NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:44.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Menu Sarapan Yang Berbeda

Naya memajukan tubuhnya sedikit, menatap Arka dengan pandangan menghanyutkan yang membuat Arka tidak berkutik.

"Anda membuat kontrak ini untuk melindungi Kenzie dari lingkungan dingin keluarga Dewangga, bukan? Tapi tindakan Anda barusan justru membawa hawa dingin itu langsung ke wajah anak Anda sendiri. Jika Anda membiarkan Clarissa mengacaukan emosi Anda di rumah, itu artinya Clarissa sudah menang sebelum perang di pengadilan dimulai."

Kalimat Naya terasa seperti tamparan halus yang mendarat tepat di ego terdalam Arka. Pria itu tertegun seribu bahasa. Ketegasan Naya yang tenang justru membuat argumennya tidak bisa dibantah oleh logika hukum atau bisnis apa pun. Wanita ini benar-benar kuat, dia tahu kapan harus diam dan tahu kapan harus berdiri tegak menjadi tameng untuk anaknya.

Arka menundukkan kepalanya, menyugar rambutnya dengan rasa penyesalan yang mendalam. "Aku ... aku salah. Aku tidak seharusnya membentaknya."

"Minta maaf pada Kenzie besok pagi, bukan pada saya," sahut Naya datar. Ia membalikkan tubuhnya, bersiap untuk kembali ke kamarnya.

"Naya," panggil Arka lirih, menghentikan langkah wanita itu. Arka mendongak, menatap punggung tegap Naya yang berdiri anggun dalam remang lampu ruangan. "Bagaimana ... bagaimana cara kamu tetap bisa setenang ini setelah semua yang terjadi? Setelah semua tekanan dari keluargaku dan ancaman Clarissa?"

Naya menghentikan langkahnya sejenak, namun ia tidak berbalik. Ia menatap lurus ke depan, memberikan jawaban dengan suara rendah yang begitu dalam, menyiratkan masa lalu keras yang pernah membentuk kekuatannya.

"Karena sejak kecil, hidup sudah mengajarkan saya bahwa amarah dan air mata tidak akan pernah menyelesaikan masalah, Tuan Arka. Ketika masalah datang, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menjadi lebih tenang daripada masalah itu sendiri. Selesaikan masalah Anda dengan Clarissa di kantor dengan kepala dingin, jangan jadikan rumah ini sebagai medan pertempuran sekunder."

Setelah mengatakan kalimat menohok itu dengan keanggunan yang mutlak, Naya melangkah pergi menaiki tangga, meninggalkan Arka yang kembali terpaku sendirian di ruang tengah.

Arka menatap mainan kardus Kenzie di lantai, lalu mengambilnya dengan hati-hati. Kehangatan kata-kata Naya yang tegas namun menyelamatkan itu perlahan-lahan meresap ke dalam hatinya, meruntuhkan keangkuhannya sebagai seorang tuan muda. Malam itu, di tengah sunyinya rumah, Arka menyadari bahwa Nayara bukan hanya sekadar ibu kontrak yang baik untuk anaknya, melainkan satu-satunya orang yang sanggup meluruskan arah hidupnya ketika ia mulai kehilangan kendali.

***

Sinar matahari pagi yang cerah menerangi dapur bersih, memantul di atas meja konter marmer putih yang biasanya steril dan dingin. Namun, pagi ini tempat itu tampak berantakan dengan cara yang menyenangkan. Ada mangkuk sisa adonan tepung, botol madu yang terbuka, dan aroma harum mentega cair yang berbaur dengan manisnya vanila, memenuhi udara seisi rumah.

Naya berdiri di depan kompor datar, membalik selembar pancake keemasan dengan gerakan yang sangat luwes. Celemek kain bermotif garis-garis membungkus tubuh rampingnya, sementara rambut panjangnya dicepol asal ke atas menggunakan jepitan badai.

