NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 perlombaan terakhir

Bab 16— Perlombaan Terakhir

Malam itu, Rania tidak bisa tenang.

Percakapannya dengan Aryasatya di taman masih terngiang jelas, namun yang lebih mengganggu adalah bagaimana ia harus bersikap normal di depan Mukti esok hari seolah dunia kecilnya tidak baru saja retak menjadi kepingan-kepingan curiga.

"Sistem," bisiknya dalam gelap kamar, "ada info baru soal Prajurit Wirya?"

[Belum ada perkembangan. Namun terdeteksi pergerakan mencurigakan di sekitar kediaman Pangeran Mukti malam ini.]

Rania langsung duduk tegak. "Pergerakan apa?"

[Seseorang keluar dari kediaman melalui pintu samping, membawa tas kecil, sekitar sepuluh menit lalu.]

Rania melompat dari ranjang, mengenakan kain seadanya, dan bergegas memanggil Sari yang tidur di kamar sebelah.

"Sari, bangun. Sekarang."

Sari terbangun dengan panik, matanya masih setengah terpejam. "Putri? Ada apa?"

"Mukti bergerak. Aku butuh ikutin dia, diam-diam."

Sari langsung waspada, segera membantu Rania mengenakan jubah gelap untuk menyamarkan diri di kegelapan malam.

Mereka berdua menyelinap keluar lewat pintu belakang, mengikuti arah yang ditunjukkan sistem menuju kediaman Mukti. Dari kejauhan, Rania bisa melihat sesosok bayangan berjalan cepat menuju gerbang kecil di sisi timur istana, jarang digunakan kecuali untuk keperluan darurat.

"Itu dia," bisik Rania, mengenali postur tubuh yang sudah sangat familiar.

Mereka mengikuti dari jarak aman, menyelinap dari bayangan ke bayangan. Mukti berjalan cepat, sesekali menoleh ke belakang seperti memastikan tidak ada yang mengikutinya gerakan yang membuat Rania semakin yakin bahwa apa pun yang sedang dilakukannya, itu bukan sesuatu yang ingin diketahui orang lain.

Gerbang timur membawa mereka ke area belakang istana yang jarang terurus, dipenuhi semak-semak liar dan bangunan gudang tua yang sudah lama tidak digunakan.

Mukti berhenti di depan salah satu gudang, mengetuk pintu kayunya dengan pola tertentu—tiga ketukan, jeda, dua ketukan.

Pintu terbuka dari dalam. Cahaya lilin remang menyinari wajah orang yang membukanya.

Rania menahan napas.

Prajurit Wirya.

"Dia nggak kabur," bisik Rania pada Sari, jantungnya berdegup kencang. "Dia disembunyiin sama Mukti sendiri."

Mereka mendekat perlahan, bersembunyi di balik tumpukan kayu tua dekat gudang, cukup dekat untuk mendengar percakapan samar dari dalam.

"...kau seharusnya sudah pergi jauh dari sini," suara Mukti terdengar tegang.

"Saya butuh lebih banyak uang, Pangeran. Resikonya terlalu besar kalau saya pergi tanpa cukup bekal."

"Aku sudah bayar sesuai kesepakatan."

"Kesepakatan berubah waktu Putri Wening mulai menyelidiki sampai ke rumah saya. Kalau dia sampai nemuin saya di sini, bukan cuma saya yang kena, Pangeran."

Hening sejenak sebelum suara Mukti terdengar lagi, lebih rendah dan dingin dari yang pernah Rania dengar sebelumnya.

"Kau mengancamku?"

"Saya cuma mengingatkan risikonya, Pangeran. Lagipula..." suara Wirya merendah, "...saya masih bingung kenapa Pangeran begitu ingin menyingkirkan Nyonya Ratih. Bukannya dia yang selama ini menutupi jejak Pangeran?"

Rania membeku mendengar kalimat itu. Sari di sampingnya juga menahan napas, matanya melebar.

"Itu bukan urusanmu," jawab Mukti tajam.

"Mungkin bukan," Wirya terdengar mendesah, "tapi kalau Nyonya Ratih sampai ketangkep dan buka mulut soal siapa sebenarnya yang menyuruhnya menggelapkan muatan kapal itu dulu, bukan cuma reputasi Pangeran yang hancur."

Rania merasakan dunia di sekitarnya seolah runtuh perlahan.

Mukti. Bukan cuma terlibat dalam membantu Nyonya Ratih kabur. Dia adalah dalang di balik penggelapan kapal itu sejak awal bertahun-tahun lalu, sebelum Rania bahkan ada di dunia ini.

"Aku akan urus Nyonya Ratih dengan caraku sendiri," kata Mukti akhirnya, suaranya kembali tenang, namun ada sesuatu yang mengerikan dalam ketenangan itu. "Yang penting sekarang, pastikan kau tidak terlihat sampai semuanya selesai."

"Dan Putri Wening?"

Hening yang lebih panjang kali ini.

"Dia mulai terlalu dekat dengan Aryasatya," kata Mukti pelan. "Dan terlalu berani menyelidiki hal-hal yang seharusnya sudah lama terkubur."

