Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Anakku
**
Seorang wanita cantik tengah menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, pandangannya tertuju ke ponsel yang dia genggam, di sana ada foto seorang kecil yang tengah tersenyum memperlihatkan gigi ompongnya.
"Kangen banget," kata wanita cantik itu terlihat sedih. Matanya benar-benar menunjukkan kerinduan.
"Maaf yah sayang, ini semua demi kebaikan kamu. Suatu hari nanti kamu akan mengerti, jika mendapatkan pengakuan dari dia itu penting, sayang."
"Kalau kangen coba telepon aja," ujar seseorang yang tangannya sudah penuh dengan peralatan Make-up
Wanita itu hanya menghela napas berat. "Gak bisa, yang ada nanti dia merengek minta ketemu. Lagian gue tiap hari masih bisa pantau dia, kok."
"Gak takut nanti orang yang lo bayar ketahuan sama itu cowok? Lebih parahnya keluarga bapak lo tahu soal dia." Tangan wanita itu sudah mulai merias wajah wanita cantik yang tadi duduk.
"Semoga aja enggak," lirih wanita itu bahkan terdengar tak yakin.
"Kenapa gak ketemu langsung sama cowok itu sih, buat nitipin anak lo? Segala main rahasia segala, gak ngerti gue."
"Belum waktunya. Lo tahu sendiri kan, keluarga gue kaya apa," jawab wanita cantik itu.
"Permisi ... lima menit lagi dimulai," seru seseorang dari luar setelah mengetuk pintu.
"Ok, sekarang waktunya kita kerja nyari duit yang banyak!" seru wanita cantik itu bersemangat.
**
Rafa semenjak tadi pagi datang di kantor, sampai menjelang makan siang masih saja melamun. Dia akan berhenti melamun jika sedang bekerja, setelah selesai pekerjaan akan melamun lagi.
Bahkan Andre yang sedari tadi cerewet mengajaknya bicara, sama sekali tidak dia jawab. Seorang Andre yang tidak tahu adab saja, jadi merasa agak segan bahkan hanya untuk mengajak Rafa ke kantin. Takut nanti saat di kantin, tiba-tiba temannya ini malah kesurupan, jadi repot nantinya. Tapi lebih takutnya, saat dia kesurupan sendirian terus lompat dari gedung ini? Lebih bahaya ditinggal sendiri pokoknya.
"Raf, ayo makan dulu woi!" teriak Andre, bahkan kali ini sudah menggoyang-goyangkan tubuh Rafa tapi sama sekali tetap tidak ada respon.
"Wah ... bahaya nih, mesti gue bacain ayat kursi," gumam Andre panik.
Andre kemudian mengambil botol minumannya, lalu seperti tadi yang dibilang dia mulai membacakan ayat kursi sebanyak tujuh kali. Setelahnya minum, kemudian langsung menyemburkan ke arah Rafa.
"Byurrr! Setan manapun pergi sana!" teriak Andre heboh, kemudian mulai menyembur Rafa lagi sebanyak tiga kali.
"Woi anjir! Apaan?"teriak Rafa panik, sementara Andre mengelus dada lega saat akhirnya Rafa sadar juga.
"Alhamdulillah sadar," gumam Andre sambil mengelus dada.
Rafa yang masih kesal segera pergi dari sana untuk pergi ke kamar mandi, meninggalkan Andre yang menatapnya tidak terima karena ditinggal.
"Gak bisa gitu, dong! Gue udah sadarin lo dari kerasukan, tapi lo dengan teganya malah ninggalin gue!" Kali ini Andre sembari merajuk tengah berlari mengejar Rafa.
Rafa yang mendengarnya bergidik ngeri. "Pilih mau gue jorokin dari lantai atas sini, atau gue kasih minuman racun tikus?"
"Apaan, tuh?" Andre malah mengerjap bingung.
"Serah ... serah ... gue nyerah." Rafa mengangkat kedua tangannya. "Jangan ikutin gue, atau mau gue cium lo di sini!"
Ancaman Rafa kali ini berhasil menghentikan langkah Andre, bukan karena takut ancamannya karena dia tahu Rafa masih normal. Andre lebih ke syok saat Rafa mengatakannya tepat saat Indah, yaitu gebetannya yang lewat bersama kedua temannya.
Para wanita itu bahkan berhenti, terlihat terkejut atas ucapan Rafa barusan. Kemudian melihat Andre dan Rafa bergantian dengan pandangan geli.
Andre langsung mendekat, tapi mereka para wanita itu mundur. "Sumpah Indah, itu si Rafa cuma asal ngomong. Gue normal asli. Ke--kenapa kalian lihatin gue gitu? Mau bukti?"
"Mas Andre, ak--"
"Indah percaya sama aku, kalau aku masih normal dan pejantan tangguh!" Andre terus meyakinkan, tapi saat akan meraih tangan Indah, wanita itu seketika langsung menepisnya.
"Maaf Mas, kita harus pergi." Setelah mengatakan itu, para wanita itu sudah pergi berlalu.
