NovelToon NovelToon
MENANTU IBU 2

MENANTU IBU 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Aliansi Pernikahan / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:309k
Nilai: 5
Nama Author: Me Nia

Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.

"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."

MENANTU IBU 2

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Akhir Tugas Pengacara

Hal yang dilakukan Diaz begitu pulang sore hari adalah bertanya pada ibunya tentang apa saja yang dikatakan Ayah Hilman saat tadi pagi datang ke rumah. Secara tidak langsung, Tya yang tengah menikmati teh bersama ibu mertuanya itu menjadi tahu detail percakapan sesungguhnya.

"Mandi dulu sana! Nanti abis maghrib Ibu mau diskusi hal lain."

"Soal lempar bom ya?" Tebak Diaz. Tanpa canggung merengkuh bahu Tya. Padahal jika diingat-ingat awal kontrak nikah berjalan, selalu menjaga jarak aman kecuali jika dalam situasi akting. Nempel kayak perangko yang lama-lama jadi dinikmati.

"Itu diantaranya. Ada tema lainnya juga."

Diaz mengangguk.

"Abey mau minum teh dulu? Aku ambilkan gelas." Tya menatap Diaz yang masih belum beranjak. Seperti masih betah bercengkerama.

"Punyamu aja." Diaz mengambil gelas di meja yang masih berisi teh tawar hangat setengah gelas. Diminum sampai habis lalu mengajak Tya menemaninya ke atas.

Suri tersenyum simpul setelah anak dan menantunya pamit. Binar di matanya refleksi kebahagiaan yang memenuhi rongga dada. Pengorbanan moral dan material yang sudah dilakukan sebagai seorang ibu, sebagai seorang dalang, terobati dengan cita-cita yang terwujud menjadi nyata. Ia pun menyusul beranjak karena waktu maghrib akan segera tiba.

Di kamar luas yang terletak di lantai dua, Diaz yang selesai mandi lalu salat berjamaah dengan Tya, menarik tangan istrinya itu menuju sofa bed. Menyuruh duduk sebentar sementara ia mengambil sesuatu dari dalam tas kerja.

Tya memperhatikan Diaz yang kembali sambil senyum-senyum. Belum bisa ditebak kertas atau kartu apa yang berada di tangan suaminya itu. Belum terlihat jelas meski Diaz duduk dan mengecup bibirnya.

"Ayang pilih dari tiga kartu ini mau pilih negara mana buat destinasi honeymoon kita?" Diaz menjajarkan tiga kartu seukuran KTP dala

Tadi di kantor, Diaz mengisi waktu rehat dengan searching tempat bulan madu berikut membaca beberapa ulasan. Dari lima negara yang masuk dalam bucket list, dua diantaranya dengan tegas dicoret.

"Mana aku lihat!"

"No. Ayang tinggal cabut salah satu kartu. Gunakan feeling."

"Duh. Terserah Abey aja deh." Tya menggeleng dengan perasaan riang dan juga merinding. Honeymoon gitu lho.

"Tiga negara ini udah hasil seleksi. Untuk final, Ayang yang tentukan. Ayo cepat! Aku lapar dalam perut dan bawah perut."

Tya tertawa melihat wajah yang merajuk. Sejak unboxing di Bandung, Diaz jadi sering berucap kosakata mesum.

"Lapar dalam perut, makan. Lapar bawah perut, tahan dulu. Puasa 12 hari lagi."

"Dokternya ngadi-ngadi ini sih. Masa puasanya 2 minggu. Aku mau banding!"

Tya terkikik. Menangkup wajah yang berubah masam, lalu mengecup bibir yang cemberut. Gemes dengan gaya merajuk anak mertuanya itu.

"Bey, emang mau kapan honeymoon nya?"

"Itu dibahasnya nanti. Sekarang pilih dulu destinasinya. Ayo tunjuk!"

"Bismillah." Tya menggosokkan kedua tangan. Kemudian tanpa ragu menunjuk kartu.

"Kenapa Ayang pilih kartu pertama?" tanya Diaz sebelum menyerahkan kartu yang dipilih Tya.

"Karena aku ingin jadi yang pertama dan satu-satunya. Entah nyambung atau tidak tapi anggap saja ini curhat." Tya tersenyum miring.

"Hm, curhat diterima. Silakan diambil dan baca, Nyonya."

Tya membalikkan kartu yang diterimanya. Sepasang matanya melebar. "Wow. Swiss!"

"Fix ke Swiss ya. Ayang udah punya paspor belum?"

Tya menggeleng. "Belum."

"Nanti kita urus paspor dan visa. Berangkat Februari kayaknya pas. Tinggal Ayang pilihin tanggal. Jangan sampai pas datang bulan."

"Siap, Yang Mulia. Ibu diajak ya?"

Diaz menaikkan sebelah alisnya. "Nanti Ibu jadi wasit?"

Tya terkikik. Otaknya tiba-tiba membayangkan seandainya Ibu jadi wasit.

"Bukan gitu, Bey. Waktu Ibu umrah, kita tinggal berdua. Kalau kita honeymoon, Ibu tinggal sendiri. Kesepian dong nggak ada teman ngobrol. Nanti aku kayaknya bakal inget terus sama Ibu. Diajak aja ya. Kita bertiga ini udah satu paket kan, Bey. Dalang sama dua wayang harus sama-sama. Ibu ajak, please. Booking dua kamar. Judulnya 'Honeymoon Dikawal Ibu'."

Diaz mencium kening Tya dalam dan lama. Lalu turun mencium bibir ranum merah muda yang menggoda. "Makasih my wife, udah care dan sayang pada ibuku. Oke, kita honeymoon dikawal Ibu."