"Pangeran mau...?"

"Aku belum memutuskan," potong Mukti cepat. "Tapi kalau tidak ada pilihan lain, aku akan melakukan apa pun yang perlu dilakukan untuk melindungi diriku sendiri. Termasuk padanya."

Rania merasakan tangannya gemetar hebat. Sari menggenggam lengannya erat, mencoba menenangkan meski wajahnya sendiri pucat pasi.

Mereka telah mendengar cukup.

Rania memberi isyarat pada Sari untuk mundur perlahan, menjaga setiap langkah agar tidak menimbulkan suara. Mereka menyelinap kembali melalui jalan yang sama, jantung Rania masih berdegup liar bahkan setelah gudang itu sudah jauh di belakang mereka.

Begitu sampai di tempat yang cukup aman, Rania berhenti, bersandar ke dinding sambil mencoba menata napas.

"Sari," bisiknya, suaranya bergetar, "kita harus kasih tahu Aryasatya. Sekarang."

Sari mengangguk cepat, namun sebelum mereka sempat bergerak lebih jauh, suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah berlawanan.

Rania menoleh cepat, dan jantungnya nyaris berhenti.

Seorang pengawal Mukti berdiri di ujung lorong, menatap mereka berdua dengan curiga.

"Putri Wening? Sedang apa di sini selarut ini?"

Rania berusaha tersenyum senormal mungkin, meski keringat dingin sudah membasahi punggungnya. "Cuma... jalan-jalan. Susah tidur."

Pengawal itu tidak terlihat sepenuhnya percaya, matanya melirik ke arah gudang tua di belakang mereka, lalu kembali menatap Rania dengan tatapan yang membuat bulu kuduknya meremang.

"Akan saya laporkan pada Pangeran bahwa Putri terlihat di sekitar sini," katanya, nada suaranya terlalu formal untuk terdengar seperti basa-basi biasa.

Rania merasakan darahnya langsung dingin.

Kalau pengawal itu melapor, Mukti akan tahu bahwa dirinya ada di dekat gudang itu terlalu dekat dengan waktu pertemuannya dengan Wirya.

"Nggak perlu repot-repot," Rania buru-buru menjawab, mencoba terdengar santai. "Saya akan cerita sendiri besok pagi."

Pengawal itu menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk, meski masih terlihat curiga. "Baik, Putri."

Begitu pengawal itu berlalu, Rania menarik Sari bergegas menjauh, kecepatan langkah mereka nyaris berlari begitu merasa cukup jauh dari jangkauan pendengaran siapa pun.

"Putri," Sari berbisik panik begitu mereka sampai di area yang lebih aman, "kalau pengawal itu benar-benar lapor ke Pangeran Mukti—"

"Aku tahu," potong Rania, napasnya terengah. "Kita nggak punya banyak waktu lagi."

Mereka bergegas menuju kamar Rania, dan begitu pintu tertutup rapat, Rania langsung meraih kertas dan pena, menulis pesan singkat dengan tangan yang masih gemetar.

*Raden, aku dengar semuanya. Mukti dalangnya, bukan cuma soal racun, tapi sejak penggelapan kapal dulu. Dia juga yang sembunyiin Prajurit Wirya. Aku butuh bantuanmu secepatnya. W*

Ia melipat kertas itu cepat, menyerahkannya pada Sari. "Bawa ini ke Aryasatya sekarang juga. Lewat jalur tercepat yang kamu tahu."

Sari mengangguk mantap, meski wajahnya masih pucat ketakutan, lalu bergegas keluar kamar menembus kegelapan malam.

Rania duduk sendirian, menatap pintu yang baru saja tertutup, jantungnya masih berdegup kencang.

"Sistem," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar, "berapa lama sampai pesan itu nyampe ke Aryasatya?"

[Estimasi: satu hingga dua jam, tergantung kecepatan dan keamanan jalur yang diambil.]

Satu hingga dua jam. Waktu yang terasa sangat panjang ketika kau baru saja tahu bahwa orang yang selama ini tidur hanya beberapa kamar darimu, yang sudah berkali-kali menyelamatkanmu dari bahaya sebenarnya adalah bahaya itu sendiri.

Rania menatap pintu kamarnya, mengunci setiap kaitan yang bisa ia temukan, sebelum akhirnya duduk di sudut ruangan dengan sisir kayu tergenggam erat di tangannya sebagai satu-satunya senjata yang ia punya.

Di luar jendela, malam Wanunggalih terasa lebih sunyi dan berbahaya dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Dan di suatu tempat di istana yang sama, Mukti berdiri di depan jendela kamarnya, menatap kegelapan malam dengan wajah tenang yang kini terasa seperti topeng yang sudah mulai retak.

Pengawalnya baru saja melaporkan pertemuan mencurigakan Putri Wening terlihat di dekat gudang tua, tepat setelah pertemuannya dengan Wirya.

Mukti tersenyum tipis, senyum yang jauh berbeda dari yang pernah ia tunjukkan pada Rania selama ini.

"Jadi," gumamnya pelan, mengambil botol kecil dari laci tersembunyinya, "waktu kita memang sudah habis."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!