Di atas kursi tinggi dekat bar marmer, Kenzie duduk sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung riang. Wajah bocah itu tampak belepotan tepung putih di ujung hidung dan pipinya. Di tangannya, ia memegang sendok plastik kecil, sibuk mengocok sisa madu di mangkuk kecil.

"Mama, yang ini bentuknya harus bulat besar seperti matahari ya!" seru Kenzie riang, sepenuhnya melupakan kejadian menakutkan semalam.

Naya menoleh, memberikan senyuman tipis yang sangat teduh. Ia mengusap pipi Kenzie yang terkena tepung menggunakan ibu jarinya. "Iya, matahari untuk jagoan kuat yang tidurnya nyenyak semalam. Sekarang Kenzie susun buah stroberinya di atas piring yang sudah matang itu, yuk."

"Siap, Kapten Mama!" Kenzie meletakkan buah-buah potong itu dengan penuh konsentrasi.

Dari arah lorong tangga, Arka melangkah pelan. Pria itu sudah rapi dengan kemeja kerja berwarna biru langit, namun jas hitamnya masih tersampir di lengan. Langkah kakinya sempat ragu di ambang pintu dapur. Gurat penyesalan dan rasa canggung tergambar jelas di wajah tegasnya setelah insiden bentakan semalam.

Mendengar suara sepatu yang mendekat, Naya melirik sekilas. Matanya yang jernih menatap Arka dengan ketenangan menghanyutkan, tanpa ada sisa kemarahan, namun tetap membatasi diri dengan profesionalisme yang ketat.

"Papa!" Kenzie mendongak, matanya berbinar melihat kehadiran sang ayah. Namun, sedetik kemudian bocah itu sedikit menahan gerakannya, mengingat kembali wajah seram papanya semalam.

Arka menyadari keraguan di mata anaknya. Ulu hatinya terasa seperti diremas. Mengingat kalimat tegas Naya semalam tentang kewajibannya sebagai seorang ayah, Arka meletakkan jasnya di kursi, lalu berjalan mendekat dan berlutut di samping kursi tinggi Kenzie agar tinggi badan mereka sejajar.

"Jagoan ...." Suara Arka terdengar parau, kehilangan seluruh keangkuhannya sebagai pemimpin perusahaan besar. "Papa ... Papa minta maaf untuk semalam, ya? Papa semalam sangat lelah dan salah karena membentak Kenzie. Robot kardus buatan Kenzie sangat bagus. Papa janji, nanti malam kita main bersama. Kenzie mau maafkan Papa?"

Kenzie menatap wajah Arka lekat-lekat. Sifat pemaaf anak kecil dan ketulusan di mata Arka membuat pertahanan bocah itu runtuh. Kenzie langsung melingkarkan lengannya yang masih sedikit lengket oleh madu ke leher Arka.

"Kenzie sudah dimaafkan kata Mama! Kata Mama, Papa cuma capai kerja cari uang untuk Kenzie," bisik bocah itu polos.

Arka memejamkan mata sejenak, membalas pelukan erat anaknya dengan rasa lega yang membuncah. Di balik punggung Kenzie, mata Arka menatap lurus ke arah Naya yang sedang menata pancake terakhir ke atas piring besar. Arka tahu, Naya-lah yang telah menenangkan mental anaknya dan menyembuhkan luka batin yang hampir ia torehkan sendiri.

Naya berjalan mendekati meja bar, meletakkan piring saji hangat itu di tengah meja tanpa mengeluarkan suara.

"Duduklah, Tuan Arka. Sarapan sudah siap," ucap Naya datar namun sopan, mengembalikan suasana pada jalur formal.

Arka melepaskan pelukannya dari Kenzie, lalu duduk di kursi sebelah anaknya. Ia menatap hidangan di depannya. Biasanya, sarapan pagi Arka disiapkan oleh kepala pelayan dengan standar hotel berbintang—menu sarapan ala barat yang kaku, dingin, dan disajikan secara formal. Namun pagi ini, ia dihidangkan tumpukan pancake rumahan yang tidak terlalu simetris bentuknya, bertabur stroberi segar dan madu asli.