"Sialan si Rafa!" makin Andre yang sudah yakin, jika hubungan yang belum terjalin dengan indah dipastikan sudah selesai.
Sekarang, Andre harus kembali mencari wanita gebetan baru lagi. Dia harus menuntut ganti rugi pada Rafa, harga diri dia seakan sudah dijatuhkan dimata para wanita. Padahal indah, tinggal sebentar lagi pendekatan mereka sudah akan berada ditahap jadian. Gara-gara mulut durjana Rafa, dia akhirnya harus tetap bertahan menjomblo lagi.
"Jomblo mulu lagi gue."
Rafa saat ini tengah duduk dalam mobilnya yang baru sebulan lalu lunas. Dia bahkan harus berdarah-darah selama 3 tahun mencicil mobil ini bersamaan dengan cicilan apartemen yang sudah lunas setengah tahun yang lalu. Ini dunia nyata, dia bukan seorang CEO yang punya puluhan koleksi mobil, bisa makan pagi di Malaysia terus siang Afrika. Bahkan untuk rumah baru baru satu tahun yang lalu dia mulai mencicil, tersisa 3 tahun lagi. Dia tidak semenderita itu, dia masih mempunyai tabungan yang cukup untuk keliling dunia tiga bulan.
Rafa sudah menelepon Alexa adiknya, untuk meminta izin menjemput Cio keponakannya dari les karate untuk diajak jalan-jalan. Hari ini dia pulang cepat jam 3, jadi dia ingin menghabiskan waktu dengan keponakannya.
Jangan tanya Elvan dimana, kenapa tidak diajak? Rafa sedang ingin menenangkan pikirannya, mendamaikan hati nuraninya, mewaraskan akal sehat serta ikhlas menerima kenyataan jika dia memang sudah mempunyai seorang anak. Dia butuh waktu untuk tidak melihat Elvan sejenak.
"Om udah nunggu udah lama, yah?" tanya Cio yang sekarang sudah duduk manis di kursi penumpang.
"Lumayan 15 menit. Sekarang, ayo kita keliling mall dan main timezone sepuasnya!" ajak Rafa yang langsung diangguki senang dan heboh oleh Cio.
"Sekalian beli mainan yah, Om?" pinta Cio dengan mata yang berbinar-binar.
Rafa mengangguk pasrah. "Baiklah."
Memang keponakannya ini titisan setan, tidak bisa bisa dibaikin sedikit langsung melunjak tidak tahu diri.
Sekarang, Rafa harus bersiap untuk melihat dompetnya terbobol banyak oleh ulah bocah ini. Rafa melirik Cio yang sekarang sedang asyik bermain ponsel dia tentunya. Kenapa keponakannya ini terlihat sama sekali tidak mirip dengan Alexa, yah? Gen bapaknya sangat kuat seperti mini bapaknya persis sama sekali. Untungnya lekali brengsek itu sekarang sudah bertaubat. Jika tidak dia akan menggantungnya di tiang bendera, jika masih berani menyakiti adik dan keponakan-keponakannya ini.
Benar, kan? Baru dua jam tapi Rafa sudah kehabisan uang tunai. Jika tidak salah, tadi ada sekitar tiga juta di sana. Untungnya, sekarang keponakannya sudah merasa lapar, jadi sekarang mereka sedang berada di restauran. Jika masih di arena bermain, Rafa akan menyerah saja.
"Om, kata mama Om punya anak?" Pertanyaan Cio yang tiba-tiba langsung membuat Rafa tersedak makanan.
Dengan terburu-buru Rafa minum, masih melotot ke arah Cio yang seperti tidak berdosa itu. Apa yang sudah adiknya katakan pada Cio? Benar-benar yah, adiknya itu memang sudah tidak bisa menjaga mulutnya dengan baik.
"Jangan percaya Mama, itu hoax!" sangkal Rafa berusaha setenang mungkin.
"Masa?" tanya bocah itu yang masih asyik memakan ayam goreng.
Memang benar anak ini adalah titisan Alex tidak hanya wajah, tapi plus sifat songongnya yang sangat menyebalkan. Untungnya keponakan. Kenapa juga yah, akhir-akhir dia harus berurusan dengan bocah menyebalkan seperti Cio dan Elvan?
"Pokoknya, aku mau ketemu sama dia. Kata mama kita itu seumuran." Cio tetap teguh pada pendiriannya dan percaya dengan doktrin Alexa yang sesat itu.
"Terserah, tapi awas jangan ngomongin hal ini ke opa dan oma, ok?"
Rafa sudah pasrah dan pusing jika harus terus mendebat Cio. Bocah itu selalu punya argumen yang akan menanggapi ucapannya itu.
"Siap! Dengan satu pesawat remote, ok?"
Rafa hanya bisa kembali mengangguk pasrah. "Ok." Jika tidak disetujui, mungkin besok seluruh keluarga bahkan seluruh warga RT rumah mama-nya tahu dia sudah mempunyai anak.
