di tangannya yang kini tak lagi memancarkan kehangatan serupa tadi.
Zela berdiri diam sejenak di dalam pantry, berusaha menata kembali napas dan raut wajahnya yang sempat mengeras. Ia menggelengkan kepala pelan, mencoba menepis rasa sesak asing yang tiba-tiba merayapi dadanya.
Gak usah dipikirin, Zela. Lo ke sini kan mau jadi istri penurut yang bikin si es batu luluh, bukan mau galau gara-gara gosip burung, batinnya menguatkan diri.
Dengan jemari yang sedikit bergetar, Zela mengambil nampan porselen berisi cangkir kopi hitam yang masih membumbungkan uap hangat. Ia memaksakan sebuah senyum manis terukir di bibirnya, memoles kembali raut keceriaan yang tadi sempat memudar, lalu melangkah keluar dari pantry menuju ruang kerja Bashkar.
Klek.
Pintu kayu jati tebal itu terdorong terbuka. Zela berjalan pelan melintasi karpet tebal bernuansa gelap, menghampiri meja kerja Bashkar yang megah. Pria itu tampak sangat fokus jemari panjangnya menari di atas papan ketik laptop, sementara manik mata kelabunya menatap tajam dokumen finansial di hadapannya.
"Ini kopinya sudah jadi, Mas!" ujar Zela dengan suara yang dibuat seceria mungkin, walau nada riangnya tak senyaring tadi pagi.
Ia meletakkan cangkir kopi itu tepat di sisi kanan laptop Bashkar dengan sangat hati-hati, lengkap dengan tatakan porselen yang rapi. Uap harum pahit bercampur aroma vanila tipis memenuhi udara di antara mereka.
"Diminum ya, mumpung masih hangat," tambah Zela seraya menatap wajah suaminya, berharap mendapat lirikan atau sepatah kata apresiasi.
Namun, Bashkar bahkan tidak menoleh sedikit pun. Tangannya terus membalik lembaran dokumen dengan gerakan kaku dan dingin. Pria itu seolah menganggap keberadaan cangkir kopi maupun Zela yang berdiri di sampingnya tak lebih dari sekadar pajangan tak berharga di atas mejanya.
Cangkir kopi itu dibiarkan tergeletak begitu saja. Detik demi detik berlalu, hingga uap panas yang tadinya membumbung tinggi perlahan menipis, memudar, dan akhirnya hilang sepenuhnya. Kopi racikan Zela dibiarkan memendingin tanpa tersentuh sedikit pun oleh bibir Bashkar.
Zela menatap cangkir yang mulai dingin itu dengan pandangan meredup. Dulu, mungkin ia akan langsung mengomel, menggerutu lucu, atau memaksa Bashkar meminumnya sampai habis. Tapi kali ini, kata-kata dari kedua staf wanita di pantry tadi mendadak terngiang kembali di dalam kepalanya, bergema begitu nyaring:
‘...Nona Clarissa itu wanita kesayangan Tuan yang sebenarnya... Nyonya Zelara cuma bikin malu...’
Seketika, dada Zela terasa teremas pelan. Tatapan dingin dan penolakan halus Bashkar terhadap kopinya seolah menjadi pembenar dari gosip tersebut. Apakah Bashkar tidak pernah menyentuh atau menghargai pemberiannya karena di dalam hati pria itu sudah ada nama wanita lain bernama Clarissa?
Senyum di wajah Zela perlahan runtuh. Binar ceria di mata bulatnya menyusut, berganti menjadi sorot mata yang murung dan sayu.
Tanpa bersuara lagi, Zela menarik kakinya mundur beberapa langkah. Ia tidak lagi merengek atau mengganggu Bashkar. Dengan langkah pelan dan lesu, Zela berjalan menuju sofa kulit besar di sudut ruangan, mendudukkan dirinya di sana, lalu menunduk menatap jemarinya sendiri yang bertaut erat di atas pangkuan. Keheningan yang dingin dan canggung pun seketika menguasai ruang kerja megah itu.