"Ini ... kamu yang membuat semuanya?" tanya Arka kaku.

"Kenzie juga ikut bantu mencampur tepungnya, Papa! Ayo dicicipi!" tagih Kenzie antusias, menyodorkan sepotong kecil menggunakan garpu plastiknya ke mulut Arka.

Arka membuka mulutnya, menerima suapan dari anaknya. Begitu kunyahan pertama mengalir di lidahnya, rasa manis yang pas, tekstur yang lembut, dan kehangatan masakan rumahan langsung memenuhi rongga mulutnya. Rasa ini ... jauh lebih nikmat dan menenangkan daripada menu sarapan mahal mana pun yang pernah ia makan. Makanan ini dibuat dengan hati, dan Arka bisa merasakannya.

Naya menuangkan secangkir teh hangat, lalu meletakkannya di dekat tangan Arka. "Minumlah. Teh ini baik untuk meredakan ketegangan kepala Anda sebelum berangkat ke kantor."

Arka menatap cangkir teh itu, lalu mendongak menatap wajah tenang Naya. "Kamu sendiri tidak makan bersama kami?"

Bersambung...

1
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sugiharti Rusli
sekarang tinggal nanti Arka saja sih yang buat keputusan besar tentang hubungan dirinya dan Naya, apa akan seperti tertera dalam kontrak yang seperti mereka sepakati dulu,,,
Laila Umroh
baru ngerti kalau kaka author punya karya baru...
Sugiharti Rusli
dan bagaimana Naya mendidik dan merawat Kenzie dengan pemahaman" baru tentang hidup dan Kenzie bahagia kala bersama Naya,,,
Sugiharti Rusli
dan Kenzie begitu cepat hatinya terpaut pada Naya tanpa pdkt sebelumnya kan,,,
Sugiharti Rusli
apalagi bisa terlihat dengan kasat mata bagaimana Naya memperlakukan Kenzie selayaknya ibu teehadap anaknya,,,
Sugiharti Rusli
pada waktunya kertas kontrak itu akan kalah oleh tatapan polos Kenzie sih yah,,,
Sugiharti Rusli
entah kalo suatu saat Kenzie tahu kalo sanga mama ga akan bersama mereka lagi karena sebuah kesepakatan yah, kasihan sih dengan mentalnya nanti,,,
Sugiharti Rusli
tapi beriring berjalannya waktu, malah Kenzie mendapat nilai baru dan juga sangat mencintai dan menerima Naya sebagai ibunya,,,
Sugiharti Rusli
kalo yang jadi istri Arka bukanlah seorang Nayara, mungkin kedok pernikahan kontrak mereka sudah terbongkar sejak awal yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Clarissa memiliki dugaan kalo Arka menikahi Naya bukan karena cinta, dan itu betul sih tujuan utamanya hak asuh putranya,,,
Sugiharti Rusli
meski dia memang melakukan pernikahan kontrak dengan Naya demi hak asuh Kenzie, tapi di perjalanan malah banyak hal tak terduga,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya di sini si Arka yang sangat diuntungkan dengan memperistri Naya yah
dyah EkaPratiwi
Naya 😍
NAYLA DWI
ok
Nandi Ni
dibalik kesulitan terbentang kemudahan,semoga ketulusan hatinya mampu menghantarkan pada kebahagiaan.
Nandi Ni
emang diluar nurul pemikiran Naya ini
Herman Lim
ga sabar lihat kehancuran mereka
Naufal Affiq
buat clarisa gak bisa ngomong lagi ya mommy,buat mereka kalah dalm persidangan,dan naya penenangnya
Mamah Nisa
di depan kenzie kok manggilnya tuan arka....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!