Rafa jadi menyesal mengajak Cio pergi, bukannya mendapatkan ketenangan yang ada dia setres karena mengalami kebangkrutan.
Drttt drttt drttt
Getaran suara ponsel menghentikan pikiran jahat Rafa terhadap keponakannya, disaat bocah itu masih asyik menikmati ayam gorengnya yang ke lima. Dasar anak Alex!
"Hallo, ini Pak Rafa papa-nya Elvan?"
Rafa ingin menyangkal, tapi buru-buru dia mengangguk. "Iya, ada apa yah, Bu? Maaf, ini siapa?"
"Saya Miss Margaret dari tempat penitipan anak. Pak, Elvan terjatuh saat bermain. Sekarang, dia sedang menangis mencari Anda."
Tanpa membalas sang penelepon, Rafa langsung mematikan panggilannya. Segera berdiri berniat pergi, tapi ada suara panggilan yang menghentikan langkahnya.
"Om, mau kemana?"
Rafa berbalik, menepuk jidatnya karena hampir lupa keberadaan Cio. Hampir saja, dia meninggalkan bocah itu dan mungkin dibunuh oleh keluarganya. Rafa kemudian menggendong Cio, menyimpan uang di atas meja dan segera pergi.
Ini pertama kalinya, Rafa merasakan perasaan sepanik ini. Elvan memenuhi pikirannya, apa ini yang dinamakan ikatan orangtua dengan anak?
Perasaan ini jelas masih baru baginya. Setelah mengetahui hasil tes DNA yang menyatakan Elvan benar-benar anak kandungnya, tiba-tiba rasa sayang ingin melindungi itu hadir.
Setelah mengantar Cio pulang dengan selamat ke rumahnya, walau dengan mengabaikan pertanyaan Alexa dan membiarkan rengekan Cio karena tidak jadi dibelikan mainan, Rafa segera berlalu pergi.
Anehnya, Rafa merasa perjalanan dari rumah Alexa ke apartemennya terasa lama? Dia sangat merasa tidak tenang. Apalagi bocah itu baik-baik saja.
Rafa bahkan langsung berlari dari mobil tanpa sempat memarkirkannya, menyerahkan kunci mobil ke pak satpam.
"Elvan!" teriak Rafa setelah memasuki ruangan, membuat semua orang di sana kompak melihat ke arahnya.
Rafa tidak peduli, dia hanya fokus untuk mencari Elvan. Akhirnya, dia menemukan bocah itu sedang duduk di sofa ujung ruangan ditemani oleh miss-nya, Rafa segera berlari menghampiri.
"Papa!" teriak bocah itu saat melihat ke arahnya, dengan wajah yang penuh dengan air mata.
"Kamu gak papa? Apa yang terluka?" tanya Rafa khawatir, sembari memeriksa seluruh tubuh Elvan.
Saat menemukan sebuah perban di lutut kiri Elvan, seketika hati Rafa langsung merasa sakit melihatnya.
"Sakit?" tangan Rafa yang dibalas oleh bocah itu dengan anggukan, masih terisak.
"Miss, lukanya parah?" tanya Rafa masih sangat khawatir. Jika parah, dia harus segera membawanya ke rumah sakit.
"Tenang saja Pak, lukanya kecil dan sudah diobati. Tadi kami panik karena Elvan yang tidak berhenti menangis dan terus-menerus memanggil papa dan mama-nya."
Penjelasan Miss, segera membuat perasaan Rafa lega. Pandangannya teduh menatap Elvan, kemudian langsung memeluknya erat.
Bocah itu seperti mempunyai hobi untuk terus membuat ulah dan membuatnya kesal. Elvan memang anaknya, tapi tidak membuat kejengkelan Rafa terhadap semua ulah ajaib anak itu hilang.
Lagipula dia juga masih canggung, karena ini masih pengalaman pertama dia menjadi orang tua. Setok sabar dia belum setebal para orangtua di luaran sana yang sudah terbiasa menghadapi tingkah anaknya sedari kecil. Apalagi dia, langsung menjadi orangtua dengan anak langsung berumur 5 tahun.
"Pa, ayo main kuda-kudaan!"
Tuhkan lihat, sudah mulai tidak masuk akal lagi permintaan bocah itu.
"Pa, joged bang Jali, ayo!"
Rafa menjadi penasaran, seperti apa ajaran mama-nya yang membuat kesukaan bocah itu random sekali.
Setelah tadi drama mandi yang bocah itu seperti biasa merengek ingin berenang di bak mandi, drama makan yang mau disuapi, dilanjut drama mau ditemani bermain pesawat terbang dengan dia yang harus menggendong Elvan seperti pesawat terbang sambil berlari-lari di dalam apartment.
Sekarang apa lagi, bang jali, kuda-kudaan? Benar-benar tidak masuk akal.
Tolong dong siapapun, Rafa mau tukar tambah saja rasanya. Dia sudah tidak sanggup.
**