***

Setelah makan malam bertiga, Suri mengajak Diaz dan Tya berpindah duduk ke ruang tengah. Diawali membahas tentang tiga bom yang tinggal dilempar menunggu waktu yang pas.

"Ada kabar terbaru dari pengacara, besok siang akan ke sini nganterin akta cerai. Alhamdulillah bisa diurus cepat."

"Ibu, jujur. Perasaan Ibu sedih atau happy? Jangan ada dusta di antara kita bertiga." Diaz menunjukkan keseriusan ucapannya melalui tatapan tajam tanpa senyum.

"Happy, Nak. Sangat happy. Rasanya merdeka. Ibu pengen merayakan dengan liburan bersama kalian. Pas banget cerainya Desember. Tutup tahun sekaligus tutup cerita sebagai Nyonya Hilman."

Tya tersenyum simpul melihat ibu mertuanya berbicara dengan wajah semringah. Mata adalah jendela hati. Cahaya yang berkilat pada manik mata mewakili kejujuran lisan.

"Terus bomnya mau diledakkan kapan, Bu?"

"Semingguan lagi deh. Sebelum kita pergi liburan. Diaz, Tya, punya rekomendasi pantai mana? Ibu pengen ke pantai yang tenang tidak banyak pengunjung meskipun bentar lagi masuk musim liburan."

Tya menggeleng. "Aku nggak punya rekomendasi. Abey?"

"Nanti deh searching dulu."

"Oke. Masih ada waktu buat prepare. Satu lagi yang ingin Ibu bahas. Ibu mau libatkan Tya di bisnis yang Ibu handle. Ingin ada keluarga yang bisa dipercaya. Diaz ngizinin nggak Tya berbisnis bareng Ibu?'

"Kalau kerja bareng Ibu, aku ngizinin. Kalau kerja di di perusahaan lain, tidak boleh. Buat apa? Karena kalau kerja tujuannya uang, aku bisa kasih Tya berapa pun. Kalau Ibu dan Tya selalu sama-sama, aku bakal tenang."

Tya mengangguk paham. Baru kemarin saat pillow talk Diaz menawarkan jika ingin berkegiatan tinggal bilang. Asal jangan mencari kesibukan dengan bekerja di kantor orang lain.

Keesokan harinya, pengacara datang di jam dua siang. Tya ikut menemani Suri menerima tamu karena sang mertua memintanya. Akta cerai diserahkan Anton. Setelah bertamu selama setengah jam, sang pengacara pamit pulang sekaligus pamit dari tugasnya yang sudah selesai.

Joko, kau harus tahu. Ibu mertuaku udah jadi janda makin cantik deh. Shiny.

"Tya, besok kondisimu udah fit belum?"

"Sekarang juga udah fit, Bu." Tya menunggu apa yang sang mertua ingin sampaikan karena menurutnya ini baru kalimat pembuka.

"Besok kita ke salon. Waktunya memanjakan diri dari ujung rambut sampai ujung kaki."

Ini bukan pertanyaan tetapi ajakan tegas yang tidak bisa ditawar. Tapi memang sayang kalau dilewatkan. Perawatan tubuh itu bagian dari self care sekaligus self healing. Apalagi ini pasti biayanya ditanggung sang mertua.

"Aku sih siap. Tapi mau izin dulu sama Mas Diaz ya, Bu."

"Iya, Nak. Harus selalu izin. Eh, ngomong-ngomong Diaz, Ibu beneran kepo deh. Abey itu artinya apa sih? Ibu dengernya aja sweet gitu, tapi juga lucu." Suri tertawa kecil. Map pemberian pengacara masih dibiarkan tergeletak di meja.

Tya terkekeh melihat Ibu Suri menatapnya sambil mengerling. "Awalnya kan waktu di Bandung diancam sama Mas Diaz harus ganti panggilan 'Mas' sama panggilan spesial. Nggak mau pasaran katanya. Kalau tidak, check in diperpanjang semalam lagi padahal besoknya mau jemput Ibu ke bandara kan. Dalam hitungan menit harus mikir. Jadi Abey itu terinspirasi dari ..."

1
Eulis🌹🌹Mυɳҽҽყ☪️
Bau-bau nya sih beneran CEO itu pak Husein...Duch bu surii jadi janda malah tambah kinclong. Aku dukung pak Husein sm bu suri
ariyatti
kayaknya pak husain adalah seorang ceo yg menyamar jadi sopir.jadi penasaran sama kisah pak pak husain dan kelanjutan hubungannya sama ibu suri 🤭
Deshanita S
yg penting ngk ada poligami..klu dah cerita nya berbagi darah tinggi ku langsung naik 😄🤣
Rosyani Rini
pak Husein CEO kah dia
Rosyani Rini
wahhh curiga 🤣🤣🤣
Rosyani Rini
malah di pancing kata nya jangan dulu..
Ni'matul Jannah
Terimakasih up nya teh Nia..
Sehat selalu 🤲🏻
Ni'matul Jannah
Eee..ternyata..pak Husein ceo yang menyamar.
Pak Husein kan..yg sebenarnya punya pekerbunan sawit itu?
Koi rela menunggu ibu suri sampai segitunya pak?
cerita dong pak..🤭😄
Ni'matul Jannah
Waahh..ibu suri tampil paripurna.
Ada something sama pak Husein ini pasti, semoga segera bersatu ya..ibu suri dan pak Husein😁
Nur aprilia adiah
duh si ibu lagi puber kedua tuh mas..ya ampun Diaz bucin Banget deh..
Nur aprilia adiah
mungkin pak Husein CEO yg tersembunyi 😄
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!